
Ada rasa bersalah mengingat apa yang telah ia ucapkan pada Akim, kini ia menyadari sudah keterlaluan. Lebih-lebih Akim bisa salah paham dan menganggapnya menyukainya, meski memang ada sedikit perasaan itu tapi Nisa tak ingin Akim mengetahuinya begitu saja.
Mengumpulkan keberanian ia pun menghubungi Akim, mengajaknya bertemu untuk bertemu.
Akim menyetujuinya dan akan datang, karena Nisa pergi sendiri ia sampai duluan di tempat.
"Kenapa kau tidak menungguku menjemput mu?" tanya Akim.
"Kebetulan aku habis membawa Mily untuk cek-up," ujarnya.
Akim mengangguk dan mulai memesan minuman, untuk beberapa menit mereka saling terdiam tanpa suara.
"Um... Akim aku ingin minta maaf atas ucapan ku waktu itu, aku sudah keterlaluan. Tidak seharusnya aku bicara seperti itu padamu," ujar Nisa akhirnya dengan sedikit keraguan.
"Tidak masalah, jangan di pikirkan."
"Entah mengapa aku bicara sembarangan seperti itu, maaf karena sudah ikut campur dalam urusan pribadimu," ucap Nisa sekali lagi kini lebih berani.
"Sudah ku katakan lupakan saja, yah.. mungkin aku terlihat seperti orang yang plin plan tapi sungguh aku hanya menganggap Sany sebagai teman," jelasnya.
Entah mengapa Nisa sangat benci saat Akim menjelaskan berulang kali tentang hubungan mereka, menurutnya orang yang berusaha keras menjelaskan pada kenyataannya takut kebenarannya terungkap.
Tapi kini ia sudah tak begitu peduli, terserah mau seperti apa hubungan yang terjalin antara Akim dan Sany. Ia hanya ingin pertemanan mereka tetap berjalan baik.
......................
Ssstt
Nisa menoleh, mengangkat alis sebagai pertanyaan dari kode Sany.
"Aku punya berita besar untuk mu," bisiknya.
"Apa?" tanya Nisa pelan.
"Sepertinya Nilam dan Jaya pacaran," ujarnya sambil melirik sekali ke arah Nilam yang sibuk bekerja.
"Sungguh? dari mana berita konyol itu berasal?" tanya Nisa tak percaya.
"Aku memergoki mereka jalan berdua di mall, mereka saling bergandengan tangan. Kalau bukan pacaran lalu apa namanya?" jelasnya.
__ADS_1
Nisa mengerutkan kening, menatap Nilam dengan penuh tanda tanya.
"Mungkin kau salah lihat orang," ujarnya.
"Tidak! jelas itu mereka, jika kau tidak percaya kita buntuti mereka."
Sebenarnya Nisa cukup malas main detektif-detektifan, tapi Sany sangat ngotot sampai akhirnya ia pun ikut juga.
Hari itu sebagai umpan Sany mengajak Nilam untuk pergi nongkrong seperti biasa, namun Nilam menolak dengan alasan ada urusan.
Merasa curiga Sany segera mengajak Nisa untuk membututinya, rupanya Nilam pergi ke mall dan alangkah terkejutnya mereka saat melihat Nilam memang bertemu dengan Jaya.
Semakin curiga mereka berdua terus menguntit di belakang, beberapa kali Sany mencubit Nisa saat mereka berpegangan tangan atau saat Jaya merangkul bahu Nilam.
"Sudah ku bilang, mana ada orang berteman semesra ini?" bisik Sany.
"Apa kau tidak pernah di rangkul atau di pegang oleh Jaya?" tanya Nisa.
Sany segera berfikir, jika diingat kembali Jaya memang pernah melakukan hal itu padanya. Sebuah kebiasaan lain yang dimiliki Jaya, saat berada di muka umum ia kadang berlagak seperti pacar entah demi tujuan apa.
Nisa sendiri juga kadang di perlakuan seperti itu, apalagi saat mereka sedang jalan berdua dan bertemu teman Jaya.
Mereka kembali berjalan begitu Nilam dan Jaya masuk ke sebuah toko tas, dengan berpura-pura sebagai pengunjung perlahan mereka mendekat agar bisa mendengar percakapan mereka.
Sayup-sayup terdengar mereka sedang berdiskusi tentang tas yang di pegang Nilam, saat mereka kemudian pergi melihat tas lain Sany tiba-tiba memegang perutnya.
"Nisa.. bisakah kau lanjutkan misi ini sendirian? aku harus pergi ke toilet," tanyanya.
"Apa? tapi.. "
"Sudahlah nanti aku menemui mu," potong Sany yang sudah tak tahan karena panggilan alam yang begitu mendadak.
Kebingungan Nisa tak berani begitu dekat jika hanya sendirian, ia pun memutuskan untuk mencintai dari jauh.
"Nisa.. apa yang kau lakukan?" tanya Joe heran melihat tindak-tanduk Nisa yang aneh.
Kaget karena namanya di panggil Nisa segera menarik Joe agar mendekat dan memberi isyarat untuk diam, Joe yang semakin kebingungan bertanya "Ada apa?".
" Ssshh.. diam dan jangan lihat kesana kemari!," perintah Nisa semakin takut ketahuan.
__ADS_1
Saat melihat Jaya dan Nilam melewati mereka dengan cepat Nisa menyembunyikan wajah oleh tas, tubuhnya juga semakin menempel pada Joe yang membuatnya bisa mencium wangi tubuh Nisa.
Sementara Nisa mengamati pergerakan Nilam dan Jaya Joe justru tersenyum senang karena ia begitu dekat dengan Nisa, bahkan Nisa masih memegang tangannya yang membuatnya tak mau bergerak sedikit pun kecuali untuk melihat wajah Nisa.
"Ayo!" ajak Nisa tiba-tiba menarik tangannya.
Melihat Jaya dan Nilam masuk ke sebuah restoran Nisa pun ikut masuk bersama Joe, mereka duduk tepat di meja depan yang terhalang papan pembatas.
"Nisa sebenarnya apa yang kau lakukan?" bisik Joe akhirnya bertanya.
"Oh maaf, aku dan Sany sedang membututi
Mereka," sahutnya sambil menunjuk belakang dengan ibu jari.
Joe melirik dan melihat Jaya bersama dengan Nilam.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Joe lagi.
Nisa pun menceritakan kecurigaan Sany, karena berbeda pendapat akhirnya mereka menguntit Jaya dan Nilam untuk melihat siapa yang benar.
"Hahaha.. kalian ada-ada saja," ujar Joe.
"Ssssshhh... pelankan suaramu," desis Nisa.
"Oh maaf, lagi pula kenapa harus main mata-mata seperti ini? kalian kan bisa bertanya langsung," ucapnya.
"Mereka belum tentu menjawab dengan jujur," sahutnya.
Joe terdiam, tiba-tiba ia ingat percakapan Nisa dan Akim tempo dulu di rumah sakit. Jika ia bertanya pun Nisa juga belum tentu menjawab dengan jujur.
"Bagaimana jika mereka pacaran?" tanya Joe.
"Tidak masalah sih... toh itu hak mereka, hanya saja mengingat belum lama mereka saling kenal itu agak terlalu cepat. Tapi kembali lagi aku tidak boleh menghakimi mereka," jawabnya.
"Jika mereka ingin merahasiakan hubungannya apa kau akan terus mendesak mereka?" tanyanya lagi.
"Tentu saja tidak boleh, sebagai teman sudah seharusnya kita jaga privasi mereka."
"Kalau begitu berhenti menguntit, kau pun tidak ingin jika privasi mu di ganggu kan?" perintah Joe.
__ADS_1
Nisa terdiam, merasa di cambuk oleh kata-kata itu sebab ia pun pernah mengganggu Akim dengan privasinya.