
Di kantor Jaya menceritakan kencannya yang berujung penolakan kakaknya Eka, mendengar hal itu Akim tertawa keras sebab ia tahu betul bagaimana sifat Jaya.
Dia bukan tipe pria brengsek yang suka gonta ganti pacar atau toxic relationship, hanya saja Jaya orang yang perhitungan tapi lebih mendahulukan fisik.
Dia pria yang terang-terangan menyukai gadis cantik tapi jika sudah pacaran ia enggan mengeluarkan biaya perawatan, setiap kencan dia hanya akan mengeluarkan uang untuk isi perut.
Jika harus membeli sebuah barang ia akan berfikir sangat matang karena pertimbangan mulai dari harga hingga fungsinya, karena hal ini ia selalu putus dengan cara diselingkuhi.
Sejauh ini belum ada yang bisa tahan dengan sifat Jaya yang pemilih, mereka selalu patah hati saat di momen-momen tertentu seperti hari valentine atau ulangtahun Jaya hanya memberikan kado berupa makan di kafe saja.
Menurutnya itu lebih baik dari pada membeli barang tak berguna seperti boneka, apalagi ia enggan merogoh kocek yang dalam untuk tas, sepatu atau lainnya.
Paling romantis dia hanya akan memberi bunga dan coklat, itu pun bukan yang mewah.
Akim yang mendengar keluhannya karena tak mendapat restu dari sang kakak menasehati bahwa pertemanan tidak buruk juga, terlebih Nisa orang baik dan lumayan asik.
Sementara Sany yang mendengar bahwa Eka adalah teman Nisa juga tak bisa menahan tawa, sebab tahu Eka pasti tidak menyetujui hubungan adiknya Sany pun membongkar sifat jelek Jaya.
Nisa hanya tersenyum, baginya tak ada yang salah pada Jaya sekalipun Sany mengatakan ia pelit. Sangat normal memiliki sifat pemilih terlebih itu untuk keperluan pribadi.
"Oh, sabtu ini bagaimana kalau kita nongkrong di kafe?" usul Sany.
"Terserah," sahut Nisa.
"Baiklah aku akan menghubungi Jaya dan Akim," ujarnya sambil meraih ponsel.
Kedua pria itu setuju, toh mereka sama-sama tak memiliki pacar sehingga bebas di akhir pekan.
Seperti biasa Akim menjemput mereka semua di rumah masing-masing lalu bersama pergi ke kafe, mereka memesan makanan yang berbeda agar bisa saling mencicipi.
Ini adalah minggu ke dua dalam pertemanan Nisa dengan ketiga orang itu, ia semakin terbuka dan tak lagi kesal dengan keusilan Jaya. Justru ia akan membalas dengan bersekutu dengan Sany.
"Eh guys, aku pulang duluan ya!" seru Sany tiba-tiba masih sambil membaca sebuah pesan di ponselnya.
__ADS_1
"Kenapa? ko mendadak," tanya Nisa.
"Iya, ayah ku masuk rumah sakit. Emang kemarin kata ibuku ngeluh pusing mulu, eh ternyata tambah parah."
"Kalau gitu biar aku anterin," ujar Akim.
"Gak usah, kalau kamu nganterin kasian yang lain nanti pulangnya," tolak Sany.
Nisa memang orang sedikit cuek, tapi karena ia pendiam dan lebih suka memperhatikan orang lain dengan mudah ia bisa membaca isi hati Akim lewat ekspresinya.
Mata Akim yang menatap bergantian pada Sany dan mereka serta kebisuan yang aneh membuatnya paham akan kebimbangan dalam diri Akim.
"Santai aja, aku bisa pulang naik busway atau taxi. Posisi kamu kan lebih genting San," ujarnya memberi peluang.
"Yah.. gak enak dong, padahal aku yang ngajakin kalian nongki tapi malah pulang duluan. Dianterin pula lagi," sahut Sany.
"Santai aja kali, udah sana pergi! anterin Kim!," perintah Nisa memaksa.
Sementara Jaya yang terserah mereka hanya mengangkat bahu saat mata Akim tertuju padanya untuk meminta pendapat, akhirnya Sany pun setuju diantar.
Mereka pun pergi setelah Nisa mengangguk, tinggal berdua dengan Jaya tak ada niatan untuk pulang karena toh mereka pernah kencan juga.
Justru dengan berdua Jaya lebih bebas lagi bergibah ria, kepada Nisa ia menceritakan bahwa Akim menyukai Sany sudah lama.
Hanya saja dia tak pernah mengungkapnya sebab meski telah melakukan pendekatan apa pun Sany tidak peka juga, sebagai teman Jaya sering menasehati agar Akim menyatakan cintanya.
Tapi Akim tak pernah melakukannya, pada akhirnya ia tak ingin mengubah persahabatan mereka yang sudah terjalin dengan cukup lama.
"Hubungan yang dipaksakan memang tidak akan baik, jika Akim menyatakan perasaannya maka ia harus siap akan dua hal. Pertama di tolak dan pertemanan mereka menjadi canggung, kedua diterima namun kebebasan pertemanan terganggu. Mau yang mana pun resikonya cukup untuk membuatnya berfikir dua kali," komentar Nisa.
Jaya terdiam, mendengar perkataan Nisa membuatnya sadar bahwa gadis itu sangat dewasa dalam menyikapi masalah. Seketika ia pun tersadar bahwa memang tidak ada kecocokan diantara mereka yang disadari Eka.
"Aku juga dulu sempat ingin pacaran sama kamu, pasti kamu sadar kan?" tanya Jaya.
__ADS_1
"Tentu saja," sahut Nisa.
"Untung gak jadi, ternyata sekarang aku sadar kalau kita gak cocok pacaran. Mungkin kalau kita pacaran paling lama gak sampe setahun udah putus," ungkap Jaya.
"Gak usah ge'er, siapa juga yang mau pacaran sama kamu?" delik Nisa.
"Tapi kamu mau aku ajak kencan!" ralat Jaya.
"Cuma makan malam doang, gak ada yang spesial."
Jaya terdiam karena ia setuju, meski ia memiliki maksud tapi memang tak ada perasaan lebih dari sekedar suka saja.
Karena itu meski ia ada niatan untuk memacari Nisa tapi makan malam itu tidaklah seromantis kencan seperti pada umumnya.
"Hubungan yang didasari untuk balas dendam gak akan pernah berhasil, secantik apa pun aku kalau niat mu hanya untuk mengalahkan mantan maka itu kompetensi bukan cinta. Aku gak mau terlibat dalam kompetisi bodoh seperti itu," ujar Nisa.
"Kamu tahu?" tanya Jaya kaget dengan mata terbelalak.
"Sany cerita semuanya, aku yakin Sany juga cerita kalau aku batal tunangan ke kamu. Karena itu dia pernah berniat jodohin kita," jawabnya.
"Ah dasar Sany cepu," gerutu Jaya.
Nisa hanya tersenyum, topik pun sengaja Jaya ubah pada hal lain agar ia tak dipermalukan lebih oleh Nisa.
Setelah cukup lama akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, Nisa mengatakan ia perlu pergi ke suatu tempat dulu sehingga mereka pun berpisah.
Tempat yang dituju Nisa adalah toko hewan. Beberapa hari yang lalu ia memungut seekor anak kucing yang terjebak di got, setelah dibawa pulang dan dimandikan anak kucing itu terlihat sangat lucu sampai membuat Nisa akhirnya mengadopsinya.
Untung pemilik kostan orang baik dan mengijinkan ia memelihara kucing, dengan catatan kucing itu tak boleh merusak barang atau mengganggu penghuni kost yang lain.
Nisa masuk ke toko itu dan bertanya-tanya pada penjaga makanan apa yang cocok untuk anak kucing, ia juga membeli kalung sebagai tanda bahwa kini dia bukan kucing liar.
Setelah selesai berbelanja sebuah pesan dari Akim membuatnya berdiri cukup lama di pintu masuk toko, rupanya Akim bertanya apakah mereka sudah pulang.
__ADS_1
Nisa menjawab kalau ia masih diluar dan tanpa di duga Akim menyuruhnya untuk menunggu sebentar, ia akan datang dan mengantarnya pulang.
"Kenapa dia ingin mengantar ku pulang?" gumam Nisa keheranan.