
Levi menuju ruang makan. Sedangkan Roni baru saja duduk. Wajah Levi tampak gugup terutama ketika melihat Bu Joko dan Bu Joko. Levi seperti menghindari tatapan mereka.
"Maliiiiing....... Maliiiiing..... "
Semua terdiam, berusaha menyimak lagi
"Maliiiing...... Maliiiing..... Sapiku hilang."
"Itu suara bu Sulis dan Gatot." Pak Joko berdiri lalu setengah berlari ke belakang, Bu Joko, Levi dan teman-temannya mengikuti Pak Joko. Pak Joko membuka pintu belakang lalu menuju kandang sapinya. Tampak sepasang sapi Pak Joko sedang terikat di luar kandang. Pak Joko memasuki kandang, 2 sapinya yang lain masih ada di dalam kandang.
Tampak beberapa tetangga mendatangi rumah Bu Sulis. Bida juga keluar rumah setelah dari kamar mandi.
Levi menghadang Bida. "Bida kamu keluar darah banyak. Apakah itu sakit? meski pelan, Roni yang berada tidak jauh dari Levi, mendengar pertanyaan Levi kepada Bida.
"Tidak mas. Aku tidak apa-apa." Bida juga menjawab pelan.
Roni tidak menyangka jika hubungan Levi dan Bida sampai sejauh itu. Roni kecewa dengan sikap Levi yang mendekati Bida yang masih belum cukup umur.
"Mengapa sapi kita ada di luar ya bu? Bapak belum mengeluarkannya." Pak Joko heran. Lalu Pak Joko menuju rumah Bu Sulis diikuti yang lain. Bida juga akan mengikuti tapi tangannya ditahan Levi.
"Istirahatlah, ini urusan laki-laki." Levi melepaskan pegangan tangannya.
Roni memperhatikannya.
Jadi benar ini alasanmu melarang orang lain mendekati Bida. Kamu ternyata tidak sebaik yang ku kira.
"Bida... kamu diam di rumah saja." Pak Joko memperingatkan Bida.
"Ya. Pak." Bida kembali masuk ke rumahnya.
# Di rumah Bu Sulis
Hwa......a....a.... Bu Sulis menangis seperti anak-anak.
"Sapiku satu-satunya hilang. Sapiku sedang bunting sekarang hilang."
"Aku sudah merantai kandang, aku juga tidur disini. Tapi begitu aku bangun, sapiku sudah hilang." Gatot juga tak kalah histeris dengan ibunya.
"Harusnya maling itu mencuri sapinya Pak Joko saja, meski dicuri 3 kan masih ada 1. Pak Joko kan punya sapi 4. Mengapa harus melirik sapiku yang cuma satu-satunya."
Hwa.. aaa...aaa Bu Joko masih menangis, suara tetangga yang menghiburnya tidak ia gubris sama sekali.
"Dasar maling bodoh ! Ada sapi banyak di kandang sapinya Pak Joko. Mengapa harus mengambil sapiku."
Pak Joko bingung mau berkata apa dengan omelan Bu Sulis.
__ADS_1
"Pak Joko, aku yakin. Pak Joko hanya menunggu giliran saja, pasti maling itu sudah melirik sapi-sapinya Pak Joko. Nanti malam atau besok pasti mereka kembali untuk mengambil sapinya Pak Joko."
"Mungkin Bu Sulis benar pak. Hari ini saja sapi kita sudah ada di luar. Mungkin mobil maling itu tidak muat mau membawa sapi kita juga." Bu Joko berkata kepada Pak Joko.
"Jadi sapi Pak Joko sudah dikeluarkan dari kandangnya?" Bu Sulis bertanya.
"Ya bu."
"Desa kita tidak aman. Pak Kepala Desa harus bertanggung jawab." Bu Sulis sinis melihat Pak Kepala Desa mendatangi rumahnya.
"Ini tidak adil. Harusnya Pak Joko yang kemalingan bukan saya." Bu Sulis mengadu kepada para tetangga yang datang.
Bida datang tergopoh-gopoh hingga kakinya tersandung semak liar di pekarangan.
"Bapak, ada orang mencari bapak katanya pedagang sapi. Bida kan sendirian di rumah. Mereka 3 orang laki-laki bertubuh besar."
Levi yang mendengarnya langsung, mendatangi Bida.
"Baiklah, maaf Bu Sulis, saya permisi"
Pak Joko berpamitan tapi Bu Sulis melengos.
"Ayo kita pulang." Levi mengajak Bida.
"Pulanglah Bida, ibu akan segera menyusul."
Bida berjalan agak terseok. Roni memperhatikannya. Bida kembali tersandung semak. Levi langsung memegangi tangannya. Bu Sulis melirik tajam ke arah Bida dan Levi.
#Di rumah Pak Joko.
"Baiklah Pak Joko, saya akan transfer uangnya sekarang. Saya akan bawa langsung sapinya, saya sudah membawa kendaraan." Pembeli sapi Pak Joko sangat tertarik dengan sapi Pak Joko. Sedangkan Pak Joko kuatir sapinya keburu diambil maling seperti yang dikatakan Bu Sulis. Pak Joko mantab menjual tanpa menyebut harga jualnya. Pak Joko menyerahkan harganya kepada pembeli. Pak Joko hanya bilang, "silahkan dibeli dengan harga pantas menurut bapak."
"Ya. Pak. Tapi bagaimana saya tahu jika uangnya sudah masuk ke rekening saya? sementara Bapak akan membawa sapi saya."
"Cek saja di M Banking bapak."
"M Banking ? Maaf saya tidak tahu itu. HP saya HP tat ti tut." Pak Joko bingung sendiri
"Maaf Pak, saya ada M Banking. Jika pak Joko percaya saya, Bapak transfer ke rekening saya saja. Nanti akan saya transfer ke rekening Pak Joko." Levi mengusulkan.
"Ya. Pak. Ini sudah seperti anak saya. Namanya Levi." Pak Joko memperkenalkan Levi ke pembeli sapinya.
"Baiklah. Silahkan kirim no rekeningnya ke saya. Silahkan sebutkan no HPmu agar saya miscall" Pembeli itu membuka HPnya.
Levi mendiktekan no HP nya lalu terdengar dering HP nya. Levi mengirimkan no rekeningnya.
__ADS_1
"Levi, saya kirim 50 juta ya untuk harga 2 ekor sapi."
"Terima kasih Pak." Pak Joko tersenyum, tidak mengira jika sapinya terjual 25 juta per ekor.
Ting HP Levi berbunyi. "Baik Pak, uangnya sudah masuk rekening saya."
"Baiklah," pak pembeli itu memberi kode kepada 2 orang pembantunya yang berdiri menungu.
"Saya permisi dulu terima kasih pak." Pembeli itu meninggalkan rumah Pak Joko
"Pak Joko, besok kita bisa ke bank jika bapak ingin mendapat uang cash."
"Tidak usah nak Levi. Biarkan uang itu di rekening nak Levi. Nak Levi masih mau kan mengurus kamar mandi Bida?"
"Tentu saja pak. Saya akan buat sebagus mungkin buat Bida. Tapi mungkin tidak bisa secepatnya karena saya harus menyelesaikan tugas KKN saya. Jika bapak berkenan, saya mungkin masih tinggal di sini untuk mengurus kamar mandi Bida. Saya usahakan membangunnya dengan cepat."
Levi menatap Bida lama, Bida jadi tersipu malu. Pak Joko memperhatikan mereka dengan seksama.
Bu Joko datang, memasuki rumah.
"Bagaimana pak, laku berapa sapinya?"
" Sudah bu. Laku 50 juta."
"Alhamdulillah... hati-hati menyimpan uangnya pak. Banyak maling."
"Uangnya sudah ada di nak Levi bu untuk membangun kamar mandi Bida."
"Oh. Nak Levi simpan baik-baik uangnya. Banyak maling."
"Bu, jangan khawatir. Uangnya aman di rekening saya."
"Loh kapan nak Levi pergi ke Bank ? Kok cepat baliknya? Naik apa?"
"Bu, mas Levi tidak ke bank, uangnya dikirim lewat aplikasi dari HP." Bida menjelaskan.
"Ooh tapi ibu tidak paham. Terserahlah."
Bida, Levi dan Pak Joko tertawa bersama. Sementara Roni dan yang lain sedang membicarakan tentang maling sapi di teras rumah.
"Pak Joko, bolehkah saya ijin memparkir mobil saya di halaman, karena saya sungkan menempati garasi rumah Pak Muhit terus. Maaf jika bapak tidak berkenan tidak apa-apa."
"Tentu saja bapak ndak keberatan, tapi bapak kuatir kejatuhan ranting pohon nanti mobilnya rusak."
"Tidak apa-apa Pak. Mobil saya mobil tua."
__ADS_1
Levi biasa ikut ayahnya melakukan kegiatan bisnis. Ayahnya menggajinya sejak kecil. Tidak ada istilah uang jajan buat Levi. Yang ada adalah gaji. Sejak kecil Levi bekerja tanpa jabatan dari ikut memilih desain bangunan dan properti di hotelnya. Gaji yang diterimanya dari orang tuanya cukup besar. Sejak SMP, Levi sudah ikut menanam saham di bisnis keluarganya. Ketika masuk SMA, Levi sudah membeli tanah untuk tempat kos. Lulus SMA, Levi membangun rumah kos tempat Miki kos. Mobil Suzuki Terrano itu adalah hadiah dari papanya di ulang tahunnya yang ke 17 dulu.