
Nyoman menelponku memberitahukan klo Freya datang mencariku dan meninggalkan nomer ponselnya untuk kuhubungi.
"Halo...!"
"Jerry??? Ini Freya, hmmm aapa kabar?" Ujar Freya di sambungan telpon dengan nada kikuk.
"Iya, Ini Jerry. Ada apa?"
"Mau nanya kabar, Sekarang dimana? Hmmmm baik-baik aja kan?"
Kuhela nafas panjang dan menghembuskan nafasku dengan keras ke arah speaker ponselku.
"Ada apa, Freya? To the point aja, Gue lagi nyetir!" Jawabku singkat dengan malas.
"Hmmmm, mau nanya soal duit gue, masih ada kan? Sori ya, Jer!"
"Ada, kasih norek bank lu ke gue, besok atau lusa gue kirim semua. 2,5 Milyar kan?"
"Eeh iya, emm gini...!"
"Ok deh, gitu dulu. Gue nyetir nih. Bye!" jawabku sambil memutuskan sambungan telpon itu.
Ike memandangi raut wajahku yang tiba-tiba berubah masam.
"Freya? Siapa itu Jerry?" Tanya Ike dengan nada penasaran.
"Dia mantan pacar gue, Ke. Dia minta duitnya," jawabku sambil menarik nafas panjang.
"Gue rasa sudah saatnya gue cerita sama elu. Siapa gue dulu, apa aja yang udah gue lakuin sebelum ketemu elu."
Lalu gue ceritakanlah semuanya pada Ike, Ike yang mendengarkan ceritaku di rest area tol terlihat berubah mimik wajahnya.
"Ke, klo lu setelah dengar cerita gue, lu mau minta antar balik ke Malang. Gue akan anterin."
"Gue sebelum elu datang jenguk mama, Gue udah bisa nebak siapa elu. Kan waktu gue bersih-bersih kamar elu, gue nemuin senjata-senjata yang lu simpen. Gue mau nanya, tapi elu udah ceritain semua sekarang. Ya udah sih, gue gak gimana-gimana kok," jawabnya sambil menghadap kearahku.
"Your past is yours, Jerry! Gue gak bisa ngerubah yang sudah terjadi. Klo seperti kata lu, lu udah stop itu semua, ya udah itu udah cukup buat gue, Jerry!"
"Gue nyadar masalalu gue, susah untuk dapat pacar atau pasangan hidup nantinya. Mau gimana lagi? Apa adanya gue ya begini ini, Ke!"
"Elu kan juga bukan siapa-siapa gue. Kita pacaran juga nggak kan?"
Degggg!!!
Wajahku serasa ditampar mendengar jawaban dari Ike barusan.
"Elu juga belum tentu mau klo gue ajak pacaran apalagi merit, ntar gara-gara diajak merit lu kabur!'
"Elu juga belum pernah ngomongin soal pacaran sama gue, apalagi merit, Jerry," jawab Ike sambil tersenyum kecut.
Kugenggam jemarinya.
__ADS_1
"Gue suka sama elu, Ke! Gue berharap bisa lebih dari suka ke elu, but i need more time. Gue gak mau salah lagi!" kata sambil memainkan jemari tangannya.
Ike hanya mengangguk dan tersenyum manis.
"Gue mau diantar balik nih?" Tanya Ike sambil bersandar di lenganku. Kuelus pipinya dan melanjutkan perjalanan.
Setelah sampai di Apartemen, aku dan Ike menata barang dan beristirahat.
"Ke, misal elu gue ajak pindah ke Jakarta? Elu mau gak?"
"Kapan?"
"Begitu elu siap, gue gak masalah nunggu. Asal jangan lama-lama!"
"Hmmmmm, Gimana ya...,"
"Gimana apanya, Ke?"
"Lu ngajak pindah, status kita cuma pacaran kah?"
Aku lalu duduk menghadap Ike yang berbaring disampingku.
"Ke, gue udah cerita semuanya tentang gue ke elu. Gue takut ngajak elu nikah. Gue takut elu bakal kayak Freya yang ninggalin gue setelah gue ajak nikah, Ke!"
"Hihihi, gue malah gak bakal nolak klo elu ajak nikah, Jerry," Jawab Ike sambil mengelus pahaku.
"SERIUS LU, KE?!"
Kupeluk tubuhnya.
" I love you, Ike!"
"Elu serius kan? Gak main-main kan sama gue, Jerr?" Kata Ike sambil mengelus rambut dan pipiku.
"Tapi klo kita nikah, jangan kabarin mama gue dulu. Gue sebenernya mau dijodohin sama mama."
"Nikah di KUA aja maksud lu? resepsinya nyusul?"
"Iya, Jerry. Lu gak keberatan kan?"
"Tentu aja nggak. Gue sudah gak punya siapa-siapa, Ike."
"Besok kita urus ya, Ke!"
Ike menganggukkan kepalanya dan bersandar didadaku.
Ike pun menghubungi Tasya dan adiknya untuk menjadi saksi pernikahan kami.
Keesokan harinya setelah selesai mengurus dan petugas KUA serta penghulu yang kami undang ke apartemen kami. Sore itu aku dan Ike berbelanja untuk membeli baju pernikahan kami yang sederhana. Aku hanya mengenakan Jas dan celana bahan berwarna hitam dipadu dengan kemeja putih dan peci hitam. Ike memakai kebaya panjang putih dan kerudung putih. Tasya datang bersama seorang Make Up Artist kenalannya. Untuk Acara pernikahan kami, aku menyewa apartemen lagi untuk acara ijab kabul dan tempat Inge adik Ike dan Tasya juga temannya menginap.
...****************...
__ADS_1
Setelah proses pembacaan ikrar pernikahan kami dinyatakan Sah oleh penghulu, pagi itu sah sudah Ike menjadi istriku. Setelah acara makan-makan sederhana selesai, kami hanya mengundang beberapa tetangga sebelah kamar apartemen kami. Aku dan Ike berkumpul dengan Tasya dan Inge.
"Inge, inget yah. Mama jangan sampe tau dulu, biar mbak yang ngomong soal ini."
"Iya, mbak. Selamat ya, mbak, mas. Semoga rukun terus sampe ubanan!"
"Makasih Inge, Tasya, udah mau datang," ujarku sambil memeluk bahu Ike.
"Jerry, jaga sohib gue baik-baik ya!" ujar Tasya lagi sambil tersenyum pada kami berdua.
Ike memandangiku dengan mata berbinar-binar.
"Tasya, masih inget gak lu waktu kita ketemu Jerry di Food Court gue bilang apa?"
Tasya langsung tertawa terbahak-bahak.
"Itu cowok yang lagi sendirian, pasti jadi suami gue! Elu ngomong gtu kan? Hahhahaha!"
Ike pun tertawa dan kemudian menciumku dengan gemas.
"Ayo honey, kita kesebelah yuk!" kata Ike sambil menggandeng tanganku.
"Hayuk...," jawabku bersemangat. Kulihat wajahnya yang tersenyum manis sambil menyeret tanganku.
Saat sampai dikamar kami berdua langsung berpelukan sambil berciuman.
"Akhirnya gue gak sendiri lagi, sayang!"
"Terima kasih udah milih aku ya, sayang!"
Kugendong tubuh istriku itu menuju ranjang. Kami berpelukan lagi, Kubelai pipi mulusnya yang dipoles make up tipis itu. Kukecup bibirnya dengan lembut, kunikmati bibir sensualnya pelan-pelan.
"I love u so, Ike!" kataku setelah melepaskan ciumanku.
"I love u so too, Jerry! Mmmmmuah!"
Aku dan Ike bergumul, kami saling melepas pakaian ditubuh kami. Tangan kami berdua saling merayap di area tubuh sensitif yang sudah tak ditutupi sehelai benangpun lagi. Tubuh Ike yang menindihku terasa seperti permadani lembut yang mengesek-gesek sekujur tubuhku. Ike menggesek-gesekkan organ vitalnya ke organ milikku yang sudah menegang. Tanganku sibuk meremas kedua bukit indahnya yang sudah mengeras. Bibir kami saling bertautan dan menimbulkan sensasi kenikmatan dunia tiada tara. Pangkal paha Ike yang sudah basah terus bergesekkan dengan otot panjangku yang sudah mengeras. Ike membimbing ototku memasuki dirinya, kugigit lembut bibirnya saat ototku terjepit gumpalan daging lembut miliknya.
"Hmmphhhh Jerry!" erangnya saat ototku sudah sebagian masuk menerobos miliknya yang sudah basah. Aku berguling dan sekarang posisiku sudah menindih tubuhnya. Kudorong pelan-pelan ototku untuk masuk lebih dalam. Puncak gunungnya yang berwarna coklat muda kemerahan mengeras, dengan gemas aku memainkan lidahku menjelajahi puncak gunung itu sambil bergerak maju mundur perlahan. Ike mengimbangi gerakanku sambil memutar-mutar pinggulnya. Ototku rasanya diplintir saat Ike melakukan gerakan itu.
Ike berguling dan merubah posisinya diatasku. Dia bergerak maju mundur dengan cepat saat ototku telah tertanam ditubuhnya. Tak lama kemudian Ike mengerang keras.
"Oughhhhhh Jerryyy Oouuhhhh!"
Menyemburlah cairan hangat dari dalam tubuhnya ketika tubuhnya menghentak-hentak tubuhku. Kupeluk tubuhnya kearahku sambil memagut bibirnya. Tubuhku bergetar hebat sambil menyemburkan cairan hangat didalam tubuhnnya.
"Argggghhh Ikeee!" Jeritku tertahan saat melepaskan cairan cintaku.
"Gue cinta elu, Ike!" Ucapku sambil memeluknya. Kuelus punggungnya dengan lembut.
"Gue juga cinta elu, Jerry!" balasnya sambil mengecup dadaku yang berotot.
__ADS_1