
Setelah menjalani perjalanan panjang, akhirnya aku tiba di Wamena. Dengan menaiki ojek dari bandara, Aku tiba di rumah tempatku dulu dibesarkan oleh paman Hector. Saat kumasuk, paman Hector sedang duduk diruang tamu dengan 4 orang pria. Kupeluk pamanku yang sedang duduk dikursi itu.
"Inilah calon penggantiku!" kata Paman Hector pada 4 pria itu.
"Jerry, kenalkan Paul, Yosef, Simon, dan Pato!" lanjut paman Hector lagi.
Aku membungkukkan tubuhku menghormat pada mereka semua. Ke 4 pria itu adalah anak buah paman Hector yang ternyata adalah pemasok senjata dan obat bius. Paman Hector tanpa kuketahui ternyata pimpinan tertinggi sebuah kartel di Indonesia Timur.
Malam itu aku menemani paman Hector yang berbaring di ranjangnya.
"Jerry, ini ada uang peninggalan orang tuamu dan uang dariku. Gunakan sebaik-baiknya uang itu. Lupakan dendammu, Jerry. Cari wanita yang baik untuk menemanimu. Jauhi keluarga Tn. Bram mulai sekarang, jangan pernah berurusan dengan mereka lagi. Ingat pesanku baik-baik, Nak!" Ujar paman Hector sambil memegang tanganku.
"Ke 4 pria tadi akan mematuhi perintahmu setelah aku meninggal, anggap mereka seperti paman. Masalah urusan kartel, biarlah mereka yang mengurusnya. Kamu setiap bulan akan mendapat pembagian hasil dari mereka! Uhuuuuuukkk!Uhuuuukk!" ujar paman Hector sambil terbatuk-batuk.
"Istirahatlah paman. Paman Hector jangan ngomong seperti itu, aku yakin paman akan segera sembuh!" jawabku menghiburnya.
"Tidurlah, kamu pasti capek, Jerry!" katanya sambil menepuk pundakku.
"Baik paman!" jawabku lalu keluar dari kamarnya.
Pagi harinya, aku dikejutkan dengan teriakan bibi Sofia dari dalam kamarnya. Paman Hector meninggal dalam tidurnya. Paman Hector meninggal seperti orang yang sedang terlelap tidur. Kupeluk tubuh pamanku itu sambil meneteskan airmata.
"Selamat jalan paman. Semoga tenang engkau disana!" ujarku sambil mencium kedua pipinya.
Setelah upacara pemakaman paman Hector dan prosesi adat yang dianut bibi Sofia. Sudah hampir 1 bulan aku tinggal di wamena, aku pun berencana secepatnya untuk pulang ke Surabaya. Apalagi Ike sudah tidak meneruskan sewa Apartemennya. Karena dia harus pulang untuk menjaga mamanya yang sedang sakit keras.
Yosef mengantarku sampai bandara Jayapura, Yosef menyerahkan sebuah tas kecil.
"Bos, setiap bulan kami kirim uang jatah di rekening didalam tas ini. Perintah dari mantan ketua!" kata Yosef.
"Terima kasih, banyak bang Yosef!" balasku.
"Telpon saya dinomer ini, Jerry. Kesusahan apa saja, saya pasti datang!" ujarnya memberiku kartu nama.
"Siap, bang!"
Kubuka tas kecil itu saat aku didalam pesawat sesuai pesan Yosef. Buku Rekening Bank itu atas nama Paman Hector berisi uang 40 Milyar! Kukucek mataku, tapi nominalnya tetap. Jumlahnya tidak berubah. Gila!
Begitu sampai di Surabaya, aku menuju apartemenku, Kamarku dalam kondisi rapi walaupun berdebu. Setelah memeriksa peralatanku, kucoba menelpon Ike. Ike masih di kota Malang, Menunggui ibunya yang sakit. Aku berjanji menjenguk ibunya setelah menyelesaikan urusanku.
Aku menuju kamar kelas 2 yang terletak di ujung lorong, saat ku melewati lorong itu, terlihat seorang gadis sedang menyuapi wanita tua yang mungkin ibunya. Gadis itu terlihat tersenyum pada wanita tua itu. Kamar itu diisi 4 orang pasien.
"Halo tante, maaf saya baru bisa jenguk!" Wanita tua itu hanya melongo melihatku, Ike langsung berteriak menghambur ke arahku.
"Jerry, kirain elu cuma boongan mau dateng!" katanya dengan mata berbinar.
"Emang gue dulu pernah boongin elu, Ke?" tanyaku sambil mengedipkan mata.
Setelah berkenalan dengan mamanya dan mengobrol sebentar dengan beliau. Kuajak Ike untuk mengobrol di cafetaria Rumah sakit.
"Mama lu pindahin ke VIP deh, Ke!"
"Mama itu sebulan kemarin dari VIP, tapi uang gue kan terbatas. Akhirnya gue turunin kelas kamarnya."
"Iya gue tau. Setelah ini gue yang nanggung biayanya, elu jangan nolak. Gue gak ada maksud apa-apa, Ke."
__ADS_1
"Jangan, gue gak bakal mau nerima bantuan elu, Jerry. Thanks elu udah bermaksud baik ke gue!"
"Gue cuma minta ijin. Gak minta persetujuan elu."
"MAKSUD LOE?"
Aku tersenyum sambil menjulurkan lidahku padanya. Ike langsung duduk disampingku dan mencubit pinggangku.
"Elu ngajak gue kesini, gue ngertiiiiii!" ujarnya sambil mencubit keras pinggangku.
Ike langsung kembali ke kamar mamanya dirawat. Mamanya sudah tidak ada lagi dikamar itu.
Ike berbalik berjalan ke arahku.
"Gue gak seneng klo lu begini, Jerry!" Muka Ike terlihat marah sekali.
" I don't have relatives now. Biarkan gue menolong mamamu, itu hal yang gak bisa gue lakuin ke paman gue, Ke!"
" Tapi gak...," kupotong ucapannya sebelum diselesaikannya.
"Gue suka elu, Ke. Klo lu nolak bantuan gue, gue akan pergi dari sini!"
"Gue gak mau utang budi sama elu, Jerry!"
"Gak ada itu, gue gak akan sampe begitu lah, Ike!"
Lalu aku mengajak Ike untuk mendatangi mamanya yang sudah pindah kamar.
Mamanya sedang tidur setelah dikunjungi oleh tim dokter.
"Trus mama lu siapa yang jaga?"
"Ada adek atau tante ntar, baju ganti gue udah habis."
"Ayo lah!"
Setelah menelpon adik dan tantenya, aku dan Ike berjalan keluar rumah sakit.
"Mobil elu yang mana?" Tanya Ike.
"Silakan masuk Tuan puteri!" jawabku sambil membukakan pintu mobil Mercedes terbaruku.
"Ehemmmmm!"
"Kenapa kok ehemmm?"
"Gak apa-apa, Jerry! Cuma cowok yang pake mobil sport biasanya tipe playboy."
"Hahhahaha, klo playboy gue gak bakalan datengin elu, Ke!"
Mobilku mulai bergerak mengantar Ike menuju rumahnya.
"Trus apa elu gak bakal balik lagi ke Surabaya, Ke?"
"Nggak deh kayaknya, gue lagi bokek."
__ADS_1
"Tinggal bareng gue aja, Ke."
Ike menatap wajahku dengan tatapan kaget, lalu berkata.
"Lu ngajak gue kumpul kebo?"
"Emang elu kebo?"
"Gue serius!"
"Gue juga serius!"
"Gak mau lah, Gue juga belum mau kawin!"
"Hmmmm."
"Hihihihi."
"Anggap aja omongan gue tadi becanda, Ke!" ujarku sambil menyalakan rokok. Kukebut mobilku dan tak lama tibalah di rumah Ike. Rumah itu hanya ditinggali Ike , Mamanya dan Adkiknya.
"Masuk yuk!"
"Gue masih ngerokok, lu duluan deh!"
Ike lalu mengambil rokok ditanganku. Dan langsung membuangnya.
"Udah gak ngerokok kan?" katanya sambil menyeret tanganku ke dalam rumah.
Aku pun duduk di sofa setelah masuk diruang tamu. Setelah mengantarkan secangkir kopi, Ike kembali ke dalam.
"Dihabisin dulu minumnya," katanya sambil duduk disampingku.
"Mau balik ke rumah sakit lagi?"
"Nggak, kenapa?"
"Kok bawa koper?"
"Mau ikut elu!" kata Ike sambil memelukku
"Serius ikut gue?!" Tanyaku sambil mengelus kepalanya.
Ike menganggukkan kepalanya.
"Disini dingin juga, ya!"
"Hahahha, Modusssss!" katanya lalu mencium pipiku.
"Hahhahaha ngerti aja!" jawabku sambil mengusap rambutnya.
Kudekap pinggangnya dan mencium bibirnya.
"Langsung berangkat?" kataku setelah melepaskan bibirku dari bibirnya.
"Ayuk!" jawabnya.
__ADS_1