
Joe tak pernah pergi dari samping Nisa, terus berada di sampingnya untuk menemani dan merawatnya.
"Apa tidak masalah kau terus di sini?" tanya Nisa.
"Tidak, kenapa?" balas Joe.
"Bagaimana dengan pekerjaan mu, jangan sampai kau menelantarkannya hanya karena rasa bersalah. Aku sudah bisa makan sendiri jadi kau tidak perlu terus menemaniku," ujarnya.
Kombinasi raut wajah Nisa yang polos dan katanya yang tak peka bagai palu yang memukul hatinya, padahal ia sudah berusaha dengan keras. Padahal ia sudah memberikan banyak kode tapi Nisa masih saja tidak sadar alasan kehadirannya disana.
"Kau tenang saja, ada anak buah ku yang mengurus segalanya," jawabnya pelan.
Nisa tak bisa memaksa lagi, ia pun diam begitu juga dengan Joe. Sampai beberapa menit kemudian Joe ijin pergi dulu untuk membeli makanan ringan.
Tok Tok Tok
Selang beberapa menit kepergian Joe pintu yang terbuka itu diketuk, Nisa menoleh dan wajahnya seketika dingin menatap Akim yang berdiri di sana.
"Boleh aku masuk?" tanya Akim.
"Kau sudah masuk," sahut Nisa.
Ia membuang muka saat Akim berjalan datang dan duduk di kursi tepat disamping Nisa.
"Bagaimana keadaan mu?" tanyanya.
"Sudah lebih baik," jawabnya pelan.
"Nisa tatap aku!" perintah Akim yang sudah tak tahan akan perlakuan Nisa.
Nisa menoleh, kini ia menatap Akim tapi dengan tatapan tajam.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanyanya kini dengan suara yang lebih rendah.
"Tidak," sahut Nisa pelan.
"Bohong, kalau begitu kenapa kau terus menghindariku? tolong katakan apa salahku," pintanya.
"Kau tidak melakukan apa-apa," balas Nisa bersikukuh.
__ADS_1
"Aku tidak bodoh! jika aku tidak berbuat salah kenapa kau bahkan seolah jijik melihatku?" desak Akim.
Nisa ingin membungkam mulutnya rapat-rapat tapi Akim terus mendesak hingga akhirnya apa yang terpendam meluap keluar.
"Aku benci kemunafikan mu! kau puas?" seru Nisa akhirnya.
"Apa maksud mu?" tanya Akim semakin tak mengerti.
"Kau selalu berkata tidak menyukai Sany tapi buktinya kau sangat mencintainya, kenapa kau tidak berdamai saja dengan hatimu?" jelasnya.
"Nisa... kenapa kau berfikir seperti itu? aku memang tidak punya perasaan seperti itu pada Sany," tanya Akim bingung.
"Sungguh? kalau begitu tatap mataku dan katakan kau tidak takut dia kecelakaan saat kami hendak menyebrang jalan, katakan padaku dengan tegas kalau kau tidak merasakan apa pun saat tertawa bersama Sany. Katakan padaku kalau tidak ingin melihatnya terus," pinta Nisa dengan suara dalam untuk menahan laju air matanya yang siap jatuh.
Sementara Akim terdiam, itu adalah permintaan mudah dan ia bisa menjawabnya. Tapi entah mengapa rasanya mulutnya terkunci rapat sebab benak dan isi hati terdalamnya sedang perang dingin.
"Katakan Akim," perintah Nisa sekali lagi.
"Tidak! aku tidak merasakan apa pun, itu hanya perasaan mu saja!" seru Akim dengan nafas yang tak beraturan.
"Kau tidak menatap mataku dengan benar," ujar Nisa pelan dengan senyum pahit.
Akim hendak memberi alasan tapi Nisa yang menghembuskan nafas panjang membuat bibirnya terkatup.
Ia berbaring miring membelakangi Akim, diam-diam membiarkan air mata yang sejak tadi menggenang jatuh begitu saja. Sementara Akim yang bingung sendiri akhirnya menurut, ia pergi meninggalkan Nisa begitu saja.
......................
Entah Nisa suka apa Joe tak tahu, akhirnya ia pun membeli berbagai jenis cemilan. Mulai dari keripik hingga kue, dari rasa manis hingga yang asin. Ia juga membeli minuman untuk melengkapi cemilan tersebut.
Kembali ke rumah sakit saat berjalan mendekati ruang Nisa ia mendengar seseorang berteriak, diam-diam mengintip ia heran melihat Nisa dan Akim yang bicara dengan serius.
Memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka ia tetap diam samping pintu, mendengarkan semua perdebatan yang entah mengapa membingungkan awalnya.
Sampai pada akhirnya ia mendengar semua ucapan Nisa satu hal yang ia mengerti, Nisa tahu Akim masih menyukai Sany namun ia tak mau mengakuinya.
Yang membuatnya heran mengapa Nisa begitu ngotot, bahkan dari suaranya yang bergetar seolah ada sebuah kekecewaan dihatinya mengetahui hal ini.
Saat Akim akhirnya pergi dari ruangan itu dengan cepat Joe bersembunyi, setelah Akim pergi jauh ada kecurigaan baginya tentang hubungan Nisa dan Akim.
__ADS_1
......................
Khawatir akan keadaan Nisa, Sany dan Nilam datang menjenguk saat mereka memiliki waktu senggang. Melihat keadaan Nisa yang semakin membaik membuat mereka bernafas lega.
"Aku sudah memberi makan Mily, dia juga sudah ku mandikan. Tapi sepertinya dia merindukan mu," lapor Sany.
Karena harus di rawat di rumah sakit terpaksa Nisa meminta bantuan Sany untuk mengurus Mily, pekerjaannya cukup mudah. Hanya memberikan makan dan memandikannya, tapi tetap saja itu menyita waktu luang.
"Terimakasih, maaf sudah merepotkan," sahut Nisa.
"Tidak masalah, aku juga senang bisa mengurus Mily."
"Kata dokter besok aku sudah boleh pulang," ujar Nisa.
"Ah syukurlah... " sambut Nilam senang.
Rupanya kesembuhan Nisa lebih cepat dari yang diprediksi, ia bisa pulang hanya dengan lima hari dirawat. Semua senang mendengar kabar ini namun tidak dengan Joe.
Bukan karena ia ingin Nisa terus sakit, tapi ia merasa waktu untuk berduaan dengan Nisa akhirnya berakhir.
Sebagai upaya terakhir dalam pendekatan Joe membantu Nisa keluar dari rumah sakit dan mengantarnya pulang.
"Terimakasih sudah mau mengantarku, padahal aku bisa naik taksi sendiri," ujar Nisa setelah mereka sampai.
"Ini hanya perihal kecil, kau tidak perlu sungkan."
"Baiklah, sampai nanti!" pamitnya.
"Eh Nisa!" panggil Joe tiba-tiba.
Nisa menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Apakah... kau masih mau datang ke tempat ku? aku tahu dokter melarang mu untuk panjat tebing lagi, tapi setidaknya kau bisa datang untuk melihat-lihat," tanyanya ragu.
"Tentu saja," sahut Nisa sembari tersenyum.
"Aku akan main ke tempat mu jika ada waktu," lanjutnya.
Joe tersenyum lega, kesempatan itu tidaklah benar-benar hilang. Ia masih memiliki harapan meski tidak tahu apakah itu akan berhasil.
__ADS_1
"Kalah begitu aku pergi dulu, sampai nanti."
"Hati-hati di jalan!" balas Nisa sembari melambaikan tangan.