
Setelah 3 hari di Bali, Aku dan Ike segera berangkat ke Sidney, Australia. Paman Yoseph yang sedang bersembunyi disana mengundangku mengunjunginya. Setelah kejadian di Surabaya, aku berpikir untuk sementara menyingkir dari Indonesia. Setelah sampai di Sydney, aku dan istriku langsung menuju ke alamat yang diberikan paman Yosef.
Paman Yosef tinggal di sebuah flat mewah yang dijaga 10 orang pengawal bule.
Paman Yosef menyambut kedatangan kami. Dengan langkah tertatih beliau mempersilakan kami untuk duduk sementara kamar kami dipersiapkan.
"Pato ternyata sudah lama berkhianat pada kami, Jerry. Bajingan itu yang ternyata telah mengagalkan 3 transaksi besar kami. Paul semoga kau tenang disana!" kata Yosef dengan suara bergetar saat teringat Paul sahabatnya yang sudah meninggal dibunuh Pato.
"Dimana saya bisa menemukan Pato, paman?" tanyaku dengan nada geram.
"Sudah Jerry, aku sudah mengirim orang untuk menghabisi Pato."
"Biar saya saja yang menghabisi Pato, paman. Kemarin saya dan Ike hampir celaka karena perbuatan anak buah Pato!"
"HAH??? Jadi kamu juga mau dihabisi Pato?!"
Kuputar percakapan yang kurekam di earpiece milik Pato tempo hari.
Yosef mendengus marah saat mendengar rekaman suara Pato.
"Bajingan Kau, Pato!!!" geram Yosef sambil menggebrak meja.
"Sudah, sekarang kamu dan istrimu istirahat dulu. Nanti malam kita lanjutkan lagi obrolan kita, Jerry!"
"Mbak Ike, mohon maaf kita harus bertemu disaat buruk seperti ini!" lanjut Yosef lagi pada istriku.
"Tidak apa paman!" jawab Ike sambil menundukkan kepalanya.
Lalu kami berdua masuk kedalam kamar yang telah dipersiapkan paman Yosef.
Ike yang hendak membongkar koper, segara kularang dan menariknya kesampingku yang sudah berbaring dikasur besar.
"Jangan dibongkar, sayang. Besok kita akan pindah. Aku tidak ingin membebani paman Yosef selama kita disini."
"Honey, klo kita menetap di luar negeri saja bagaimana?" tanya Ike sambil melipat kedua tangannya didadaku.
"Kamu mau menetap di Aussie?" balasku sambil mengelus rambut panjang istriku.
"Aku klo boleh milih, pengen di Thailand aja, Honey. Biaya hidup lebih murah juga kan?"
"Kamu mau kemana saja, aku akan ikuti, Babe. Klo pun kamu mau di Eropa, aku rasa tabungan kita masih lebih dari cukup,"
"Italy?"
__ADS_1
"Ok!"
"Kenapa kok kamu nurut aku aja sih, Honey?"
"Hahhahaaha, Siapa lagi yang mau aku turutin selain kamu, My Sweetheart?"
"Tabungan kita cuma 5 Milyar, Honey! Di Italy itu cuma bertahan 5 tahun."
Aku bangkit dan mengambil laptopku, sambil membuka laptop itu aku berbaring disampingnya dan menunjukkan 3 rekening Bankku.
"Maaf sayang, aku selalu lupa setiap ingin menunjukkan ini semua padamu!" ujarku sambil mencium pipinya ketika menunjukkan total nominal saldoku yang berjumlah hampir 450 Milyar.
Ike tercengang dan terkejut.
"Honey...,"
"Semua ini punya kamu juga, Babe! Maaf aku selalu lupa ya!"
"Honey klo kamu bosan sama aku, Bilang ya! Laki-laki klo punya banyak uang biasanya suka banyak maunya," ujarnya sambil menatap tajam mataku.
"Liat deh transaksi bankku, Baby. Ada WD tanggal berapa aja disitu kecatet semua."
Ike menggerakkan cursor untuk melihat transaksi-transaksiku. Dia lalu tersenyum, dan memelukku lalu menindih badanku dari belakang.
"Bisa lahh, I have u as mine, you always by myside, Dear!" jawabku sambil memegangi kedua tangannya yang merangkul leherku dari belakang.
...****************...
Keesokan harinya, Aku dan Ike diantar Grifo seorang anak buah Yosef menuju pusat kota. Ternyata Yosef sudah menyewa sebuah apartemen untuk kami.
Senjata terbaru AK 12 dan SHAK 12 pun telah tersedia didalam kamar Apartemenku beserta amunisinya untuk berjaga-jaga jika ada perang terbuka. Ike memandangku yang sedang mengutak-atik senjata AK 12 dengan wajah tegang.
"Babe, ini senjata buat kamu. Gak perlu membidik, cukup arahkan larasnya ke kiri dan kanan. SHAK 12 ini punya dobel magazin. Berarti ada 40 peluru!" ujarku menjelaskan senjata itu pada istriku.
Ike dengan tegang mengangkat senjata itu.
"Ringan banget beb, Hihihi!" ujarnya sambil tertawa kecil.
Pengaman trigger masih belum kulepaskan. Ike masih kuajari untuk mengarahkan senjata itu dan menahan hentakan yang timbul saat peluru melesat.
Keesokkan harinya Ike kuajak ke Shooting range untuk belajar menembak, Ike ternyata sangat menikmati hobi barunya itu. 2 jam dihabiskannya untuk menembak target. Target bergerak maupun target yang tidak bergerak. Hasil latihan pertamanya pun lumayan hanya 15 tembakannya yang meleset. 105 tembakannya mengenai sasaran. Kuajari dia menggunakan senjata laras pendek atau pistol otomatis. Ternyata semua tembakannya mengenai sasaran.
"Hebat kamu, Babe!" Ujarku sambil melepas Earphone dan kacamata.
__ADS_1
"Siapa dulu donk, gurunya!" Jawabnya sambil mencium pipiku.
...****************...
3 bulan kami tinggal di Sydney, istriku Ike terus mengasah kemampuannya dalam hal menembak. Kini kemampuannya dalam hal menembak tidak bisa dipandang remeh. Ike sekarang sudah mempunyai pistol kesayangan. Pistol Glock yang sama denganku, menjadi pistol kesayangannya.
"Jerry, kita harus bicara sekarang. Aku sudah menemukan persembunyian Pato di kota Solo," kata Yosef di sambungan telpon.
"Baik paman, saya segera kesana secepatnya!" jawabku lalu memutuskan sambungan telpon.
Aku dan Ike segera melarikan mobilku ke arah Flat mewah milik paman Yosef.
Paman Yosef menjelaskan secara detail kepadaku dimana Pato bersembunyi dan berapa orang yang menjaganya. Kemungkinan Pato akan masih berada dipersembunyiannya itu sampai 1 bulan kedepan. Aku pun pamit kepadanya untuk segera pulang ke Indonesia.
Malam itu juga aku dan Ike diantar oleh bodyguard paman Yosef menuju bandara.
...****************...
Pato yang pada malam itu setelah bercinta dengan 2 orang wanita panggilan terkulai lemas. Wajahnya yang gahar tersenyum puas setelah mendapatkan kepuasan dari 2 wanita cantik yang melayaninya. 2 wanita itu segera meninggalkan Pato seorang diri di kamarnya yang luas dan mewah.
"Honey, 2 wanita itu sudah keluar kamar. Pato sekarang sendirian. Be careful, Honey!" Kata Ike sambil mengawasiku yang sedang memanjat gedung dari teleskop AWM Lapuanya.
Aku memanjat rumah 3 lantai itu dengan perlahan dan berusaha tidak menimbulkan suara. Setelah melepas satu Sarung tangan Geckskin. Aku mengeluarkan alat pemotong kaca dari kantung jaketku.
Singkat kata aku sudah mengendap-ngendap mendekati Pato yang sedang tertidur lelap, kedua tanganku sudah terpasang siap menggunakan Carambit, perlahan aku mendekati tubuh Pato dari belakang. Kutancapkan suntikanku dipunggung Pato. Pato tiba-tiba bangun karena merasakan sesuatu yang menancap dipunggungnya.
"Arrrrghhhh! Jerry! Apa yang kau lakukan disini!!!" ujar Pato sambil berusaha mencabut suntikan yang masih tertancap di tengah-tengah punggungnya. Aku menatap mata Pato yang tubuhnya sedang terbujur kaku.
"Mengapa kau membunuh Paul, Pato?" tanyaku sambil menancapkan salah satu Carambitku ke pipinya dan Carambitku yang lain ke mulutnya.
"Berteriaklah Pato! AKAN KUROBEK MULUTMU BEGITU KAU BERTERIAK!" Ucapku lagi sambil menindih punggungnya.
"Apabila kuberitahu siapa yang menyuruhku, apa kamu akan mengampuni dan membiarkan aku hidup, Jerry?" Tanya Pato dengan suara tersengal karena pipinya yang robek dan Carambitku yang perlahan mengiris sudut bibirnya.
Aku lalu turun dari punggungnya sambil melepaskan Carambitku dari pipi dan bibirnya.
Aku mengganggukkan kepalaku sambil menatap mata Pato yang basah.
"ABRAHAM MONROE YANG MENYURUHKU, JERRY! ABRAHAM MONROE JUGA YANG MEMPENGARUHIKU UNTUK BERKHIANAT PADA TEMAN-TEMANKU!" Jawab Pato dengan suara keras dan bergetar.
"Pato, aku ampuni jiwamu! Sekarang coba kau lihat ke arah jam 2. Istriku yang ingin kau bunuh ingin berkenalan denganmu!"
Ike yang sedaritadi mendengarkan percakapan kami berdua segera membidik kepala Pato dari atas gedung tempat dia mengawasiku.
__ADS_1
"DEEBBBBBS!!!!"