Jenderal Kesayangan

Jenderal Kesayangan
bab 10. istikharah kami


__ADS_3

" Assalamu'alaikum ", suara dari luar rumah ku mengagetkan jiwa yang lama aku rindui...


" Abah, umik,, wa'alaikumsallam.. Masuk ayoh masuk Abah Umi ", sambil kupeluk dan salim yang lama.


" Berangkat jam berapa kok pagi gini udah datang ? Mas Maliq mana ? Tadi dianter mas Maliq kan bah, kok gak keliatan mobil ma orangnya? ", tanya ku sambil clingukan mencari orang tersebut.


" Mas mu lagi ada perlu. Nanti bakalan kesini lagi. Tadi mau menemui orang katanya..", jelas umik ku.


" Kenapa tidak ketemuan disini aja. Kan enak gak usah pergi kemana - mana ".


" Kalau ketemunya di rumah mu namanya gak jadi ta'aruf fan lah nduk.. Pacaran itu jadinya. Makane biar ketemu diluar ae ", jelas umik ku membingungkan ku.


" Apa sih maksudnya umik itu abah? Aku gak paham. Sudahlah. Abah Umik sehat kan ? ", tanya ku mengalihkan kebingungan ku.


" Sehat alhadulillah ".


" Lama kamu kok gak pulang nduk, apa gak kangen wong tua - tua ini ? ", katanya yang membuat ku semakin bersalah.


" Kangeeeen banget laah. Maaf bila selama ini Farah yang terlalu memaksa. Farah janji setelah ini, aku sering pulang kok. Kerjaan ku sudah lumayan enak mik, dan anak - anak juga sudah besar. Jadi aku tidak terlalu repot mik. Maaf ya mik, bah ", jelasku sedikit berlinang air mata.


" Iya, Yayan sering cerita kamu kok, tidak apa - apa, umik abah ridho nduk ".

__ADS_1


" Terimakasih, maaf geh bila anakmu ini kurang berbakti ".


" Ora, ora popo.... Mana cucu - cucu ku... Sudah kangen rasanya tidak ketemu ".


Dari arah luar terdengar suara teriakan anak ku berkejaran senang karena melihat ada tamu yang datang.


" Mbah kung, mbah uthi ", peluk ramai mereka pada orang tua ku.


Setelah lama kami berkangen - kangenan, kami lalu makan bersama. Kebetulan aku masak gulai kambing kesukaan orang tua ku.


Rasanya seperti 3 tahun yang lalu. Formasi lengkap, hanya tidak ada mas Irdho, almarhum suami ku.


" Nduk,,, Kamu gak mau nikah lagi ta nduk ? ", tanya umi ku mengagetkan ku.


" Gini nduk, ada orang Surabaya kemarin datang sama keluarganya minta kamu. Katanya udah kenal kamu. Kamu sudah memberi lampu hijau.


Dia mantan murit ku dulu nduk, podo karo almarhum suami mu ", jelas abah ku menegaskan seperti nada perintah.


" Tidak tahu abah, saya masih bingung. Saya masih ingat mas Irdho bah. Saya juga takut dengan anak - anak ", tegas ku pelan.


Aku melihat raut wajah kesedihan orang tua ku atas jawaban yang aku lontarkan. Seperti sebelum - sebelumnya,, penolakkan ku pada beberapa calon yang dibawa abah dan umik pada ku 3 tahun terakhir.

__ADS_1


Tapi rasanya berbeda. Kali ini, sedih nya amat terasa di atmosfer pertemuan kali ini.


Apa mungkin abahmu sangat mantap dengan pilihannya kali ini, atau memang aku telah ada rasa yang berbeda mengenai calon yang dibawa abah ku ini. Masyaallah....


" Bismillah,, Baik lah abah umik, saya coba istikharah dulu ", mencoba membahagiakan raut muka kedua orang tuaku saat ini.


" Alhamdulillah.... Istikharah ku sudah mantep nduk,, pak jendral... ", wajah bahagia abah ku menyeruap kala itu.


Tidak lama kemudian, mas Maliq datang dengan mobilnya yang penuh benih pohon durian.


" Assalamu' alaikum mas, ayo masuk ! ", perintah ku sambil ku salammi mas ku ini.


" Wa'alaikumsallam warohmatullah ".


" Bawa benih duren banyak banget mas, ditanam apa mau dijual lagi ?", kata ku menyelidik.


" Ini dari orang ngasih, bakal calon adek ipar ", goda mas Maliq pada ku agar aku sedikit malu.


" Mas ini, tukang minta. Aku aja gak tahu dikasih, mas yang baru kenal udah bawa sak mobil ".


" Orang mau shodaqoh kok dilarang, ya tak terima saja lah. Sapa tau, dia berniat menyogok mas nya biar dapat adeknya. Emang kamu sudah tau, siapa yang memberi benih duren ini ? ", goda mas ku pada ku yang langsung membuat muka ku merah malu.

__ADS_1


" Pak Jendral ", jawab semua orang kompak padaku.


__ADS_2