JERRY LE CHASSEUR(SANG PEMBURU)

JERRY LE CHASSEUR(SANG PEMBURU)
Bab 17


__ADS_3

Vanessa memeluk erat tubuhku, aku pun memeluk erat tubuhnya.


"Jerry, elu mabuk banget ya?" Tanya Vanessa sambil mengelus dadaku dengan jemarinya yang lembut.


"Nggak Nessa, gue gak begitu mabuk. Tipsy-tipsy doank," jawabku sambil merangkulnya.


"Jerry, gue suka sama elu sejak pertama kali kita ketemu. Tapi sekarang elu udah nikah, kayaknya udah gak mungkin gue untuk bisa bareng elu," ujar Vanessa.


"Maaf Nessa, gue pun dari awal ketemu dengan elu pun udah punya rasa suka. Tapi gue nyadar gue siapa, elu siapa. Gue cuma pengawal elu."


"Tapi andai gue tekan ego gue waktu itu, mungkin ceritanya bisa beda, Jerry!"


"Vanessa, soal kejadian malam ini. Gue minta maaf ya. Kenapa gue selalu nolak ketemu elu, alasannya gue gak akan bisa nolak elu, Nessa."


Vanessa menatap wajahku sambil tangannya bertumpu pada dadaku yang kekar.


"Gak bisa nolak gue? Jadi sebenarnya elu juga suka sama gue???"


Aku mengangguk tanpa berkata apa-apa.


Vanessa tersenyum dan kembali memelukku erat.


"Tau elu ternyata juga punya rasa suka ke gue, thats more than enough. Gue lega elu ternyata gak benci gue, Jerry!"


"Bukannya elu yang benci gue? Suka bentak-bentak, nampar lah, maki-maki gue lah. Iya kan?" ujarku sambil mencubit pipinya.


Vanessa tertawa sambil mencium pipiku.


"Istri lu lagi kemana?"


"Nganter mertua ke China, berobat."


"Lu cinta sama dia?"


"Banget, Gue cinta banget sama dia, Nessa! Tapi gue belum bisa jadi suami yang baik untuk dia," Ujarku sambil melepaskan tanganku yang merangkulnya lalu bersandar di sandaran ranjang.

__ADS_1


Aku lalu bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Kuhidupkan kran shower air panas dan kubiarkan air panas menyirami punggungku.


Vanessa menyusulku, dan dia langsung memelukku dari belakang.


"Ada apa, Jerry?" Tanyanya sambil mengecup punggungku.


"Maafin gue, Nessa. Gue kayaknya cuma makin nyakitin elu aja, Nessa!"


"Lu ngomong apaan sih? Gue gak ngerasa gitu kok, Jerry! Kejadian antara kita barusan bukan salah elu!"


"Ini jadi terakhir kalinya gue ketemu elu, Nessa. Maafin gue ya!" ujarku sambil mengelus pipinya dengan ibu jariku.


"NGGAK JERRY! GUE GAK MAU!" jawab Vanessa sambil memelukku erat.


"GUE SALAH NESSA. DAN GUE UDAH NYANGKA BAKAL KEJADIAN KAYAK TADI KLO GUE NEMUIN ELU. GUE UDAH MERIT TAPI...," jawabku sambil mencium keningnya dan membalas memeluk tubuhnya.


"Stttttttttt, elu gak salah! Ok?! Gue tetap mau bisa ketemu elu, Jerry. Please, gue gak akan ganggu hubungan elu sama istri elu!"


Kutatap mata Vanessa yang sedang menatapku dengan tatapan lembut.


"Andai elu jadi suami gue, Jerry! Tapi udahlah, gue sudah bersyukur gue udah bisa dekat dengan elu kayak gini," jawabnya sambil memelukku lagi.


"Boleh gue pulang sekarang, Nessa?" tanyaku sambil membelai rambut panjangnya yang basah.


Vanessa lalu memelukku erat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan membenamkan kepalanya didadaku.


"Please, stay with me one more night. Please dont leave me now,Jerry."


Kukecup lembut bibirnya sambil menganggukkan kepalaku bahwa aku tidak akan pergi meninggalkannya hari ini.


...----------------...


Simon dan Yosef sedang berbincang-bincang di Flat mewah milik Yosef di Sydney sore itu.


"

__ADS_1


Simon, sudah waktunya Kartel ini kita serahkan kepada Jerry. Sesuai dengan pesan terakhir Ketua kita. Apalagi sekarang kita tinggal berdua saja, mungkin kartel akan lebih berkembang di tangan Jerry."


"Kita ajari dulu Jerry bagaimana kartel ini beroperasi, sebab hidup kita juga bergantung padanya berhasil atau tidak mengelola kartel ini, Yosef!"


Mereka berdua lalu menelpon masing-masing orang kepercayaan mereka untuk dikumpulkan di Singapura bulan depan. Keduanya berhasil mengumpulkan orang-orang yang mau mendukung Jerry untuk memegang puncak pimpinan Kartel selanjutnya. Apalagi Jerry telah berhasil membunuh Pato, hal itu merupakan nilai lebih untuk Jerry sebagai calon Ketua Kartel.


...----------------...


Rapat yang dihadiri 8 orang termasuk Paman Yosef dan Simon itu berjalan lancar. Jerry langsung menjadi perhatian ke 5 orang baru. Mereka berlima tidak menyangka bahwa calon pimpinan mereka masih sangat muda. Penampilan Jerry yang dingin dan tegas, dirasa memang cocok untuk memimpin Kartel itu saat ini. Apalagi bagi 2 orang wanita baru itu, wajah tampan Jerry yang memang mempesona kaum hawa itu sangat menyihir mereka berdua. Penyampaian ide-ide Jerry, membuat 2 wanita cantik itu terpana. Tidak hanya kedua orang wanita itu saja yang terpesona, 3 orang pria yang baru bertemu Jerry pun terpukau atas gaya bicara Jerry yang sangat karismatik. Setelah Rapat mereka pun segera mengakrabkan diri pada acara makan-makan. 2 wanita cantik berumur 30 an segera menghampiri Jerry dan Simon yang sedang mengobrol dengan 3 pria berumur 40 an. Ketiga pria itu adalah Esteban, Liong dan Hocolo.


Esteban adalah patner paman Hector dari Kolombia. Dia adalah pria gemuk berambut cepak berkumis dan suka memakai perhiasan yang mencolok. Pria gemuk itu memiliki sorot mata yang tajam jika menatap lawan bicaranya adalah pemasok senjata ilegal ke beberapa negara Timur tengah dan Eropa.


Liong, sesosok pria bertubuh pendek kekar dan gerakannya lincah. Dia adalah pemasok kokain dan obat bius no. 2 terbesar di Asia Tenggara. Nyawanya pernah diselamatkan oleh Hector dan Yosef di Thailand saat ia sedang dikeroyok oleh gerombolan pengedar obat bius saingannya. Sehingga Liong bersumpah setia kepada Hector dan Yosef yang telah menyelamatkan nyawanya.


Hocolo pria yang memakai penutup mata seperti bajak laut. Satu bola matanya dicongkel oleh saingannya yang menyiksanya. Hocolo adalah pengedar Narkoba asal Meksiko yang beroperasi di Asia tenggara dan Asia Timur. Atas perlindungan Hector dia bisa mengembangkan perdagangannya di Indonesia.


2 wanita itu bergabung dengan 5 pria yang sedang mengobrol sambil menyalakan cerutu. Gea dan Anne, segera memperkenalkan diri mereka pada pria-pria itu. Gea menatap wajah tampan yang dingin didepannya. Jerry sedang mendengarkan percakapan dari sekumpulan pria itu tentang keadaan perdagangan di Asia . Jerry yang merasa dirinya sedang diperhatikan seseorang, langsung menatap Gea dan menganggukkan kepalanya pada wanita itu sambil tersenyum tipis.


Jerry menyapa Gea yang berada didepannya dengan ramah,


"Malam Nona Gea, Salam kenal sebelumnya," kataku sambil menjabat tangannya.


"Malam Mas atau pak nih saya manggilnya?" ujar Gea sambil balik bertanya lagi.


"Cukup anda panggil langsung nama saya saja, umur kita sepertinya tidak terpaut begitu jauh, Nona!"


"No, No! Anda sebagai pimpinan disini. Saya akan memanggil anda dengan panggilan Mister Jerry!"


"Terserah anda saja, nona Gea," jawabku sambil menghisap cerutu ditanganku.


"Selamat malam bos Jerry, selamat atas pelantikan sebagai pimpinan malam ini. Suatu kehormatan bisa bekerjasama dengan anda, bos!" kata Anne sambil menjabat tanganku.


"Selamat malam juga, Nona Anne. Suatu kehormatan juga bagi saya memimpin seorang gadis cantik yang namanya telah dikenal dimana-mana seperti anda!"


"Untuk semua! Silakan bergabung setelah ini di Club V di lantai 20, saya sudah menyiapkan sebuah pesta kecil untuk kita semua, untuk menyambut pimpinan baru Kartel kita! Hidup Kartel Chasseur! Hidup ketua baru kita!" ujar paman Simon kepada semua orang.

__ADS_1


__ADS_2