
Sebuah mobil berhenti tepat didepan Nisa, saat kaca diturunkan ia bisa melihat Akim merunduk untuk menatapnya. Sebuah senyuman menggantikan sapaan mereka, Nisa pun masuk dan duduk tepat disampingnya.
"Seharusnya kau tidak perlu repot menjemput ku," ujarnya.
"Tidak masalah, toh aku memang harus bertanggungjawab. Aku yang menjemput mu jadi aku juga yang harus mengantarmu pulang," sahutnya.
"Tidak begitu juga, lalu bagaimana keadaan ayah Sany?" tanyanya.
"Katanya vertigo, hanya perlu di rawat beberapa hari saja."
"Semoga ayahnya cepat sembuh," gumam Nisa.
Obrolan mereka tak berlanjut, sepanjang jalan yang hanya beberapa menit itu akhirnya mengakhiri pertemuan mereka saat sampai di depan kostan Nisa.
......................
Baru kali ini Nisa sadar akan teman kantornya yang tak masuk kerja, biasanya ia sama sekali tak akan tahu apa pun yang terjadi di kantor jika tak ada hubungannya dengannya.
Melihat meja Sany yang kosong membuatnya sedikit merasa kesepian, padahal biasanya ia nyaman dengan kesendirian.
Tak hanya Nisa tapi teman yang lain pun ikut merasa sepi karena ketidakhadiran Sany, memang hanya anak itu yang membuat kantor jadi ramai.
Saat tahu bahwa Sany tidak masuk mereka segera menanyakan alasannya, jika saja yang sakit itu Sany bukan ayahnya sudah barang tentu pulang kerja mereka akan menjenguknya.
Hari-hari yang dulu kini mendadak tiba kembali, Nisa makan siang hanya ditemani Nilam. Dan saat ia pulang pun kini kembali berjalan sendirian dengan mulut membisu.
Hanya saja kini pulang ke kostan ada Mily si anak kucing yang baru ia adopsi menyambut kepulangannya, kakinya yang masih kecil membuat jejak di karpet mengitari Nisa.
"Hai Mily, kau lapar ya? maaf aku pulang agak terlambat," ujarnya sambil mengangkat tubuh berbulu hewan itu.
Nisa segera mengeluarkan makanan dan menaburnya di mangkuk milik Mily, setelah menurunkan anak kucing itu ia membiarkannya makan sementara ia akan pergi mengganti baju.
Tring
Baru saja Nisa selesai membersihkan wajahnya sebuah pesan masuk yang membuatnya meraih tas, mengambil ponsel dari dalamnya ternyata ia mendapat pesan dari Akim.
"Kau sudah pulang kerja? aku dan Jaya mau pergi ke kafe, kau mau ikut?" begitulah isi pesan itu.
Melirik pada Mily yang masih makan ia pun kemudian membalas.
"Aku berencana membawa kucing peliharanku ke dokter hewan, jika tidak keberatan bisakah kita pergi kesana dulu?."
"Tidak masalah, akan kujemput lima menit lagi."
"Oke," balas Nisa.
__ADS_1
Meeoonngg..
Seolah mengerti sedang di bicarakan Mily beranjak dari mangkuknya dan menghampiri Nisa, wajahnya yang lucu membuat hati Nisa gemas dan menggosok tubuh kucing itu dengan dahinya.
"Ayo bersiap!" ajaknya.
Menurunkan Mily ia pun mengganti pakaian dan memasukkan Mily ke kandang setelah siap, baru ia keluar begitu Akim mengabari mereka sudah tiba.
"Kucing mu sakit?" tanya Akim.
"Tidak, ini hanya pemeriksaan biasa. Awalnya dia kucing liar karena itu bisa bahaya jika tidak diperiksa, aku takut ia menderita penyakit yang tidak aku mengerti."
"Begitu ya," sahut Akim sembari tersenyum.
Ia cukup kagum pada Nisa yang mau memungut kucing jalanan, apalagi memberikan perawatan yang tentu saja merepotkan.
Segera masuk ke mobil mereka pun pergi ke klinik hewan terdekat, Jaya memilih untuk menunggu diarea khusus untuk perokok sementara Akim ikut masuk.
"Aku kagum padamu, meski pertama kali memelihara hewan tapi kau tahu apa yang harus dilakukan. Kucing liar seperti Mily memang harus segera diperiksa, takutnya dia membawa penyakit yang juga membahayakan mu. Untung saja dia sehat dan aku sudah menyuntiknya juga," ujar dokter hewan itu dengan ramah.
Nisa hanya tersenyum mendapatkan pujian, meski pertama kali memelihara hewan tapi ia cukup berwawasan sehingga tahu apa yang harus dia lakukan.
Setelah pemeriksaan selesai mereka pun kembali ke mobil, langsung meluncur ke kafe topik yang mereka obrolkan tak jauh dari Mily.
"Tidak apa-apa, aku akan membuka kaca sedikit agar ada udara masuk. Toh dia juga di dalam kandang," sahut Akim.
"Baiklah, ayo masuk!" ajak Jaya.
Mengikuti kedua pria itu Nisa ikut masuk dan mengambil duduk tepat dihadapan mereka, tanpa kehadiran Sany rupanya Nisa tak berubah. Ia tetap lebih menjadi pendengar yang baik.
"Eh Nis kak Eka mengundang mu besok di acara ulangtahun Arumi," ujar Jaya yang baru ingat akan pesan dari kakaknya.
"Jam berapa? besok kan aku masih kerja," tanyanya.
"Malam ko, kamu bisa pergi bareng sama Akim. Dia juga diundang," sahutnya.
"Nanti aku jemput kamu," sambung Akim.
"Oh, oke."
Mengganti topik Jaya curhat masalah pekerjaannya, saat ini ia sedang sangat kesal pada bosnya yang terus saja memberi pekerjaan sampai-sampai terkadang dia harus lembur.
Nisa hanya tersenyum, sementara Akim menertawakan kemalangan temannya itu.
"Eh gue ke belakang dulu ya," sela Jaya ditengah obrolan sambil menepuk pundak Akim.
__ADS_1
Mereka mengangguk, membiarkan Jaya dan keheningan melintas. Perlahan mata Akim kemudian tertuju pada tangan Nisa yang tak bisa berhenti mengatur kentang gorengnya, satu persatu kentang goreng itu ia susun hingga membentuk kotak baru kemudian ia makan secara berurutan.
Fftt..
Mencoba menahan tawa Akim memalingkan wajahnya.
"Ada apa?" tanya Nisa bingung.
"Tidak, hanya saja kau seperti anak kecil. Kau suka bermain dengan makanan," sahutnya.
Nisa yang tersadar kemudian menatap kentang gorengnya yang tersusun rapi di piring, ia pun tertular dan ikut tertawa.
"Kebiasaan," ujarnya.
"Jika dibandingkan dengan Sany kalian sangat bertolak belakang," ucapnya.
"Sungguh?" tanya Nisa.
"Ya, Sany sangat berisik dan cerewet sementara kau pendiam. Sany tidak bisa diatur dan pemarah sementara kau penurut dan sabar, kau terlihat lebih dewasa dan bisa diandalkan."
"Kau juga begitu," balas Nisa.
"Kau seperti aku dan Jaya seperti Sany, bukankah kita adalah sepasang sahabat yang konyol?" tambahnya.
"Bukan konyol tapi saling melengkapi," ralat Akim.
Nisa hanya tersenyum, ia kembali mengambil kentang gorengnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Saat mengunyah sebuah pikiran melintas yang kemudian ia utarakan.
"Karena kau seperti aku, lebih terlihat dewasa jadi kau suka tipe gadis seperti Sany. Gadis yang ceria."
"Apa maksud mu?" tanya Akim dengan alis terangkat.
"Kau menyukai Sany kan?" jelas Nisa.
"Tidak! siapa yang bilang?" sahutnya.
"Tidak perlu berpura-pura, aku bisa melihat dengan jelas kalau kau menyukainya. Kau sangat perhatian padanya," ujar Nisa.
"Apakah setiap perhatian artinya suka? dia teman ku dan seorang gadis pula, tentu saja sebagai pria aku cukup perhatian. Apalagi kami sudah kenal sejak lama," jawabnya.
"Sungguh?" tanya Nisa untuk terakhir kalinya.
"Tentu saja! jangan salah paham," sahut Akim ngotot.
Nisa hanya tersenyum, meski bibir Akim mengatakan tidak tapi ia melihat ekspresi itu seakan sangat di buat-buat. Seolah ia ingin menutupi dari dunia dan membohongi hati bahwa tak pernah ada rasa suka seperti itu.
__ADS_1