
Sebuah pesan yang diterima Nisa siang itu membuatnya kaget, bagaimana tidak? setelah percakapannya dengan Sany yang ngotot mengatakan Akim menyukainya kini tak Akim justru mengajaknya pergi ke suatu tempat.
Itu adalah ke rumah tantenya, saat ditanya ada keperluan apa Akim menjawab untuk mengambil sebuah barang.
Menimbang Nisa akhirnya penasaran dan setuju, pulang kerja nanti ia meminta Akim untuk menjemputnya ke kostan.
Tak ada yang mengetahui ajakan itu termasuk Sany, ia takut jika ia bicara Sany justru akan semakin mempertegas asumsinya.
Pulang ke kostan ada sedikit kebimbangan dihati Nisa saat ia harus mengganti pakaian, bahkan setelah ia memilih pakaian yang tepat ia duduk cukup lama di hadapan kaca hanya untuk merias diri.
"Aarrhh... bodoh! ini gara-gara ucapan Sany!" gerutunya karena mulai mempercantik diri lebih dari biasanya.
Memilih hanya mengucir rambutnya dan mengenakan riasan tipis ia pun siap untuk pergi, tepat saat Akim mengatakan ia sudah menunggu di luar.
"Hai," sapa Nisa yang tiba-tiba gugup melihat Akim berdiri di samping mobilnya.
"Yuk!" ajaknya kemudian sambil membuka pintu.
Perlakuan itu lagi-lagi mengingatkan Nisa pada ucapan Sany, dengan segera ia pun menghapusnya sebab memang rasanya tidak mungkin.
"Memangnya kamu mau ngambil barang apa sih kim? apa barangnya berat sampai harus dibawa dua orang?" tanya Nisa penasaran saat mobil itu telah melaju di jalanan.
"Hehe.. gak ko, cuma laptop doang!" sahutnya.
"Laptop?" tanya Nisa heran.
"Ya, tante ku mau jual laptopnya yang gak kepake karena udah beli yang baru. Karena itu aku memintanya buat adik ku sebelum sempat dia jual," sahutnya.
"Oh kamu punya adik, masih sekolah?" tanya Nisa mulai penasaran pada keluarga Akim yang tak pernah diceritakan.
"Kuliah," sahutnya.
"Cewek atau cowok?"
"Cewek."
"Anak yang paling dimanja sama orangtua ku karena dia sering sakit-sakitan sejak kecil, tapi anaknya malah gak pernah manja. Waktu laptopnya sering eror aku udah berencana buat beliin laptop baru tapi dia gak mau, ini pun aku mau ngambil laptop dari tante karena disuruh sama dia," sambungnya.
Nisa tersenyum, sekilas ia sudah memiliki gambaran keluarga Akim yang harmonis. Betapa membuatnya iri akan kondisi keluarganya sendiri.
__ADS_1
Tanpa terasa mengobrol sepanjang jalan akhirnya mereka sampai, tante Laras menyambut kedatangan mereka dengan gembira terlebih Akim membawa seorang gadis.
"Ayo masuk!" ajaknya ramah.
"Terimakasih tante," ujarnya sembari tersenyum.
Akim yang sudah biasa main ke sana lanjut ke ruangan lain untuk memeriksa laptop sementara Nisa diajak mengobrol di ruang tamu oleh tante Laras, rupanya ia orang yang suka mengobrol sehingga Nisa tak canggung untuk bersuara.
"Kalau boleh tahu kamu sudah berapa lama sama Akim?" tanya tante Laras sekonyong-konyong.
Membuat Nisa mendadak canggung sebab mereka belum lama mengobrol.
"Tidak tante! kami cuma temenan, kebetulan aku kenal Akim dari teman sekantor ku Sany," ralatnya.
"Sany... oh iya tante ingat! jadi mereka masih temenan rupanya," gumam tante Laras berfikir sejenak.
"Tante juga kenal Sany?" tanya Nisa.
"Mm, Akim orang yang humble dan mudah berteman. Semua teman gadisnya tante tahu, hanya saja biasanya Akim mengenalkan pacarnya pada tante sebelum pada orangtuanya. Karena itu tante kira kamu ada hubungan," jelasnya.
"Oh nggak tante," sahutnya.
Obrolan itu akhirnya membuat topik barisan mantan Akim terkuak, selama ini rupanya Akim lebih dekat dengan tante Laras karena ia merasa kurang perhatian dari orangtuanya.
Ini menyebabkan dirinya menjalani hubungan jarak jauh, karena kendala inilah ia selalu gagal tanpa sempat mempertemukan pacarnya dengan orangtuanya padahal ia sudah mantap ke jenjang yang serius.
Lama mereka bicara sampai malam tak terasa sudah larut, Akim pun mengajak Nisa pulang dan mereka berpamitan.
"Apa tante bertanya yang aneh-aneh padamu?" tanya Akim saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Eh, enggak ko," dusta Nisa.
"Sungguh? tante itu orang yang kepo dan cerewet, maaf ya kalau dia sampai bertanya yang macam-macam sampai kamu gak nyaman."
"Nggak, menurutku tante orangnya lucu. Malah aku senang bisa bicara bebas sama dia," ujarnya.
"Syukurlah," sahut Akim.
Keheningan tiba-tiba hadir diantara mereka, tak lama. Hanya beberapa menit sampai rintikan hujan tiba-tiba turun.
__ADS_1
"Aneh, padahal tadi cerah," gumam Nisa sambil mendongak ke depan.
"Cuaca sekarang gak bisa diprediksi, untung kita di dalam mobil. Jadi gak kebasahan," balas Akim.
Saat hujan itu semakin deras entah mengapa tak hanya bau tanah yang menyeruak ke permukaan tapi juga isi hatinya, sebuah kehampaan yang sudah ada sejak dulu.
"Oh ya apa kau tidak pernah pulang ke rumah?" tanya Akim tiba-tiba.
"Jarang," sahut Nisa singkat.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Entahlah, aku hanya lebih merasa nyaman di kost-an. Mungkin karena pulang pun tak akan ada yang menyambut," jawabnya.
Melihat raut Nisa yang sendu membuat Akim semakin penasaran.
"Apa orang-tua mu sudah tidak ada?" tanyanya hati-hati.
"Masih ada, hanya saja ayah sudah tidak pernah pulang setelah adik tiriku lahir. Ibu juga nampaknya tidak peduli pada apa pun yang terjadi pada ku, rumah itu sudah sepi sejauh yang ku ingat."
Kini Akim mengerti darimana sifat pendiam Nisa, rupanya sejak dulu ia memang kurang perhatian dan hampir tak ada yang mengajak bicara.
Semakin mengenal Nisa ia semakin dapat melihat sosok gadis yang haus akan perhatian dan perlindungan, membuatnya semakin iba akan ketidakberuntungan itu.
Tak ada pertanyaan lagi yang di ajukan Akim sampai mereka sampai di kost-an Nisa, sayangnya hujan masih mengguyur meski sedikit mereda.
"Tunggu disini," perintah Akim.
Ia pun keluar lebih dulu dan membuka jaket yang dikenakan, berdiri di samping pintu mobil ia mengetuk memberi isyarat bahwa Nisa bisa keluar.
Meski ragu ia menurut, begitu keluar Akim langsung membentangkan jaketnya. Melindungi kepala dan tubuh Nisa dari curahan hujan.
"Ayo!" ajaknya sambil mulai berjalan dengan cepat.
Mereka berlari sampai depan rumah, terlindung dari tetesan hujan Nisa menatap Akim dengan heran. Apa yang dilakukan Akim kini bisa dibilang perhatian yang lebih dari biasanya.
"Jangan lupa ganti bajumu dan minum air hangat," ujar Akim sembari tersenyum.
"Terimakasih, kau juga," sahut Nisa entah harus bicara apa lagi.
__ADS_1
"Baiklah sampai jumpa!" pamitnya kemudian lekas berlari pergi menuju mobil.
Nisa masih disana, menatap Akim sampai mobil itu pergi dengan pikiran yang berkecamuk. Bertanya-tanya apakah benar Akim memiliki perasaan terhadapnya, entah mengapa semenjak malam itu ia merasa semua sedikit lebih istimewa dari biasanya.