Jika Kau Cinta Dia

Jika Kau Cinta Dia
Bab 11 Kecelakaan


__ADS_3

Ingin menghilangkan perasaan negatif Nisa memilih pergi ke tempat Joe untuk melakukan olahraga panjat tebing, kedatangan Nisa yang tak disangka itu membuat Joe senang.


Ia yang awalnya sedang melatih segera menyerahkan tugas itu pada anak buahnya sementara ia menyambut Nisa.


"Kau ingin naik?" tawarnya.


"Ya, sepertinya aku akan sering datang ke sini. Bisakah kau buatkan rekor pencapaian ku? mungkin nanti aku akan mencoba dialam bebas setelah berhasil menundukkan dinding ini," jawabnya.


"Tentu saja," sahut Joe.


Seperti biasa sebelum memanjat Nisa melakukan pemanasan dulu, setelah cukup baru ia memakai peralatan dan memanjat.


Beberapa meter kini terasa mudah, tapi saat akan naik ke ketinggian satu meter lagi Nisa merasakan tangannya tak bertenaga hingga ia memutuskan untuk turun.


"Bagus, perlahan aku yakin kau bisa menaklukkan dinding ini," ujar Joe menghampiri.


Mengambil istirahat setelah beberapa kali naik mereka duduk bersama sambil memperhatikan pemain lain.


"Um... Nisa boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Joe yang kurang yakin tapi sangat penasaran.


"Ya," sahutnya.


"Apakah... kau.. dan Jaya ada hubungan?" ujarnya.


"Hubungan?" ulang Nisa yang tak mengerti.


"Begini, maksud ku apa kau menyukai Jaya?" jelas Joe dengan cepat.


"Apa? hahahaha.... sekalipun di dunia hanya ada satu pria tidak mungkin aku menyukainya," sahut Nisa tak bisa menahan tawa akan pertanyaan konyol itu.


"Tapi.. malam itu kau ngotot sekali ingin pulang bersamanya," jelas Joe.


Nisa terdiam, jika di ingat kembali ia memnag terlalu ngotot sehingga wajar jika orang-orang salah paham terhadapnya.


"Itu karena Jaya adalah orang yang pelit, ssmakin dia keras kepala aku semakin ingin membuatnya menyerah. Karena itu aku ngotot malam itu," jelasnya.

__ADS_1


Untung Joe sudah mengenal Jaya dengan baik sehingga ia dapat mengerti ucapan Nisa, kecurigaannya pun sirna dan menerbitkan harapan yang sempat tersendat.


Puas beristirahat Nisa kembali memanjat, selangkah demi selangkah ia naik hingga mencapai ketinggian baru. Sayangnya tangannya yang sudah cukup berkeringat tak ia tabur lagi sehingga ketika ia mengangkat tubuh untuk naik ia justru tergelincir dan jatuh.


Yang lebih sial lagi adalah tali pengamannya entah bagaimana putus sehingga BRUK


"Nisa.... " seru Joe ngeri melihat insiden mengerikannya itu.


Ia terjatuh dengan posisi telentang, kepalanya terbentur duluan yang menyebabkannya pingsan seketika.


Panik, Joe segera membawa Nisa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Bulak balik dia berjalan di depan pintu pemeriksaan sampai dokter yang menanganinya keluar untuk memberitahu kondisi Nisa saat ini.


"Punggungnya cedera, butuh waktu untuk pemulihan dan aku belum bisa memastikan apakah dia boleh melakukan olahraga ini lagi atau tidak. Kita bisa melihatnya lagi nanti setelah beberapa minggu, untuk saat ini semuanya baik. Kau bisa menjenguknya," jelas dokter itu.


"Terimakasih dok," ujar Joe segera bergegas masuk.


Di ranjang itu Nisa yang sudah sadar menyunggingkan senyum, namun jelas terlihat badannya tegap karena alat yang terpasang untuk merawat punggungnya.


"Maaf, harusnya aku lebih memperhatikan lagi tali pengamannya," ujar Joe menyesal.


"Dari pada murung begitu lebih baik bantu aku makan, tolong suapin aku. Entah mengapa saat sadar perutku sangat lapar tapi tangan ku sakit begitu ku gerakan," sahut Nisa.


Dengan senang hati Joe menyuapi Nisa, tanpa malu gadis itu makan dengan lahap sampai ia merasa kenyang.


Karena Nisa harus dirawat maka Joe pamit pulang dulu untuk mengganti pakaian dan akan kembali lagi nanti.


Menghembuskan nafas panjang kini Nisa berada dalam kesepian, ia mengambil ponsel. Berfikir haruskah ia memberitahu ibunya, tapi jika diberitahu pun itu hanya akan membuat hubungan mereka semakin tidak baik.


Sejak ayahnya menikah lagi dan punya anak Nisa yang tak pernah sedikit pun merasakan kasih sayah seorang ayah meminta ibunya untuk bercerai saja dan menikah lagi dengan pria lain, tapi ibunya tak mau karena cintanya terlalu besar. Bahkan lebih besar dari pada cinta kepada putrinya.


Yang paling menyakitkan adalah ibunya pernah menyalahkan dirinya karena terlahir sebagai perempuan bukan pria, semenjak ayahnya menikah lagi dan berpaling kesehatan mental ibunya kian memburuk hingga membuat bicaranya melantur.


Ia sering kali bergumam Nisa adalah penyebab ayahnya meninggalkan mereka, kian dewasa Nisa menjadi tak tahan dan sudah tak peduli lagi pada orangtuanya.


Beruntung masih ada neneknya yang mau merawat ibunya, berkat neneknya pula ia bebas memilih hidup dan berhasil bekerja di perusahaan dengan gaji yang cukup tinggi.

__ADS_1


Semenjak itu Nisa tak pernah pulang, tak pernah memberi kabar pula. Ia hanya akan mengirimkan uang sebulan sekali untuk biaya hidup neneknya dan ibunya, kadang neneknya pun membujuknya untuk pulang dan menengok kondisi ibunya.


Mau bagaimana pun Nisa harus tetap hormat kepada ibunya, tapi rasa sakit itu telah menjadi pembatas yang besar bagi mereka.


"Nisa..." panggil Joe yang akhirnya kembali setelah satu jam pergi.


Ia masuk di ikuti oleh Jaya, Akim, Nilam dan Sany tepat dibelakang. Rupanya Joe mengabari Akim bahwa Nisa mengalami kecelakaan dan Akim pun akhirnya memberitahu yang lain, sementara Nilam tahu dari Sany.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Akim menghampiri.


"Bagaimana ini bisa terjadi? apa kau baik-baik saja?" tanya pula Sany yang terlihat lebih cemas dari yang lain.


"Hanya cedera punggung," sahutnya.


"Meski begitu Nisa harus di rawat setidaknya seminggu sampai punggungnya membaik," jelas Joe yang lebih tahu dari dokter.


"Aku membawakan buah-buahan, kuharap kau cepat sembuh," ujar Nilam yang masih sempat belanja.


"Kau sendiri? dimana orangtua mu?" tanya Jaya sebab ia tahu kecelakaan Nisa tadi siang sementara ini sudah malam dan ia masih sendiri.


"Aku belum memberitahu mereka," sahutnya.


"Kenapa?" tanya Jaya heran.


"Ini hanya luka ringan, tidak perlu dibesarkan."


Jawaban Nisa dengan nada ketus itu membuat Jaya lebih penasaran lagi, tapi Akim segera memberi isyarat untuk diam sebab ia mengerti Nisa tak ingin membahasnya.


Cukup lama mereka menjenguk sampai membuat kebisingan yang akhirnya mendapat teguran perawat, melihat waktu yang semakin malam mereka pun pamit pulang.


Satu persatu bersalaman dengan Nisa saat berpamitan, hanya Joe yang tetap duduk sebab ia sudah mengatakan akan tetap tinggal untuk menemani Nisa.


"Apa aku perlu menemanimu?" tanya Akim pelan saat ia hendak berpamitan.


"Tidak perlu, sudah ada Joe disini. Sebaiknya kau antar Sany pulang," jawab Nisa dingin.

__ADS_1


Kebingungan sebenarnya Akim ingin tetap tinggal agar bisa bicara banyak dengan Nisa, terlebih sebenarnya ia ingin bertanya apa ia melakukan kesalahan sampai Nisa tiba-tiba bersikap dingin padanya.


Tapi percuma, Nisa tak memberi kesempatan itu.


__ADS_2