Jika Kau Cinta Dia

Jika Kau Cinta Dia
Bab 1 Bukan Senior Galak


__ADS_3

"Nis!" seru Nilam sambil menyenggol sikutnya.


Nisa segera tersadar akan lamunannya dan melirik.


"Apa?" tanyanya.


"Yeh malah nanya, cepetan habisin makan siang mu! nanti telat masuk kantor lagi," omelnya.


Tersadar Nisa segera melahap makanan yang sejak tadi hanya ia aduk-aduk, melirik pada arloji rupanya hampir sejam ia melamun.


Menyisakan setengah porsi karena sudah terlambat ia pun meneguk habis air minumnya dan segera pergi membayar.


Untung Nilam mengingatkannya sehingga ia tidak terlambat, bosnya itu adalah orang yang selalu tepat waktu karena itu jika ia terlambat lima menit saja bisa-bisa langsung kena SP.


Duduk di kursinya menghadapi komputer hanya dalam waktu beberapa menit saja pikirannya sudah melayang, raut wajahnya yang murung jelas memperlihatkan ada masalah dalam hidupnya.


Tapi semua temannya tak ada yang bertanya, sebab memang selain dia orang yang pendiam mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing sehingga tak memperhatikan.


Sore hari, pulang bekerja Nisa menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Tanpa mengganti pakaian ia menutup mata, mencoba mengistirahatkan benaknya yang terus bekerja ekstra untuk hal yang tidak perlu.


Esoknya ia bangun di jam yang sama, mandi, berpakaian, sarapan dengan dua lembar roti tawar dan pergi bekerja. Sebuah rutinitas monoton yang hampir membunuhnya dengan kebosanan. Tapi yang sebenarnya terjadi bukan itu alasan ia mati rasa.


"Perhatian semuanya!" seru bos sambil berdiri menghadapi semua karyawan.


"Perkenalkan ini Sany dari kantor cabang, mulai hari ini ia bekerja disini."


"Salam kenal semuanya," ujar Sany sembari tersenyum.


Para karyawan segera mendekat dan memperkenalkan diri begitu bos mereka pergi, Sany yang senang disambut dengan baik itu tersenyum.


Hanya Nisa yang acuh dan kembali duduk untuk kembali bekerja, saat Sany mendapat tempat duduk disampingnya dan memperkenalkan diri Nisa sama sekali acuh.


Itu membuat hati Sany sedikit sakit, ia ingat ucapan teman-temannya bahwa di kantor pusat ada orang-orang kejam yang tak mau berteman dengannya.


"Nis hari ini makan siang di kantin aja yuk!" ajak Nilam begitu jam istirahat tiba.


"Boleh," sahutnya.


"Eh Sany mau ikut juga?" tawarnya.


"Um.. emang boleh?" tanyanya ragu sebab melihat wajah datar Nisa.


"Boleh dong, makanan di kantin kita enak-enak lho."


Karena ajakan Nilam yang ramah akhirnya ia pun ikut, ketiga gadis itu berjalan bersama menuju lift dan turun menuju kantin.

__ADS_1


Ucapan Nilam memang benar, semua makanan di kantin enak-enak namun menunya kadang tak berubah sehingga membuat mereka cepat bosan.


Karena itu terkadang mereka membawa bekal atau makan di restoran terdekat.


"Kalau boleh tahu Sany umur berapa?" tanya Nilam setelah mereka mendapat tempat duduk.


"Dua tiga, kalau mbak?" sahutnya.


"Wah... kita seumuran dong! jangan panggil mbak, panggil Nilam saja. Toh di sini kita semua saling panggil nama sesama karyawan meskipun ada yang rentan usianya sampai sepuluh tahun, katanya biar gak segan dan mudah bekerja sama."


"Begitu ya, baiklah Nilam."


"Aku pikir kamu lebih muda dari aku," ucapnya.


"Mungkin karena aku pendek kali ya, tinggi ku cuma Seratus lima puluh lima. Bikin gak pede deh!" curhatnya.


"Ih justru kamu jadi keliatan awet muda terus, bagus tahu."


Mereka tersenyum dan kembali makan, saat Sany melirik pada Nisa yang hanya mengaduk-aduk makanannya ia pun penasaran.


"Kalau Nisa umur berapa?" tanyanya.


"Dia dua lima," ujar Nilam menjawabkan.


"Gak perlu, kan dibilang disini semua saling panggil nama," sahut Nilam.


Sany mengangguk dan kembali makan, kali ini ia tak bertanya apa pun lagi kepada Nisa setelah mendapat respon yang kurang baik. Ia hanya mengobrol dengan Nilam saja.


"Nis! malah melamun, cepetan abisin makanan mu!" seru Nilam.


Nisa bergeming, menatap arloji kali ini ia pun hanya menyantap setengah makanannya.


Kembali bekerja Sany mendapat kesulitan dengan berkas yang di berikan bos, ia tak mengerti bagaimana cara mengerjakannya. Mencoba bertanya pada Nilam sayangnya ia sedang sibuk, yang lain pun tak bisa membantu.


Kembali ke kursinya ia kemudian melirik Nisa yang terlihat santai, ia ingin mencoba bertanya tapi ragu sebab mereka belum berhasil berkomunikasi dengan baik.


Namun karena tak ada lagi yang bisa membantu akhirnya Sany lebih memilih dimarahi Nisa daripada mengecewakan bosnya sementara ini adalah hari pertama ia bekerja di kantor pusat.


"Maaf... Nisa... bisa bantu aku gak?" tanyanya pelan.


Tapi Nisa tak menyahut, matanya masih menatap kedepan seolah tan sadar ada Sany di sampingnya.


"Mbak?" panggil Sany lebih kencang sambil mencolek tangan Nisa.


"Ya?" sahut Nisa.

__ADS_1


"Ah.. aku gak ngerti cara ngerjain ini, bisa bantu gak?" tanyanya memberanikan diri meski dengan jantung yang berpacu.


Nisa memanjangkan leher untuk melihat berkas yang di pegang Sany, kemudian ia pun menjelaskan perlahan dan dengan detail sehingga Sany langsung mengerti.


"Begitu, terimakasih mbak," ujarnya senang.


"Panggil aja Nisa," ralat Nisa dengan wajah datarnya.


"Baik, Nisa... " sahut Sany cepat.


Nisa mengangguk dan kembali menatap layar komputernya, sementara Sany menghembuskan nafas lega.


Sore hari setelah pulang bekerja Sany cukup heran melihat Nisa menaiki bus yang sama dengannya, bahkan mereka juga turun di tempat yang sama.


Berjalan tepat di belakang Nisa ia semakin heran mengapa Nisa pergi ke arah yang sama dengannya, tapi begitu Nisa berbelok ia kemudian mengerti bahwa Nisa menyewa kost di daerah itu.


Esok paginya bahkan Sany menemukan Nisa keluar dari rumah kost dan terus berjalan tanpa menyadari kehadirannya di belakang.


Kembali memperhatikan Nisa kali ini Sany di buat terkejut saat Nisa menolong seorang nenek yang terlihat sulit naik ke atas bus, bahkan di dalam bus Nisa mempersilahkan nenek itu duduk di satu kursi yang masih kosong.


Melihat kebaikan Nisa membuatnya heran, wajah Nisa saat di kantor terlihat menyeramkan seperti senior yang suka menindas. Tapi jika di ingat lagi ia juga tak pernah melihat Nisa marah-marah.


"Pagi Nisa, nih kopi buat mu," ujar Nilam sambil menyimpan satu gelas di mejanya.


"Terimakasih," sahut Nisa pelan.


"Dan ini untuk kamu San," ucap Nilam.


"Oh terimakasih," ujarnya sambil tersenyum.


Tapi begitu Nilam berlalu Sany baru sadar bahwa kopi miliknya adalah kopi susu.


"Aaah... bagaimana ini? aku tidak suka kopi susu," gumamnya kebingungan.


"Mau tukar dengan ku?" tawar Nisa tiba-tiba.


Matanya membulat menatap Nisa sebab ini adalah kali pertama ia bicara dengannya, bahkan ia tak menyangka Nisa mendengar keluhannya dan mau bertukar.


"Tukar saja," ujar Nisa kemudian menaruh kopi miliknya dan mengambil kopi milik Sany.


Bahkan Nisa langsung meminum kopi susu itu agar Sany tak bertukar lagi.


"Terimakasih," ujar Sany sembari tersenyum.


Meneguk kopi itu kini ia sadar bahwa sebenarnya ia salah paham kepada Nisa, Nisa bukan senior galak dan kejam. Hanya orang yang pendiam dan cuek.

__ADS_1


__ADS_2