
Aku ikut abah dan umiku pulang kali ini. Bukan membahas pernikahan ku karena aku juga belum istikharah orang tersebut. Tapi karena paksaan umik ku disuruh bantu - bantu ada acara wisuda pondok khafid Qur' an abah ku. Khafid adalah sebuatan orang yang sudah hafal 30 juz Al Qur'an.
Ramai sekali kalau sudah acara wisuda seperti ini. Para santri yang datang dari berbagai penjuru kota mulai dari Jawa Timur, Jawab Tengah, Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi dan kota - kota kecil lainnya. Semuanya pada membawa family nya untuk datang sebagia saksi bahwa dirinya telah menjadi penerus Nabi Muhammad dengan hafalan Qur'annya. Haru biru selalu mewarnai wisuda ini, bukan setahun dua tahun mereka berkutat tentang kalam - kalam suci itu. Ada yang sampai 10 tahun mondok agar bisa lulus hafid. Manusia dibekali daya ingat masing - masing. Ada juga dulu aku pernah mengerti ada orang Surabaya yang hafid dalam waktu kurang dari dua tahun. Saat itu aku masih Aliyah ( SMU) kelas 1. Hehehehe, jadi ingat orangnya lagi kan....
" Ning Farah, ada tamu di rumah dalem, katanya bu nyai mencari jenengan ning ", pesan santri itu pada ku agar aku bergegas masuk.
" Inggeh, terimakasih mbak ", balas ku pada santri itu.
Aku berbegas masuk rumah untuk menemui orang yang katanya ingin bertemu dengan ku.
Di dalam rumah sudah ada abah, umi, mas - mas dan mbak - mbak ipar ku. Ditambah satu lagi orang itu, duduk paling dekat dengan abah ku. memakai baju seragam pondok batik dan sarung. Masyaallah apa ini......
" Assalamu' alaikum....", kaget ku melihat semua anggota keluarga ku berkumpul seperti acara Idul Fitri saja.
" Wa' alaikumsallam.... Ini yang diapeli sudah muncul. Ayo duduk sini sama mbak Fatimah ", jelas istrinya mas Maliq sambil menepuk kursi agar aku duduk disebalahnya.
Umur ku sudah kepala 3, tapi masih saja diperlakukan gadis remaja. Apa mereka semua lupa aku ini janda? Tidak usah ditemani semua anggota keluarga ku, aku berani sendiri menemui bakal calon suami. Hah, keponya keluarga ku ini....
__ADS_1
" Ini nduk, nak Baskara tadi menghadiri acara alumni pondok. Trus kebetulan kamu juga ada disini. Apa ada yang mau kamu tanyakan ke orangnya, mungkin saja bisa kamu gunakan untuk mempertimbangkan jawaban mu pada nak Bas ", jelas abah pada ku melihat aku agak bingung kedatangan tamu yang tak terduga.
Maaf kan saya semuanya, saya sudah berprasangka buruk pada semuanya.
" Bismillah. Saya ada beberapa pertanyaan sebagai syarat ke jenengan pak Jendral ", kata ku yang masih menundukkan kepala.
" Insyaallah akan saya jawab dengan jawaban yang sebenar - benarnya. Silahkan neng Farah ajukan pertanyaanya ", jawab pak jendral dengan tegasnya.
" Sebelumnya saya minta izin pada abah, umi, mas dan mbak ku semuanya. Tidak mengurangi rasa hormat dan kesopanan saya, saya akan bertanya kepada pak Jendral ini ".
" Anda pasti sudah tahu bahwa saya mempunyai 3 anak. Saya seorang janda. Apa bapak tidak malu akan memperistrikan saya ?
Kedua, umur saya 32 tahun. Andai mempunyai anak lagi mungkin 1 atau 2 saja. Apa bapak mau mempunyai anak yang tidak bisa banyak dari saya ?
Ketiga, bapak mempunyai anak buah yang banyak. Apa bapak tidak malu dengan teman - teman dan anak buah bapak nanti beristrikan saya ini ?
Keempat, pak Bram kakak anda pernah berniat menjadikan saya istri ke duanya. Apa bapak tidak cemburu nantinya dengan masnya jenengan bila saya sudah menjadi bagian keluarga bapak ?
__ADS_1
Cukup, itu pertanyaan saya. Silahkan bapak jawab ", lugas ku mantap.
" Bismillah. Semua pertanyaa jawabnya tidak dan saya mau. Untuk apa malu menikah dengan janda 3 anak. Bukankah itu sunah rasul ?
Saya mau kalau hanya mempunyai anak satu atau dua dari neng Farah. Bahkan jika Allah tidak memberi saya rejeki anak pada saya, saya sangat ridho. Kan saya sudah punya anak 3 dari jenengan.
Saya juga tidak malu sama teman - teman dan pasukan saya. Wong kemarin pas di stadion yang muji dan liat jenengan dapat hukuman push up 50 x dari saya.
Dan yang terakhir, saya tidak akan cemburu kalau sama mas Bram. Tapi kalau dengan yang lain saya tidak janji. Lagian kita gak serumah sama mas Bram kok.
Sudah puas dengan jawaban saya. Apa boleh saya meminang anda ning Azizah Farah An Nawawi ?", berkata dengan mengarahkan badan ke abah berharap persetujuan diterima.
" Insyaallah, saya terima ", kata ku mendahului abah yang akan memaparkan nasehat panjang lebar yang akan membuat ku malu.
Aku juga tidak tahu apa yang mendasari pertanyaan - pertanyaa ku tadi. Tidak seperti biasa pertanyaan untuk orang yang akan meminangku dulu. Seperti iman, islam ikhsan lah pertanyaan ku berkutat. Aah, tidak tau.. Aku semakin malu saja di olok - olok mas - mas ku.
" ALHAMDULILLAH .. AKHIRNYA.." , kompak mereka serentak.
__ADS_1