
Iiih,,, apa an sih saudaranya pak Bram ini. Kapan coba jadi kamu - kamu sama aku. Kemarin - kemarin manggilnya anda - anda. Sok kenal memang orang ini.
Lalu kami bergegas naik sepeda motor kami masing - masing. Aku berada dibelakang dan saudaranya pak Bram berada di depan ku.
" Udah kaya jama'ah aja. Jama'ah naik motor. Dia imam dan aku makmumnya ", kata ku sambil senyum - senyum sendiri.
Aku mengikutinya dari belakang. Dia membunyikan sirine dan menyalakan semua lampu yang ada di sepeda motornya. Semua orang yang melewati kami yang mendengar dan melihat kami lewat pada minggir semua.
" Eeh,, rasanya aku malu sangat... Semua kendaraan menepi. Siapa sih dia??????".
Tidak butuh waktu lama, kami sampai di depan gerbang masuk kawasan kantor ku bekerja.
" Besok lagi, jangan mepet berangkatnya. Biar aman naik motornya ", nasehat saudaranya pak Bram pada ku.
" Siap pak, laksanakan ", kata ku sambil memberi hormat kepadannya.
" Ngomong - ngomong emang bapak ini siapa ya, kok sepeda motornya ada sirinenya. Kayak tukang sayur depan rumah saya, hehehehe. Tadi juga kita sepeti ambulance lewat saja.. Hahahaha ", tawaku meledak saat ingat apa yang sudah aku lalui tadi.
__ADS_1
" Anda ini, ditolong malah meledek saya tukang sayur. Tapi kalau mengawal pasien, boleh juga. Mungkin orang - orang tadi mengira kamu sakit bengek atau sakit parah gitu. Perlu cepet ada penanganan. Makanya lewatnya dikawal kaya gitu... Hahahahahaha", ledeknya membalas ledekkan ku tadi.
" Tega banget anda mendoakan saya penyakitan ", sambil melototkan mataku ekspresi marah.
Sambil naik motor ku, aku berbalik dan berkata dengan suara agak keras, " Pak, terimaksih ya, anda pengawal yang hebat untuk saya. Boleh besok - besok lagi ngawal saya ya pak. Sama utang ku masuk surga sudah saya bayar ke pak Bram. Boleh kapan - kapan diambil. Tiket surganya buat saya saja ya pak....da..da...", sambil aku melaju kan sepedaku agar tidak terkejar saudaranya pak Bram.
" Anda kurang ajar sekali ya!! ", teriaknya padaku.
POV Jendral
Tapi cantik juga ya....
Ya Allah...apa ini... Hati ku berganti kiblat kah... Apa sosok Della boleh terganti. Tidak.. Mungkin hanya kagum saja. Seperti biasa, datang, singgah sebentar, lalu pergi.
Tidak bisa menetap lama....
Iya....hatiku yang salah. Tidak bisa menjaga hati agar bisa lama ditinggali.
__ADS_1
Kata orang aku tertutup. Bukan, hanya belum ada yang mengetuk. Itu saja alasan saat pertanyaan " kapan nikah lagi? ".
" Mbak Farah, kok lama datangnya ", tanya Lusy pada ku.
" Haduh nanti aja aku critainya. Kamu tahu pak Bram dimana ya Lusy? ", tanyaku sambil celinguk an mencari duduknya pak Bram.
" Eh pak, saya boleh nitip ini ya pak buat saudara bapak yang kemarin ketemu dikantor itu lo pak.. Kemarin saya punya utang ke dia pak. Banyak banget. Makanya ini saya nitip bayarnya ke bapak ", bohong ku sambil menyelipkan amplop ke pak Bram.
" Okey bu Farah, saya terima. Saya kasihkan adek saya nanti ", jawab aneh pak Bram ke aku.
" Terimakasih banyak pak Bram ".
Diluar ruangan
" Hallo dek, ada titipan. Katanya ada orang mau lunasin utang. Mungkin ada surat cintanya juga. Soalnya ini amplopnya tebel banget. Kapan ini kamu ambil. Atau buat ku aja ya... Lumayan dapat uang ma surat cinta...", ledeknya pada adeknya yang mulai terpancing di seberang.
" Sekarang aku ambil ke kantor mu. Jangan macam - macam membuka apa lagi membacanya !!! ", katanya sambil menutup telponnya.
__ADS_1