Jika Kau Cinta Dia

Jika Kau Cinta Dia
Bab 2 Kembali Hidup


__ADS_3

Hari terakhir bekerja sebelum menjelang akhir pekan para karyawan dibuat senang sebab ini adalah hari ulangtahun atasan mereka, meski cukup galak dan tegas tapi pria bertubuh tambun dengan wajah menyeramkan itu cukup royal kepada anak buahnya.


Selesai bekerja semua karyawan diajak makan direstoran cina dimana ia telah memesan ruangan terlebih dahulu, bersama mereka kemudian pergi ke restoran tersebut.


"Selamat ulang tahun pak Eko... " ucap semua karyawan serempak.


Sebuah kue yang memang telah mereka persiapkan tersaji tepat dihadapan pak Eko dengan lilin yang baru saja ia tiup.


"Terimakasih semuanya," ujarnya sembari tersenyum.


Dua tahun yang lalu ia bercerai dengan istrinya, sejak saat itu setiap ulangtahunnya akan ia rayakan bersama para staf dan anak buahnya. Ini karena sepuluh tahun dalam pernikahannya tidak dikaruniai putra, mungkin alasan itu pula yang membuatnya bercerai.


"Nah semuanya mari kita nikmati hidangan yang telah tersaji!" soraknya.


Obrolan ringan disertai candaan membuat ruangan itu ramai, disaat seperti itu bahkan pak Eko yang terkenal galak pun nampak sangat bersahabat dan banyak bercanda.


Para karyawan yang dekat dengannya mulai menggodanya dengan seorang satpam janda di kantor mereka yang bernama Tiwi, itu karena beberapa kali pak Eko dan Tiwi terlihat mengobrol di jam istirahat.


"Nisa gak laper?" tanya Sany yang kebetulan mendapat tempat duduk disampingnya.


"Gak terlalu sih, kenapa?" sahutnya.


"Soalnya piringmu masih kosong, dari tadi ku perhatian kamu cuma minum terus."


Nisa menatap ke bawah dimana piringnya masih mengkilap, memang ia belum begitu lapar. Biasanya pulang bekerja ia langsung rebahan dan tidur begitu saja.


"Wajah kamu juga keliatan sedikit pucat, kamu sakit?" tanyanya.


"Enggak ko, mungkin karena akhir-akhir ini gaya hidup ku tidak sehat."


Sebenarnya bukan mungkin, tapi Nisa memang sedang di fase malas untuk mengerjakan apa pun termasuk makan. Sudah beberapa minggu ini ia banyak tidur dan melamun, kurang olahraga dan makan tentu saja wajahnya menjadi pucat seperti mayat dan tak berenergi.


"Kamu lagi ada masalah ya? cerita aja, siapa tahu aku bisa bantu," tebak Sany.

__ADS_1


Nisa memandang lama teman barunya itu, ini adalah kali pertama ada orang yang sadar akan sesuatu yang lain dalam dirinya. Bahkan Nilam sendiri yang sudah lama berteman tidak sadar kalau ia sedang memiliki masalah.


"Aku batal tunangan," ujar Nisa pelan.


Biasanya ia enggan curhat, apalagi terhadap orang yang baru dikenalnya. Tapi entah mengapa suasana ramai yang lain dari biasanya dan sikap terbuka Sany membuatnya membuka diri.


"Oh, pantas kamu sering melamun. Pasti berat banget ya buat kamu," ujar Sany ikut merasa sedih.


"Begitulah, cowok ku selingkuh dan meski aku sudah kasih kesempatan tapi dia gak ninggalin selingkuhannya. Mana mungkin kan aku nikah dengan cowok yang punya selingkuhan?" jelasnya.


"Pilihan kamu memang tepat! cowok begitu memang harus ditinggalin," sahut Sany setuju.


"Yang paling membuatnya sakit hati dan terus kepikiran adalah bahkan setelah aku batalin pertunangan kami ia sama sekali gak menyesal, dia gak ada niatan buat pertahanin hubungan kami padahal kami pacaran sudah dua tahun lamanya."


"Itu karena hatinya udah gak sama kamu lagi, justru cowok seperti itu jangan di pikirin. Kamu kan cantik, tinggi pula kayak model. Banyak diluar sana yang ngantri buat kamu," hibur Sany.


Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu dalam kehampaan Nisa tersenyum juga, entah mengapa setelah cerita hatinya terasa plong seakan sesuatu yang mengganjal itu telah ditarik keluar.


"Makasih ya San," ucapnya.


Kembali tersenyum Nisa mengambil udang itu dan memakannya, gigitian pertama membuatnya kaget karena lidahnya dapat merasakan rasa gurih dan manis.


Begitu ia mulai mengunyah cita rasa yang kumplit bercampur jadi satu di dalam mulutnya, sangat enak bahkan saat ia telan.


Mencoba mengambil makanan lain kini lidahnya yang hambar dapat merasakan kenikmatan lagi, seolah ia disuguhkan hidangan surga hingga membuatnya hampir menangis karena bahagia.


......................


Tepat pukul sepuluh malam mereka semua berpisah didepan restoran, Nisa yang seakan hidup kembali melambaikan tangan kepada teman-teman dan tak lupa berterimakasih juga pada pak Eko atas traktirannya.


"Ayo Nis!" ajak Sany untuk berjalan bersama.


Dalam perjalanan pulang dengan busway Nisa baru tahu bahwa mereka satu arah, bahkan Sany tahu dimana Nisa ngekost.

__ADS_1


Itu membuatnya kaget sebab ia sama sekali tak menyadari bahwa selama ini Sany selalu berjalan tepat dibelakangnya.


"Itu karena kamu selalu melamun dan cuek dengan keadaan sekitar, jadi mana kamu sadar kalau aku tepat di belakang mu," ujar Sany.


"Benar juga, gara-gara patah hati aku jadi gak peka. Sory ya," ucap Nisa.


"Sudahlah, oh ya! aku minta nomor mu dong, siapa tahu nanti butuh."


Tanpa menjawab Nisa segera mengeluarkan ponselnya, selain memberikan nomor ponsel ia juga mengirimkan beberapa foto yang tadi sempat mereka ambil dengan ponsel Nisa.


"Besok kamu ada acara?" tanya Sany.


"Aku gak pernah ada acara meskipun itu diakhir pekan," sahut Nisa jujur.


"Bagus! besok antar aku belanja ya? aku mau beli selimut sama seprai," pintanya.


"Boleh," jawab Nisa.


Sudah lama ia tak keluar untuk jalan-jalan, dengan begini bagus juga untuk mengganti suasana agar tak murung terus.


Esoknya, pagi pukul delapan Sany datang menjemput dan mereka pun pergi bersama ke mall.


Karena Sany baru ngekost tentu saja banyak barang yang ia butuhkan, sementara Nisa yang hanya mengantar akhirnya tergiur juga melihat model seprai yang bagus dan ikut membelinya juga.


Ia pikir akan bagus jika ia merubah dekorasi kamar kost-annya, mungkin itu akan memberikan suasana positif yang ia butuhkan.


Lelah berputar-putar menjelajahi mall akhirnya perut mereka keroncongan juga, sambil makan siang Sany banyak bercerita mulai dari keluarganya.


Sany merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, ia punya seorang kakak laki-laki yang sudah menikah dan adik perempuan yang masih sekolah di SMA.


Karena ayahnya hanya seorang pedagang kecil-kecilan Sany harus bekerja dan membantu membiayai sekolah adiknya, meski begitu ia tak pernah keberatan.


"Bagaimana dengan mu? kau punya saudara?" tanya Sany.

__ADS_1


"Seorang adik tiri, ayah menikah lagi saat aku masih SMP. Katanya ia ingin anak laki-laki tapi ibu tidak bisa memberikannya sebab setelah melahirkanku ia terkena kanker rahim," jawabnya.


Sany terdiam, selama ini ia pikir hidupnyalah yang paling susah. Tapi sekarang melihat Nisa ia menjadi bersyukur memiliki keluarga sempurna yang saling mendukung dan menyayangi.


__ADS_2