
"Bu sudah 7 hari kita disini, Kakek tampaknya sudah membaik. Kita jadi pulang besok kan?"
"Kita tunggu besok, jika bapak datang menjemput kita akan pulang." Bu Joko menenangkan Bida.
"Bida ingin cepat pulang bu."
"Ya, ibu juga ingin pulang. Tidak ada yang mengganggumu kan?" Ibu tampak cemas.
Bida menggeleng, tidak ingin membuat ibunya cemas.
Bida ingin segera pulang. Bida tidak kerasan di rumah kakek. Meskipun Bida merasa aman ada nenek dan bibi mendampinginya. Namun mengajak mereka juga tidak melegakan 100%. Kedatangan Nenek dan bibi justru mengundang beberapa makhluk halus lainnya . Seperti saat ini, ada 2 bocah botak bermata belok, matanya lebar dan menonjol keluar. Mereka suka bercanda dengan bibi. Tawa mereka memekakkan telinga Bida.
Ada juga kakek tua berjenggot putih yang selalu mengajak nenek mengobrol menceritakan cucunya yang berjumlah 70 orang.
Bida merasa bising dengan suara mereka. Pernah Bida menyuruh nenek dan Bibi agar menemui kenalan mereka di halaman belakang saja.
Bida ingin tidur nyenyak tanpa gangguan. Baru saja Bida memejamkan mata, ada angin berdesir lembut membuatnya merinding. Bida mencoba mengabaikannya. Namun suara berdesis mengganggu telinganya. Ketika Bida membuka mata. Bida terbelalak kaget, hingga tidak mampu mengeluarkan suaranya, sosok berbaju hitam tanpa badan, seolah sebuah baju yang melayang namun menunjukkan bentuk tubuh tanpa wujud memegang tongkat. Ujung tongkatnya berupa tiga kepala ular Cobra yang menjulurkan lidahnya dan berdesis sssh sssh sssh
Sosok itu mengarahkan ujung tongkatnya ke kaki Bida. Bida sangat ketakutan, namun tidak mampu mengeluarkan suara. Bida ingin sekali memanggil nenek dan bibi. Namun tenggorokannya seperti tercekat. Ada asap hitam di lehernya. Bida merasa lehernya tercekik, Bida memejamkan mata sambil berdoa. Terdengar suara rintihan, aaaaaaaa Bida memberanikan membuka matanya ketika lehernya terasa bebas dari cekikan. Hantu pohon bambu tengah meremas leher ketiga ular itu, hingga lidah ketiga ular itu terjulur kaku tidak terdengar suara desisan. Kemudian hantu bambu itu membawa sosok yang hanya tampak bajunya itu dengan cara menenteng ketiga leher kepala ular itu keluar rumah menembus dinding.
Bida bernafas lega... nenek dan bibi segera datang menemui Bida untuk menanyakan keadaannya.
Di luar kamar sangat bising. Bida memberanikan diri mengintip dari jendela dengan menyingkap kain gorden, Bida menutup mulutnya. Melihat hantu bambu, dengan mata menyala, taringnya panjang runcing mengkilat dan bulu tebal di sekujur tubuhnya seperti menghajar sesuatu yang tidak tampak, suara erangan hantu bambu yang mirip Wowo itu seperti harimau yang menerkam mangsa, kain baju sosok yang membawa tongkat tadi sobek compang camping. Tongkatnya tergeletak dengan kepala ular yang sudah tidak bergerak. Kakek tua dan dua bocah yang sering bersama nenek tertunduk diam.
Krompyang... terdengar suara benda jatuh.
Ibu bergegas menuju kamar kakek. Nenek yang sedang di kamar mandi segera menyelesaikan hajatnya lalu tergopoh mendatangi kamar suaminya.
Bida juga ikut masuk ke kamar kakeknya. "Ada apa pak? Bapak haus ya?" Nenek Bida memungut gelas stainles yang jatuh mengggelinding di lantai. Air tergenang di lantai. Bida segera mengambil lap di dapur lalu mengelapnya. Ibu dan nenek sedang mendampingi kakek. Nenek Bida menyuapi kakek dengan air menggunakan sendok.
Bulir-bulir keringat menghiasi kening kakek. Kemudian Bida melihat sosok besar sekali hingga menutupi pandangannya. Kakek, nenek, dan ibu terhalang sosok itu. Tubuh Bida gemetar, nenek dan bibi tidak terlihat. Sosok itu seperti melakukan gerakan mencabut sesuatu lalu melesat pergi. Nenek menangis tersedu. Ibu memanggil manggil kakek. "Pak, Bapak, bangunlah..."
Bida akhirnya memahami bahwa kakeknya sudah meninggal dunia.
__ADS_1
*****
Sore hari, setelah pemakaman.
Pak Joko datang, ia melihat bendera putih yang diletakkan di halaman rumah.
Bu Joko menyambutnya sambil menangis. Pak Joko mendekap ibu. Membiarkan ibunya menangis di dadanya.
"Sabar bu, ikhlaskan... " Bapak mengusap punggung ibu.
Bida ikut terharu melihat ibu dan bapak.
Bapak mengajak ibu duduk setelah ibu tenang. Bapak menyalami nenek Bida yang tampak sangat sedih.
"Joko... ijinkan istrimu dan Bida menemaniku hingga hari ke tujuh. Setelah itu, jemputlah mereka. Aku tidak ingin sendirian saat ini."
Pak Joko menatap wajah istrinya lalu menganggukan kepalanya.
Bida langsung masuk ke dalam kamar, menelungkupkan badannya. Menangus tertahan di atas bantal.
Bapak mendekati Bida. "Bida, tidak keberatan kan menemani ibu disini?"
Bida menggeleng namun air matanya meluncur turun melewati pipinya.
Bapak tahu, apa yang kamu rasakan. Bapak kan juga pernah muda. Terkadang kita harus mengambil keputusan sulit.
"Bida, bapak akan kembali ke Surabaya namun bapak akan mampir rumah dulu, jika Bida ada pesan yang ingin disampaikan kepada nak Levi. Bapak akan sampaikan. Bida bisa menulis surat jika Bida malu menyampaikan kepada Bapak." Bida tersenyum malu namun air matanya meluncur turun. Bida sangat senang namun juga merasa malu.
"Bida hanya ingin Bapak meminta mas Levi agar menunggu Bida kembali sebelum pergi ke ******." Bida sangat malu, tidak berani menatap bapaknya.
"Bapak menyampaikan kepada nak Levi bahwa bapak yang meminta atau Bida yang meminta agar nak Levi menunggu Bida?" Pak Joko menggoda Bida. Pak Joko yakin bahwa rehap rumahnya belum selesai saat ini dan tidak mungkin Levi meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Entah apa yang membuatku yakin dan percaya kepada Levi. Mungkin raut bahagia yang terpancar di wajah Bida sejak kehadirannya yang membuatku sangat percaya. Pak Muhit mentertawanku saat aku menyerahkan uang penjualan sapi ke rekening Levi. Pak Muhit juga menganggapku cukup ceroboh membiarkan akad nikah itu terjadi. Pak Muhit adalah pendatang yang tidak mau tahu tentang kebiasaan adat Desa. Pak Muhit menyampaikan, " Jika aku di posisimu, aku tidak hanya akan menampar tetanggamu yang bernama Sulis itu, aku akan mengelas mulutnya. Aku tidak akan menikahkan anakku yang masih akan masuk SMK dengan laki-laki yang bahkan tidak aku ketahui siapa orang tua dan alamatnya."
__ADS_1
Pak Joko sering merasa Pak Muhit benar dan menyalahkan dirinya sendiri. Namun setiap melihat binar wajah Bida di samping Levi, membuatnya kembali yakin atas takdir yang sudah terukir antara Bida dan Levi.
Pak Joko hanya berharap, Levi menepati janjinya untuk membiarkan Bida tetap sekolah dan menjemputnya nanti.
Bu Joko memberi isyarat kepada bapak agar mengikuti bu Joko masuk ke dalam kamar lain.
"Pak, bawalah Bida. Aku sendirian saja menemani ibu." Pak Joko memandang ibu curiga.
"Apakah Bida diganggu makhluk halus?" Pak Joko bertanya pelan.
"Aku yakin ya. Bida hanya tidak ingin membuatku cemas. Malam ketika kakeknya meninggal, badan Bida gemetar dan hampir tidak kuasa menahan tubuhnya. Ia juga sering menatap sesuatu dengan raut wajah ketakutan. Aku mohon pak, bawalah Bida pulang."
"Tapi bapak masih harus ke Surabaya bu hingga minggu depan. Bida akan sendirian di rumah."
"Bida tidak sendirian, ada Levi di rumah."
"Bu, apakah ibu tidak khawatir meninggalkan Bida dengan Levi?" Bapak menatap ibu lekat
Ibu tampak frustasi namun ibu kembali mengubah rona wajahnya. "Bapak pilih mana? Bida bersama suaminya yang sah secara agama atau Bida celaka karena ulah makhluk halus? Tadi aku mengantar bapakku yang terbujur kaku, aku tidak akan sanggup melihat jika Bida ... "
"Bu !" Pak Joko sedikit membentak Bu Joko yang membuatnya terisak.
"Maafkan bapak bu. Bapak tidak bermaksud membentakmu." Pak Joko merengkuh kepala istrinya ke dadanya.
"Aku yang mengandungnya selama 9 bulan, aku yang melahirkannya. Bagiku keselamatan Bida yang terpenting. Aku tidak peduli yang lain."
Bu Joko melepaskan diri dari pelukan Pak Joko. Bahkan Bu Joko mendorong tubuh Pak Joko keras dengan sorot mata tajam.
Pak Joko sangat terkejut, belum pernah ia melihat istrinya semarah ini.
Pak Joko teringat akan tausiyah Pak Soleh. "Jika kita beriman maka kita tidak akan meragukan apa yang sudah ditetapkan Allah. Apa yang ditakutkannya? Apakah ia takut" suami Bida yang sudah membayar maharnya dan mengucapkan ijab kabul menuntut haknya?
Jawabannya iya. Sebenarnya Pak Joko ingin Bida lulus sekolah SMK sebelum menikah.
__ADS_1
Namun kenyataan bahwa ijab kabul itu sudah terjadi secara sah secara agama.