JERRY LE CHASSEUR(SANG PEMBURU)

JERRY LE CHASSEUR(SANG PEMBURU)
Bab 9


__ADS_3

Begitu tiba di Bali, kami bertiga langsung menuju hotel yang sudah dipesan oleh Ike di daerah Seminyak. Malam itu jalan di sekitar daerah Legian dan Kuta belum terlalu macet.


"Malam ini ke Nyoman dulu sebentar, biar besok udah siap semua, Ke," kataku.


"Nyoman tutup jam 22.00 kan, habis mandi-mandi anterin gue ya!" Ajak Ike padaku.


"Pergi sendiri ajalah, deket banget kok sama hotel!" Jawabku acuh.


"POKOKNYA ANTERIN GUE.TITIK!" Dengus Ike sambil melotot kearahku.


Kamar hotel yang dipesan Ike, semacam bungalow dengan 2 kamar tidur. Aku sehabis mandi berebah di ranjang kamarku.


"JERRY! AYO ANTERIN GUE!" kata Ike sambil berteriak didepan kamarku. Dengan kesal aku memakai Tshirt yang biasa kupakai untuk tidur dan Celana pendekku keluar kamar. Ike ternyata sudah berdandan cantik malam itu. Kupandangi Ike yang tampil cantik malam itu.


"Elu cuma mau ke Nyoman, dandan segini hebohnya?" Ujarku sambil memandanginya dari kepala sampai kaki.


"Gue cantik ya kan?" jawabnya sambil mengedipkan matanya dengan genit.


"Bentar!" jawabku lagi sambil masuk kekamarku lagi.


Aku mengganti Tshirtku dengan kaus Polo berkerah dan memakai gel rambut.


"Ayo!" kataku sambil mengacak-acak rambutku.


Ike tertawa sambil mengikuti langkahku keluar kamar.


Setelah memilih gambar, aku mendahului Ike berjalan keluar Studio.


"Jerry, kita ngopi disana dulu yuk!" ujar Ike sambil menggandeng tanganku.


"Elu aja, Ke. Gue pengen tidur!"


"Ya udah, gue bisa ngopi sendiri!" Ujarnya sambil melepaskan tangannya dari lenganku.


"Dasaaar cewek!" Batinku lalu mengejarnya.


"Dari tadi kek, pake main drama!" katanya sambil melirikku yang berjalan disampingnya.


"Udah ditemenin masih bawel aja!"


"Hihihihi. Akhirnya mau ngikut juga si cuek ini!" Batin Ike sambil mengejar Jerry yang mendahuluinya.

__ADS_1


"Gila, gue dapat diskon dari Nyoman hampir 3 juta. Dulu gue minta diskon 500ribu aja cuma diketawain sama dia. Thanks Jerry!" ujar Ike sambil menyeruput kopinya.


"Sama-sama," jawabku.


"Jerry, nanti malam ke bar yuk!"


"Lu aja deh, gue males ke tempat begituan, Ke!"


"Ini liburan, have fun dikitlah. Kerjaan lu dikamar doank, lama-lama jadi kodok lu!"


"Hmmmmm, jadi gue kayak kodok nih?"


"Ehhh, lu lagi diliatin 2 cewek tuh, Jerr. Arah jam 9!"


Aku melirik kearah yang diberitahukan Ike, kulihat ada 2 cewek yang sedang menatapku sambil tersenyum.


Aku hanya menunduk setelah bertatapan dengan mereka, kumainkan sendok ditanganku digelas kopiku.


"Menurut lu, apa sih yang bikin cewek ninggalin cowok, Ke?" tanyaku pada Ike. Aku tiba-tiba teringat Freya yang pergi meninggalkanku.


Ike menatap mataku dalam-dalam.


"Mungkin si cowok terlalu cuek, gak peduli sama ceweknya."


"Cowoknya kasar, suka selingkuh, atau ceweknya yang ngerasa gak nyaman!"


Mendengar kata-kata Ike aku hanya bisa mengingat-ingat sikapku saat bersama Freya dulu. Sikapku tidak ada yang seperti dikatakan Ike.


"Jerry, elu ditinggalin cewek lu ya?" Tanya Ike sambil berpindah duduk disampingku.


"Ahhh, Sudah lah. Sudah lama juga. Pulang yuk!"


"Gue cuma mau bilang. Lu lepasin beban itu sekarang atau elu akan kehilangan orang yang care sama elu, Jerry!" Ujarnya lalu pergi meninggalkanku.


Sambil berjalan kata-kata Ike itu terngiang-ngiang dikepalaku. Kutatap Ike yang berjalan di depanku. Dia beberapa bulan ini selalu bersikap ramah dan manis. Setiap pagi Ike mengantar bermacam-macam makanan untukku. Kukejar Ike yang berjalan agak cepat didepanku.


"Bawel, kok ninggalin gue sih!"


"Gue ngantuk, pengen cepat sampe kamar terus bobo!"


Kujejeri langkahnya yang lebar sampai ke hotel tanpa obrolan.

__ADS_1


Begitu sampai di kamar, Ike menghempaskan pantatnya di sofa dan menyalakan TV kabel, Tasya sudah tidur sambil mengorok pelan.


Aku langsung masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukaku dan memakai gel dirambutku.


Aku mengganti kaos poloku dengan kemeja dan celana pendek bermuda.


Saat aku keluar kamar sambil menenteng sepatu kets, Ike lalu bangkit dari sofa dan mendekatiku.


"Mau kemana???" Tanya Ike sambil menatapku heran.


Aku acuhkan Ike sambil tetap memasang tali sepatu lalu menyemprotkan parfum ke tubuhku.


"Ayo cantik, katanya tadi ngajak ke bar? Jadi nggak?" ujarku sambil tersenyum pada Ike yang masih bengong.


"Hihihi, Ayuk Jerry! Hahhaha murahan banget gue malam ini!" ujarnya tertawa sambil menggandeng tanganku.


Woo Bar malam itu cukup ramai, Aku dan Ike mengambil paket 1 pitcher Beer dan 1 botol Tequila. Kami bergoyang di dekat meja kami mengikuti dentuman musik Trance yang dimainkan DJ malam itu. Aku bergoyang sambil memegang pinggang Ike yang ramping didepanku.


Tiba-tiba beat music yang cepat berubah menjadi slow. Terdengar teriakan histeris dari para pengunjung wanita termasuk Ike yang lalu menarik tanganku menuju dance floor. "Slow dance, Jerry!" ujarnya sambil mengalungkan kedua tangannya keleherku.


"Kenapa senyum-senyum gitu?" tanyaku melihat mata Ike yang bergantian memandangku.


"Elu ganteng banget malam ini. Liat tuh, cewek-cewek pada ngeliatin elu!"


"Elu juga cantik, Ke!" Balasku sambil merapatkan tanganku yang memeluk pinggangnya.


Tiba-tiba lampu mendadak gelap gulita, hanya lampu laser kecil saja yang terlihat berseliweran. Lalu cahaya lampu berwarna biru mendominasi dance floor. Bibir Ike tiba-tiba sudah mengecup bibir bawahku. Bibirnya terasa sangat lembut menelusuri bibirku dari ujung ke ujung. Kubalas mengecup bibir atasnya dengan lembut. Saat lampu menyala bibir kami masih berpagutan erat. Sesi slow dance pun berakhir, Aku dan Ike kembali ke meja sambil bergandengan tangan. Ike lalu menyelusupkan jemarinya di celah jemariku. Kupandangi bibirnya yang begitu menggodaku malam itu. Kuelus lehernya dengan lembut sambil merapatkan wajahku ke wajahnya. Kucium bibirnya lagi, Ike pun membalas ciumanku sambil memainkan lidahnya menyapu lidahku. Kami berciuman untuk beberapa saat. DJ memainkan 2 lagu terakhir menjelang Bar tutup.


"Jerry, kita pulang yuk!" ajaknya manja setelah melepaskan bibirnya dari bibirku sambil memeluk pinggangku.


Aku mengangguk lalu menggandeng tangannya keluar dari Bar.


Didalam taksi kami hanya saling berpelukan tanpa ada obrolan. Sampai masuk kamar hotel pun, kami masih diam antar satu sama lain. Ike langsung masuk ke kamarnya bersama Tasya, aku pun masuk ke kamarku. Pikiranku bertraveling kemana-mana. Aku tidak bisa tidur, padahal pagi itu sudah jam 2 lewat, saat aku membuka pintu kamar. Ike sudah berdiri didepan pintu kamarku.


"Gue gak bisa tidur, Ke!" kataku dengan canggung menatap wajahnya.


"Gue juga sama, Jerry!" jawabnya sambil menunduk dan memainkan jemarinya.


Kutarik tangannya kedalam kamarku. Kemudian kututup pintu kamarku. Ike bersandar didinding sambil menatapku. Dadaku berdegub kencang saat wajah kami saling mendekat. Kedua tangannya mengelus otot dadaku yang kekar dan tidak memakai apa-apa. Saat bibir kami sudah mau bersentuhan.


"IKE! IKE! IKE!" Teriak Tasya dari kamar sebelah.

__ADS_1


Wajahku dan Ike sama-sama terlihat kesal. "Tasya Kamprett!" makiku dalam hati.


Ike mengecup bibirku lalu segera keluar dari kamarku.


__ADS_2