
Diana masih menunggu panggilan dari Levi. Aku ceroboh sekali, bagaimana ini? Apakah aku menelfon Levi duluan. Tapi aku tidak berani. Aku tunggu saja, mungkin Levi masih sibuk. Aku akan tunggu sampai jam 8 malam nanti. Jika Levi tidak menelfonku, aku akan menelfonnya terlebih dulu.
*****
#Di ruang tengah rumahnya Pak Joko
Semua sedang berkumpul, Bida duduk di antar Pak Joko dan Bu Joko. Levi duduk di samping Pak Joko.
Aku tidak akan kalah dengan Roni. Mulai sekarang, aku akan bersikap lebih ramah kepada Pak Joko. Levi tersenyum penuh kemenangan melihat Roni yang duduk jauh dari Pak Joko.
"Nak Roni, bagaimana apakah sudah menemukan desain kamar mandi yang cocok, agar Bida melihatnya." Pak Joko bertanya kepada Roni.
"Maaf Pak, mas Levi yang memiliki banyak loleksi desain."
"Ya Pak, Saya sudah menyiapkan beberapa desain yang bagus. Roni, ambilkan laptopku di meja kamar !"
"Ya mas." Roni segera bangkit dari duduknya.
"Memangnya Pak Joko jadi menjual sapi pak?" Jodi bertanya.
"Sapi Pak Joko jenis limusin dan tubuhnya besar. Pasti harganya mahal." Deni ikut berkomentar.
"Semoga saja bisa laku dengan harga lumayan, Bapak ingin membuat kamar mandi dalam buat Bida." Pak Joko menggenggam tangan Bida.
"Ibu juga mau Pak." Bu Joko tersenyum malu.
"Boleh bu, tapi kita belum tahu biayanya, jika perlu kita akan jual semua sapi kita."
"Pak Joko keren sekali, sampai mau jual sapi untuk Ibu dan Bida." Deni menyampaikan kekagumannya.
"Ini mas, laptopnya." Roni menyerahkan Laptop ke Levi.
"Ya." Levi langsung membuka laptopnya.
Mengapa nak Levi menyuruh nak Roni, tidak berterima kasih pula. Apa hubungan mereka? Mengapa nak Roni selalu membantu nak Levi? Pak Joko memandang Roni dan Levi bergantian.
"Ini Pak, contoh-contoh desainnya." Levi mengarahkan layar laptopnya ke hadapan Pak Joko.
"Bida saja yang lihat, sini Bida duduk sini." Pak Joko berdiri lalu Bida pindah duduk di samping Levi.
Cantik sekali, seandainya saja ia sudah dewasa...
"Ini bagus." Bida menunjuk layar laptop
"Coba Bida geser ke kanan untuk melihat gambar yang lain."
Levi menyebut nama Bida bukan menggunakan kata kamu, nada bicaranya juga lembut. Ada apa ini? Miki heran dengan perkataan Levi
Kok pandangan Levi seperti itu ke Bida? Deni curiga
"Ini yang paling bagus." Bida menunjuk gambar desain kamar mandi pilihannya.
__ADS_1
"Ya. Itu bagus. Seleramu bagus, aku juga suka yang itu." Raut wajah Levi tampak cerah.
Mengapa mas Levi memandangiku terus, jangan-jangan dia mata keranjang.
Pak Joko dan Bu Joko ikut memperhatikan desain pilihan Bida.
Ting ting ... ting ting HP Levi berbunyi.
HP Levi ada di atas meja, di layar tampak nama Diana sedang menelfon.
Bida melihat ke arah HP yang diabaikan Levi.
"Mas HP nya..." Bida mengalihkan perhatian Levi yang masih saja memandangnya.
Levi mengambil HP nya lalu melihat layarnya. Diana... "Roni urus ini, sampaikan aku sedang sibuk dan tidak ingin diganggu." Levi menyodorkan HP nya ke Roni.
"Ya mas."
Roni yang duduk agak jauh segera berdiri untuk mengambil HP yang masih di tangan Levi.
Pasti telfon dari Diana. Sudah beberapa kali, aku yang harus mengangkat telfon dari perempuan bernama Diana. Aku bahkan pernah menerima panggilan videonya. Ia sangat cantik namun Levi sering menyuruhnya menjawab panggilannya dan mengatakan bahwa Levi sedang sibuk. Roni merasa malas mengangkat telfon dari Diana
"Hallo."
"Ssst..." Levi mengibaskan tangannya memberi tanda kepada Roni agar menjauh untuk menjawab telfonnya.
#Diana dan Roni
"Ya, hallo saya Roni asisten mas Levi."
"Kamu lagi, levi mana? Kok kamu lagi yang menjawab telfon."
"Maaf mas Levi sedang sibuk, sedang tidak ingin diganggu."
"Tapi ini sudah malam, apakah kalian masih sibuk dengan pekerjaan KKN?"
"Kami sedang membahas tentang desain"
" Baiklah, Roni apakah aku bisa minta no telfonmu. Aku ingin tahu kabar Levi darimu."
"Maaf, saya tidak bisa melakukannya."
"Dasar kamu, jelas saja kamu kompak dengan Levi. Kamu kan asistennya. Menyebalkan sekali."
Roni hanya menghela nafas, tidak tahu hqtus menjawab apa
"Ya sudah." Diana mengakhiri panggilannya.
# Di ruang tengah
"Mas telfonnya." Roni meletakkan HP nya di atas meja.
__ADS_1
"Ya." Levi hanya menjawab singkat.
Mas Levi kok malah minta mas Roni mengangkat telfon dari Diana. Siapa sih Diana itu? Apakah mas Roni juga mengenalnya?
"Nak Levi, berapa biaya membuat kamar mandi tersebut?" Pak Joko bertanya serius
"Sekitar 15 juta." Levi sudah berusaha mengurangi budget sesungguhnya. Harusnya biaya membuat kamar mandi seperti yang diminta Bida memerlukan biaya lebih dari dua kali lipatnya.
"Baiklah, Bapak akan menjual 3 sapi karena ibu juga ingin buat kamar mandi dalam, sekalian rehap kamar tidurnya Bida juga ya nak Levi." Pak Joko menjelaskan.
"Tidak usah pak, ibu tidak mau kamar mandi seperti Bida. Ibu hanya ingin ada kamar mandi di dalam kamar, tapi tidak perlu sebagus itu."
"Baiklah jika begitu, Bapak akan membuatkan dapur saja buat ibu. Dapur yang tempat kompor dan tempat cuci piringnya seperti rumahnya Pak Muhit. Pak Joko merangkul pundak Bu Joko penuh kasih sayang.
"Saya juga punya desain dapur pak, sebentar saya carikan. Saya akan bantu mengurus pembangunannya" Levi mengutak atik laptopnya.
Apa maksud mas Levi, buat apa mengurus pembangunan rumahnya Pak Joko. Kita kan hanya KKN. Aku yakin mas Levi mampu namun kurang kerjaan sekali, bukankah proyek rehap hotelnya segera mulai. Lagi pula berapa keuntungan rehap rumahnya Pak Joko. Roni seperti tidak mengenal Levi lagi. Levi yang dikenalnya selalu cermat dalam menentukan bisnis yang prospek.
"Ini pak." Levi menunjukkan desain dapur dan kitchen setnya.
"Bagus sekali. Tapi lebih baik mas Levi menghitung dulu dengan cermat. Bida juga tidak memaksakan. Buatkan desain properti kamar tidur, kamar mandi Bida dan Ibu juga dapur. Tapi jangan sampai dananya kurang. Bida dan Ibu tidak mau Bapak kehilangan semua sapinya."
"Bapak jual 2 sapi saja, sisakan yang sepasang lagi. Jangan memaksakan diri pak." Bida menyandarkan kepalanya ke pundak Pak Joko.
"Bida serahkan saja kepada mas Levi ya. Mas Levi akan buatkan yang bagus."
Jodi, Deni, Miki dan Roni melongo memperhatikan sikap Levi. Seolah sedang melihat sebuah drama. Karena Levi menjanjikan sesuatu kepada Bida.
Jodi penasaran lalu menggeser arah laptop Levi lalu membulatkan matanya melihat gambar dapur di layar.
Gila Levi sedang sarap beneran. Itu bagian kitchen set nya saja terbuat dari marmer kualitas tinggi.
"Mana gambar kamar mandi pilihan Bida?" Jodi penasaran.
Levi dengan semangat, menampilkan gambar kamar mandi pilihan Bida lalu menunjukkan kepada Jodi.
Jodi tidak bisa menahan ekspresinya.
"Kamu salah hitung Vi. Membuat kamar mandi seperti itu cuma 15 juta? Mau pakai jasa kontraktor mana, tidak akan ada yang sanggup, yang ada kontraktornya tidak untung malah buntung."
Jodi menyatakan dengan tegas, membuat Bida mengkerut menunduk.
"Pak, Bida tidak mau model itu, yang penting ada Bathupnya tidak perlu yang terlalu bagus.
Beli on line saja bathupnya, ada yang 3 juta. Lalu kita minta bantuan tukangnya Pak Muhit saja." Bida mengatakannya dengan masih menunduk.
"Maafkan Bida ya Pak, sudah menyusahkan bapak." Bida mengucapkannya dengan suara lirih namun masih terdengar jelas di telinga Levi.
Levi menatap tajam ke arah Jodi.
Jodi kaget melihat sorot mata Levi. Levi tampak sangat marah kepadanya. Jodi merasa tidak berbuat kesalahan justru menyelamatkan Levi. Jika salah hitung, maka Levi akan sangat merugi karena Levi menyatakan akan mengurusnya.
__ADS_1