
"Bawa sini, akan aku hidupkan" Bu Dewi meminta HP di tangan Bida.
Bida menyerahkannya.
Bu Dewi menekan tombol untuk membukanya. Setelah loading, muncullah walpapper berupa foto Levi dan gadis cantik berkebaya.
Bu Dewi tidak langsung mengembalikan HP tersebut kepada Bida. Ia memeriksa isinya.
Di kontak hanya ada satu kontak yaitu Mas levi
Bu Dewi membuka pesan chat.
Bida sayang, selamat ulang tahun yang ke 17 ya. Belajar yang rajin. Sudah 2 tahun kita tidak pernah bertemu. Mas levi ingin sekali segera bertemu denganmu. Mmmuah ada emotion love ---- Mas Levi
Bu Dewi membuka galeri dan menemukan foto dan video disana.
Bu Dewi membukanya dan kaget dengan video dan foto-foto tersebut.
"Apa ini?" Tampak video ketika Levi menyelamatkan Bida dari timpaan dahan pohon kenanga hingga panampakan dan perkataan bu Sulis membuat wajah Bu Dewi merah menahan marah. Juga video-video lain.
Bida bingung karena tidak ikut melihat videonya lalu mendekat ke arah Bu Dewi ikut menyaksikan video-video itu.
"Video-video itu, Ternyata mas Levi menyimpan video itu."
Bida malu melihat video yang menampakkan wajah Levi yang kena lipstiknya.
Akhirnya Bida menceritakan semuanya. Dari awal kedatangan Levi dan teman-temannya, pernikahannya dan rehap kamarnya yang menggunakan hasil penjualan sapi serta 2 sapi sebagai pembayaran kekurangan biaya rehapnya. Bida juga menceritakan soal aturan Levi hanya Bida tidak menceritakan ketika Levi menyentuhnya karena Bida berjanji tidak cerita soal kontak fisik dengannya kepada siapapun.
"Aturan apa?" Bu Dewi terlihat penasaran
Bida membuka laci nakasnya lalu menyerahkan buku bertanda tangan dirinya dan Levi.
"Ha ha ha...Ada -ada saja." Bu Dewi tertawa melihat aturan itu. Ia meletakkan buku itu di pangkuan Bida, lalu menatap wajah Bida yang tampak polos. Bu Dewi lantas mensetting HP Bida dalam kedaan mode pesawat lalu menyerahkan HP tersebut kepada Bida.
"Bida tersipu meraih HP lalu mengambil buku tersebut lalu menyimpannya lagi di laci nakasnya.
"Apakah kalian sudah pernah melakukan hubungan itu?
Bida mencerna kalimat bu Dewi lalu menggeleng, wajahnya semakin merah menahan malu.
"Tentu saja tidak. Kata Mas Levi suatu hari nanti mas Levi akan datang menjemput Bida jika Bida sudah lulus sekolah."
Levi mengapa takdir membuatmu menunggu lama demi gadis ini ? ha ha ha syukurlah rekaman itu begitu komplit meski sepotong sepotong, hingga bisa menjelaskan semuanya. Levi kamu menyanggupi pernikahan bukan hanya karena tragedi pohon kenanga semata tapi karena kamu sudah jatuh cinta pada gadis yang masih di bawah umur ini.
Perkataan pembelaanmu pada gadis ini kepada perempuan bernama Bu Sulis itu membuktikan bahwa kamu ingin melindunginya sepenuh hatimu. Kau sampai membuatkan kamar ini untuknya. Rekamanmu ketika akad nikah juga Ok. Kamu mengucapkan akad dengan lancar dan tegas. Sayangnya kamu seorang putra Braveano hanya memberi mahar 3 juta. yang benar saja. Nilai sewa kamar hotel type presiden kita saja dalam semalam jauh di atas 3 juta.
Tapi mama bangga kepadamu. Kamu menggunakan swadanamu sendiri.
Bu Dewi mencoba menahan senyumnya.
"Oh ya. Bida, kapan kamu lulus?"
"Bida akan lulus bulan depan karena ikut kelas akselerasi. Hari ini Bida menyelesaikan ujian akhir"
__ADS_1
"Bagus. Apa yang akan kamu lakukan jika Levi di depanmu?"
Bida diam sejenak, isi novel itu memprovokasi dirinya, tanpa sadar ia mengatakan "Mas Levi ...Bida akan memeluk mas Levi erat karena Bida sangat merindukan mas Levi. Bida ingin menjadi pacar mas Levi." Bida mengatakannya sambil berkaca-kaca seolah Levi ada di depannya.
Lalu Bida menghapus matanya dan tersadar bahwa ia sedang berbicara dengan seorang ibu tak dikenal.yang ada di kamarnya. Bida langsung menutup mulutnya.
Bida tergagap, "Maaf bukan maksud Bida untuk... maaf." Wajah Bida merah menahan malu.
Bu Dewi tersenyum menahan tawanya namun akhirnya tawa itu terlepas juga.
"Ibu jika tertawa seperti mas Levi. Maaf Ibu siapa? Mau mencari siapa? Ibu dan bapak sedang pergi tapi akan segera pulang."
Bida menyadari kesalahannya yang terlalu banyak bercerita kepada orang yang tidak dikenalnya.
Bu Dewi merangkul tubuh Bida yang duduk di sampingnya.
Bu Dewi meraih ponselnya lalu membuka galerynya.
Bida bingung dan gugup dengan sikap ibu tersebut. Namun sorot matanya membuat Bida merasa aman.
Aku akan memperkenalkan diriku. Maaf aku datang tiba-tiba.
"Lihat foto ini. Ini Levi, ini Lina kakaknya Levi, ini almarhum papanya Levi, ini aku mamanya levi. Artinya aku ibu mertuamu jadi panggil aku mama. Aku kesini untuk bertemu denganmu. Oh bukan hanya bertemu denganmu. Aku akan menemui orang tuamu juga lalu minta ijin orangtuamu untuk membawamu ke Levi."
Tadinya kedatanganku karena penasaran denganmu. Aku pikir jika Levi sangat mencintai kekasihnya maka aku akan merestuinya. Tapi setelah mengetahui kenyataan bahwa Levi sudah menikah Aku tidak akan ragu lagi. Aku cukup kesepian, aku perlu anggota keluarga baru. Aku sudah merestui kalian, aku ingat di telfon Levi sudah meminta restuku. Tapi aku baru tahu ternyata Levi minta restu untuk menikahi anak ingusan.
"Oh" Bida menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia menatap ibu yang sedang memeluknya. Bida mencoba meyakinkan apa yang didengarnya.
"Benarkah ibu adalah mamanya mas Levi?
"Ha ha ha... kamu lucu. Pantas saja Levi sangat tertarik padamu." Bu Dewi membelai kepala Bida.
"Levi sedang di rumah sakit sekarang, apa kamu tidak mau menemuinya?" Bu Dewi mencoba menerka reaksi Bida.
"Mas Levi kenapa bu? Mas Levi sakit apa? Ayo kita berangkat. Bida akan ganti baju. Setelah bapak dan ibu datang, Bida akan minta ijin." Bida bergegas turun dari tempat tidur lalu menyambar tasnya.
"Ibu dan bapak lama sekali. Mungkin lebih baik Bida menjemput ibu di rumah Pak Ridwan." Wajah Bida tampak cemas.
Sedangkan bu Dewi tersenyum bahagia melihat Bida yang terlihat sangat mencemaskan Levi.
Terdengar langkah kaki di luar kamar. Bida langsung menuju pintu kamar. Bu Dewi turun dari kasur lalu mengikuti Bida.
Itu pasti bapak atau ibu.
Bida membuka pintu kamar.
Bapak baru akan mengetuk pintu kamar Bida. Bapak kaget melihat ada orang asing di kamar Bida.
Bu Joko datang memasuki rumah lalu bertanya kepada Pak Joko, "Mobil siapa itu pak? Ada sopirnya juga."
Pak Joko masih diam menunggu tanggapan Bida.
Sedangkan Bida dan Bu Dewi masih di dalam kamar dengan pintu terbuka sehingga bu Joko tidak melihatnya.
__ADS_1
Bu Joko tiba di samping Pak Joko, lalu mengikuti pandangan Pak Joko. "Siapa pak?" Bu Joko menyenggol pelan lengan pak Joko dengam tangannya.
Bu Dewi merangkul bahu Bida dengan tangan kirinya menyalami Bu Joko.
"Mohon maaf jika kedatangan saya membuat kaget semuanya. Perkenalkan saya Bu Dewi mamanya Levi Braveano." Bu Dewi menurunkan tangannya dari bahu Bida lalu membungkukkan kepalanya sedikit.
"Maaf saya tidak memberi kabar sebelumnya."
Pak Joko dan Bu Joko saling berpandangan lalu kompak berkata, "Nak Levi yang .... "
"Ya. Saya mamanya Levi Braveano yang pernah KKN di desa ini dan tinggal di sini. Terima kasih sudah mengijinkan Levi tinggal disini. Apakah tidak sebaiknya kita duduk bersama?"
Pak Joko dan Bu Joko tampak terkejut hingga tidak bisa berkata apa-apa kemudian...
"Ya, mari silahkan kita berbicara di ruang tengah saja." Pak Joko mempersilahkan lalu menuju ruang tengah. Bu Joko mengikuti Pak Joko. Bu Dewi kembali merangkul Bida, mengajak Bida mengikuti Pak Joko dan Bu Joko.
Bu Dewi menatap ruang makan minimalis yang terlihat dari ruang tengah.
"Itu hasil desain nak Levi." Pak Joko menjelaskan dengan gugup
"Bida sudah menceritakan semuanya tadi." Bu Dewi masih memandangi wajah Bida.
Pak Joko menghela nafas panjang
Ini pasti benar mamanya Levi wajahnya juga mirip. Apa yang harus aku katakan tentang pernikahan Bida? Aku telah menikahkan anaknya dengan Bida tanpa ijin dari mamanya. Saat itu situasi kacau. Aku tidak sempat berpikir panjang. Bagiku harga diri Bida saat itu jadi taruhannya.
"Nak Levi anak yang baik. Ia sangat perhatian kepada Bida hingga ada suatu kecelakaan tak terduga, atas desakan seseorang berkaitan dengan adat desa kami, membuat nak Levi harus bertanggung jawab untuk ..." Pak Joko menghentikan kalimatnya lalu mengusap keringat di wajahnya.
"Lalu Bida dan Levi menikah begitu kan? Sedangkan Levi masih menyembunyikan kenyataan ini dari saya. Levi selalu bilang belum saatnya untuk mengenalkan kekasihnya. Saya tidak menyangka ternyata Levi menikah dengan anak di bawah umur."
Pak Joko tidak berani mandang bu Dewi. Pandangannya ke arah Bida.
"Maaf saya telah menikahkan putra ibu dengan Bida putri saya tanpa konfirmasi."
Pak Joko akhirmya memberanikan diri mengatakannya kepada Bu Dewi.
"Pak, saya sebagai mamanya Levi sangat menghargai kepercayaan Bapak terhadap anak saya. Justru saya harusnya mohon maaf karena tidak memperkenalkan diri saya sejak awal. Bapak pasti sangat mengkhawatirkan Bida selama ini atas ketidakpastian dari pihak keluarga kami. Bukankah sudah 2 tahun Levi tidak pernah berkunjung untuk menemui Bida."
"Bapak, ibu, ijinkan Bida ikut bersama mamanya mas Levi. Mas Levi sedang di rumah sakit bu." Bida mengatakan penuh harap agar bapak dan ibunya mengijinkannya pergi.
"Nak Levi sakit apa bu?" Bu Joko bertanya kepada Bu Dewi.
"Oh hanya kecapekan saja, jadi Levi harus istirahat. Nanti jika bapak ibu mengijinkan, pulangnya Levi akan mengantar Bida. Apakah bapak ibu tidak percaya kepada saya? Saya akan meninggalkan identitas saya kepada bapak."
"Saya percaya... Bida sudah libur?" Pak Joko bertanya kepada Bida.
Bida menganggukkan kepalanya.
"Bagus sekali. Jika begitu saya pamit. Bida akan ikut bersama saya."
"Tapi mengapa terburu-buru, saya akan membuatkan teh untuk ibu." Bu Joko menawarkan.
"Ibu... mas Levi sakit bu. Bida ingin segera menemui mas Levi." Bida merengek tidak sabar.
__ADS_1
Bu Dewi tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ia merasakan apa yang dirasakan Mira yaitu ketika kita merasa dibela melebihi ibunya sendiri.