
Ike mengantar mamanya berobat ke Shanghai selama 3 minggu bersama adiknya Inge. Mamanya menjalani terapi akupuntur setelah mendapat anjuran dari saudaranya yang tinggal di China.
Ponselku berdering, telpon dari sebuah nomer yang tidak kukenal dan tidak kujawab panggilan telpon itu.
Lalu tak lama kemudian, masuklah sebuah pesan singkat dari nomer telpon yang tadi menelponku.
"Jerry ini Vanessa, awas ada seorang hacker yang sedang melacak keberadaanmu. Jerry, tolong angkat telpon gue!"
Lalu ponselku berdering lagi. Dan kuterima panggilan telpon itu.
Jerry(J) : "Ya, Nona Vanessa."
Vanessa(V) : "Elu sudah baca pesan gue kan?"
(J) : "Yups, nona. Terima kasih atas infonya."
(V) : "Apakah kemarin elu di Manado? Hacker itu sedang melacak kamu sampai dengan 3-4 hari ke depan. Klo bisa matikan ponsel elu, Jerry."
(J) : "Tenang nona, saya bisa jaga diri. Dont worry about me!"
(V) : "Jerry, kapan elu ada waktu? Gue ada sesuatu yang pengen gue omongin ke elu. Please Jerry!"
(J) : "Ngomong disini saja, nona!"
(V) : "Gue mau face to face sama Elu, Jerry."
Jerry terdiam dan berpikir sebentar.
(J) : "Baiklah, nanti malam saya akan datang ke klub favorit tempat nona Vanessa."
(V) : "Lu sekarang di Bandung? Lu seriuskan? Gak lagi ngerjain gue kan?"
(J) : "See u there, tonight miss Vanessa!" jawabku sambil memutuskan sambungan telpon.
Kuketuk pintu ruang VVIP didepanku. Lalu pintu terbuka, tampak wajah cantik Vanessa dibalik pintu. Aku malam itu berpakaian semi casual, aku memakai turtle neck warna hitam yang kupadu dengan blazer berwarna abu-abu gelap dengan celana berbahan jeans berwarna senada dengan blazerku.
Aku mengikuti Vanessa yang berjalan didepanku. Lalu dia duduk di sebuah sofa besar yang didepannya ada bermacam-macam minuman keras.
Vanessa memiringkan duduknya dan menghadap ke arahku. Vanessa menatapku tanpa berkedip. Aku pun menatapnya dengan tatapan dingin. Hatiku masih kesal padanya saat teringat dia menampar wajahku dengan seenaknya.
"Ada apa, nona?" kataku membuka obrolan dengan Vanessa sambil menatapnya.
"Bisakah elu berteman dengan gue, Jerry? Please, gue sudah bukan bos elu lagi. Jadi elu gak perlu panggil gue dengan embel-embel nona atau nyonya lagi," pinta Vanessa padaku dengan nada sangat sopan.
__ADS_1
"Apa yang elu harapkan berteman dengan gue, Vanessa? Gue cuma anak yatim piatu yang gak jelas asal usulnya," jawabku sambil menyulut sebatang rokok.
"Gue cuma mau berteman aja dengan elu, gue gak ada maksud apa-apa, Jerry," ujar Vanessa sambil mengulurkan tangannya.
"Gue sudah punya istri, Nessa. By the way, apa maksud elu mengundang gue kesini?" tanyaku setelah menjabat tangan Vanessa.
"Elu kenal Freya? Dia bilang ke Marcel, klo dia mantan rekan kerja elu. Benar begitu Jerry?"
"Hemmm. Maksudnya sekarang Freya bekerja untuk papamu?"
"Ya, Jerry. Elu harus hati-hati, Papa mencurigaimu yang menyabotase kiriman-kirimannya. Ada 5 kiriman yang semua supirnya terbunuh terkena tembakkan di kepala!"
"Bagaimana bisa papamu berpikir gue yang menyabotase kirimannya? Trus, kenapa elu memberitahu gue soal ini, Nessa?"
Vanessa menatap mataku dalam-dalam. Kami berdua saling menatap. Dadaku tiba-tiba berdetak kencang. Vanessa mendekatkan duduknya kesampingku lalu memegang tanganku.
"Jerry, maafin perlakuan kasar gue dulu ya. Gue berbuat gitu untuk nutupin...,"
"Semua itu udah lewat, Nessa. Gak usah dibahas lagi. Mengingat itu semua cuma bikin elu dan gue malah susah untuk berteman."
Vanessa menundukkan kepalanya, kedua tangannya menutupi mata dan sebagian wajahnya. Badannya bergetar-getar seperti sedang menahan tangis. Aku menepuk punggungnya perlahan, tubuh Vanessa bergetar makin hebat. Kulingkarkan tanganku kebahunya.
"Nessa, please jangan menangis. klo omongan gue kasar, gue minta maaf ya."
"Nessa, ayo kita toast. Semoga elu dan gue selalu menjadi teman baik!" ujarku sambil menyodorkan 1 gelas kepada Vanessa. Vanessa tersenyum dan mengangkat gelasnya. Malam itu aku dan Vanessa ternyata bisa mengobrol santai bahkan bercanda tawa.
Aku dan Vanessa terus mengobrol sambil minum. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 00.35, sudah lewat tengah malam.
"Nessa, elu ada yang jemput kan? Supir lu masih si Edo?" kataku sambil menepuk-nepuk tubuhnya yang bersandar di tubuhku.
"Gue naik taksi, Jerry. Gak apa, sejak gak ada elu gue udah biasa pergi kemana-mana sendiri," jawabnya sambil menyandarkan kepalanya dibahuku.
"Lagian sehabis ini gue bakal nginep di hotel seperti biasanya."
"Ayo gue antar, Nessa," ujarku sambil mengelus kepalanya yang bersandar dilenganku.
"1 jam lagi ya, gue masih pengen disini. Atau lu tinggalin gue aja, gue bisa pulang sendiri kok!" jawabnya sambil memegang tanganku yang mengelus kepalanya.
"Oke, Nessa. Santai gue gak buru-buru kok. Gue tetap antar elu kemana lu mau!"
Vanessa memalingkan wajahnya menghadap ke wajahku, Wajahnya makin mendekat ke wajahku hingga nafasnya terasa dipipiku.
Vanesa mengecup lembut bibirku, bibirnya cukup lama menempel dibibirku. Pikiranku kembali melayang saat pertama kali berciuman dengan Vanessa di Hotel beberapa tahun lalu. Tanganku memeluk erat pinggangnya sambil membalas ciuman lembutnya. Aku yang dalam kondisi setengah mabuk, masih melayani ciuman Vanessa yang makin lama makin bernafsu. Vanessa naik dipangkuanku sambil mengalungkan kedua tangannya keleherku. Tanganku mejelajahi paha mulusnya dan meremas dadanya. Vanessa dengan gemas menelusuri leherku dengan lidahnya.
__ADS_1
"Nessa, ayo gue antar elu ke hotel!" kataku dengan nafas terengah-engah sambil mengelus pipinya.
Vanessa mengangguk lalu merapikan pakaiannya kemudian menggandeng tanganku dan mengikuti langkahku keluar dari klub itu. Aku dan Vanessa menuju Papandayan hotel dengan taksi online yang dipesan Vanessa.
Begitu sampai dikamar, Vanessa tidak kubiarkan menunggu lagi. Langsung kusergap bibirnya yang seksi dengan ******* penuh nafsu. Kami berdua saling berpagutan sambil melepaskan pakaian kami berdua. Vanessa memandang takjub badanku yang penuh tato.
"Tato elu keren banget, sayang!" ucap Vanessa sambil menciumi bagian tubuhku yang dirajah. Kubalikkan tubuh Vanessa yang berada diatas tubuhku. Salah satu tanganku sambil meremas dadanya dan tanganku yang melepaskan penutup dadanya. Sementara tangan Vanessa sudah nyaman mengocok otot panjangku. Aku bergerak turun menuju pangkal pahanya yang terlihat basah dibalik sutera penutup yang berwarna merah maroon itu. Sutra penutup itu tidak kulepas, hanya kusibak kesamping sambil menjilati daging berwarna merah muda yang sudah merekah itu.
"Jerryyy, Gilaaa banget elu sayang!" desah Vanessa sambil menggigit ujung bantal.
Aku bangkit sambil menjilati perutnya lalu perlahan naik bermain dipuncak dadanya dan kemudian kembali mengulum bibirnya dengan lembut.
"Gue mau elu hisap seperti dulu, Nessa!" bisikku sambil mencium telinganya.
Vanessa tersenyum lalu menjilati leherku kemudian turun ke dada dan perutku. Lalu kurasakan tubuhku seperti terbang ke awan saat merasakan mulut Vanessa bermain diototku.
"Vanessa, i want you tonight!"
Vanessa tanpa banyak kata langsung menggiring ototku memasuki dirinya. Perlahan lahan otot panjangku yang sudah menegang masuk ke dalam dirinya.
Kupeluk tubuh Vanessa yang bergerak pelan diatasku, Vanessa pun membalas pelukanku sambil mencium bibirku.
"Jerry, Enak banget Honey!"
"Nessa, Hmmmphhh punyamu masih rapet banget sayang!"
Kubalikkan posisiku keatas Vanessa, secara perlahan aku memacu tubuhku memasuki dirinya. Vanessa mendesah-desah perlahan sambil memeluk tubuhku.
"Terus Jerry, Hmmmppphhh teruss begitu honey!" Ucap Vanessa dengan nafas tersengal-sengal.
"Kiss me now, Jerry! Gue dapetttt Ooougghhh!" desah Vanessa sembari memeluk erat tubuhku.
Kucium lembut bibirnya sambil menancapkan ototku didasar liang surganya. Kupeluk erat tubuhnya yang kaku mengejang.
Vanessa lalu menciumi seluruh wajahku sambil tersenyum. Dibelainya rambutku sambil menatap kedua bolamataku yang sedang menatapnya.
"Ayo sayang, giliranmu sekarang!" bisiknya sambil menggerakkan pinggulnya perlahan.
Kucabut ototku yang menancap ditubuhnya. Aku berbaring disampingnya sambil menancapkan lagi otot panjangku memasuki dirinya.
Vanessa menolehkan kepalanya sambil menciumku. Kupercepat gerakanku sambil memeluk tubuhnya. Ototku berdenyut kencang, gerakanku makin tak beraturan. Vanessa bergoyang mengimbangi gerakanku.
"Nessaaaa!!! GUE DAPET SAYANG!!!!" Teriakku sambil mengeluarkan lahar cintaku di dalam tubuhnya.
__ADS_1