Jika Kau Cinta Dia

Jika Kau Cinta Dia
Bab 10 Terlalu Percaya Diri


__ADS_3

Menatap lurus pada komputernya Nisa tak bisa berhenti memikirkan Akim, semua perhatian yang telah diberikan pria itu kini perlahan berhasil membuka pintu hatinya.


"Nisa," panggil Sany menyadarkannya.


"Pulang nanti kita nongkrong yuk!" ajaknya.


"Oh Mmm, boleh."


"Bagus! aku akan mengabari mereka," ujarnya segera mengirim pesan pada Akim dan Jaya.


Setelah sekian lama sibuk dengan ayahnya akhirnya kini Sany memiliki waktu untuk santai juga, ia sudah benar-benar rindu akan kebersamaan itu.


"Kita naik busway saja, kasian kalau mereka harus menjemput kita. Tidak apa kan?" tanya Sany saat mereka sudah pulang.


"Tentu saja," sahutnya.


"Kalian mau pergi ya?" tanya Nilam yang berjalan tepat di belakang mereka.


"Ah iya, biasa... kami hanya mau ngopi. Kau mau ikut?" tawar Sany.


"Bolehkah?" tanyanya.


"Tentu saja, lebih banyak orang semakin baik."


"Baiklah!" seru Nilam.


Ketiga gadis itu pun pergi bersama, sampai di tempat janjian karena banyaknya orang memenuhi tempat itu Sany minta di jemput disebrang jalan.


Beberapa menit kemudian mereka melihat Akim melambaikan tangan di seberang sana, entah mengapa melihatnya tiba-tiba jantung Nisa bersegup dengan sangat kencang.


"Itu dia, ayo!" ajak Sany hendak menyebrang.


"Tunggu!" seru Akim tiba-tiba.


Nisa yang reflek menarik tangan Sany untuk mundur, rupanya ada sebuah mobil yang melintas dihadapan mereka dengan kecepatan tinggi.


Andai Sany tetap maju sudah bisa dipastikan ia akan tertabrak, sedikit syok Sany melongo sambil memegang dadanya. Sementara Akim cepat menyebrang menghampiri mereka.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Akim segera memastikan keadaan Sany.


Raut wajahnya yang cemas jelas menunjukkan perasaan yang selama ini ia sangkal, menyadarkan Nisa bahwa memang Akim masih memiliki hati untuk Sany.


Jika tidak mana mungkin ia hanya fokus pada Sany, berjalan tepat disampingnya saat mereka menyebrang jalan sambil memastikan jalanan sudah aman. Tanpa menyadari ada dirinya tepat di belakang yang sudah sejak tadi memperhatikan.

__ADS_1


"Hai lama sekali," omel Jaya saat mereka tiba.


"Maaf," sahut Sany.


"Hai Nis, kita ketemu lagi," sapa Joe yang kebetulan ikut.


Nisa tersenyum, sementara Akim memperkenalkan Joe pada Sany dan Nilam sebab ini adalah kali pertama mereka bertemu.


"Aku mau ke toilet dulu, tolong pesankan aku ice kopi," ujar Nisa yang merasa ekspresinya kacau.


Datang ke toilet ia segera mencuci tangan dan wajahnya, menatap bagaimana ekspresi bodohnya orang yang teliti akan tahu bahwa hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Ada apa dengan ku? kenapa rasanya sakit disini?" tanyanya sambil meraba tepat dimana hatinya berada.


Tersenyum pahit ia merasa bodoh sempat berfikir bahwa Akim ada perasaan, jelas sampai sekarang pun hanya Sany yang ada dalam hati pria itu.


Menampar kedua pipinya secara bersamaan Nisa mencoba menghilangkan perasaan pahit itu dan kembali pada kenyataan, melatih senyum terbaik di cermin setelah siap ia pun kembali pada yang lain.


"Rasanya seru nokrong seperti ini, lain kali bagaimana kalau kita pergi ke vila? bukankah sebentar lagi ada libur panjang?" saran Joe.


"Ide bagus! wah... aku bisa membayangkan asiknya membakar jagung," timpal Jaya.


"Setuju, bagaimana dengan kalian?" tanya Sany bersemangat.


"Terserah," jawab Nisa yang tak begitu tertarik.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Joe yang memperhatikan ada kemurungan pada diri Nisa.


"Oh ya," sahutnya cepat kembali menampilkan senyum.


Memang selalu seperti itu, ia akan berkata baik-baik saja dengan senyum yang dipaksakan atau dengan wajar datar. Ia tidaklah pandai berbohong tapi juga tidak bisa selalu jujur.


Dua jam lamanya ia hanya menjadi pendengar tuli yang terfokus pada cara Akim berinteraksi dengan Sany, sangat jelas kemunafikan Akim terlihat yang membuatnya muak.


Rasanya ia ingin segera menghilang dari sana, untung Nilam yang tak bisa nongkrong lebih lama lagi berpamitan pulang. Membuat mereka akhirnya bubar, menuju parkiran biasanya Akim akan mengantarkan mereka pulang tapi kali ini Nisa tidak ingin bersama dengan pria itu.


"Ayo Nilam! biar aku mengantarmu pulang," ajak Jaya.


"Aku juga ikut!" seru Nisa menghampiri.


"Eh.. tapikan.. arah pulang kita berbeda," ujarnya.


"Tidak apa-apa, kau bisa menurunkan ku di pertigaan."

__ADS_1


"Bukankah itu cukup jauh dari kost-an mu? biasanya kau selalu ikut... "


"Aku ingin pulang dengan mu!" sela Nisa dengan suara keras yang membuat mereka semua kaget.


Sadar bahwa ia sedang menjadi pusat perhatian tiba-tiba ia merasa sangat malu dan bodoh sampai ingin lenyap seperti asap.


"Aarrgghh... kenapa hari ini kau sangat menyebalkan? kau bukan anak ku kenapa begitu menempel padaku?" erang Jaya memecah keheningan.


"Aku.. apa salahnya? sekali-kali aku ingin merepotkan mu!" balas Nisa dengan suara keras untuk menutupi malu.


"Ish... sekarang aku percaya pada kak Eka, kita berdua memang sangat tidak cocok!" gerutu Jaya kesal.


"Maaf.. Nisa.. jika kau tidak keberatan aku bisa mengantarmu pulang," tawar Joe sedikit ragu.


Melihat niat tulus Joe tentu Nisa menyambutnya dengan baik, tidak masalah baginya pulang dengan siapa pun yang terpenting tidak bersama Akim.


"Baiklah, ayo! dimana mobilmu?" tanya Nisa.


"Disana," jawab Joe kini dengan lebih berani sebab Nisa menyambut niat baiknya.


Mereka pun berpisah dan saling berpamitan, tapi Nisa tidak melakukannya pada Akim. Ia melewatkan jabatan tangan Akim begitu saja yang membuat Akim bingung.


Dalam perjalanan pulang sebenarnya Joe ingin banyak bicara dengan Nisa, mengenalnya lebih baik lagi tapi keliatannya suasana hati Nisa saat ini tidak memungkinkannya untuk mengobrol.


Sampai di depan rumah kost-an Nisa segera turun tanpa lupa mengucapkan terimakasih, saat itulah ia melihat mobil Akim melintas sambil memberi klakson.


Dari kaca yang terbuka meski selintas ia bisa melihat Akim yang menatap dirinya, menghembuskan nafas panjang ia segera pergi masuk.


"Mily.. aku pulang," serunya sambil membuka pintu.


Meeeoongg..


Kucing yang kini sudah tumbuh semakin besar berjalan menghampiri, Nisa mengangkat tubuh berbulu itu dan membawanya ke tempat tidur.


Disana ia menggaruk punggung Mily yang membuatnya duduk dengan nyaman sementara ia sendiri merebahkan diri.


"Bukankah aku bodoh? mengapa aku bisa begitu percaya diri?" tanyanya pada Mily.


Kucing menjawab dengan dengkuran, Nisa yang mendengarnya tersenyum karena kucingnya mudah sekali untuk tertidur. Tapi senyum itu kemudian berubah menjadi tangis yang kian lama kian kencang, deraian air mata menjelaskan rasa sakit yang teramat luar biasa di dalam hatinya.


Seolah tamu yang singgah saat ia berharap akan tinggal justru datang untuk menghancurkan isinya, membuat kekecewaan yang tak tertahankan.


Entah ia harus menyalahkan tamu yang kurang ajar atau dirinya yang terlalu besar kepala.

__ADS_1


__ADS_2