Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Kebaya


__ADS_3

Setelah sarapan, Bida mangajak Ayu masuk ke kamar untuk mulai mempersiapkan diri. Ayu mempersiapkan semua perlengkapannya. Setelah semua siap.


Ayu mengajak Bida foto. "Ayo foto dulu"


Bida menurut saja ketika diajak foto bareng Ayu.


Ayu juga memfoto Bida sendirian.


"Nanti aku kirim fotonya ke HP mas Levi ya."


"Ya." Bida menatap perlengkapan Ayu yang sangat banyak.


Ayu memasang tripot lalu mulai merias Bida. Ayu merekam kegiatannya. Ayu memang endorse beberapa merk kosmetik dan followersnya di istagram sangat banyak. Bahkan ayu juga seorang youtuber dalam hal fashion dan tata rias.


Bida yang tidak paham istagram karena tidak punya HP hanya diam saja.


"Cantik banget deh. Tidak rugi, aku jauh-jauh datang kemari. Nama kamu sebenarnya siapa sih?"


"Bidadari, dipanggil Bida."


"Oh gitu. Kirain mas Levi ngarang." Ayu terkikik...


"Kak Ayu, sudah lama kenal mas Levi?" Bida sengaja menggunakan panggilan kak karena bingung mau manggil mbak atau mas.


"Ya. Tantenya mas Levi itu bos aku."


"Oh, hanya itu yang dikatakan Bida."


"Jika ke Surabaya, nanti info ya. Akan aku ajak Bida lihat-lihat kerjaan aku."


"Ya."


"Nah sekarang ganti baju ya. Rambutnya nanti saja." Ayu mengeluarkan benda aneh dari dalam box.


"Apa itu kak?" Bida heran karena baru melihatnya.


"Nanti kamu juga tahu." Ini properti untuk menaikkan volume payudara Cin kan aneh jika pakai kebaya tapi rata.


Ayu mengeluarkan Kebaya dari tempatnya. Bida terpesona dengan kebaya itu.


"Bagus sekali kebayanya seperti di TV yang dipakai para model."


"Loh iya dong. Ini rancangan Mira sendiri."


"Yuk pakai ini dulu." Ayu mengeluarkan Sejenis Bra namun bagian belakangnya adalah tali transparan.


Bida malu-malu membuka pakaiannya.


"Wowh..." Ayu menganga... tidak menyangka jika Bida seseksi itu. Ayu mengembalikan benda aneh ke boxnya. "Kamu ndak butuh ini lagi. Tuh punyamu sudah bulat banget."


"Bida yang tidak paham hanya mengangguk saja."


"Yuk, kita tata rambutmu." Ayu menata rambut Bida dengan lembut, proses penataannya lama, sampai membuat Bida mengantuk.


"Sudah selesai, sekarang kita foto lagi ya."


Ayu memfoto Bida dengan beberapa pose. Bida mengikuti instruksi dari Ayu.

__ADS_1


Ayu menggandeng Bida keluar kamar. Waktu sudah hampir jam 9. "Pak Tomo" Ayu memanggil Pak Tomo.


Pak Tomo yang sudah mandi dan sarapan bergegas mendatangi Ayu.


"Ambilkan jas di mobil."


"Mas Levi, sini cepat."


Levi yang sedang duduk di ruang tengah mendatangi Ayu namun alangkah terpesonanya Levi melihat penampilan Bida, hingga Levi memanggil nama Bida berulang-ulang. " Bida.... Bidadari... Bida kan?"


"Ya mas. Ibu mana?"


Bu Joko sudah menggunakan gamis terbaiknya lalu diam menatap putrinya. "Bida, kamu cantik sekali, sayangnya bapak sudah berangkat ke balai desa."


"Ini jasnya." Pak Tomo menyerahkan jasnya.


"Ini mas Levi cepat sudah hampir jam 9"


"Buat apa Yu?" Levi bingung


"Pakai mas, Ayu mendorong tubuh Levi masuk kamar Bida agar ganti baju."


Sebentar kemudian, Levi keluar kamar sudah memakai jas. Levi terlihat sangat gagah.


"Yuk Foto dulu." Ayu mengarahkan posenya dan memfoto Bida dan Levi dalam berbagai gaya.


"Kalian serasi banget. Aah sana berangkat ! aku mau istirahat."


"Naik apa bu? Bida memegang kebayanya."


"Ayo mas Levi antar."


"Memangnya kenapa Yu?"


"Oh my god. Pakai kebaya naik Terrano... hilang dong aura femininnya, No... bawa Alphard saja. Pak Tomo antarkan mereka."


"Biar aku saja yang antar. Kasihan Pak Tomo, biar istirahat."


"Terima kasih mas" Pak Tomo merasa lega, menyerahkan kontak mobil.


Deni dan Miki masih saja sibuk dengan laptopnya. Sialan banget, Levi memang sialan. Hari ini harus selesai. Deni ngedumel.


Pundakku capek banget, untunglah tinggal dikit lagi. Sebentar lagi aku kirim.


Miki semangat meneruskan mengetik.


Roni dan Jodi sedang ada di halaman, duduk di bangku sambil makan kacang.


"KKN kita hampir rampung ya Ron, ndak terasa sudah hampir sebulan kita disini." empat hari lagi kita kembali.


"Aku belum tahu, kamu kan tahu Levi akan mulai rehab rumahnya Bida, berarti aku masih disini nemani Levi." Roni bicara sambil mengunyah kacang.


"Ya. Kamu kan memang asistennya Levi. Semangat ya."


"Rencana aku memang ingin menunjukkan performa dan loyalitasku kepada Levi dan mamanya. Karena aku ingin bergabung di grup propertinya. Jika aku berhasil, aku yakin tidak akan jadi pengangguran."


"Roni, aku tahu Levi tajir tapi beneran Levi mau merugi membangun rumah Pak Joko demi Bida." Jodi sangat penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku pernah mengantar Levi menjenguk istrinya Pak Frans dosen kita yang melahirkan bayi kembar. Levi membayarkan biaya persalinannya senilai 18 juta. Alasannya, Levi tahu jika Pak Frans baru saja kena musibah, ayahnya meninggal setelah menjalani operasi Jantung yang sudah menelan banyak biaya."


"Ssst ada Levi datang dengan Bu Joko." Roni memberi isyarat.


Di belakang Bu Joko, tampak Bida yang sangat cantik dengan Kebayanya. Jodi berdiri tercengang dengan penampilan Bida menggunakan kebaya yang membuat tubuhnya tercetak sempurna.


Roni berusaha bersikap wajar meskipun ia juga terpesona dengan penampilan Bida. Namun matanya tidak bisa lepas memandang tubuh bida berbalut kebaya itu.


Bu Joko tersenyum bahagia, Bu Joko sudah yakin bahwa Bida adalah calon Jodoh Bida karena obrolannya dengan Bida ketika pulang jalan-jalan tempo hari.


#Flashback


Malam hari setelah pulang jalan-jalan dengan Levi


"Bida, apakah tadi kamu sempat melihat makhluk halus?"


"Tidak bu, tidak sama sekali bahkan ketika ke tolilet di mall, juga tidak tampak makhluk halus sama sekali. Setiap ada mas Levi di rumah, Bida juga tidak melihat nenek, bibi dan Wowo."


"Bagus Bida, kita tinggal berdoa saja. Semoga nak Levi benar-benar jodohmu."


Bida tersipu malu. "Tapi Bida kan masih sekolah."


"Sudahlah, istirahatlah... Jangan dipikir."


"Ya bu." Bida berkata iya namun pikirannya justru masih mengembara mengenang semua kejadian antara dirinya dan Levi.


*****


# kembali ke masa sekarang


Levi mengikuti instruksi Bida menuju Sekolahnya.


Sampai di sekolah, mayoritas tempat parkir penuh dengan sepeda motor. Hanya ada beberapa mobil parkir. Alpard adalah satu-satunya yang parkir di halaman sekolah itu.


Levi membukakan pintu mobil, ibu membantu Bida turun dari mobil. Prendi, Yogi dan Ergi menunggu Bida dengan gelisah. Mereka duduk di bangku depan kantor sambil memperhatikan setiap orang yang datang. Mereka menggunakan jas warna hitam.


Bida melambaikan tangannya, namun mereka tidak merespon. Bida tersenyum, menampilkan lesung pipit di kedua pipinya. Yogi langsung berteriak, "Bida !" Yogi berjalan tergesa-gesa menyambut Bida yang sedang berjalan bersama ibu.


Ergi dan Prendi mengikuti Yogi lalu, "Bida ?" Mereka kompak menyebut nama Bida masih tidak percaya bahwa gadis cantik di depannya adalah Bida.


Prendi mengelilingi Bida. Kebaya dengan payet tiga dimensi berbentuk burung merak dengan taburan batu swarosky di bagian bulu merak di kebayanya. Batu Swarosky itu berkilauan ditempa sinar matahari. Ergi mengamati model sanggul Bida yang tampak serasi dengan riasan dan kebayanya. Sandal high heel yang bertabur swarosky putih berkilau di kaki Bida. Bida tampak semakin tinggi dengan sandal tersebut.


Levi yang masih berdiri di samping mobil tidak suka melihat mereka memperhatikan seperti itu. Levi mendatangi mereka, "Masuklah kalian sudah terlambat."


"Ya. Bida mari kita masuk." Ibu menggandeng tangan Bida.


Ergi lalu mengapit tangan Levi, "Ayo masuk Oppa." Levi berusaha menepis tangan Ergi namun Yogi mengapit lengannya yang lain.


"Ayo mas, kita masuk." Prendi mengajak Levi.


Bagaimana ini, aku tunggu di mobil atau ikut saja? Lebih baik aku ikut masuk saja daripada bengong di mobil.


Akhirnya Levi ikut masuk ke gedung pertemuan di Sekolah itu. Banyak tatapan mengarah kepadanya terutama tatapan para siswa perempuan yang juga sudah berdandan cantik menggunakan kebaya.


"Ergi, lihat Sisca menoleh kesini terus. Siapa ya diantara kita yang Sisca perhatikan?" Yogi berbisik kepada Ergi.


"Pasti aku." Prendi yang duduk disamping Ergi juga mendengar peryanyaan Ergi. Prendi tampak GR (gede rasa) karena pamornya sebagai Mario Maurier versi lokal.

__ADS_1


"Silahkan saja, bagiku yang terpenting adalah Bida." kata Yogi.


Sebenarnya Sisca sedang memperhatikan laki-laki kekar yang sedang duduk bersama Yogi dan teman-temannya. Siapa dia? keren sekali... nanti aku akan menyapanya. Batin Sisca.


__ADS_2