Jenderal Kesayangan

Jenderal Kesayangan
bab 4. pemaksa


__ADS_3

" Kenapa ibu telat sih.... padahal hari ini kan jadwal ku berenang sama pak Syafiq buk. Ibu lupa ya ? Aku udah nunggu seminggu ini untuk berenang bu. Nanti aku lupa lagi caranya kalau gak sering - sering dilatih bu ", crocos anak - anak ku pada ku.


" Iya,, maaf ya anak - anak ku... Nanti ibu telfon pak Syafiq ganti hari. Ayo pulang keburu magrib dijalan nanti ", melas ku agar mereka tidak marah.


Di masjid aku dan ke 3 anak ku melakukan sholat magrib berjam' ah. Kami selalu menunggu sholat isya' di masjid. Tidak berniat pulang ke rumah karena pasti anak - anak akan malas balik lagi ke masjid kalau sudah ada di rumah. Ya, sambil mengajari anak - anak krasan berlama - lama dimasjid.


Di masjid anak ku diajari bermacam - macam. Ada cerita nabi - nabi, macam - macam sholat dan sunah - sunah yang lainnya. Pak Syafiq yang selalu baik hati membagikan ilmunya kepada anak - anak kecil yang berjama'ah disana.


Aku.... Menurut ku hanya sebentar waktu antara magrib ke isya'. Inilah waktu ku untuk Tuhan ku. Berkeluh kesah dalam doa - doa ku bahkan aku mengenang suami ku yang kata orang - orang sudah lama meninggal. Tapi menurut ku baru kemarin aku ditinggal. Air mata ku selalu terjatuh bila mengingat kebersamaan kami dulu.


" Aah, kenapa 3 tahun tidak bisa menguras air mata ku ya...", sambil ku tutup muka ku takut anak ku lihat ibu nya menangis lagi dan lagi.


" Ibuk, aku boleh minta uang untuk beli cilot di depan? ", tanya anak ku.

__ADS_1


" Iya sayang, ibu bawa uang kok. Ajak semua teman - teman mu beli. 3 ribu per anak ya sayang. Ibu cuma bawa uang 100 ribu aja ", kata ku sambil menjelaskan ke Farza agar mengerti perintah.


" Okey buk,, siap ", jawab Farza mengasih hormat.


" Waah, mbak Farah bancak an yaa,,, semua orang dibelikan cilot. Aku sekalian ma suami dan anak ku juga ya mbak? ", tanya tetangga komplek yang ikut sholat di masjid.


" Oh iya buk, silahkan ", jawab ku.


" Udah Cak, berapa semuanya ? ", tanya ku sambil mengeluarkan uang.


" Waduh kurang 25 ribu ini. Gimana ini ya... Gini aja deh, saya boleh ninggal Qur'an saya ini gak Cak. Ini mahal lo. 250 ribu dulu aku belinya Cak.


Besok saya bayar kurangan saya, Qur'an ini baru saya ambil di jenengan geh Cak ", nego ku agak Cak nya tidak marah pada ku.

__ADS_1


" Gak aah buk, Qur'an nya berat. Saya gimana bawanya ? ", gerutu Cak cilot pada ku.


" Tapi Cak, saya gak mau utang. Lagian apa boleh saya kembalikan cilot jenengan lagi yang sudah ada bumbunya ini ? ", jelas ku.


" Ya gak bisa dong buk, masak bisa saya jual lagi cilot yang bumbunya. Dikira sisa dong. Pokoknya ibuk bayar sekarang kuranya ", marah Cak cilot pada ku.


Dari arah lain " Ini pak saya bayar kurangannya ibuk ini ! Sebenarnya anda juga salah disini pak ", tegas orang itu ke Cak cilot sambil mengeluarkan uang 25 ribu dari dompetnya.


" Mentang - mentang ada yang memborong, semua orang pada dibungkusin. Gak tanya - tanya dulu. Tuh liat, semua orang di masjid pada bawa bungkusan cilot katanya " ada cilot gratis ", kata orang itu sambil menunjuk beberapa orang di sekitar masjid tersebut.


Aku menoleh ke segala sisi. Benar. Semua orang pada makan cilot. Aku senyum sendiri.


" Eeh, anda saudara pak Bram kan... Yang tadi pagi ketemu di kantor kan ", sambil ku ingat - ingat wajahnya. Tadi memang di kantor aku tidak terlalu memperhatikan wajah orang. Apa lagi wajah orang laki - laki. Gak boleh dalam agama yang melihat bukan muhrimnya. Apa lagi aku seorang janda yang selalu mempunyai pandangan buruk oleh orang lain.

__ADS_1


Dia mengangguk kan kepalanya, tanda setuju bahwa kita bertemu di kantor tadi.


" Terimakasih banyak. Tapi tiket surga saya dibagi dengan anda dong 25 ribu. Saya gak mau utang juga. Mohon anda bawa Qur'an saya ini ya! Besok saya titipkan uang 25 ribu ke pak Bram. Anda tinggal nitip Qur'an saya ke pak Bram. Gimana ? ", tawar ku agak maksa ke orang tersebut.


__ADS_2