
Di rumahku...
" Maaf, rumahnya sederhana ", sambil ku persilahkan duduk di teras depan.
" Bagus gini, semua ada dan tersedia ", intipnya tidak percaya pada dalam rumah ku.
" Om, sini dech, aku punya kucing. Yang satu namanya Petrok dan yang satunya Petrik. Lucu kan dia. Pinter banget cari tikus lho om ini. Pelacak handal ", cerita anak- anakku pamer kucing rumahan yang aku temukan beberapa bulan yang lalu di pasar.
Aku keluar dari dalam rumah setelah aku berganti baju olah raga ku dan membuatkan secangkir kopi dan kue.
" Ngomong - ngomong katanya Farza bercita - cita kepingin jadi tentara ya ? ", tanya nya orang itu pada ku.
" Iya ".
" Saya bisa bantu melatihnya. Mumpung masih kecil".
" Latihan seperti apa ya Pak yang harus dipersiapkan ? ", tanya ku menyelidik heran karena Farza masih SMP kelas 1 juga.
" Pak,, setiap kali bertemu kita selalu memanggil sebutan. Anda, Pak, saudaranya pak Bram, kalau gak gitu pak jual sayur dan pak sopir bulance ", mengingatkan saya pada keadaan itu.
" Maaf, sampai sejauh ini, kita sampai belum pernah berkenalan. Nama saya....",,,
__ADS_1
" Farah kan, Azizah Farah An Nawawi, benar kah? ", potong nya perkenalan ku padanya.
" Benar lah, wong anda sudah mengintai saya kan? ".
" Kalau saya Baskara Adi Utama ", tegasnya.
" Brigadir Jendral Baskara Adi Utama kan lengkapnya ? Saya sudah dikasih tahu pak Bram waktu itu. Tapi karena belum pernah berkenalan jadi saya malu memanggil nama jenengan dulu. Nanti dikira saya sok kenal sok dekat lagi..", jelasku.
" Iya, benar juga. Kenapa tidak kenalan dari dulu - dulu ya....".
" Saya meminta maaf ya, bila selama ini saya selalu merepotkan atau menjengkelkan anda pak brigjen ", kata ku sambil mengatupkan kedua tangan ku didada.
" Jangan bilang begitu ning Farah !
" Masyaallah,, anda mengingatkan saya tugas di pondok lagi ", gurau ku.
" Sebenarnya saya kabur dari rumah karena mau membesarkan anak - anak ku sendiri. Kalau saya pulang ke rumah orang tua saya, pasti saya disuruh diam saja. Saya mau berdikari, bekerja dan membesarkan anak - anak. Tapi saya selalu menelpon tiap hari pada beliau. Walau kabur, tapi sudah tau alamat dan tempat tinggal saya ini. Jadi saya bukan buronan ", jelas ku.
" Maaf ya jadi curhat. Maaf juga ini tidak saya persilahkan masuk rumah, karena pembantu saya pulang kampung hari jum'at sabtu minggu. Jadi saya sendirian ".
" Jangan bilang orang selain saya ya, kalau kamu pas sendirian. Takutnya ada orang berniat jahat ".
__ADS_1
" Oohh, iya. Saya mengerti".
" Kalau boleh saya bertanya ?".
" Silahkan, mau bertanya apa ? ".
" Boleh saya tahu kriteria calon suami ning Farah ?"
" Saya, saya tidak mempunyai kriteria khusus ".
" Iya saya tahu, selain sholat jama' ah dimasjid 5 waktu, apa lagi ya ?"
Aku tersenyum mengingat kejadian itu. Orang ini kenapa masih mengingatnya.. Itu kan syarat umum.
" Memangnya buat apa bapak mau tau kriteria dan syarat - syarat saya ?"
" Ya buat persiapan saya saja ning Farah..".
" Saya punya orang tua saya pak brigjen ", lugas ku pelan.
" Benarkah ? Baik, saya akan meminta pada yang punya saja. Boleh saya besok pergi ke rumah orang tua mu ? ", tanyanya penuh harap.
__ADS_1
" Silahkan pak, tapi saya tidak janji anda akan mendapat jawaban dengan mudah dari orang tua saya pak ".