Jika Kau Cinta Dia

Jika Kau Cinta Dia
Bab 4 Ternyata Saling Mengenal


__ADS_3

"Pagi Nis," sapa Sany sambil duduk di kursinya.


"Mm," sahut Nisa tanpa memalingkan wajahnya dari berkas.


"Eh Jaya minta nomor ponsel kamu, aku kasih gak masalah kan?" tanyanya.


"Mm," sahut Nisa lagi acuh.


"Mau tahu sesuatu gak?" tanya Sany sambil tersenyum misterius.


"Apa?" balas Nisa kini menengok.


"Kayaknya Jaya suka sama kamu deh," ujarnya dengan antusias.


"Oohh," sahut Nisa kembali pada berkasnya.


Mendapat respon dingin tentu saja Sany mengamuk, ia merebut berkas yang sedang Nisa baca dan mengomel.


"Ko cuma oh doang sih? masa begitu respon mu begitu tahu ada pria yang suka!."


"Ya terus aku harus gimana San?" tanya Nisa bingung.


"Gimana kek! emang kamu gak penasaran apa? seenggaknya kalau pun kamu gak suka dia tapi ekspresinya jangan dingin begitu dong!" hardiknya.


Nisa menghembuskan nafas panjang, ia sama sekali belum bisa membuka hati untuk siapa pun. Masih ada trauma yang membuatnya belum siap untuk menerima cinta baru meskipun itu dari pria baik.


"Jaya tuh sama kayak kamu tahu," ujar Sany.


"Maksudnya?" tanya Nisa.


"Dia juga baru putus sama pacarnya, ceweknya selingkuh. Karena itu dia pengen punya pacar baru yang lebih cantik dari mantannya, buat nunjukin kalau dia juga bisa dapetin yang lebih baik dari mantannya. Dan kamu masuk kategori," jelasnya.


Nisa mendengus, ia sama sekali tak tertarik meski nasib mereka sama. Tapi meskipun mendapat respon penolakan Sany tetap mencoba menjodohkan mereka berdua.


Ia menceritakan kepada Jaya apa saja yang disukai Nisa dan bagaimana kisah pilunya yang juga batal tunangan. Merasa senasib Jaya semakin gencar melakukan pendekatan dan mengawalinya dengan mengirim pesan-pesan singkat.


Nisa membalas semua pesan itu karena ia tak mau dianggap sebagai orang sombong, lagi pun dengan begini ia tak sering melamun.


Sukses pada jaring sosial media Jaya mulai mengajak kencan, sebenarnya itu hanya pergi keluar untuk makan malam bersama di kafe. Bukan sesuatu yang lebih romantis.

__ADS_1


Sifat Jaya yang usil membuat Nisa sedikit kurang suka padanya, tapi itu tak masalah karena ketika Nisa mulai merajuk Jaya akan membuat lelucon yang menghilangkan kedengkian itu.


"Kayaknya mau ujan deh, balik yu Jay!" ajak Nisa merasakan udara dingin yang menusuk.


"Yuk," sahut Jaya.


Mereka segera angkat kaki dari kafe dan terus menuju mobil, baru saja mereka keluar dari tempat parkir hujan benar-benar turun.


Ddrrrrrrttt


Menyadari sebuah telepon masuk Jaya meraih ponselnya dan segera menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya.


"Halo, iya kak!" ujarnya.


Ada jeda sebentar saat Jaya mendengarkan si penelepon bicara.


"Oh oke, gue ke sana sekarang," ujarnya.


Tuuuutt..


Telepon pun terputus.


"Gak masalah," sahut Nisa.


"Thanks ya," balas Jaya sembari tersenyum.


Ia pun memacu mobilnya lebih cepat, lima menit kemudian mereka sudah sampai di rumah kakak Jaya.


Turun dari mobil Jaya sekalian mengajak Nisa berkenalan dengan saudaranya dan keponakannya, namun begitu mereka masuk Nisa dibuat tak percaya akan takdir.


"Nisa ya?" tanya seorang wanita sambil menggendong anak kecil dengan mata sembab.


"Lho kak Eka? jadi Jaya adek kakak?" sambung Nisa memperjelas keadaan mereka.


Jaya yang bingung segera tertawa begitu tahu ternyata Eka dan Nisa pernah satu tempat kerja, saat itu Nisa yang karyawan baru sangat disukai Eka karena kerjanya tak pernah berantakan dan selalu tepat waktu.


Namun pertemanan mereka hanya berlangsung satu tahun saja sebab Eka risent karena ingin jadi ibu rumah tangga, Nisa pun dipindah tugaskan ke kantor pusat dan ia benar-benar sibuk sampai tak bisa menghadiri pernikahan Eka.


"Jadi ini anak kak Eka, cantiknya... siapa namanya?" tanya Nisa sambil tersenyum pada bocah berumur empat tahun itu.

__ADS_1


"Arumi," jawab Eka.


"Hai Arumi.. katanya Arumi pengen ke rumah nenek ya? ayo tante anterin!" ujar Nisa kepada anak kecil itu.


Melihat senyum ramah Nisa Arumi ikut tersenyum namun dengan malu-malu, itu membuat Nisa gemas sampai ingin mencubit namun tentu ia tahan.


"Iya nih, biasa... kalau ayahnya lagi dinas ke luar kota dia memang pengen nginep di rumah neneknya. Makanya aku minta Jaya buat jemput," jelas Eka.


"Oh begitu, ya udah. Kita berangkat sekarang?" tanya Nisa.


Eka mengangguk dan segera membawa putrinya ke dalam mobil, sementara Jaya menenteng tas kecil milik Eka yang isinya perlengkapan Arumi.


Selama perjalanan Nisa dan Eka banyak bernostalgia tentang kehidupan pertama Nisa sebagai karyawan, dia banyak mendapat tekanan dari bos fan senior tapi sama sekali tak pernah mengeluh.


Inilah yang membuatnya dipindahkan ke kantor pusat dengan gaji dan intensif yang lebih tinggi, mereka juga saling bertanya kabar dan menguak keberadaan Nisa yang bisa bersama Jaya.


Mendengar nama Sany di sebut Eka langsung paham, diantara sekian banyak teman adiknya Akim dan Sany adalah orang yang paling sering menghabiskan waktu dengan Jaya.


Terkadang mereka pun main ke rumah Jaya hanya untuk mengobrol atau sekedar main PS.


Keasyikan mengobrol tak terasa mereka telah sampai di kost-an Nisa, segera turun tak lupa Nisa berterimakasih atas tumpangan dan makan malamnya.


Setelah berpamitan Jaya pun kembali memacu mobilnya untuk melanjutkan perjalanan pulang.


"Gak nyangka ya dunia benar-benar sesempit itu," ucap Jaya.


"Hmm, kirain kakak tadi yang kamu bawa pacar baru," sahut Eka.


"Rencananya juga aku mau nembak dia, tapi kayaknya Nisa belum siap pacaran lagi."


"Apa? gak boleh!" seru Eka yang membuat Jaya kaget sekaligus bingung.


"Lho kok gak boleh? kakak keliatannya suka sama Nisa," tanyanya.


"Ya karena kakak tahu seperti apa Nisa orangnya, denger ya.. Nisa itu terlalu sempurna dan terlalu baik buat kamu! kamu tuh cuma nyari cantiknya doang," terangnya.


"Yaelah.. memangnya aku seburuk itu?" keluh Jaya.


"Emang iya, kamu kan kalau nyari cewek yang penting cantik doang. Sayang anak sebaik Nisa dapetin kamu," sahutnya.

__ADS_1


Jaya tak membalas, ia hanya mendengus tak percaya kakaknya akan berfikir seperti itu tentangnya.


__ADS_2