
Lusy,sekertaris ku berlari ke arah ku dengan nafas yang menderu.
"Gawat bu gawat!! Nanti pulang kerja Bonar dan Toriq akan berkelahi meneruskan pertengkaran tadi bu..., mereka seperti menelfon bala tentara bu..
Bisa tindak kriminal dan bisa- bisa merusak pabrik bu. Ibu harus bertindak, karena ini anak- anak produksi bu...".
" Okey Lusy, baiklah.. Terimakasih ya. Akan aku adukan ke personalia".
Di ruang lantai 3, aku masuk dengan terburu- buru. Tanpa sadar, kerudung syar'i ku terjepit pintu masuk ruang personalia. Aku terlalu terburu- buru menutup pintu dan lupa memberi salam masuk ruangan. Padahal di dalam ada seorang tamu yang sudah akan keluar melewati pintu personalia.
" Maaf, ada apa ya pak ? Anda memegang kerudung saya ? Saya sedang terburu- buru pak", kataku agak sedikitarah.
" Maaf juga ya bu, tapi saya tidak memegang kerudung anda!! ", sambil mengangkat kedua tangannya seperti tanda menyerah.
" Oh maaf pak. Saya kira bapak bertindak asusila pada saya. Saya mohon maaf ".
" Apa ??? Asusila ??? Yang benar saja anda ini. Walau saya mau asusila, tapi tidak dengan anda juga.
Saya masih waras...".
" Apa??? Oooohh, anda membuat saya lebih emosi lagi. Permisi...", sambil ku tarik kuat kerudung yang masih tersangkut pintu dan sedikit bersuara " kreeeekk ", sobek bagian bawah.
" Ada apa bu Farah, sampai- sampai bunyi sobek ini? ", tanya kepala personalia itu.
" Maaf pak Bram, saya terburu- buru, eeh berdampak fitnah dan malu ", elak ku dengan sedikit merunduk.
" Tidak usah malu bu Farah, ini saudara saya yang datang dari jauh. Jadi mungkin tidak akan bertemu lagi. Tapi tidak tahu juga kalau berjodoh ", kata pak Bram sambil tersenyum pada kami.
__ADS_1
" Apa ??? ", kompak kami berdua.
" Jadi gini pak Bram. Saya mau mengadukan tentang karyawan di produksi pak ", elakku cepat agak tidak fokus pada opini pak Bram.
" Paling asusila yang tidak terbukti ! "_ saut orang dibelakanng ku.
" Bukan- bukan. Ini gawat pak, kriminalitas. Maksud saya perkelahian pak. Tadi sudah saya lerai pagi tadi, tapi katanya akan diteruskan pulang kerja nanti dengan membawa bala tentara pak ! ", tegas ku.
" Apa ??? Bala tentara ??? Emang orangnya TNI apa ? ", tanya orang itu sedikit ikut campur.
" Bukan.... maksud saya membawa teman- temannya, " tegas ku.
" Eeh, kenapa anda jadi ikut campur masalah saya? ", tanyaku pada orang itu.
" Gini bu Farah... Nanti saya akan panggil mereka ", kata pak Bram menengahi.
" Pukul 16.00,,, waktuku pulang!! ", sambil ku ayun tasku menuju pintu keluar.
" Praaannk....", suara keras laca pesah dari luar kantor.
Aku berlari melihat apa yang terjadi.
Dibawah ada sekitar 20 an orang berkumpul. Mereka sama- samabawa senjata.
Beberapa security berkumpul seperti formasi pagar betis...
" Bu Farah sebaiknya masuk ruangan saja bu ", kata pak Agus, ketua security bagian pagi.
__ADS_1
" Gak papa pak Agus, tolong kawal saya dari belakang saja. Saya coba mendinginkan suasana ", kataku tegas diikuti anggukan dari pak Agus.
Aku bersholawat lalu memberanikan diri keluar gedung mencoba mendekat ke arah perkumpulan itu.
" Assalamu'alaikum... Ada apa ya bapak- bapak ? Ada yang bisa saya bantu? ".
" Gini bu.... Saudara saya bilang istrinya diganggu anak yang bernama Toriq ini bu.. Saya selaku saudaranya marah lah bu ", kata salah satu orang dengan logat bataknya.
" Tidak bu !! Itu tidak benar. Ambar adalah teman saya. Saya hanya menyapa saja bu ", penjelasan Toriq pada ku.
" Apa kau !!! Apa kau !!! ", otot mereka.
" Stoop bapak- bapak !!! Hanya itu ternyata masalahnya.
Boleh saya tanya ? Apa ibu Ambar itu cantik ?
Cantik mana dengan saya ?
Saya singgel lo bapak- bapak !!
Dari pada rebutan ibu Ambar, mending rebutin saya. Bagaimana ?", teriak ku memberi asmofir agar lebih dingin.
Semua orang bertatap- tatapan dan saling tersenyum.
" Iya, cantikan juga bu ini,,. Kenapa kita bertengkar gak jelas gini sih. Nyesel saya ikut- ikutan kesini ", kata salah seorang yang sudah terkena atmosfir hasut ku.
" Maaf ya bu, saya gak jadi bantu teman saya ", elak mereka.
__ADS_1