Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Kesepakatan 1


__ADS_3

Pagi ini, Levi masih merasakan pegal di tubuhnya. Apalagi ia sudah lama tidak berolah raga. Ah aku harus menghindari Bida sebisanya agar aku tidak berpikiran yang tidak-tidak. Aku sudah menikahinya, tapi aku masih kuliah, Bida juga masih sekolah. Aku akan menjaganya sebaik mungkin.


Setelah mandi Levi duduk di ruang tengah sambil membuka HP nya. Pak Joko datang dari musholla


"Pak... hari ini akan ada yang datang untuk survei dan pengukuran. Apakah bapak nanti bisa mendampingi? Saya khawatir ada rencana saya yang kurang cocok." Levi menyambut kedatangan Pak Joko


"Maaf nak Levi, bapak tidak bisa. Hari ini bapak juga sibuk bersama Pak Muhit. Terserah nak Levi saja." Pak Joko duduk di ruang tengah diikuti Levi.


"Maaf nak Levi, jika bapak mau menyampaikan sesuatu kepada nek Levi tentang Bida."


"Ya, silahkan pak."


"Bapak tahu, pernikahan ini terlalu cepat dan mendadak. Bida masih harus sekolah. Bapak tidak melarang nak Levi membawa Bida, hanya saja akan lebih baik jika Bida tetap melanjutkan sekolah."


"Tentu saja Pak. Bida harus sekolah. Saya juga harus melanjutkan kuliah."


Deg Pak Joko merasakan getir saat Levi mengatakan kalimat itu. Apakah perkiraanku salah? Apakah nak Levi akan meninggalkan Bida begitu saja? Kasihan sekali Bida.


"Pak, saya menikahi Bida secara sah. Apakah bapak keberatan saya memiliki Bida."


"Bukan begitu...." Aku harus ngomong apa? Aku tentu sangat mengkhawatirkan Bida.


"Maksud saya, saya akan berusaha tidak melakukan hubungan seperti itu. Tapi saya adalah suaminya yang sah, maka saya punya hak untuk berbicara berdua dan .... " Mau ngomong apa lagi ya?


"Ya tentu saja nak. Silahkan" Aduh bagaimana ini, aku jadi bingung sendiri, aku mempersilahkannya ngobrol maksudku.


"Saya akan bertanggung jawab terhadap Bida sepenuhnya. Meskipun saya seorang mahasiswa, saya memiliki penghasilan sendiri."


"Jangan kuatir soal itu nak Levi, bapak masih sanggup merawat Bida. Bapak hanya minta tolong jangan sakiti Bida."


"Pak saya tidak akan menyakitinya, saya sangat menyayangi Bida. Saya akan membiarkannya tinggal bersama Bapak dan Ibu sampai Bida lulus, tapi saat Bida lulus SMK saya akan membawanya tinggal bersama saya."


Pak Joko sangat terharu mendengarnya.


"Benarkah nak Levi? Apakah nak Levi menyukai Bida seperti laki-laki menyukai perempuan hingga nak Levi ingin tinggal bersama Bida nanti?"


"Tentu saja Pak, saya mengucapkan Ijab Kabul dengan tulus dan tanggung jawab. Saya akan melegalkan pernikahan ini nanti saat Bida lulus SMK."


"Syukurlah."


"Maaf saya belum memperkenalkan diri saya dan keluarga kepada Bapak karena Bida masih sekolah, saya ingin memperkenalkan Bida kepada keluarga saya jika Bida sudah lulus sekolah."

__ADS_1


"Tidak apa-apa nak Levi. Bapak berkaca-kaca."


Levi memahami perasaan Pak Joko. Levi bertekad akan menjauhi Bida secara fisik. Ia tidak akan melukai Bida. Bida harus lulus sekolah. Levi tidak mau melakukan pelecehan pada gadis di bawah umur.


Bu Joko dan Bida menata makanan di atas meja makan.


"Bida kemarilah." Levi melambaikan tangannya ke arah Bida.


"Pak saya juga ingin berbicara dengan ibu." Levi meminta persetujuan Pak Joko.


"Bu kemarilah." Pak Joko memanggil istrinya.


Bida dan Bu Joko mendekat.


Levi meraih tangan Bida yang melewatinya hendak duduk di kursi depan Levi.


Levi mengarahkan Bida agar duduk di sampingnya. Levi bahkan merangkul Bida dengan meletakkan tangannya di bahu Bida.


Bu Joko dan Pak Joko memperhatikan cara nak Levi memperlakukan Bida. Sedangkan Bida merasa risih dengan posisi tangan Levi.


Levi membuka HP dengan kedua tangannya, membuat Bida seperti terkungkung dalam pelukan Levi.


Levi meletakkan HP nya di atas meja. Membuat Bida lega karena terlepas dari kungkungan Levi yang membuatnya seperti sesak nafas karena getaran oleh sentuhan tubuh Levi.


"Bida ini mama, kak Lina, Papa dan yang ganteng ini suamimu." Levi menggoda Bida.


Wajah Bida memerah karena malu, wajah levi hanya beberapa centi dari wajahnya.


Cantik sekali kakaknya mas Levi.


"Papa saya sudah meninggal, Kakak sudah menikah dan masih melanjutkan kuliahnya. Sedangkan mama masih semangat bekerja demi keluarga kami." Levi menyerahkan HP nya kepada Pak Joko


Pak Joko dan Bu Joko mengamati layar ponsel Levi.


"Mana suami kakakmu?" Bu Joko bertanya


"Oh ya." Levi menunggu Pak Joko menyerahkan HP nya lalu Levi menggeser layar HP nya. Tampaklah sebuah foto pernikahan yang sangat mewah. Di foto tersebut, banyak deretan orang yang ikut foto bersama pengantin.


Levi kembali merangkul Bida, melingkarkan tangannya di badan Bida lalu menyebutkan satu-per satu foto tersebut. Ini mama, mas Levi, suami kak Lina, Kak Lina, Ayu, tante Mira, dan ini Diana.


"Siapa Diana ? Cantik sekali." Bida seperti mengagumi kecantikan Diana.

__ADS_1


Diana itu temannya mas Levi. Diana seorang model, Ia tergabung di agensi tante Mira. Tante Mira adalah adik ipar papa. Ayu adalah perias tante Mira.


Bida kembali memperhatikan foto Diana, Bida merasa tidak asing dengan wajahnya.


Levi kembali menurunkan tangannya dari bahu Bida lalu menyerahkan HP nya ke Pak Joko lagi.


Dari ceritanya, nak Levi sepertinya dari keluarga kalangan atas. Bida masih sekolah. Apa yang terjadi jika keluarganya tahu tentang pernikahan yang mendadak ini. Pak Joko mencemaskan hal itu.


Setelah Pak Joko dan Bu Joko mengamati foto tersebut, Pak Joko menyerahkan HP tersebut kepada Levi lagi.


"Mari kita sarapan, mana teman-temanmu nak Levi? "


Tampak Roni dan yang lainnya sedang menuju ruang makan.


Bida akan bangkit dari duduknya, Levi berbisik di telinganya. "Kita harus berbicara nanti, berdua." Bida sangat gugup karena bibir Levi menyentuh telinganya meskipun Bida menggunakan kerudung tapi tetap saja Bida bisa merasakan sentuhan itu.


Semua sarapan dengan lahap. Pecel buatan Bu Joko memang nikmat. Setelah sarapan, mereka berkumpul di ruang tengah.


Pak Joko pamit mau mengantar Bu Joko ke pasar, lalu langsung ke rumah Pak Muhit. Bu Joko akan pulang sendiri ke rumah setelah belanja.


Bida sedang merapikan ruang makan membersihkan dapur.


"Aku mau ke kamar ambil laptop." Levi meninggalkan teman-temannya.


"Roni, kurang 2 malam lagi kami tinggal di rumah Pak Joko. Nanti malam dan besok aku tidur di kamarmu ya. Sempit jika tidur bertiga. Miki selalu mendominasi ranjangnya." Deni berkata dengan pandangannya masih ke layar HP nya.


"Sama saja Den, Levi tidurnya berantakan. Suka menjadikanku guling. Lagi pula jika kamu gabung kan sama saja tidur bertiga."


Deni menoleh ke Roni


"Loh tadi malam Levi tidur di kamarmu?"


Miki tidak komentar karena sudah menduganya. Levi menikahi Bida demi menjaga martabat keluarga pak Joko. Istilahnya menikah hanya sebagai syarat saja bukan menikah sebenarnya.


"Tidak Den, tadi malam Levi sibuk dengan laptopnya lalu... " Roni menghentikan perkataaannya.


"Lalu apa Ron?" Jodi penasaran karena Roni tidak jadi meneruskan kalimatnya.


Roni memperhatikan sekeliling


"Levi sit up dan push up sampai ngos ngosan lalu tidur pulas."

__ADS_1


Miki, Deni, dan Jodi langsung tertawa terbahak-bahak.


"Sudah kuduga.... Ha ha ha... " Jodi memegang perutnya sambil terus tertawa


__ADS_2