JERRY LE CHASSEUR(SANG PEMBURU)

JERRY LE CHASSEUR(SANG PEMBURU)
Bab 18


__ADS_3

Ike melakukan Video call saat aku dan orang-orang sedang menikmati pesta malam itu.


"Eheemm, lagi dugem di mana nih?" Tanyanya dengan ketus dan wajah yang cemberut.


"Bukan dugem, honey. Malam ini gue lagi bersama paman Yosef dan Simon juga teman-temannya. Mama bagaimana, honey?" kataku sambil merangkul paman Simon yang berada disampingku.


"Hmmm, kirain lagi dugem. Mumpung gak ada gue juga kan, hehehe. Mama baik-baik, mungkin 2 minggu lagi kami baru pulang, honey."


"2 minggu lagi? Ohh why u so long there, honey! I miss u so, already!" jawabku sambil menatap wajah Ike di layar ponselku.


Ike menjulurkan lidahnya mengejekku. Ketika suara mamanya memanggil, Ike pun segera berpamitan kepadaku.


"Gue nemenin mama dulu, Honey. Jangan pulang malam dan DONT DRINK TOO MUCH! I love you, and I miss u so much, Honey! Muuuaachhh!" ujarnya menyudahi panggilan video callnya setelah memberikan kiss bye padaku.


Anne mengajakku mengobrol tentang saingannya yang sering mengganggunya yaitu Kartel Pabuya dari Filipina. 2 orang Ketua Pabuya yang sering menggagalkan kirimannya adalah Sergi dan Fabio. Sudah 2 bulan ini kiriman Anne gagal, kerugian kelompok Anne mencapai puluhan milyar. Kudengarkan ceritanya dengan seksama. Setelah mendengar ceritanya, kutarik kesimpulan bahwa ada anggota kelompok Anne yang membocorkan info tentang detail pengiriman kepada kelompok lain yaitu Pabuya.


"Ganti orang yang menangani pengiriman, batasi jumlah orang yang mengetahui pengiriman. Awasi betul orang-orang yang tahu tentang detail pengiriman. Jika perlu sadap juga ponselnya!" ucapku memberi saran kepada Anne.


"Sadap ponselnya? Apakah itu perlu, Jerry?"


"Seperti yang saya bilang tadi, jika perlu! Jika nona merasa tidak perlu, ya tidak usah. Perhitungan saya simple nona Anne, biaya yang saya keluarkan untuk menyadap akan lebih murah daripada apabila barang kiriman saya dibajak atau digrebek aparat."


Anne lalu menganggukkan kepalanya setelah mendengar ucapanku.


"Mr. Jerry, apakah kamu ada kenalan orang yang bisa melakukan penyadapan?" Tanyanya lagi dengan wajah kikuk.


"Nona, kedepannya kamu harus memiliki tim IT sendiri. Untuk saat sekarang, aku akan membantumu menyadap orang-orangmu."


Anne lalu memberikan nomer ponsel bawahannya yang dipercaya untuk mengurusi pengiriman obat bius milik kelompok Anne kepadaku.


Aku berjanji akan mengabari Anne jika ada sesuatu hal yang mencurigakan tentang pergerakan orang kepercayaannya.


...----------------...


Setelah selesai acara di Club, aku kembali ke kamar. Aku memeriksa peralatan baru yang baru diberikan paman Simon dan Yosef. Helm Fullface Assault anti peluru itu langsung kucoba. Helm itu memiliki bermacam-macam fitur di dalamnya, fitur night vision mode, sensor suhu tubuh & pemancar detak jantung dengan jarak maksimal 400 meter. Dan yang paling menarik adalah sensor tembus pandang dengan jarak 100 meter. Aku tersenyum nakal ketika mencoba fitur helm tersebut. Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu kamarnya. Kuintip sebelum membuka pintu kamarku. Ternyata yang mengetuk pintu kamarku adalah Anne. Otak isengku mulai bekerja, kukenakan helm itu sambil mengaktifkan fitur sensor tembus pandangnya. Kubuka pintu kamarku sambil mengenakan helm itu. Anne terkejut dan mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"What da...helm apa itu Jerry?" tanyanya sambil memandang heran ke arahku.


"Sempurna! Tubuh Anne yang tampak seksi yang tanpa mengenakan bra terlihat jelas di visual helmku itu."


Buah dadanya ukurannya proporsional dengan ukuran badannya. Dadanya tidak terlalu besar tapi juga tak terlalu kecil, dengan bentuk yang sempurna!


Aku lalu mencopot moncong helm itu. Dan lalu aku mencopot helm itu.


"Masuk Nona, aku sedang mencoba helm dari paman Simon ini."


Anne lalu memakai helm itu. Tak lama kemudian dia mencopot kembali helm itu.


"Helm apa itu, Jerry? Tak ada yang special dari helm itu tampaknya."


Aku tertawa didalam hati mendengar ucapan Anne barusan. Memang tanpa moncong penutup dagu helm itu, helm itu terlihat hanya seperti helm safety untuk mengendarai motor biasa.


"Hmmmm, ada perlu apa nona Anne datang ke kamar saya?" Tanyaku sambil menyimpan kembali helm dari paman Simon ke tempatnya di lemari.


"Minggu depan, saya mau mengundang anda ke pesta pernikahan Kakak saya di Kuala Lumpur. Datanglah Jerry!" Kata Anne dengan senyuman genit padaku.


Anne tau kemana mataku menatap.


"Akan saya usahakan, Nona. Terima kasih sudah mengundang saya! Jika Nona tidak ada keperluan lagi, saya akan antar Nona untuk kembali ke kamar."


Anne mengangguk, dan kubuka pintu kamarku lalu mengantarnya menuju kamar. Kamarnya hanya terpaut 5 kamar dari kamarku. Setelah mengantarnya ke kamar. Aku langsung kembali ke kamarku lagi.


Aku melanjutkan lagi memeriksa barang-barang dari paman Simon dan Yosef. Kubuka kotak selanjutnya, masih dari paman Simon. Sebuah Baselayer full manset dengan legging dari bahan kevlar dengan ketebalan 2-3mm. Kukenakan pakaian itu, ternyata pakaian yang tebalnya mirip pakaian selam itu sangat ringan. Ponselku berbunyi lagi, 'Anne Calling' terlihat di layar ponselku.


"GOOD EVENING, NONA!" Jawabku dengan nada kesal namun kucoba tidak kukeluarkan malam itu berbicara dengan Anne.


"Jerry, boleh saya mengobrol dengan anda. Maaf saya tidak bisa tidur!"


"Baik, Nona!"


Anne langsung masuk ke kamarku yang sengaja kubuka pintunya. Aku masih memakai pakaian dari paman Simon. Anne menatapku tak berkedip saat memakainya.

__ADS_1


"Nona Anne bisa membantu saya?"


"Bantu apa, Jerry?"


Aku memasang peredam pada pistol Glockku dan memberikannya pada Anne.


Lalu setelahnya aku mengenakan Helm yang kusimpan di lemari.


"Tembak saya dibagian mana saja, Nona!"


"Are you serious with that, Jerry?"


"Tembak di bagian tubuh saya dimana saja, nona!"


Anne segera mengarahkan pistol ke arah dadaku.


"Debbbs! Deebbbs! Deeebss!"


Tiga tembakkan diarahkan Anne ke dada dan perutku.


Peluru itu seperti membentur permukaan lentur saat menyentuh pakaian ditubuhku.


Tak terasa sakit atau perih sedikit pun saat peluru itu menyentuh tubuhku.


Mataku menatap tubuh Anne yang memakai mantel tidur tanpa bra. Dia hanya memakai g-string saja dibalik mantel tidurnya. Aku sangat menikmati pemandangan yang ada didepanku itu.


Anne tiba-tiba mengarahkan pistol yang dipegangnya ke arah selangkanganku.


"Debbbsss! Debbbsss!"


Kali ini tembakan Anne membuat nyeri di pangkal pahaku dan membuatku tersungkur jatuh! Tembakannya kali ini membuat otot panjang di pahaku seakan dipukul keras sekali.


"Ouuugggh!! Argggghhh!" Jeritku kesakitan sambil memegangi area intimku yang ditembaknya.


"JERRY! ARE YOU OKAY?!" Ujar Anne panik sambil melempar pistol ke sofa dan menghampiriku yang sedang terkapar sambil memegangi selangkanganku. Otot panjangku yang terlihat jelas sedang berdiri karena melihat pemandangan tubuhnya itu telah menjadi sasaran tembakannya.

__ADS_1


Tangan Anne tanpa sadar mengelus otot panjangku yang perlahan sudah tidak seberapa lagi tegang karena terkena tembakannya.


__ADS_2