Jenderal Kesayangan

Jenderal Kesayangan
bab12. Ijab ku


__ADS_3

" Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur "


" Sah? ".


" Sah. Sah. Sah. Sah".


POV pak Jendral


Setelah pertemuan terakhir ku dengan keluarga Kyai Nawawi dan setelah lamaranku diterima, aku langsung mengurus berkas - berkas syarat pernikahan ku. Menjadi keluarga tentara memang ada beberapa yang harus dipenuhi. Karena saya termasuk perwira tinggi TNI AD. Sebenarnya saya bukan seorang Jendral. Karena seorang Jendral adalah pangkat tertinggi yang mempunyai bintang 4. Bintang saya masih 1 pangkat saya Brigadir jendral. Tapi karena ning bakal istri ini suka memanggil saya dengan julukan pak Jendral, katanya untuk menyemangati anak nya Farza. Dia juga memanggil anak pertamanya yang masih SMP itu Panglima Jendral. Semoga menjadi doa.


Kurang dari 1 bulan, ijab ku akhirnya tekabulkan. Wanita pertama yang berhasil mengetuk hatiku selama 3 tahun ini tertutup kenangan Della. Sama halnya istriku juga. Tertutup kenangan nya bersama mendiang suaminya, Irdho teman ku mondok di Malang dulu.


Takdir memang paling rahasia. Rahasia yang paling indah.

__ADS_1


Dulu, aku pernah bertemu seorang pelajar Aliyah yang menangis dipinggir jalan. Tangan dan kakinya mengeluarkan darah terlihat merembes ke baju dan rok panjangnya.


" Ada apa ini pak? ", tanya ku lebih mendekat.


" Tabrak lari mas. Kasian ini anak. Kayaknya ketakutan. Saya tanyai diam saja ", tegas warga yang melihat kerumunan tersebut.


Aku mencoba mendekat dan bertanya.


" Apa kamu tidak ada? Apa kepalamu pusing ? Atau kamu ingat namamu ?"


Aku mulai lega karena dari tadi beberapa orang bertanya kepadanya, dia hanya diam dan menunduk.


" Apa jenengan dokter, saya takut disuntik. Saya mau pulang saja ", jawabnya yang membuat aku sedikit tertawa.

__ADS_1


" Bukan, saya bukan dokter. Tapi ibu saya dokter. Kalau kamu tidak pusing dan masih ingat namamu, aku tidak akan membawa ibu ku kesini. Kamu boleh pulang ", jelasku padanya seperti anak kecil karena dia seperti anak kecil yang takut suntikkan.


" Tidak - tidak. Aku tidak pusing. Namaku Farah. Nama panjang ku Azizah Farah An Nawawi. Aku masih ingat kan.. Tolong antar saya pulang..", pintanya pada ku memohon.


" Iya mas, sampean antar saja. Kasian itu lukanya biar cepat dibersihkan keluarganya. Sudah agak lama dia duduk disana tadi ", nasehat warga pada ku.


" Tapi saya naik motor pak ? Saya tidak boleh membonceng wanita bukan muhrim saya ", elak ku.


" Apa kami nikah kan kamu dulu baru mengantar gadis ini, dasar aneh ", kata salah seorang warga.


" Iya, saya tau alasanmu. Gini saja, pakai becak saya untuk nganter pulang ning ini. Kamu bisa nyopir becak kan ?", saran salah satu warga menengahi masalah ini.


Akhirnya saya mengantarkan gadis ini ke rumahnya naik becak. Saya dibelakang dia duduk didepan. Kami hanya diam. Tak ada yang berani dahulu memulai tegur sapa. Rasanya perih. Badan saya ikut merasakan perihnya luka yang mengeluarkan darah di tangan dan kakinya gadis ini. Rasanya saya saja yang sakit, jangan gadis yang ada di depan saya ini....

__ADS_1


Ternyata dugaan saya benar. Alamatnya sama,,. Sama seperti saya. Pondok Kyai Nawawi. Dia anaknya Kyai saya. Dialah ning Farah. Orang yang dulu pernah saya kagumi dalam diam. Dan sekarang, orang yang halal saya kagumi dan bahagiakan dunia akhirat.


Takdir membawa ku pada cinta pertama ku. Kurang lebih 17 tahun yang lalu.


__ADS_2