Jenderal Kesayangan

Jenderal Kesayangan
bab 7. dia aku punya..


__ADS_3

Di stadion kota....


" Awas hati - hati ya deek, banyak bola. Larinya di atas aja ya! ", kata salah satu orang pemain bola dengan ramput cepaknya.


" Baik pak, maaf saya mengganggu latihannya. Adek - adek saya ini lo ingin lari - lari di rumput katanya ", sambil mengarahkan dagunya ke adek - adeknya.


" Oo, mau main dirumput ya? Okey lah tidak apa - apa sebentar saja. Saya temani. Mumpung latihannya belum mulai ", kata pak nya membonceng Naya adik ku yang paling kecil.


" Bapak ini tentara ya? Potongan rambutnya pendek cepak. Kata ibu saya jadi tentara harus penampilannya rapi. Saya cita - cita saya jadi tentara lho pak. Ibu saya selalu mendidik saya keras dari kecil. Harus ini, harus itu... Capek pokoknya... Ibu sangat crewet tentang hal itu ", kata Farza dengan sedikit kesal.


" Lho,, tidak boleh mengeluh gitu dong ! Ibu mu benar. Kalau mau jadi tentara harus disiplin. Biar bisa menjadi pak Jendral sungguhan kelak ", kata pak itu menjelaskan pada Farza.


" Iya pak, ibu ku kalau memanggil saya " panglima jendral ", sombonhnya menegaskan.


" Oiya kah.... Semoga menjadi doa baik ", sambil mengelus kepala Farza.


" Itu ibu saya pak,, ibu... Aku disini ", farza berteriak.

__ADS_1


" Anda... ", kaget kami barengan.


" Bertemu lagi ya pak saudaranya pak Bram ", malu ku pada orang mengingat terakhir bertemu aku memberi uang beserta amplop yang didalamnya ada tulisan permintaan maaf ku. Dengan harapan tidak akan pernah bertemu lagi.


" Ini anak - anak mu ? ", tanyanya memecah kecanggungan kami.


" Iya,, ini 3 anak saya ".


" Apa pak Jendral ada dirumah kok tidak ikut olah raga ? ", candanya pada ku mengingatkan kebohongan ku.


" Maaf ya, om tidak tau.. Nabi Muhammad SAW bukan kah juga anak yatim. Kamu tidak usah sedih. Banyak yang selalu sayang pada mu dan adek - adek mu ", tegas pak itu sambil mengelus kepala ke 3 anak ku.


" Okey baik lah. Kami akan berolah raga disana saja. Mari pak saya duluan. Ayo anak - anak ibu...", pamit ku.


" Da da om ganteng, eeh om tentara ", pamit Nafisha dan Naya sambil melambaikan tangan nya.


Di tengah lapangan, para tentara yang selepas pemanasan melihat wanita cantik berlari - lari dengan ke 3 anak buahnya.

__ADS_1


" Waaah, ada bidadari dari surga jatuh ini...


Cantik banget ! Suaminya mana ya ? Gak kelihatan..


Bisa ditikung ini kalau ceweknya cantiknya kaya gitu..


Apa lagi janda. Walau udah anak 3 pun, aku ladeni deh. Cantiknya gak ketulungan. Sholehah juga kelihatanya. Mumpung aku masih singgel ", saut - sautan para tentara itu menanggapinya.


Dari arah lain, dia mendengar percakapan saut - sautan anak buahnya itu dengan sangat geram. Dia memanggil salah satu instruktur yang ada dilapangan untuk mendekat kepadanya.


" Mayor Agus, bilang anak buah mu ! Jangan macam - macam ! Perempuan yang disana itu milik saya !", perintah atasannya dengan diktatornya.


" Baik, laksankan perintah ".


" Siap.. Grak.. Siapa yang melihat wanita disana tadi. Push up 50x ! Laksanakan ! ", perintah menghukum mayor itu pada anak buahnya yang telah melakukan kesalahan pada Brigadir Jendralnya.


" Makanya jadi anak buah jangan mendahului atasnnya.. Enak saja katanya mau menikung saya.. Emang kamu siapanya Valentino Rossi ? ", batin orang itu menertawakan kesalahan anak buahnya.

__ADS_1


__ADS_2