
"Jerry, kamu harus berhati-hati. Pato berkhianat pada pamanmu dan kami bertiga."
"Pato membunuh Paul dan melukai Simon! Aku sedang terluka sekarang setelah diserang anak buah Pato. Berhati-hatilah Jerry, Pato tampaknya ingin menguasai kartel warisan pamanmu!"
"Oke, Paman Yosef. Semoga luka-lukamu cepat sembuh!" Jawabku. Lalu paman Yosef mengakhiri sambungan telpon itu.
Malam itu aku dan Ike sedang makan malam berdua saja disebuah restoran mewah yang sedang ramai pengunjung. Beberapa mata menatap kami berdua yang berjalan berdampingan dan bergandengan tangan.
"You're so gorgeous, Babe!" Ujarku sambil menggenggam jemari lentik milik Ike.
Ike tersenyum sambil mengibaskan rambutnya yang panjang.
"Thanks udah so sweet banget sampe ngajak Romantic Dinner malam ini, Honey," Ujarnya.
Tiba-tiba mimik wajah Ike berubah masam dan melirik tajam ke arah belakang tubuhku.
Kontan saja aku lalu membalikkan badanku. Disana sudah berdiri seorang wanita yang dikawal oleh 2 orang pria bertubuh tegap.
Wanita itu menatap tajam mata Ike, Ike pun menatap tajam matanya.
Kutenangkan dirinya dengan menggenggam tangannya.
"Tenang, Babe!" Ujar sambil memegang tangannya sembari bangkit dari dudukku.
"Ada apa, nona Vanessa?" Kataku dengan intonasi suara lumayan keras.
"Gue mau bicara 4 mata dengan lu, Jerry!"
"Bicaralah disini sekarang!"
"Gue gak mau bicara didepan dia," ujarnya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Ike.
"Bicaralah, dia istri gue! Gue gak akan bergeser dari meja ini, nona Vanessa!"
"Iss...triii lu???" Ujar Vanessa dengan wajah kaget.
"JADI LU UDAH NIKAH, JERRY?!" Tanyanya lagi.
Aku berjalan kearah Ike, dan mencium keningnya sambil memperkenalkan Ike pada Vanessa.
"Ike, ini nona Vanessa mantan boss gue dulu."
Ike melirik tanpa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pada Vanessa.
"Jika kamu tidak menghormati aku, aku bisa lebih tidak menghormati kamu, Vanessa!" Gumam Ike dalam hati sambil terus melirik ke arah Vanessa yang terlihat Shock atas apa yang disampaikan Jerry padanya.
__ADS_1
"Baiklah, Jerry. Gue permisi!" Vanessa diikuti kedua pria itu segera keluar dari restoran mewah itu.
Saat Vanessa keluar aku menyapukan pandanganku ke sekeliling restoran. Aku menemukan beberapa pengunjung resto yang mencurigakan. Kutatap mereka satu persatu, ketiga orang diantaranya memakai earpiece.
"Honey, elu kenapa?" Tanya Ike mencolek punggung tanganku yang menggenggam tangannya diatas meja.
"Nevermind, Babe!" Jawabku sambil mengangkat tangannya lalu mengecup jarinya.
Kulepaskan pengunci di holdergun dibawah ketiakku.
Ike merasakan sesuatu yang tidak beres pada gerak-gerikku.
"Honey, ada sesuatu ya?" bisiknya dengan suara pelan.
"Iya, babe. Ada yang sedang mengawasi kita. Tapi tenang ya, mereka gak akan berani bikin ribut disini."
"Babe, kamu lihat pria berbaju hitam yang duduk dekat jendela? Kamu awasi dia, aku akan ke toilet sebentar. Ponselku sedang on call ke ponselmu. Pasang airpodsmu yang bagian kiri saja, babe! Kasih tau aku berapa orang yang mengikutiku masuk ke toilet."
"Be careful, Honey!" Jawab Ike sambil menatapku dengan senyum yang kaku.
"Relax babe!" balasku sambil berbisik dan mencium pipinya lalu berjalan ke toilet.
Begitu masuk ke toilet, kupasang peredam pistol Glockku. Kuhidupkan washer di toilet dan kemudian aku masuk ke bilik toilet disebelahnya.
"Honey, ada 3 orang yang ngikutin kamu!" Kata Ike dengan nada cemas.
"DUUBSS! DUUBBSS! DUBBSSS!"
Robohlah pria yang masuk ke toilet itu dengan 2 peluru tertanam di pelipisnya. Pria lain yang berada di depan wastafel segera berlari ke arah toilet yang sama.
"DUUBSSS! DUUBBSSS!"
Pria yang sedang shock melihat temannya yang tewas itu pun ikut roboh dengan peluru yang menembus tengkuknya. Darah pria itu menimbulkan noda darah di dinding toilet.
Kututup pintu bilik toilet itu. Kumasukkan pistolku dan mengambil belatiku dari balik kaos kakiku.
Seorang pria yang menunggu diluar Toilet, tidak menyadari kedatanganku yang langsung menusukkan belatiku langsung kelehernya. Pria itu seperti tercekik dan tak bisa bersuara saat aku menyeret tubuhnya masuk ke toilet lagi. Kuambil earpiece ditelinga pria terakhir yang sudah tewas itu.
"Arman, coba cek temanmu 2 menit lagi!" Kata suara di earpiece yang sedang kupakai itu.
"Babe, Pria yang tadi masih duduk di meja?"
"Iya, Honey! Tapi dia pindah ke meja pojok yang agak gelap! Dia sekarang berada 3 meja dibelakangku!" Jawab Ike.
"Sekarang kamu berdiri, babe!"
__ADS_1
Ike pun berdiri sesuai perintahku, Aku berjalan cepat menuju meja pria itu, sambil berjalan kuberondongkan 4 peluruku ke arah dada pria itu.
"Duuuubbbs! Dubbbsss! Duubbbss! Duuubbsss!"
Tubuh pria itu merosot melorot di bawah sofa mejanya yang gelap.
Kugandeng tangan Ike dengan santai dan berjalan menuju kasir untuk membayar makanan kami.
"JASON! KENAPA KALIAN DIAM SEMUA!" Bentak pria yang suaranya terdengar diearpiece yang kupakai.
"PATO! AKU AKAN MEMBUNUHMU! AKU AKAN DATANG PADAMU!" Ujarku sambil membuang earpiece itu ditengah jalan.
"Honey, mereka semua itu siapa?" tanya Ike ketika kami masuk ke mobil.
"Mereka orang-orang suruhan Pato, babe. Kita malam ini harus keluar dari Surabaya. Sabar ya, sayang. Maaf kamu harus ngalamin kejadian kayak gini," Jawabku sambil melarikan mobil ke Apartemenku.
"Santai, honey. Selama bersama kamu. Aku tetap enjoy, apapun keadaannya."
"Beresin pasport dan surat-surat berharga lainnya, Babe. Ayo kita bawa pakaian secukupnya aja."
Aku dan Ike lalu naik ke kamar apartemen kami. Hanya butuh waktu sekitar 45 menit saja kami membawa barang-barang kami.
Kubungkus mobil sportku dengan pelindung mobil setelah mencabut kabel accunya. Kumasukkan barang-barang kami ke dalam mobil Jeepku.
Malam itu kami meninggalkan Surabaya menuju Bali melalui jalur darat.
"Tidur dulu gih, Babe. Kamu ngantuk banget kan?" kataku sambil membelai kepala istriku yang bersandar di jok mobil.
Ike tersenyum sambil menggenggam tanganku dan ia memejamkan matanya. Kugenggam tangannya sambil melarikan mobil Jeepku dengan kecepatan sedang.
Setelah menempuh 6 jam perjalanan dari Surabaya, kuhentikan mobilku di sebuah rumah makan yang buka 24 jam.
"Babe, turun yuk. Mau ngopi apa aku bawain kesini aja?" Tanyaku pada Ike yang masih tidur.
"Jam berapa ini, sayang?" jawabnya sambil menggeliat.
"Jam 4 kurang, babe."
"Yuk, aku temenin sayang! Cium dulu, sayang."
Kucium keningnya lalu aku turun dan membuka pintunya. Kulingkarkan tanganku di bahunya, Ike yang masih agak mengantuk menyandarkan kepalanya didadaku.
...****************...
"Hector! Jerry! BANGSAAAAT!" Umpat Pato yang sedang mengamuk di kamar mewahnya. Pato masih kesal atas ancaman Jerry sebelum sambungan telpon mereka terputus tadi. Dia lalu memerintahkan para anak buahnya untuk melacak keberadaan Jerry. Mobil sport Jerry rupanya telah dipasang pelacak oleh anak buah Pato saat parkir di restoran tadi. Tapi ternyata mobil itu terparkir dengan manis di basement sebuah Apartemen.
__ADS_1
"CARI JERRY SAMPAI DAPAT! AKU MAU JERRY HIDUP ATAU MATI! ATAU KALIAN SEMUA YANG AKAN MATI!"