JERRY LE CHASSEUR(SANG PEMBURU)

JERRY LE CHASSEUR(SANG PEMBURU)
Bab 15


__ADS_3

Tubuh Ike yang sedang dalam posisi telungkup itu langsung tersentak saat peluru yang ia lepaskan dari senjata runduk melesat ke arah kepala Pato. Aku yang berjalan menuju tempat ia masuk tadi, menolehkan kepalaku ke arah dimana tubuh Pato terkulai. Kepala Pato pecah berkeping-keping seperti buah semangka yang jatuh keras menimpa aspal.


"Aku mengampunimu, Pato. Tapi tidak istriku!" batinku dalam hati ketika melihat kepalanya pecah.


Aku menaiki atap rumah lalu meluncur ke luar tembok rumah yang minim penjagaan itu. Kuberlari kencang ke arah gedung tempat Ike berada. Senjata dan peralatanku sudah menggantung ketika aku sampai disana. Dan tak lama, istriku tercinta sudah turun dari atas gedung. Kutangkap tubuh seksinya ketika hendak meluncur menyentuh tanah. Kularikan motor trail ketempat parkir mobil kami.


Kularikan mobil Jeepku kearah Telaga sarangan, Aku berencana beristirahat dulu disana.


"Honey, apa rencana kamu selanjutnya? Memburu Abraham?" Tanya Ike sambil membawakanku secangkir kopi hitam panas.


"Belum babe, belum saatnya Tn. Bram kita buru. Kita butuh cooling down dulu, Sayang," jawabku sambil meminum kopi panasku.


Ike merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Bau wangi tubuhnya memenuhi udara disekitarku. Kupeluk erat tubuhnya sambil menyusupkan jemariku menyusuri lekuk tubuhnya yang padat dan berisi itu.


Ike tersenyum sambil mengelus-elus pangkal pahaku dengan lembut.


"Berapa lama kita tidak bercinta, Babe?" Tanyaku sambil mencium lembut lehernya yang putih.


"Hmmmmm, terakhir sebelum kita meninggalkan Sydney, Honey!" Jawabnya sambil menyusupkan jemarinya membuka resleting celanaku.


"4 Hari yang lalu? Bagaimana bisa? Tubuhmu semakin seksi cuma dalam 4 hari, Babe!"


Kubopong tubuh Ike ke dalam Villa, kupakai kakiku untuk menutup pintu. Kubopong tubuh istriku kedalam kamar. Hawa dingin Sarangan yang dingin membuatku agak menggigil ketika membuka seluruh pakaian di tubuhku. Ike sambil tersenyum nakal segera mencopot legging ketat yang dipakainya sambil menggerak-gerakkan kedua kakinya keatas. Kedua tangannya sibuk membuka Tank top dan sweaternya. Kubenamkan wajahku diantara kedua pahanya yang mulus. Kujilati penutup organ intimnya yang super tipis itu hingga basah.


"Mppphhhhhhh!" desahnya tertahan sambil menggerakkan kepalanya kekiri dan kanan. Posisiku yang berada dibawah tubuhnya membuat tangannya mencari-cari dimana otot panjangku yang dirindukannya itu. Kugeser pantatku merapat ke arah tangannya sambil terus menjilati jepitan pahanya yang kian basah.


"Babyyyyy, ougggghhhhh hmpppphh!" desah Ike sambil mengurut otot panjangku dengan perlahan seirama dengan gerakan lidahku yang menyapu liangnya. Ike bergerak kearah selangkanganku lalu menjilat batang ototku yang sudah mengeras sambil menggerakkan tangannya mengurut ototku itu.


"Baby, aku udah pengen banget nih!" ujarku sambil mengangkat wajahku dari selangkangannya yang sudah basah.


Ike masih mengulum ototku dengan liar lalu bergerak menindih tubuhku.

__ADS_1


"Saying that you love me much, Honey!" katanya sambil mengesekkan liangnya pada ototku.


"I love you so much, Sweetheart!" jawabku sambil mengelus perlahan bukit indahnya yang mengeras.


Ike membimbing ototku memasuki dirinya sambil memejamkan mata.


"Jerryyyyyyyyyyyy! Kisses mine!" jerit Ike sambil merengkuh kepalaku ke dadanya. Kusedot pelan puncak bukitnya yang sudah menegang itu dengan penuh gairah sambil memberikan gigitan kecil disekitar puncak indah itu.


Selanjutnya bisa kalian tebak apa yang terjadi yaa pemirsaaaa!


...****************...


Tn. Bram didampingi Vanessa memimpin rapat pagi itu dengan suara lantang penuh emosi. Banyak Operasi kelompok ARUNA yang gagal mulai 2 bulan lalu. Semua rata-rata karena tembakan Sniper yang menembus kepala supir truk yang mengangkut barang-barang mereka. Tn. Bram mencurigai Jerry sebagai pelakunya.


"Pa, jangan asal nuduh. Waktu Jerry di Surabaya, kejadian itu terjadi waktu Nessa ketemu sama Jerry. Nggak mungkin dia pelakunya," tukas Vanessa pada papanya yang sedang emosi.


Tn. Bram melirik Putri semata wayangnya itu. Dia sebenarnya setuju dengan pendapat putrinya itu, tapi dia gengsi untuk mengakuinya. Dan harus ada kambing hitam yang harus disalahkan, entah itu benar atau salah itu urusan belakangan. Tn. Bram bergumam dalam hati,


"Kenapa Jerry mengincar operasi kelompoknya? Apakah Jerry tau klo dia yang..."


"Tn. Bram, saya ingin memperkenalkan seseorang yang bisa melacak keberadaan Jerry!" Ujar Marcel.


"Siapa dia, Marcel?"


Marcel lalu berdiri dan berjalan keluar ruangan, tak lama kemudian dia kembali masuk keruangan itu bersama seorang gadis manis berkacamata.


"Kenalkan Tuan, ini Freya. Seorang ahli IT yang juga mantan rekan Jerry. Dia bisa membantu kita melacak keberadaan Jerry."


Vanessa melirik tajam ke arah Freya yang duduk disebelah Marcel.


"Kamu betul-betul bisa melacak Jerry? Lewat apa kamu melacaknya?" tanya Vanessa dengan nada sinis pada Freya.

__ADS_1


"Saya akan tunjukkan mbak, Untuk prosesnya saya rahasiakan, saya akan tunjukkan dimana Jerry sekarang!" Ujar Freya sambil mengutak-atik Laptopnya.


10 menit kemudian...


Freya menunjukkan kepada Marcel layar laptopnya. Marcel lalu membawa laptop itu dan menunjukkan kepada Vanessa.


Vanessa tersenyum dengan sinis.


"Darimana saya tau klo itu memang Jerry? Posisi titik koordinat ini menunjukkan posisi Jerry sedang di kota Manado. Bagaimana jika kita sudah jauh-jauh ke Manado ternyata Jerry tidak disana!" Tukas Vanessa sambil berdiri dan bertopang pada kedua tangannya diatas meja dengan wajah emosi.


"Kita coba orang lain saja, mbak. Istrinya Pak Marcel misalnya. Boleh pak? Klo boleh saya minta nomer ponsel istri bapak!" jawab Freya kalem.


"Tentu saja!" jawab Marcel sambil menuliskan nomer ponsel istrinya.


Kemudian Freya kembali mengutak-atik laptopnya. Tak lama kemudian Freya kembali menunjukkan laptopnya kepada Marcel.


"Freya, lacak terus keberadaan Jerry. 4 hari lagi akan saya kirimkan orang-orang terbaik saya untuk melenyapkan dia!"


Freya menganggukkan kepalanya lalu berkata,


"Apakah Tuan sudah tau tarif untuk keahlian saya?"


"Hahahahhahaha, Apa kamu khawatir tidak saya bayar huh?" jawab Tn. Bram sambil tertawa dengan menggeram.


"Bukan begitu, Tuan. Tapi saya mempunyai rules yang saya harap dipenuhi oleh klien saya. 50% fee harus masuk sebelum saya melacak, sisanya setelah saya memandu sampai target ditemukan."


"Marcel, setelah ada info dari saya. Segera kirimkan tarif yang Freya minta!" ujar Tn. Bram sambil meninggalkan ruangan rapat itu dengan 4 orang pengawal pribadinya.


Vanessa pun berdiri sambil menatap tajam ke arah Freya yang sedang membereskan barang-barangnya.


"Gue harus memperingatkan Jerry, siapa gadis sialan itu sebenarnya? Darimana dia mendapat nomer ponsel Jerry? Gue harus dapat nomer ponsel Jerry lewat Marcel!" Batin Vanessa sambil berjalan keluar ruangan rapat. Sebelum keluar ruangan Vanessa memanggil Marcel. Kemudian Vanessa segera berlalu.

__ADS_1


Freya tersenyum saat menatap punggung Vanessa saat keluar dari ruangan rapat.


"Hahahhaha, Janda gila itu rupanya masih tergila-gila pada Jerry rupanya!" batin Freya tertawa dalam hati.


__ADS_2