
Dengan adanya Freya disampingku membuat pekerjaanku lebih simple dan mudah. Aku tidak perlu lagi memikirkan pengalihan yang biasanya membuat pekerjaanku ribet. Freya dengan keahliannya bisa membuat pengalihan yang membuatku lebih fokus. Total 9 pekerjaan yang telah kuselesaikan 6 bulan ini. Pundi-pundi uangpun mssuk ke rekeningku dengan deras. Pekerjaan dari paman Hector yang biasanya aku ambil 4 bulan sekali. Dengan adanya Freya hampir tak ada pekerjaan yang kutolak. Peralatan baru pun sudah kubeli untuk mendukung pekerjaan kami.
"Jerry, cepat kamu lihat berita ini!" kata Freya sambil menunjukkan berita di ponselnya. Kubaca berita diponselnya itu. "CEO PT. EMPAT SERANGKAI MASUK RUMAH SAKIT SETELAH DISERANG DIHOTEL!", kubuka beberapa berita yang mengulas berita tentang Tn. Gino itu. Tidak kudapatkan info tentang kondisinya. Kusuruh Freya untuk mencari info dimana Gino dirawat.
Ponselkku berdering lagi. "Juan Calling" terpampang dilayar ponselku.
"Halo, Juan!"
"Check your email!" ujarnya lalu memutuskan sambungan telpon.
Segera kucek Emailku, info lengkap tentang pekerjaan baruku dari Tn. Bram. Giorgino Kleiden ternyata sedang dirawat di rumah sakit swasta. 2 milyar uang muka pekerjaanku untuk melenyapkan Gino sudah ditransfer oleh Juan.
"Sayang, bereskan barang-barang. Nanti malam kita terbang ke Jakarta!"
...****************...
Freya sudah nongkrong di mobil sambil mengutak-ngatik laptopnya.
"Sayang, kamar Gino dirawat di kamar VVIP total pengawal ada 9 orang. 2 orang di lorong dekat tangga darurat, 4 orang di lorong depan. 2 orang didepan kamar dan 1 orang di dalam."
"Okay, sayang. Aku sudah diatas gedung. Wish me luck, Babe!"
Angin bertiup lumayan kencang diatas gedung itu. Kuintip kamar Gino dari sana. Frame jendela menghalangi bidikanku. Jika tembakanku terkena frame itu maka gagallah rencanaku.
"Freya, bisa kamu nyalakan alarm kebakaran?"
"Tentu bisa donk, sayang!"
"Oke, Aku hitung mundur sekarang!"
5
4
3
2
1
Alarm tanda kebakaran berbunyi, Mataku yang menempel di teleskop thermal tidak berkedip mengintai targetku. Pengawal Gino terlihat membopong tubuh Gino dari ranjang rumah sakit. Kepalanya yang berwarna merah tampak jelas diteleskopku.
__ADS_1
"DEEEEBBBSSS! DEEEEBBBSS!"
Pengawalnya dan Gino roboh berbarengan. Sensor warna merah di teleskop thermalku menghilang saat dua tubuh itu jatuh kelantai.
"Done, Honey! Tunggu aku hotel! I love you!"
"Okay Honey, I love u too!"
Aku bergegas membereskan peralatanku dan keluar dari gedung itu lewat tangga darurat.
"Jerry, aku sudah didekat hotel. 5-10 menit lagi aku sampai. Kamu dimana?
"Masih macet parah. Sayang, Juan beberapa kali telpon aku. Tapi setiap kuangkat, kok suaranya gak kedengaran ya? Aneh banget!"
"Hah?! Ada suara "beep" beberapa kali gak pas kamu angkat telponnya?"
Kucoba mengingat kembali suara saat aku menerima telpon dari Juan.
"Ada kayaknya suara itu, kenapa Freya?"
"BUANG PONSELMU SEKARANG, JERRY! POSISIMU SEDANG DILACAK! KITA KETEMU DI TANGGA DARURAT HOTEL. AKU TUNGGU KAMU DISANA!"
Aku lalu membuang ponselku begitu mendapat info dari Freya. Kularikan motor trailku ke arah hotel dengan kencang.
"Jalan Jerry!" ujarnya sambil meloncat ke jok motor.
Kularikan sepeda motorku ke arah Depok. Aku membeli ponsel baru, setelah itu kami meluncur ke hotel.
"Kamu yakin ponselku disadap, Freya?" tanyaku saat sudah masuk ke kamar hotel.
"100% yakin. Kan aku yang pasang anti sadap di ponsel kamu, sayang!
"Bajingan! Apa maksud mereka?"
"Sayang, bisa kamu reset ponsel lamaku? Aku mau semua data-datanya dipindah ke ponselku yang baru!"
"Tenang, udah kureset kok!"
Kunyalakan TV dan melihat berita. Berita penembakan yang menewaskan Gino dan pengawalnya siang tadi diberitakan di sejumlah TV nasional.
"Nanti malam kita ke Semarang, setelah di Semarang. Kita ke terbang ke Bali," ujarku sambil menyalakan rokok dan menonton TV.
__ADS_1
...****************...
"Sinyal ponsel Jerry masih disekitar Tugu pancoran, mustahil Jerry masih didaerah sana, nona," kata Juan sambil melihat tracker di laptopnya.
"GUE GAK MAU TAU, LU CARI JERRY SAMPAI DAPAT!" ujar Vanessa geram.
Vanessa masih kesal dengan keputusan papanya yang beberapa bulan lalu mengijinkan Jerry untuk resign. Sudah 8 orang pengawal yang menggantikan Jerry, pengawal terakhir hanya bertahan 2 minggu karena sikap uring-uringan Nona Vanessa. Vanessa begitu merindukan Jerry yang 8 bulan menjadi pengawal pribadinya. Hanya Jerry pengawal pribadinya yang tidak pernah menatap dirinya dengan tatapan mesum saat memakai pakaian seksi, mata Jerry pun tidak pernah menatap dirinya seperti tatapan pengawal-pengawal yang lain. Beberapa kali Vanessa dalam kondisi mabuk, Jerry pun tidak pernah mencuri-curi kesempatan saat menggendong atau mengangkat tubuhnya. Vanessa menyesali tamparannya ke wajah tampan pengawalnya itu, dan menganggap itulah sebab Jerry meminta resign.
...****************...
Malam itu menjadi malam yang panjang untuk Jerry dan Freya, Tengah malam mereka berangkat menuju Semarang mengunakan Travel. Saat pagi-pagi sekali mereka segera menuju bandara untuk berangkat dengan penerbangan pertama menuju pulau dewata, Bali.
Mereka menyewa Vila mungil jauh dari keramaian. Balas dendam Jerry sudah terbalaskan, keempat pembunuh kedua orangtuanya sudah berhasil dibunuh. Keinginannya sekarang hanya ingin menikahi Freya. Tapi tanpa setau Jerry, Freya yang masih sangat muda sebenarnya enggan menikah. Dia masih ingin bebas dan menikmati masa mudanya. Apalagi sekarang Freya memiliki banyak uang dari hasil kerjasamanya dengan Jerry. Freya sebenarnya ingin menolak ajakan Jerry untuk menikah, tapi dia takut mengecewakan Jerry. Akhirnya Freya berniat untuk meninggalkan Jerry untuk sementara.
"Sayang, aku mau mengunjungi bibiku besok lusa. Gak apa kan?"
"Gak apa, aku juga pengen ikut kamu, sayang! Kenalkan aku pada bibimu ya!"
Freya bingung mendengar jawaban Jerry, Freya terdiam untuk beberapa saat.
"Bibiku baru merit, sayang. Aku cuma pulang menengok bibi 1 minggu aja, setelah itu baru aku berani ngajak kamu. Gimana? Kamu gak apa kan?" Balas Freya.
"Owwhh. Gak apa sayang. Take your time!" Jawabku sambil mencium keningnya.
"Uangmu mau kamu bawa semua?" Tanyaku lagi.
"Aku cuma bawa 5 M aja kok, sayang. Untuk bantu bibi benerin rumah dan beli peralatan baru untuk kerja kita."
Keesokan paginya setelah mentransfer uang Freya. Freya membelikan oleh-oleh khas Bali untuk bibinya. Setelah itu aku dan Freya kembali ke Villa dan menghabiskan malam itu dengan mengobrol saja.
"Freya, serius aku gak usah ngantar ke bandara? Kok kamu jadi aneh?"
"Sayang, kasian ntar kamu balik sendirian dari bandara. Itu aja kok, jangan suka mikir yang aneh-aneh ahhh!" ujarnya mengecup bibirku.
"Pasti aneh rasanya sendirian disini, 6 bulan gak pernah pisah dari kamu. Cepat pulang ya, Sayang!"
Aku antar Freya menuju taksi yang akan mengantarnya ke bandara. Taksi itu pun bergerak menjauh. Aku tak pernah tau, ternyata hari itu hari terakhirku melihat Freya.
Hari berganti hari, setelah 3 hari Freya pergi ke rumah bibinya. Freya tidak memberiku kabar samasekali. Apakah dia sudah sampai dan bertemu dengan bibinya, aku tidak pernah tau. Karena mulai hari itu nomer ponsel Freya sudah tidak bisa dihubungi. Setelah 3 minggu aku berusaha menelpon Freya dan ponsel masih saja tidak bisa kuhubungi. Aku lalu bergegas menuju studio tato milik Nyoman.
"Soal Freya aku juga gak banyak tau, dia cuma kadang datang kesini setiap bulan. Kadang gak pernah datang samasekali."
__ADS_1
Bulan berikutnya dan bulan selanjutnya selama 6 bulan. Aku selalu datang untuk menanyakan apakah Freya ada datang ke studio Nyoman. Jawabannya tetap sama, Freya tidak pernah kesana. Sambil termenung di bangku belakang taksi yang kunaiki, aku tertawa sendiri menyadari kebodohanku. Kebodohan dan kepolosan pria dari hutan belantara Papua yang bertemu dengan gadis kota penuh pesona seperti Freya.
Malam itu aku termenung dan akhirnya aku memutuskan besok siang untuk meninggalkan pulau Bali. Setelah menutup rekening Bank lamaku dan membuat rekening baru. Menukar ponselku dengan ponsel baru berikut nomernya. Siang itu aku meninggalkan pulau Bali menuju Surabaya.