Jika Kau Cinta Dia

Jika Kau Cinta Dia
Bab 7 Hari Ulangtahun


__ADS_3

Untuk Arumi kecil Nisa memilih memberikan kado berupa satu set mainan barbie, gadis kecil sepertinya pasti suka akan mainan itu. Seperti yang telah dijanjikan Akim datang menjemputnya dan mereka pun pergi bersama ke kediaman Eka.


Sampai disana Eka menyambut kedatangan mereka dengan senang, sebenarnya Sany juga di undang karena ia juga cukup dekat dengan Arumi. Sayangnya saat ini Sany sedang sibuk mengurus ayahnya sehingga hanya mengucapkan selamat lewat ponsel.


Meski ini ulangtahun anak tapi Eka telah menyiapkan satu ruangan khusus untuk berkumpulnya para orang dewasa, setelah acara pokok yakni tiup lilin dan potong kue semua orang dewasa masuk ke ruangan itu dan menggelar acara mereka sendiri.


Itu hanya makan-makan sambil mengobrol, tak ada yang spesial namun tetap Eka buat demi kenyamanan para tamu agar bebas bicara tanpa perlu khawatirkan anak kecil.


"Bagaimana keadaan ayah Sany?" tanya Eka saat ia duduk di samping Nisa.


"Katanya sudah baikan, besok juga sudah bisa pulang."


"Syukurlah, Sany anak yang sangat berbakti pada orang tua. Ia pasti akan mendengar dan lebih mendahulukan orangtuanya dari apa pun," ujar Eka.


Nisa mengangguk setuju.


"Bagaimana dengan orangtuamu? aku belum pernah mendengar apa pun tentang keluarga mu," tanyanya.


"Baik ko, orangtua ku masih lengkap dan aku juga punya adik laki-laki."


"Ah.. hanya dua bersaudara rupanya," komentar Eka sembari tersenyum.


Seperti itulah saat Nisa ditanyai tentang keluarganya, ia tidak terlalu suka membicarakannya karena memang keluarganya hanya sebatas barisan nama diatas kartu keluarga.


Tak ada gelak tawa, candaan, usilan, atau apa pun yang normal layaknya sebuah keluarga. Nisa tak pernah memiliki hal itu, termasuk perayaan ulangtahun seperti Arumi.


Sejak kecil tak ada yang pernah peduli pada padanya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Akim saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Ya..." sahut Nisa pelan.


"Akim, apa kau pernah merayakan ulang tahun mu?" tanyanya.


"Um... aku rasa saat aku masih kecil, kalau tidak salah saat umur ku enam tahun. Itu hanya pesta kecil yang dihadiri keluarga saja," sahutnya.


"Apa orangtua mu memberikan hadiah?" tanyanya lagi.


"Ya, ayah ku memberikan mainan robot. Tahun-tahun berikutnya mereka hanya memberi ucapan selamat, aku tidak begitu suka pesta jadi yah.. aku tidak begitu peduli. Bagaimana dengan mu?" balasnya.


"Tidak pernah sekali pun," sahut Nisa.


Jawaban yang pelan namun sarat akan kesedihan membuat Akim sadar sorot mata kosong yang selalu di pancarkan Nisa disaat-saat tertentu ada sebabnya, entah apa tapi jelas itu merupakan sebuah luka.


Hingga mereka sampai di kostan Nisa tak ada obrolan lagi, Nisa hanya menyamping terimakasih dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Masuk ke dalam kamar Mily yang mendengar langkah kaki tuannya bangkit dari tempat tidurnya dan berlari menghampiri.


"Hai sayang," sapa Nisa.


Ia mengangkat tubuh kecil kucing itu dan membawanya ke atas kasur, merebahkan diri disana ia menggaruk punggung Mily. Membuatnya merasa nyaman hingga menutup mata.


"Kapan kau lahir? andai aku tahu kita bisa merayakan hari ulangtahun mu," tanya Nisa.


Mily mengeong sebagai jawaban yang entah apa artinya, tapi Nisa yang seolah mengerti tersenyum.


"Baiklah, kita akan jadikan hari aku menemukan mu sebagai hari ulangtahun mu. Tahun depan kita akan merayakannya," ujarnya.


Nisa kemudian memberi kecupan di punggung Mily, setelahnya ia merangkul kucing kecil itu dan terlelap dengan mudah.


......................


"Sany belum masuk juga ya?," tanya Nilam pagi itu.


"Katanya dia masuk besok," sahut Nisa.


"Begitu rupanya, eh pulang kerja nanti kau bisa antar aku belanja? aku ingin membeli sepatu baru," tanyanya.


"Boleh saja," balas Nisa.


Pulang kerja mereka segera pergi ke mall, rencananya Nilam ingin membeli sepatu sport untuk dia olahraga. Tapi melihat jajaran sepatu yang lain ia pun tergoda hingga bingung ingin membeli yang mana.


Dua jam lamanya mereka berada disana sampai akhirnya Nilam membeli dua jenis sepatu yang berbeda, itu lebih tepat dari pada bingung memilih salah satu.


Hanya saja begitu melihat isi dompet ia mengerang, uang jatah makannya berkurang banyak karena membeli sepatu itu.


"Uh perutku lapar tapi uang ku tersisa segini," keluh Nilam.


"Salah mu kenapa membeli dua pasang," ujar Nisa.


"Habis.... " rengek Nilam.


"Ya sudah aku traktir, ayo!" ajak Nisa.


"Mana bisa begitu! kan aku yang mengajakmu," protesnya.


"Kau punya uang untuk mentraktir ku?" tanya Nisa yang membuat Nilam menggelengkan kepala dengan lemas.


"Baiklah kau bisa membayarku setelah kita gajian, ayo pergi!" sahutnya.


"Setuju!" sahut Nilam.

__ADS_1


Mereka segera pergi mencari tempat makan, menemukan salah satu resto yang menarik mereka segera masuk dan mencari tempat duduk.


Tapi mata Nisa yang berkeliling kemudian menangkap Akim dan Jaya yang sedang duduk sambil mengobrol, tanpa kata ia pun segera pergi menghampiri sementara Nilam mengikuti.


"Kebetulan sekali," sapanya.


"Eh Nis!" seru Jaya.


Nisa segera mengambil tempat duduk disamping Akim sementara Nilam yang sedikit ragu ikut duduk juga disamping Jaya.


"Kau habis belanja?" tanya Akim.


"Ah ini teman kerja ku Nilam, aku hanya mengantarnya belanja."


Nilam tersenyum dan segera berkenalan dengan kedua pria itu, Jaya yang melihat kecantikan Nilam seperti biasa tak bisa menahan matanya untuk tidak memandangi.


"Kalian sudah pesan makan?" tanya Nisa.


"Belum, kami baru duduk dan baru mendiskusikan makanannya," sahut Akim.


"Kalau begitu kita pesan seperti biasa," balas Nisa.


Ia memanggil pelayan dan meminta empat hidangan yang berbeda, setelah makanan datang Nilam cukup kaget melihat Nisa berbagi makanan dengan kedua pria itu.


Dikantor Nisa tak pernah dekat dengan siapa pun kecuali dirinya dan Sany, tentu saja ia pikir Nisa tak memiliki teman lain yang lebih akrab darinya.


Apalagi Nisa terlihat bercanda dengan bebas, seolah ia baru mengenal Nisa.


"Kalian duluan saja, biar aku yang bayar," ujar Jaya saat mereka selesai makan dan siap untuk pergi.


Nisa dan Akim saling pandang, ada senyuman yang tersungging di bibir mereka saat dapat mengerti isi pikiran masing-masing.


"Baiklah, kami tunggu diluar. Ayo Nilam!" ajak Nisa.


"Oh tunggu! aku juga harus membayar makanan ku," ujar Nilam.


"Eh tidak perlu! kan sudah kubilang biar aku yang bayar," sergah Jaya.


"Tapi kan... " protes Nilam yang merasa tak enak hati sebab mereka baru pertama bertemu.


"Tidak apa-apa, ayo tunggu di luar," ujar Akim.


"Aku jadi tidak enak, tapi terimakasih.. " sahut Nilam.


Jaya tersenyum senang mendapat sambutan baik, ia pun segera pergi ke kasir sementara yang lain menunggu di luar resto.

__ADS_1


__ADS_2