Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Terbongkar 2


__ADS_3

*****


Hantu laki-laki yang mengaku bernama Arjuna masih sering muncul tiba-tiba di sekitar Bida dengan gaya yang berbeda-beda. Hari ini Arjuna menggunakan stelan jas berwarna coklat susu Ia tidak pernah menyakiti Bida namun tingkahnya kadang membuat Bida jengkel. Ia sangat suka menyentuh lesung pipit Bida dengan pensil atau pulpen. Ketika ia menyentuh pensil atau pulpen Bida maka pensil atau pulpen Bida tidak terlihat oleh orang lain. Namun meski begitu Bida bisa merasakan sentuhan pulpen atau pensil itu dipipinya. Sepertinya Arjuna justru menunggu momen ketika Bida tersenyum atau tertawa, hingga ia bisa menyentuh lesung pipit Bida.


Suatu hari saat Bida datang terlalu pagi dan kelas masih sepi. Bida berada sendirian di dalam kelas. Arjuna tiba berdiri di depannya. tepat di depannya. Badannya berdiri menembus meja Bida. Membuat Bida kaget karena kedatangannya yang tidak disangka-sangka dan sangat dekat posisinya. Bisa dikatakan wajah Bida hampir menabrak dada Arjuna yang berdiri didepannya sedangkan Bida sedang duduk di kursi.


"Tidak bisakah kamu permisi dulu ketika akan muncul. Jangan terlalu dekat, meski kamu menembus meja tapi kita bisa bersentuhan. Itu keanehanmu." Bida bersungut kesal sambil memundurkan kursinya.


"Aku tidak aneh, justru itu kelebihanku. Aku sangat menyukaimu. Sayangnya kamu bukan dari bangsaku."


"Jangan macam-macam ! Aku tidak mau diganggu oleh perempuan gendut itu." Bida mengedarkan pandangannya kuatir jika perempuan gendut yang membawa cutter itu tiba-tiba muncul.


"Ia terobsesi olehku. Hari pertama kamu sekolah, ia mencarimu. Tapi kamu tidak melihat begitu juga dia tidak bisa menemukanmu meski kalian berpapasan. Mungkin karena jejak di bibirmu itu."


"Jejak ?" Bida menyentuh bibirnya.


"Ya. Jiwa kalian menyatu melalui sentuhan itu." Arjuna lebih mendekat mengamati bibir Bida hingga jika saja ada orang yang bisa melihat maka akan mengira bahwa Arjuna sedang ingin mencium Bida.


Bida tidak bisa berkutik karena ia tidak bisa mundur lagi.


Arjuna kemudian sirna menghilang, Rona datang menyapa Bida.


"Hai Bida."


"Hai...Rona... nanti pulang sekolah, temani aku ya. Aku mau ke ATM untuk ambil uang."


"Ok"


Kriing Bel berbunyi tanda ujian akan segera dimulai.


Ujian dimulai, Bida mengerjakan soal ujiannya dengan sebaik-baiknya. Namun beberapa soal tampak sulit bagi Bida. Malam hari sebelumnya Bida agak susah konsentrasi karena bayangan Levi selalu menggangunya.


"Susah ya soalnya ?" Arjuna tiba-tiba sudah berdiri di samping Bida. Ia menggunakan celana jeans dan kaos casual warna biru laut sekarang.


Bida hanya diam tidak menanggapinya. Lalu Arjuna memperhatikan lembar jawaban Bida yang masih kosong.


Arjuna berkeliling di kelas melaporkan pikiran beberapa siswa yang sedang mengerjakan soal. Termasuk menyebutkan juga pikiran guru pengawas ujian yang sedang memperhatikan soal ujian.


Bida mendengar salah satu pikiran temannya yang disampaikan Arjuna lalu teringat dengan materi yang sudah ia pelajari semalam.


Bida meletakkan jarinya di bibir sambil menatap Arjuna untuk memberi kode kepada Arjuna agar diam. Bida sudah mengingat materi tersebut lalu mengisi lembar jawabannya yang kosong. Bida tersenyum senang meneliti lagi lembar jawabannya yang sudah terisi semua. Arjuna tiba-tiba sudah di depan Bida menyentuh lesung pipit Bida dengan pensil Bida lagi. Membuat Bida jengkel. Sayangnya ekspresi jengkel Bida selalu ditanggapi senyum oleh Arjuna.


"Kamu tambah cantik jika marah tapi aku tetap lebih suka melihatmu tersenyum." Arjuna mengatakan itu kemudian menghilang.


*****


"Bida ayo, kita mau ke ATM mana?" Rona sudah tidak sabar jalan-jalan dengan Bida. Rona dan Bida sama-sama masuk kelas akselerasi. Hari ini mereka merasa sangat lega sudah melaksanakan ujian akhir.


"Ke ATM Bank ***"


"Ok. Ayo ! Mereka sahabat karib yang sama-sama cerdas dan sama-sama menggunakan sepeda pancal untuk transportasi ke sekolah.


Sampai di ATM yang ada di depan restauran disamping sekolah mereka. Mereka memparkir sepedanya. Bida masuk ke bilik ATM bersama Rona. Bida minta ditemani Rona karena ia baru pertama kali ini ke ATM.


"Ayo Rona, aku tidak pengalaman ambil uang di ATM."


"Ya. Ayo gampang kok. Sudah ada petunjuknya tinggal klik klik saja." Kata Rona yang sudah terbiasa menggunakan ATM. Rona usianya lebih tua setengah tahun dari Bida. Ia mendapat uang saku bulanan melalui rekeningnya. Rona tinggal dengan neneknya dan mendapatkan kiriman uang dari orang tuanya setiap bulan.


"Aku pilih apa dulu ini Rona?"


"Terserah kamu. Mau ambil uang langsung atau cek saldo dulu." Rona menjelaskan.


"Ok aku cek saldo dulu." Bida menekan layar touchscreen di mesin ATM.

__ADS_1


"Banyak sekali uangmu Bida. 72.000.000" Rona kaget dengan isi saldo ATM Bida.


Bida menghitung jumlah nol yang ada.


"Ya, kok banyak ya. Kasihan mas Levi pasti ini uang hasil bisnisnya diberikan kepada Bida sebanyak ini."


Bida menekan tombol batal transaksi. Kartu ATM nya keluar.


"Loh kamu tidak jadi ambil uang. Ambil saja Bida kita kan bisa senang-senang. Kamu bisa traktir aku di restauran ini."


Bida menghela nafas, "Aku memang ingin traktir kamu kok. Aku sudah punya uang tidak perlu pakai uang dari ATM."


"Oh ya. Seru dong. Ayo kita pilih tempat duduk di sebelah sana." Rona menunjuk satu set kursi dan meja di ujung setelah mereka keluar dari bilik ATM.


Sekarang mereka sedang duduk setelah memesan dan membayar makanan terlebih dahulu di meja depan.


"Bida kamu tahu, restauran ini sudah berdiri setahun yang lalu. Tapi aku belum pernah kemari."


"Aku juga baru sekarang ke sini. Nama restauran ini kok B. Levi ya?" Bida mengamati nama restauran tercantum.


"Ya. kebetulan sekali ya. B Levi itu kan bisa diartikan Bidadari Levi." Rona menyampaikan perkiraanya.


"Ha ha ha benar juga, sayangnya bukan itu pasti ada arti yang lain. Sudah ah ngaco kamu."


"Bida kamu kan hari ini ultah ke 17 ini aku beri hadiah khusus buat kamu." Rona mengeluarkan sesuatu dari tasnya lalu menyerahkannya kepada Bida.


"Apa ini? kamu repot saja."


Bida menerima hadiah tersebut lalu memasukkannya di dalam tas.


"Ah tidak kok. Kamu membuatkan aku baju gamis yang cantik saat aku ulang tahun. Ini tidak seberapa tapi berguna buat orang yang sudah bertunangan seperti kamu. Baca saja dengan penuh penghayatan." Rona senyum ganjil membuat Bida penasaran.


"Isinya buku ya tapi tentang apa sih? Kok ekspresimu begitu."


"Ya"


*****


Sampai di rumah, kondisi rumah sepi.


Bapak kerja, ibu pasti masih di rumah bu Ridwan karena membantu acara hajatan. Putranya Bu Ridwan akan menikah sore ini.


Bida mengganti seragamnya dengan gaun sejenis dress berbahan rayon tipis favoritnya. Bida menjahit sendiri gaun yang terasa nyaman tapi hanya dipakainya ketika di dalam kamar.


Bida mengambil kado dari Rona dan membukanya. Ternyata ada dua buku. Satu berupa novel percintaan sedangkan buku satunya berjudul Tips Membahagiakan Suami.


Bida memilih novel untuk dibacanya. Bida duduk bersandar di kepala ranjang dan mulai membaca novel tersebut. Bida berdebar membacanya karena novel tersebut bergenre dewasa yang menggunakan bahasa yang gamblang dengan kata-kata romantis di dalamnya membuatnya ikut terhanyut. Namun Bida juga merasa takut sekaligus penasaran ketika mulai membaca bagian yang erotis.


Bida merasa gerah lalu menghidupkan AC nya


Rona memang suka mengajak Bida menonton drakor romantis di HP nya tapi tidak seperti novel ini.


Bida menutup buku itu lalu mengambil buku satunya namun kemudian rasa penasarannya kembali membuatnya ingin melanjutkan membaca buku yang pertama.


Dari buku itu, Bida akhirnya paham mengapa Levi menghindarinya dulu. Di buku itu dijelaskan bagaimana kondisi laki-laki jika berada berdua dengan kekasihnya. Bida semakin penasaran dan terus membaca bahkan mengulangi beberapa bagian yang menarik baginya.


"Paket..."


Pasti ada paket dari mas Levi.


Bida segera bangkit lalu menggunakan gamis panjang dan kerudungnya. Ia keluar untuk menerima paket.


"Paket buat Bidadariku/Ny Levi Braveano."

__ADS_1


"Ya."


Bida menerima paket itu dengan suka cita. Ia membawa kotak paket itu ke dalam kamar. Ia menyimpan buku dari Rona ke dalam laci di nakasnya lalu membuka kotak paket tersebut.


Wah HP baru, tidak ada pesan lain.


Kok HP nya mati. Bagaimana cara menghidupkannya?


Tok tok tok


Siapa itu apakah itu mas Levi ?


Bida setengah berlari menuju pintu depan.


#Di depan rumah Bida sesaat yang lalu.


Bu Dewi memperhatikan kondisi rumah model bangunan kuno di depannya.


Alamatnya benar. Apakah disini alamat gadis itu. Aku sudah mencari informasi dari Ayu juga. Ciri-ciri rumah ini sama seperti cerita Ayu. Ada pohon kenanga yang tampak angker tapi sebenarnya tidak. Kepalaku agak pusing, jangan sampai vertigoku kambuh saat ini. Aku ingin bertemu dengan kekasih Levi. Apakah karena ia bukan dari golongan orang kalangan atas sehingga Levi menyembunyikannya dariku? Jika benar Levi mencintainya aku sendiri yang akan membawanya ke hadapan Levi.


Tok tok tok Bu Dewi mengetuk pintu rumah itu.


***


Bida membuka pintu rumahnya. Tampak seorang ibu-ibu menggunakan setelan celana dan blazer kualitas tinggi.


Siapa ibu ini. Dia seperti orang kalangan atas. Mobilnya Vellfire dengan supir berseragam.


Bu Dewi memegang kepalanya yang mulai terasa berputar.


"Kepalaku sakit sekali, maaf bisakah saya numpang istirahat sebentar" Bu Dewi mencoba duduk di kursi teras.


Sesuai instruksi bu Dewi, Pak Man supirnya hanya diam di luar kecuali dipanggil oleh Bu Dewi.


"Ibu pusing ? Mari masuk bu, istirahat di kamar saya saja."


Bida memapah ibu itu membawanya masuk dan membantunya berbaring di kasurnya.


Bu Dewi memperhatikan kondisi kamar Bida. Namun sensasi berputar membuatnya memejamkan mata.


"Maaf sepertinya vertigoku kambuh. Tolong ambilkan obat di dalam tasku. Jika tidak merepotkan aku minta segelas air." Bu Dewi berbicara sambil memejamkan mata.


"Ya bu. Maaf Bida buka tasnya ya. Bida akan ambilkan air dulu."


"Bida ?.." Bu Dewi membuka mata lalu memejamkan mata lagi karena pandangannya berputar.


"Ya. nama saya Bidadari bu dipanggil Bida. Permisi saya ambilkan air putih dulu."


Bida sering menyebut nama bukan kata saya jika berbicara dengan orang yang lebih tua. Itu adalah kebiasaan di desanya. Jika tidak menggunakan bahasa Jawa maka menggunakan nama untuk mengganti kata saya dengan tujuan lebih sopan bahasanya.


Bida mengambil air lalu membantu ibu itu duduk untuk menelan obatnya.


Bu Dewi masih memejamkan mata menunggu reaksi obat vertigonya. Bu Dewi selalu membawa obat Vertigo kemanapun karena serangan vertigo bisa kapan saja dan dimana saja.


Bida duduk meraih HP barunya sambil menatap ibu yang tidak dikenalnya sedang berbaring di kasurnya.


Sesaat kemudian.


"HP baru ya?" Bu Dewi sudah merasa baikan. Kepalanya masih berdenyut tapi sensasi berputar sudah tidak dirasakannya lagi.


Ia menatap gadis cantik di depannya sedang memperhatikan kardus kemasan Iphone.


"Ya. Mas levi mengirimkannya buat Bida. Tapi Bida tidak tahu cara membukanya."

__ADS_1


Levi .... jadi benar ini calon mantuku? Cantik sekali pantas saja Levi menolak Diana.


__ADS_2