
2 tahun aku tinggal di kota Surabaya, aku tinggal di apartemen yang cukup mewah. Apartemen yang bersebelahan dengan pusat perbelanjaan di Surabaya Barat. Aku sudah tidak melakukan pekerjaan lamaku, selama ini aku hanya hidup dari bunga deposito yang lebih dari cukup. Teman ngobrolku hanya paman Hector, yang tahun kemarin datang ke Surabaya memperkenalkan istri dan anak tirinya kepadaku. Aku memang menutup diri dari pergaulan. Kegiatanku hanya fitness, makan dan tidur.
Sore itu setelah membeli pakaian, aku nongkrong untuk makan di food court yang malam minggu itu penuh sesak. Aku duduk sendiri menunggu makanan yang kupesan. Ada 2 gadis yang sedang mencari meja. "Mas, ada orangnya nggak?" sapanya dengan logat jawa medok padaku yang sedang sibuk mengotak-ngatik ponsel. Kutatap wajah mereka berdua dengan dingin.
"Gak ada mbak!" jawabku sambil lanjut memainkan ponselku. Belanjaanku yang tadinya kutaruh diatas meja, kupindahkan dikursi disebelahku. Mereka berdua menatap tanganku yang penuh tato. Mereka berbisik sambil menatap tato ditanganku. Mereka berdua masih berbisik-bisik sambil tertawa. Hal itu membuatku risih. "Ada yang lucu?" tanyaku sambil mengantongi ponselku dan menatap mata mereka berdua. "Nggak mas, tatonya keren bikinnya di Bali ya?" jawab gadis keturunan Tionghoa itu.
"Mantan pacarnya mau tato persis kayak tato mas, tapi gak jadi!" Ujar gadis yang satu lagi.
"Bikinnya di Nyoman Tato kan?" sahut gadis Tionghoa itu lagi. Aku menganggukan kepala. "Kenalin aku Ike, mas!" ujar Gadis itu lagi sambil mengulurkan tangannya.
"Jerry!" jawabku sambil menjabat uluran tangannya.
"Aku Tasya, mas!" kata gadis yang satu lagi. Belum sempat kujabat tangan Tasya.
Bentakan keras mengagetkanku.
"IKE!!!" Bentak pria keturunan Tionghoa dibelakangku dengan 4 orang temannya.
"Siapa dia, huh? Jadi tikus ini yang bikin elu selalu nolak ketemu gue?"
Otomatis keributan itu membuat mata orang-orang di sekitar mejaku tertuju pada kami.
Makanan yang kupesan akhirnya datang.
"Tikus!! Pindah loe sana! Brakkk!!!" Bentak pria itu lagi sambil menggebrak mejaku.
Kutatap matanya yang sipit itu sedang melotot padaku dengan tatapan penuh amarah.
"INI MEJAKU! KALAU AKU GAK MAU PINDAH, KAMU MAU APA?!" Jawabku sambil berdiri. Untunglah sebelum terjadi adu jotos, Security Mall datang lalu menghalau ke 5 orang itu.
"Maaf ya, mas Jerry!" kata Ike sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Mantan lu klo marah gak liat tempat, Ke!" sahut Tasya Geram.
"Udah gak usah dibahas, aku makan duluan ya!" kataku sambil menyuap makananku.
__ADS_1
Ike dan Tasya menganggukkan kepalanya. Pesanan mereka berdua pun datang. Ike terlihat makan dengan malas-malasan. Setelah selesai makan, aku pun pamit kepada mereka berdua. Aku berjalan pulang menuju apartemenku yang terletak 3 lantai diatas food court itu. Aku tersenyum begitu tau ke 5 orang itu mengikutiku. Ternyata bukan 5 orang itu saja yang mengikutiku. Ike dan Tasya pun terlihat berlari ke arahku. Aku lalu berbalik badan dan menerjang ke arah 5 orang itu setelah melempar tas belanjaanku ke lantai. Pria yang membentakku langsung bereaksi terbang menendangku. Aku menghindari tendangannya dengan merangsek menempel tubuhnya sambil melayangkan sikutku kewajahnya. "Buuuukkk!" Sikutku menghantam wajahnya dengan keras. Dia terhuyung kebelakang kutambahkan lagi tendangan putarku tepat didadanya. "Daaakkk!" tubuhnya terjengkang kebelakang. 2 orang temannya membantu pria itu untuk berdiri, 2 orang temannya yang lain melancarkan serangannya kepadaku. Aku menghindari pukulan mereka sambil menundukkan tubuhku dan memiringkan tubuhku. 2 Uppercutku mengenainya telak di bagian rahang. Pria itu roboh dengan bibir pecah. Pria yang satu lagi langsung roboh sambil terduduk ketika pukulanku masuk ke uluhatinya. Saat aku hendak menyiksanya lagi, Ike dan Tasya sudah datang bersama 2 orang Security Mall.
"Mereka yang cari gara-gara pak, dari food court sampai ngejar saya kesini!" kataku sambil memungut tas belanjaanku.
"Kamu gak apa, mas?" tanya Ike.
"Gak. Aku gak apa-apa," jawabku sambil tersenyum.
"Jalan keluar mall bukan lewat sini, mas!" sahut Tasya.
"Siapa yang mau keluar?Apartemenku diatas no. 2044!"
"Kita tetanggaan donk , 2080 apartemenku mas!" jawab Ike.
...****************...
Saat aku sedang cooldown diatas sepeda statis, Ike menepuk pundakku dari belakang.
"Udah mau selesai, mas?"
"Tasya masih molor klo jam segini, mas!"
"Aku kesana dulu ya, Ke!" ujarku sambil menuju bench press machine. Setelah 4 repetisi, aku pun beristirahat sambil duduk dan mengayuh sepeda statis. Kulihat Ike sedang berlatih sendiri dengan mengangkat dumbel. Aku melirik body Ike yang aduhai saat mengangkat dumbel bertumpu pada bangku sambil membungkukkan punggungnya. Makin lama menatap bodynya ototku yang lain terasa menegang.
"Mau balik mas?" tanyanya ketika aku berjalan melewatinya.
"Temenin aku opo'o mas, aku mau pake alat masih gak ngerti gunanya apa," lanjutnya lagi.
"Mau bentuk apa, Ke?" Tanyaku.
"Dada sama pantat, mas!" bisiknya pelan.
"Klo dada pake ini, ini namanya Bench press. 2-3 repetisi dulu aja. Klo untuk otot pantat pake treadmill bisa, sepeda statis atau leg press juga bisa."
Bulan demi bulan berlalu, Ike dan Tasya menjadi teman sekaligus tetangga baruku.
__ADS_1
"Tok ! Tok! Tok!" suara pintu kamarku diketuk pagi itu.
Kubuka pintu kamarku, Ike yang seperti biasa membawa makanan untukku langsung masuk.
"Jerry, berantakan banget kamar lu!" katanya sambil memungut kaos dan handuk disandaran kursi di meja makan.
"Nih ada pastel, lumayan buat sarapan!" lanjutnya lagi sambil menyodorkan sepiring jajanan kepadaku yang sedang meringkuk di sofa.
"Ini masih jam 07.00, kenapa elu sudah ganggu gue sih, Ke?" ujarku dengan mata terpejam.
"Lupa ya? Katanya mau ikut ke Bali, udah beres-beres lu?"
"Males!" jawabku sambil menutup selimut ke kepalaku.
"Tuh kan, elu suka gitu. Tiket elu udah gue beliin lho, Jerry!"
"Berangkatnya nanti sore, kenapa elu bangunin gue sepagi ini, Ike!"
"Hihihihi, suka aja liat elu ngomel pagi-pagi. Ya udah gue balik dulu!" katanya sambil keluar dari kamar.
Begitu Ike keluar dari kamar, aku mengeluarkan kotak peralatanku. Kupreteli pistolku dan membungkusnya dengan lapisan khusus. Setelah selesai kumasukkan peralatanku kedalam toolbox. Aku melanjutkan tidurku lagi.
"Jerry! Jerry! Tok! Tok!" Suara Tasya yang cempreng berteriak dari luar kamar.
Aku membuka pintu dengan malas.
"Ihhhh, pake baju celana kek, bang! Masa Boxeran doank!" ujar Tasya sambil menutup mukanya.
"Salah lu masuk jam segini, jam gue mau mandi!" jawabku sambil memakai handuk untuk menutupi Boxerku.
"Keren tato lu, gak usah pake baju dulu aahh!" sahut Ike yang tiba-tiba muncul dari belakang Tasya.
Ike menatap tubuhku yang kekar tanpa berkedip sambil tersenyum.
"Gue mandi dulu, Ke! Dan jangan sentuh barang-barang gue ya!"
__ADS_1