JERRY LE CHASSEUR(SANG PEMBURU)

JERRY LE CHASSEUR(SANG PEMBURU)
Bab 10


__ADS_3

Nyoman cukup telaten mengerjakan tato di lengan Ike. Ike yang betah menahan sakit kadang meminta rehat untuk menghilangkan sedikit rasa sakitnya. Pengerjaan dengan waktu normal yang seharusnya hanya 2-3 jam menjadi 5 jam. Tato irezumi dilengan Ike tidak sepanjang tato dilenganku. Ike meringis kesakitan, kulit disekitar tatonya meradang merah. Saat masuk hotel Ike mengajakku nongkrong di kolam renang. Tasya ternyata sudah lebih dulu disana. Aku tertawa melihat muka Ike yang langsung cemberut melihat Tasya.


"Kenapa mukanya gitu?" Tanyaku sambil mencolek pipinya.


"Kita ke kamar aja yuk!" jawabnya.


"Ogah ahh, kapan lagi bisa liat Tasya pake bikini."


Ike dengan muka cemberut langsung ngacir menuju kamar. Aku tertawa sambil mengejarnya. Ike berlari menuju lift sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. Saat pintu lift hampir tertutup, kuhalangi dengan tanganku. Saat memasuki lift kupalangkan kedua tanganku didekat pinggang dan kepalanya.


"Ngambekan ternyata, hahahaa!" ejekku sambil tertawa.


Ike tersenyum lalu menjulurkan lidahnya lagi. Kulingkarkan tanganku dibahunya.


Saat kami menutup pintu kamar, aku langsung menarik tubuh Ike kearahku dan mencium bibirnya. Kami berciuman sambil berjalan kearah kamar, lalu kami berciuman sambil berguling-guling di ranjang. Kuciumi lehernya yang jenjang dan wangi itu. "Sssssshhhh Jerry!" desahnya dengan mata terpejam. Wangi lehernya dan desahannya membuatku terangsang. Tanganku yang menggila segera menyusup kedalam blousenya yang ketat. Gundukan bukitnya sudah berada dalam genggamanku. Ike yang menindihku lalu membuka seluruh pakaiannya. aku pun dengan cepat membuka pakaianku. Kutatap tubuhnya yang putih mulus seperti porselen itu. Tanganku mengelus lembut menelusuri kulit tubuhnya yang terasa lembut seperti kulit bayi itu.


"Diam! Jangan bergerak!" Ujarnya sambil meremas lembut otot dadaku dan otot perutku. Ike menggenggam otot panjangku yang sudah berdiri menjulang, kedua tangannya bergerak lembut. Bulu halus diseluruh tubuhku tiba-tiba merinding saat lidahnya menyapu bagian bawah ototku.


"Sumpah, ini gede banget Jerry!" ujarnya sambil memutar-mutar lidahnya disana.


Kurengkuh tubuhnya yang sedang berlutut dipangkal pahaku itu, lalu kudorong pelan keatas ranjang.


Kini otot panjangku itu sudah berada diatas daging miliknya yang sudah basah itu.


Tanganku memegang pangkal ototku yang sudah mengeras itu sambil menggesek-gesekan kepala ototku dengan lembut dipermukaan daging lembut miliknya. Kudorong pelan hingga kepala ototku tenggelam kedalam daging putih kemerahan yang merekah itu.


"Ougghhhhh Jerry!"


Ike memejamkan matanya sambil meremas lenganku.


"Perih, Ke?"


Ike menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manja. Dia membuka kedua kakinya lebih lebar lagi. Pelan-pelan ototku menerobos masuk kedalam tubuhnya yang makin basah.


"Akkhhhhhh, Jerry!!!" desah Ike sambil mengigit bibirnya dan menghempaskan kepalanya kekiri dan kekanan.


Kutarik pelan otot panjangku lalu kudorong kembali dengan pelan. Kulakukan itu berulang kali sambil menatap wajah Ike yang mengerang dibawah tubuhku.


Lendir didalam tubuhnya mengalir lebih banyak, gerakanku pun semakin lancar memompa dirinya.


"Gilaaaa, tekaaaan teruss gituuu sayaang!" desahnya saat aku melakukan gerakan menekan dan berputar-putar didalam tubuhnya.

__ADS_1


"IKE! JERRY! DIMANA LU BERDUA!!!"


"DEGGGG!!!"


Ike langsung menutup mulutnya dan memelukku. Aku berhenti bergerak begitu mendengar teriakan Tasya.


"Jangan berhenti, Jerry! Terusin!Gue udah hampir sampai!" bisik Ike sambil menggoyangkan pantatnya berputar-putar.


Kucium bibirnya agar tidak mengeluarkan suara, kupacu gerakan keluar masuk tubuhnya semakin cepat.


Ike melepaskan ciumanku sambil mendesah keras.


"Ahhhhhh, Ahhhhh, Ini enak banget sayang! AKKKHHHHH JERRY!" Teriak Ike lalu mengejang! Dia memelukku erat sambil meremas punggungku dan menekan pantatnya keatas.


"IKE LU LAGI NGAPAIN DI KAMAR JERRY! DOK! DOK!" Teriak Tasya lagi sambil menggedor pintu kamarku. Aku yang hilang konsentrasi seketika menghentikan aksiku.


"GUE LAGI ML SAMA JERRY! PUAS LU GANGGU GUE! RESEKK LUU AHHH!" Balas Ike dengan berteriak kepada Tasya. Terdengar suara tawa cekikikan Tasya dari luar.


Ototku terkulai lemas, gangguan dari Tasya membuatku kehilangan fokus. Aku lalu berbaring dan memeluk tubuh Ike setelah mencabut ototku.


"Jerry, ayo lanjutin lagi. Tasya memang suka iseng banget!"


"Ntar aja, Ke. Gue udah gak bisa," jawabku sambil mencium bahunya.


"Kemarilah!" ujarku memanggilnya.


Ike lalu duduk didepanku sambil memunggungiku. Kupeluk tubuhnya dari belakang. Ike menyampirkan rambutnya kesamping tubuhnya saat aku menciumi bahunya.


Aku mengambil sabun dari soap dispenser diatasku. Dan menggosok lembut punggungnya yang putih mulus.


"Peluk Gue, Jerry!" ujar Ike sambil merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Ike lalu berbalik dan menghadapku. Kuluruskan kakiku untuk didudukinya. Ike lalu memelukku. Perlahan otot panjangku berdiri kembali.


"Udah berdiri lagi, gue masukin ya!" Ujarnya tersenyum dan kedua matanya berbinar menatapku lalu berjongkok sambil menggenggam ototku itu memasuki dirinya.


Ike bergerak turun naik perlahan sambil memejamkan matanya. Kuciumi lehernya sambil memeluk erat tubuhnya yang bergoyang didepanku. Kami saling berciuman dengan liar dibawah guyuran air shower. Ike bergerak cepat maju mundur sambil memeluk leherku. Cairan hangat membanjiri ototku yang berdenyut kencang.


"Semprotin didalam sayang!" jeritnya sambil meremas rambutku yang basah.


"Aggghhhhhh Jerry!" jeritnya lagi ketika cairan cintaku berhamburan didalam dirinya.


"Ugggghhhh Ikeeee!" jeritku sambil menekan pinggangnya.

__ADS_1


Ike lalu segera berdiri sambil meraba tubuhnya yang dibasahi cairanku.


"Banyak banget, berapa lama lu gak ML Jerry?" katanya sambil tersenyum dan memelukku.


"Sejak jaman dulu kala, Ke! Hahahhaahaha," jawabku sambil berdiri dan menyabuni tubuhku. Kutarik lagi tubuhnya dan kupeluk erat tubuhnya.


"Jerry, kenapa elu tiba-tiba begini?"


"Enggak kenapa-napa, Ike. Udah ahh, gak usah banyak nanya!" ujarku sambil mengecup bibirnya.


"Tetaplah begini sama gue, Jerry. Jangan cuek lagi, sayang!" Jawab Ike sambil menatap kedua bola mataku. Ike lalu mengusap tato didada dan perutku lalu menempelkan lengannya yang kemarin ditato.


"Sayang, ini kan gak boleh kena air!" ujarku panik lalu membungkus lengannya dengan handuk kecil.


"Hihihi, saking enaknya habis ML jadi lupa!" ujarnya tertawa sambil memandangiku yang membungkus tangannya.


"Enak atau nikmat?"


"Dua-duanya, Jerry!"


"Pilih salah satu!"


"Nikmat, Nikmat sudah pasti enak kan? Hihihihi!"


...****************...


"Jerry, Pamanmu sakit parah. Dia memintamu untuk segera datang," Ujar Sofia istri paman Hector disambungan telpon.


Aku lalu segera membereskan barang-barangku malam itu. Ike yang kebetulan masuk ke kamar memandangi wajahku yang muram.


"Ada apa, Jerry? Kok sudah beres-beres barang?" tanya Ike lalu duduk di depanku.


"Paman gue sakit parah, gue harus ke Papua besok, Ke!" Jawabku sambil memasukkan barang-barangku kedalam tas.


"Gue cariin tiketnya, ya. Mudah-mudahan paman elu cepat sembuh, Jerry!" ujarnya sambil memelukku.


"Iya Ike, thanks. Titip apartemen gue ya!" ujarku.


Lalu kuberikan kunci Apartemenku pada Ike.


"Besok pesawat jam 7 pagi, Jerry. Sekarang kamu istirahat ya!" Ujar Ike sambil mengelus rambutku.

__ADS_1


"Malam ini temenin aku tidur disini ya, Ke! Please!" kataku.


Ike lalu tersenyum dan memelukku.


__ADS_2