Jika Kau Cinta Dia

Jika Kau Cinta Dia
Bab 3 Di Puncak


__ADS_3

Nisa tidak berubah sama sekali, ia tetap menjadi orang yang pendiam meski kini hatinya jauh lebih baik. Hanya saja sekarang dia sudah tidak pernah melamun lagi, ia akan mendengarkan Nilam dan Sany mengobrol saat makan siang dan menyahut saat ditanya.


Semakin hari karena banyak menghabiskan waktu bersama mereka menjadi lebih dekat lagi satu sama lain, terkadang Sany akan merepotkan dengan pekerjaannya namun akan ia balas jasa Nisa dengan mentraktirnya sesuatu.


Malam minggu itu tiba-tiba ia mendapat telepon mendadak dari Sany, ia diminta untuk bersiap dan akan datang menjemputnya.


Tok Tok Tok


Ketukan di pintu itu memberitahu Nisa bahwa Sany sudah datang menjemput, ia pun segera membukanya.


"Hehe.. sudah siap?" tanya Sany tanpa merasa bersalah.


"Emang kita mau kemana sih?" balasnya.


"Puncak," sahut Sany.


Nisa menghembuskan nafas panjang, terkadang Sany memang suka mengajak pergi secara mendadak yang membuatnya sedikit kesal.


"Ayo!" ajaknya sambil meraih tas.


Sany keluar lebih dulu sementara Nisa mengunci pintu kamarnya, begitu ia sampai di jalan dua orang pria terlihat sedang bicara dengan Sany.


Mata kedua pria itu menangkap dirinya yang berjalan mendekat, salah satunya bahkan terlihat enggan menurunkan pandangan.


"Nis kenalin, mereka teman-temanku," ujar Sany.


"Akim," ucap pria jangkung dengan topi bisbol sambil mengulurkan tangan.


"Nisa," sahutnya sambil menyambut tangan itu.


"Jaya," ujar pria lain yang sejak tadi terus memperhatikannya.


"Aku pikir kita pergi berdua," bisik Nisa sambil menyikut Sany.


"Maaf, mereka yang ngajak pergi mendadak. Masa aku cewek sendirian yang ikut?," sahutnya.


"Udah siap? yu berangkat!" ajak Akim.


Mereka mengangguk dan segera masuk ke mobil yang terparkir disana, Akim yang menyupir ditemani Jaya sementara Sany dan Nisa duduk di kursi belakang.


Sepanjang perjalanan Akim sengaja menyetel musik agar perjalanan mereka lebih mengasyikkan, namun suara musik rupanya kalah dengan volume suara Sany saat tertawa karena candaan Jaya.


Seperti yang telah diperkirakan meskipun mereka berangkat pagi jalanan cukup macet karena itu akhir pekan, meski begitu mereka tak lelah ataupun kesal karena tak ada yang mereka buru.


"Ah haus, Kim minggir dulu deh! aku mau beli minuman," ujar Sany yang merasa tenggorokannya kering.


"Oke, didepan ya!" sahut Akim.

__ADS_1


Tepat di kedai minuman Akim memarkir mobilnya, Sany pun segera turun setelah menerima semua pesanan temannya. Sementara yang lain menunggu di dalam mobil.


"Kamu satu kerjaan sama Sany ya?" tanya Jaya.


"Iya," sahut Nisa.


"Dia pasti sering ngerepotin kamu di tempat kerja," ujarnya.


"Ko tahu?" tanya Nisa.


"Iyalah, orang kita pernah satu kerjaan sama Sany," sahut Akim.


"Begitu ya,"


"Dulu kita bertiga pernah magang di satu perusahaan yang sama, sayangnya Sany gak lolos waktu pengangkatan karyawan. Tapi kita tetep saling hangout bareng kalau ada waktu," jelas Jaya.


Nisa tersenyum, pantas mereka bertiga sangat akrab.


......................


Sampai di puncak tujuan mereka yang sebenarnya adalah sebuah kafe outdoor, setiap gazebo dilengkapi lampu warna warni agar meski sudah malam pun pemandangannya indah. Sementara di siang hari mereka disuguhkan dengan bukit teh yang khas.


Udara dingin seketika menggelitik hidung Nisa begitu ia memasuki satu gazebo, ia yang terlalu lama menghabiskan waktu di ruangan tentu saja sedikit sensitif dengan ruang terbuka itu.


"Kamu mau pesen apa Nisa?" tanya Jaya sembari menyerahkan buku menu.


"Kayaknya teh manis anget sama roti bakar aja," sahutnya membaca sekilas buku menu itu.


"Gue pengen kentang goreng aja, laper perut gue. Kalau minumnya jus jeruk ya," sahut Akim.


"Aku pengen roti bakar juga sama americano satu ya," terang Sany.


Sementara Jaya memilih teh tarik saja, setelah pesanan selesai di tulis pelayan itu pergi sambil membawa kembali buku menu.


Obrolan kembali dimulai oleh Sany, ia memang gadis yang ceria dan terbuka karena itu dialah yang meramaikan suasana. Sementara Jaya sangat suka usil dan membuat Sany kadang naik pitam, Akim sendiri terlihat lebih dewasa dari yang lain namun jelas ia juga suka bercanda.


Teman baru, suasana baru. Anehnya tiba-tiba Nisa malah kepikiran mantannya, bukan tanpa alasan. Ia pun pernah di ajak ke puncak oleh pacarnya saat kencan, namun tempat yang mereka kunjungi lebih pada angkringan pinggir jalan.


"Nis!" seru Sany sambil menggoyangkan bahunya.


"Oh sory, kenapa?" sahut Nisa kembali tersadar.


"Ko diem? kenapa?" tanya Sany.


"Gak apa-apa, aku toilet dulu ya," ujarnya.


Tanpa menunggu jawaban dari yang lain ia segera pergi, sampai di toilet yang ia lakukan hanya mencuci tangan dan wajah untuk menyadarkan diri agar jangan teringat lagi pada semua kenangan menyakitkan itu.

__ADS_1


Hhhhhhh


Setelah menghembuskan nafas panjang melepaskan kegalauan ia pun keluar, beberapa langkah berjalan ia melihat Jaya sedang merokok di tempat khusus.


"Asem ya?" tanya Nisa sambil menghampiri.


"Hehe, iya. Tadi kan cuma sempat pas beli minuman di jalan," jawabnya.


Nisa tersenyum, jelas terlihat Jaya cukup perokok berat. Memandang pada bukit teh ia mengusap kedua lengannya agar merasa lebih hangat, Jaya yang melihat rupanya sadar kalau Nisa tidak terlalu biasa dengan hawa dingin itu.


"Mau pakai?" tawar Jaya sambil menyodorkan sweater yang tadi ia pakai.


"Oh gak usah," tolak Nisa sopan.


"Kenapa? bersih ko!" ujar Jaya sambil mencium sweaternya.


Melihat hal itu Nisa tak bisa menahan tawanya, tentu saja Jaya kebingungan sebab ia tak mengerti dimana letak lucunya.


"Sory, sweaternya aku yakin bersih dan wangi. Aku cuma ngerasa kalau pakai itu nanti tubuhku gak terbiasa dengan hawa dinginnya," jelas Nisa.


"Ooh.. kirain," ucap Jaya.


"Balik yu!" ajak Nisa untuk kembali ke gazebo.


Jaya segera menghisap batang rokoknya sangat dalam sebelum kemudian ia buang pada tempatnya, kembali pada kursi mereka rupanya pesanan mereka sudah sampai.


Menikmati makanan manis dengan minuman hangat benar-benar menyegarkan ditengah udara yang dingin, tanpa terasa mereka menghabiskan banyak waktu dengan mengobrol sampai semua makanan habis dan itu masih kurang.


"Eh udah sore, balik yuk!" ajak Sany.


"Oke, kalian duluan aja. Biar gue yang bayar," sahut Jaya sambil berdiri.


"Widih... tumben lu baek, biasanya kita patungan," ujar Akim.


Jaya menatap tajam karena godaan itu, membuat Akim segera mengerti dan tutup mulut.


"Kalau kita duluan ya!" seru Sany.


Ia segera berjalan pergi menuju tempat parkir disusul oleh Akim.


"Jay!" panggil Nisa.


"Ya?" sahutnya menoleh.


"Makasih ya, lain kali biar aku yang traktir," ujarnya.


"Ah Nisa... udahlah!" sahut Jaya dengan wajah memerah karena malu.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang Sany bertukar tempat dengan Jaya, ia duduk di depan bersama Akim yang menyetir sementara Jaya di belakang bersama dengan Nisa.


Kini dalam perjalanan pulang yang terasa cepat Nisa lebih terbuka dan dapat mengikuti arah bercandaan mereka, membuat yang lain tak segan untuk bertanya atau bercanda.


__ADS_2