Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Terserah


__ADS_3

Kresek belanjaan dan kardus masih berjejer di lantai.


"Mengapa belanjaannya masih belum dibongkar?" Jodi bertanya pada Roni


"Ah, biar saja. Itu punya Bu Joko dan Bida."


"Oh, banyak banget belanjaannya. Mungkin sekalian belanja ya kan desa ini jauh dari mall" Jodi mengambil kesimpulan sendiri.


Deni dan Miki sibuk dengan laptopnya. Setiap malam mereka lembur untuk menyelesaikan laporannya.


Kerjakan yang benar ya. Aku sudah memberi peringatan pada kalian. Roni memandang iba pada kedua temannya.


Sedangkan Jodi asyik ngemil sambil bermain HP.


#Levi datang sambil menelfon


"Tante, Levi sudah mengirim alamatnya. Nanti tante kirim nomer telfonnya Ayu ya, biar aku simpan."


Levi diam medengarkan telfon.


"Sip tante. Terima kasih ya."


# Di butik Mira.


"Ayu, Levi katanya mengirimkan lokasinya."


"Iya Cin, bentar aku lihat dulu."


"Owh my God." Ayu hampir saja menjatuhkan HP nya setelah membuka HP nya.


"Mengapa Yu?"


"Jauh sekali, berarti nanti malam pulang dari acara fashion show, aku harus langsung berangkat." Ayu memegangi kepalanya.


"Sejauh apa sih, coba lihat di aplikasi waze atau google map." Mira masih sibuk menyiapkan kebaya.


"6 Jam perjalanan Cin. Bayangkan coba, acaranya wisudanya jam 9 pagi kan. Aku ndak sanggup deh sepertinya."


"Ya udah, aku juga ndak yakin, riasanmu bakal cocok dengan kebaya ini. Aku cari yang feminim tulen saja deh. Biar aku nyuruh Jeni saja."


Mira sengaja memancing karena sudah janji kepada Levi. Ayu adalah perias terbaiknya.


"Eh kok gitu sih Cin.... Ok dah aku akan usahakan yang terbaik. Pak Tomo ngantar aku kan?"


"Ya, aku juga akan kasih kamu bonus jika Levi suka hasil kerjamu."


"Mantab Cin."


*****


Ayu tidur di bangku tengah mobil alpard milik Mira. Pak Tomo akan membangunkan Ayu jika sudah keluar pintu tol kota P**********


Pak Tomo sudah biasa bepergian jarak jauh. Saat ada waktu istirahat, ia akan tidur pulas untuk menjaga staminanya.


"Ayu... Kita sudah keluar Tol. Gimana nih ke arah mana?"

__ADS_1


"Mmmh ngantuk aku... "Ayu mengambil HP nya lalu membuka lokasi yang dikirim Levi.


"Nih Pak, taruh situ. Jika sampai, bangunkan aku lagi." Ayu kembali merebahkan tubuhnya.


"Pak Tomo mengikuti petunjuk dari HP Ayu."


Satu jam kemudian, ada semburat cahaya merah dari arah timur tanda fajar akan segera tiba.


"Ayu... jalannya sepi banget, bener nih aplikasinya. Kok serem banget. Rumahnya jarang-jarang lagi."


Ayu tidak merespon, masih asyik tertidur pulas.


"Ayu... pasti salah nih, masa kita melewati kuburan seluas ini?"


Ayu setengah sadar antara tidur dan terjaga karena jalan bergelombang yang mendengar kata kuburan jadi lebay. Ayu bangun duduk, merapikan rambut panjangnya lalu menoleh ke kiri.


"Ha aaaa..... kuburan Pak. Mengapa kita ke kuburan. Kita masih hidup kan Pak? Ini masih Alpard kan bukan keranda kan Pak?" Ayu tampak syok.... Ia menepuk nepuk pipinya sendiri.


"Saya mengikuti petunjuk HP ini kok."


"Bawa sini HPnya pak !"


"Ini..." Pak Tomo meyerahkan HP nya.


"Benar ini Pak, seratus meter lagi sampai. Aku telfon Levi aja deh." Jari lentik Ayu gemetar memegang HP.


"Kok ndak diangkat sih?" Ayu sudah bernafas lega karena sudah melewati kuburan, sekarang sudah tampak beberapa rumah penduduknya yang berjarak lumayan jauh tiap rumahnya karena pekarangan sekitarnya sangat luas.


"Stop Pak. Kita sudah sampai di lokasi tujuan." Ayu masih fokus dengan HP nya.


Aroma bunga kenanga menusuk hidung memenuhi bagian dalam mobil.


"Bau bunga kenanga Pak, kita dimana? Ayu memejamkan matanya karena takut"


"Loh kan tadi Ayu yang minta saya berhenti, katanya sudah sampai."


Ayu perlahan membuka matanya lalu membuka jendela mobil di sampingnya, tampak pohon kenanga yang tumbuh tegak dan tampak angker dengan bunga kenanga berserakan di bawahnya.


"Pak Tomo... Ayu takut. Ayu mencengkram bahu Pak Tomo. dari belakang." Pak Tomo yang tadi sedang melamun kaget hingga teriak


"Aaa..." Teriakan Pak Tomo disusul teriakan Ayu "Aaa.."


Mentari pagi muncul membuat suasana remang-remang. Ayu memberanikan diri mengedarkan pandangannya.


"O Benar Pak, ini tempatnya. Itu kan mobilnya Mas Levi. Ayu hafal itu Suzuki Terrano kan, Ayu ikut di acara ultahnya mas Levi dulu." Ayu keluar dari mobil dengan wajah ceria.


"Ayu akan telfon Mas Levi."


"Hallo, mas Levi... Ayu sudah sampai nih. Jauh banget sih rumahnya? Ayu capek lapar, kebelet pipis."


"Eh iya Yu. Sebentar ya." Levi bergegas menuju halaman. Bida sedang menyiapkan sarapan. Di rumah Pak Joko, Levi dan teman-temannya biasa bangun setelah adzan. Jika Pak Joko dan Bu Joko selalu bangun jam set 4 pagi, Bida juga akan selalu menyusul bangun jika tidak, maka Bu Joko akan membangunkannya. Jam 5 pagi, sarapan sudah siap.


"Mas Levi,... Ayu kangen." Ayu langsung mendekat ke Levi tapi hanya sebatas salaman tangan karena Levi tidak suka dipeluk. Levi mau salaman dengan Ayu dan Diana sebagi temannya. Levi selalu selektif tidak mau salaman dengan wanita sembarangan meskipun wanita itu cantik selangit.


"Masukkan mobilnya. Parkir di sebelah sini saja, karena kata Pak Joko nanti ada acara di halaman."

__ADS_1


"Pak Joko itu siapa sih mas?" Ayu bertanya dengan suara endelnya (endel \= sok cantik)


"Nama pemilik rumah ini. Aku sedang KKN dan menumpang tinggal di rumahnya."


"Oh gitu. Terus siapa yang mau dirias mas?"


"Ayo masuk, kamu cerewet banget."


"Ah mas Levi gitu..."


"Pak Tomo bawa semua perlengkapanku dengan hati-hati."


Di ruang makan, semua sudah duduk untuk sarapan.


"Maaf Pak Joko, kenalkan ini Ayu, yang akan merias Bida. Semua mata menatap Ayu."


"Selamat pagi semuanya... kok Ayu tidak diajak sarapan. Ayu lapar banget, tapi permisi mau numpang pipis dulu, toiletnya dimana ya?"


"Di situ" Bida menunjuk pintu kamar mandi yang tampak dari ruang makan tapi letaknya di ujung ruang tengah yang luas.


"Mas Levi, anterin dong. Ayu takut."


"Biar saya yang antar. Mas Levi silahkan sarapan dulu." Bida bangkit mendatangi si cantik Ayu yang berbadan kekar.


"Kamu yang mau dirias ya? Cantik banget mirip artis India Pretty Shinta."


Bida tersenyum berjalan ke arah kamar mandi diikuti Ayu.


"Silahkan, saya tunggu di sini ya."


"Ya. Tuh kan ada lesung pipitnya juga."


Pantesan mas Levi lebih suka yang ini. Jauh lebih cantik sih dibanding Diana.


Setelah dari kamar mandi, Ayu ikut sarapan bersama yang lain. Pak Tomo ketiduran di sofa ruang tengah.


"Bentar lagi, Pak Tomo sarapan juga ya mas Levi. Sekarang biarkan tidur kasihan. Bayangkan saja, kita berangkat jam 11 malam dari Surabaya."


"Surabaya ?" Bu Joko mengerutkan alisnya.


"Iya, saya dari Surabaya. Jauh-Jauh datang buat merias Cantik ini." Ayu mencolek dagu Bida. Bida merasa risih...yang lain tersenyum.


"Bapak tidak bisa ikut ya, biar ibu saja yang menemani. Nanti Pak Kepala desa ingin mengadakan acara di halaman rumah kita." Bapak menggenggam tangan Bida


"Ya pak."


"Ayo cepetan makannya Cantik. Siapa namanya sih?"


"Bida. Namanya Bidadari." Levi menjawab dengan tatapan manis ke arah Bida


"Ah mas Levi segitunya deh. Ayu ndak percaya, mas levi segitu cintanya sampai manggil dengan sebutan Bidadari."


Bida tersedak mendengar perkataan Ayu.


"Terserah kamu." Levi seperti tanpa sadar akan penggunaan kata cinta oleh Ayu karena tadi sibuk memandang Bida dan sekarang sedang tergopoh mengambilkan minum buat Bida.

__ADS_1


__ADS_2