
****
Levi menatap Bida yang sedang tertidur pulas. Levi sangat menyayangj Bida dan merasa dirinya egois. Bida pasti sangat lelah karena ulahnya. Terbayang wajah Pak Joko dan Bu Joko.
Aku tidak boleh seperti ini, aku tidak ingin mendominasinya. Aku ingin Bida datang padaku penuh kesiapan. Aku tidak boleh memberi kesan sedikit memaksanya dan mencuranginya. Mama benar, tamparan keras mama tidak sebanding dengan kesakitan
Bida.
*Aku harus lebih bersabar. Aku ingin semuanya alami. Diana pasti tidak akan luput dari Tante Mira dan mama.
Mama sangatlah keren. Aku tidak percaya mama sangat menyayangiku sampai sebesar itu. Mama telah berangkat sendiri untuk menemukan Bida dan merestui hubunganku dengan Bida.
Takdir merupakan keputusan terbaik. Siapa sangka lewat racauanku ketika dalam kondisi fly membuat mama berkeras menemukan Bida. Mama bahkan berhasil membawa Bida ke hadapanku.
Pak Joko dan Bu Joko sudah dengan ikhlas mengijinkan mama membawa anak semata wayang yang sangat disayanginya.
Mama, Pak Joko, dan Bu Joko sangat memepercayaiku. Terutama Bida, dengan kepolosannya telah menyerahkan jiwa dan raganya untukku.
Rasanya ingin sekali aku bersimpuh di hadapan Pak Joko dan Bu Joko agar mereka bisa menamparku keras-keras seperti yang mama lakukan. Karena aku terlalu egois dengan hasratku. Tapi aku benar-benar tidak tahu keberadaan Bida yang sebenarnya. Aku sangat bodoh mengira Bida adalah ilusiku.
Ketika aku menyadarinya, setelah dua tamparan mama. Aku justru terlena dengan keindahan Bida. Tapi harusnya aku lebih sabar. Mama benar, aku harus segera melegalkan pernikahan ini.
Aku tidak ingin menundanya, aku harus bertahan. Aku tidak berjanji untuk tidak menyentuhnya. Tapi setidaknya, aku akan memberinya ruang untuk melangkah menghampiriku selangkah demi selangkah. Bukan mencengkramnya dengan buas seperti sekarang. Bida bagaikan kelinci kecil yang pasrah dengan serangan harimau yang bersiap menerkamnya*.
"Mas Levi... Mikir apa?"
Bida terbangun, ia kemudian duduk meraih tanganku dan mencium punggung tanganku.
"Mas aku sangat mencintaimu. Apakah mas Levi mau jadi pacarku?" Bida tersipu ketika mengatakan itu.
"Kita sudah menikah Bida. Kita suami istri sejak 2 tahun lalu." Aku membelai rambutnya yang panjang.
"Ya. Tapi Bida ingin kita pacaran dulu seperti di drama korea romantis lalu setelah menikah resmi barulah kita jadi suami istri sebenarnya. Ituku sakit sekali mas. Aku agak takut melakukan itu. Jika mas Levi bisa, tolong pelan-pelan. Bida tertunduk, wajahnya merah karena menahan malu."
Levi naik ke tempat tidur dan mendekap tubuh Bida. Levi mengecup kening Bida.
Seandainya Bida tahu kejadian dengan Diana dan pengaruh obat itu karena aku tidak melakukan pelampiasan. Aku hanya menenggelamkan tubuhku di bathup dengan air dingin. Seandainya mama cerita yang sesungguhnya bahwa Bidadariku sudah didatangkan di kamarku. Aku pasti menjaganya sebaik mungkin. Bida tidak boleh tahu tentang Diana dan kekejiannya kepadaku. Tidak boleh.
__ADS_1
"Maafkan mas Levi Bida... maaf"
"Mengapa mas Levi minta maaf. Itu kan hak mas Levi. Bida hanya kaget dan belum siap saja."
Aku semakin merasa rendah dengan ketulusan Bida.
"Tidurlah Bida, besok kita temui Bapak dan Ibu. Kita akan urus pencatatan pernikahan kita secara resmi. Kita juga harus sampaikan rencana pernikahan kita."
"Jangan bilang ibu dan bapak jika kita sudah melakukan itu mas. Bida takut mas. Mama saja seperti marah kepada kita."
Levi mencium bibir Bida, ********** sebentar lalu menghentikan aksinya sebelum semakin menjadi. Levi bangkit dari tempat tidur.
"Mama tidak marah kepada kita. Mama kesal kepada Levi karena .... "
Levi menghentikan ucapannya. Levi bingung mau berkata apa.
"Istirahatlah, mas Levi mau olah raga dulu ya. Mas Levi akan push up. Bida tidur saja. Besok kita pulang."
"Loh kok push up malam-malam mas. Kenapa? Bida temani ya."
Bida berdiri di samping Levi yang sedang telungkup bertumpu demgan tangannya, Bida sedang menggunakan gaun tidur hasil jahitannya sendiri. Bagian roknya yang lebar membuat Levi bisa melihat ke arah Paha Bida ketika mendongak ke atas.
"Ya mas. Jangan marah, Bida tunggu di kamar ya." Bida melangkah melewati Levi yang masih telungkup sambil mendongak ke atas.
Saat melangkah melewati Levi. Justru mata Levi menangkap benda segitiga warna putih di atasnya.
"Jangan menunggu mas Levi. Cepat tidur. Pakai selimutmu rapat-rapat, disini hawanya dingin."
"Ya mas. Jangan marah." Bida menoleh menganggukkan kepalanya lalu masuk ke kamar dan tidak bersuara lagi.
Hanya ada suara Levi terengah sambil menghitung gerakannya. "51, 52, 53"
*Mengapa lambaian rok Bida masih terbayang
"54, ,55, 56 , 57, 58, 59, 60*."
Tubuh Levi terkapar.di atas sofa karena kelelahan. Ia tidak berani masuk ke kamar. Karena ia sudah sangat letih. Tidak ingin push up lagi. Ia hanya ingin tidur lelap.
__ADS_1
*****
Pagi hari, Levi mencium aroma lembut sabun.
Levi membuka matanya, Bida duduk di depannya dengan penampilan segar habis mandi. Ia menggunakan setelan kulot panjang dan tunik. Rambutnya terikat ke belakang.
"Mas Levi ayo bangun, sholat dulu."
"Tadi malam Bida tidak bisa tidur lalu Bida menemani mas Levi. Bida tidur di atas karpet disamping mas Levi."
"Kamu tidur di karpet?"
"Ya. Kenapa Bida tidak membangunkan mas Levi jika tidak bisa tidur?"
"Tidak. Bida takut mas Levi marah. Apalagi mas Levi terlihat capek habis olah raga. Bida bisa pulas kok tidur di karpet. Tadi malam, tangan mas Levi terjulur ke bawah jadi tadi malam Bida tidur sambil memegang tangan mas Levi. Romantis sekali seperti di film korea." Bida tersipu, wajahnya kembali memerah.
Levi gemas melihat Bida. Ia duduk lalu menjulurkan tangannya meminta Bida mendekat.
"Kemarilah !"
Bida mendekat. Levi meraih pinggang Bida menariknya duduk di pangkuannya. lalu mendekapnya. Menenggelamkan wajahnya ke ceruk antar leher dan pundak Bida. Membuat ******* keluar dari mulut Bida.
Levi terlena lalu mengecup leher Bida. Namun ia segera tersadar. Ia mengangkat tubuh Bida meindahkannya ke sampingnya.
"Mas Levi akan mandi dulu kemudian sholat. Bida tunggu disini ya. Nanti kita sarapan di luar."
Levi beranjak menuju kamar mandi. Bida menunggunya sambil membuka galeri di Iphone nya yaitu rekaman dirinya dan Levi di hari wisuda kelulusan, petaka pohon kenanga sekaligus hari pernikahannya.
Bida merasa sangat beruntung dengan takdirnya bertemu Levi yang sangat disayanginya.
Ingin rasanya Bida memberitahu kepada semua orang bahwa Bidadari Jini adalah istrinya Levi Braveano.
Di unit apartement tempat bu Dewi tinggal
Bu Dewi dan Mira sedang berbicara serius tentang rencana resepsi pernikahan Levi dan Bida.
Sementara Diana di kamarnya. Ia sedang frustasi setelah kegagalan usahanya mendapatkan Levi. Kini ia juga kehilangan karirnya. Ia dipecat dari agen Mira. Ia berusaha menghubungi agen yang lain namun belum ada yang menerimanya. Kabar tentang kesombongan Diana dan minimnya kedisiplinannya dalam bekerja telah menjadi buah bibir di kalangan model.
__ADS_1
Tapi yang paling membuat Diana depresi adalah peristiwa ia ditarik paksa dari atas tubuh Levi dan diseret keluar oleh petugas kemanan. Beruntung Levi tidak mempidanakannya.