
Saat Sany kembali masuk kerja semua menyambut dengan senang, akhirnya ruang kerja itu akan kembali ceria seperti biasa. Tak lupa mereka menanyakan kabar ayahnya yang kini sudah jauh lebih baik.
Rutinitas Nisa pun kembali, hari itu ia pulang bersama dengan Sany sambil mengobrolkan segala hal.
"Eeh... aku baru tahu kamu miara kucing, boleh aku mampir buat melihatnya?" tanya Sany.
"Tentu saja," sahut Nisa.
Mily adalah kucing berwarna oranye yang memang sangat menggemaskan, ia masih kecil dengan bola mata besar yang nampak lucu. Hanya dengan satu kali pandang Sany dibuat gemas sehingga ia menggosok pipinya pada bulu Mily.
"Andai aku juga bisa memelihara kucing, sayangnya ditempat ku ngekost tidak di ijinkan memelihara binatang," keluhnya.
"Kau bisa datang ke sini dan bermain dengan Mily," ujar Nisa.
"Sungguh?" tanya Sany berbinar.
"Tentu saja," sahutnya.
"Yes! Mily kita akan sering bertemu," sorak Sany.
Mulai dari malam itu ia menghabiskan waktu dengan bermain bersama Mily, Sany keliatan senang sampai ia juga sempat menginap hanya untuk menghabiskan banyak waktu dengan kucing itu.
Namun di akhir pekan justru ia harus pulang untuk menjenguk ayahnya, itu karena meski sudah baikan vertigo bisa kambuh kapan saja jika pola hidup ayahnya tidak diubah menjadi lebih sehat.
Padahal niatnya empat sekawan itu akan menghabiskan waktu dengan nongkrong di kafe seperti biasa, sayangnya karena Sany tidak bisa ikut Jaya pun memiliki rencana sendiri sehingga hanya Akim dan Nisa yang menghabiskan waktu bersama.
"Agak membosankan ya kalau Jaya dan Sany tidak ada," ujar Nisa.
"Kau bosan? bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain?" tawar Akim.
"Kemana?" tanya Nisa.
Tersenyum penuh arti Akim langsung saja menarik tangan Nisa dan mengajaknya pergi, saat sampai rupanya mereka pergi ke arena panjat tebing.
"Hai Kim!" sapa seorang instruktur yang keliatan akrab dengan Akim.
"Hei Joe, gimana kabar mu?" balas Akim sambil menyambut tangan yang terulur.
__ADS_1
"Sehat, mau main?" tanyanya.
"Mm, kenalin ini Nisa. Nis ini teman ku Joe," jawabnya seraya mengangguk.
Mereka saling bersalaman sambil tersenyum, mengikuti langkah Joe yang memimpin di depan ini adalah kali pertama Nisa melakukan olahraga yang terbilang ekstrim baginya.
Meski begitu ia tetap mencoba terlebih saat melihat Akim bisa memanjat dinding buatan itu hingga mencapai puncaknya, terlihat sangat mudah namun begitu di coba baru beberapa langkah menaiki setiap pijakan ia langsung kelelahan.
Untung Nisa sempat melakukan pemanasan seperti yang di perintahkan Joe, jika tidak kaki dan tangannya pastilah sudah kram.
Sebagai instruktur Joe cukup kagum juga akan keuletan Nisa, ia mau mencoba beberapa kali meski terus terjatuh dan saat badannya menghantam dinding dengan cukup keras.
"Kau baik-baik saja?" tanya Akim khawatir sebab ia tahu rasanya pasti sakit setelah tiga kali terjatuh dengan badan yang menghantam dinding.
"Yah.. hanya sedikit ngilu," jawabnya.
"Sebaiknya kita istirahat dulu," ujarnya melihat bahu Nisa yang kemerahan.
Ia takut jika Nisa naik lagi dan kembali jatuh seperti tadi kali ini bahunya akan cedera, untungnya Nisa tidak bandel. Ia setuju dan membiarkan Akim mengompres bahunya.
"Terimakasih," sahut Nisa mengambil botol itu.
"Ini pertama kalinya kau mencoba, kenapa tidak berhenti saat kau terus terjatuh?" tanya Joe penasaran.
"Kenapa aku harus berhenti?" balas Nisa bingung yang membuat dua pria itu keheranan.
"Maksud ku biasanya wanita akan berhenti saat ia merasakan sakit, tapi kau tidak. Seolah kau tidak peduli meski terus terluka," jelas Joe.
Nisa menatap panjang pada Joe, mencoba mencerna penjelasan itu yang tetap saja tak begitu ia pahami.
"Aku hanya masih ingin melakukannya, menurut ku seru melakukan olahraga ini. Bukankah wajar jika terus gagal di awal? aku kan baru mencoba pertama kali," sahutnya.
Joe mengerutkan kening, baru kali ini ia bertemu wanita yang benar-benar berfikiran sederhana. Ini membuatnya lebih tertarik lagi pada Nisa, saat mereka berpamitan pulang Joe mengundang Nisa untuk datang lagi dan ia akan memberi pelajaran gratis.
"Kim mana ponselmu?" tanya Nisa saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Oh ini," ujarnya sambil menyerahkan benda pipih itu.
__ADS_1
"Ah pin-nya," ucap Nisa saat mendapati ponsel itu di kunci.
Ia menyodorkan ponsel itu kembali pada Akim tapi Akim justu memberitahu kode pin-nya, Nisa pun menarik ponsel itu dan membuka pasword.
Saat tadi mencoba panjat tebing ia menyuruh Akim untuk mengambil beberapa potret dirinya, karena itu Nisa meminjam ponsel Akim untuk memindahkan semua fotonya.
Beberapa foto yang bagus ia upload di sosmednya, selang beberapa menit kemudian Sany yang melihat postingan itu mengirim pesan padanya berupa kalimat iri.
Nisa menjawab jika Sany bisa ikut nongkrong ia pun tak akan pergi ke tempat panjat tebing, kemudian ia menjelaskan bahwa ia di ajak Akim sebab Jaya juga memiliki rencana sendiri.
Esoknya saat bertemu dikantor Sany yang penasaran kembali bertanya bagaimana rasanya pergi berdua dengan Akim, sontak pertanyaan itu membuat Nisa bingung.
"Apa maksud mu? ya.. biasa saja, seperti pergi dengan Jaya," ujarnya.
"Sungguh? apa kau tidak merasa Akim sangat perhatian lebih dari Jaya?" tanya Sany sambil mengulas senyum.
Nisa mulai membandingkannya, setelah di pikir kembali dalam beberapa kesempatan Akim memang memberi perhatian yang tak biasa.
"Itu hanya perhatian sebagai teman, tidak lebih," ujarnya kemudian.
"Omong kosong! aku rasa Akim menyukaimu," bantah Sany yang membuat Nisa semakin melongo.
"Kau bicara apa? bagaimana mungkin dia menyukaiku? justru sebenarnya dia menyukaimu!" bantahnya.
Raut Sany tiba-tiba berubah, ia duduk di kursinya dan mulai memainkan bolpoin.
"Dulu memang aku juga sempat berpikir seperti itu, bahkan aku merasa kami sudah saling mencintai. Tapi Akim tidak pernah menyatakan cinta, terlebih saat aku membawa Akim menemui orangtuaku ternyata ibuku kurang merasa cocok dengannya. Itu membuat ku akhirnya menjaga jarak selama beberapa waktu sebelum akhirnya kembali bersikap biasa," terangnya.
Nisa terdiam, rupanya kisah itu memang sempat mereka alami seperti ucapan Jaya. Melihat situasi sekarang ia menarik kesimpulan bahwa Akim masih berharap pada Sany tapi Sany yang lebih mementingkan pendapat keluarga tidak memberinya harapan.
"Sekarang aku dan Akim hanya sebatas teman, karena itu aku rasa Akim menyukai mu melihat bagaimana dia memperlakukanmu," ujar Sany sembari tersenyum.
"Tidak! tidak ada hubungan yang lebih diantara kita berempat kecuali pertemanan," bantah Nisa.
"Jangan munafik, kita bukan anak SMA lagi. Lagi pula kalian terlihat sangat cocok," goda Sany.
Tapi apa pun yang dikatakan Sany ia tak peduli, saat ini memang hatinya sudah sembuh dari luka lama tapi bukan berarti siap terbuka untuk orang baru.
__ADS_1