
Wali kelas Bida masuk kelas untuk memperkenalkan diri dan mengenal anak didiknya dengan lebih dalam.
"Nama Ibu Jenita Ramadhani. Panggli saja bu Jeni ya."
Satu persatu nama siswa disebut lalu diminta berdiri di depan untuk memperkenalkan diri.
Hingga tibalah giliran nama Bida dipanggil.
"Bidadari Jini." Semua mata menunggu, mengedarkan pandangannya ke seisi kelas, termasuk bu Jeni.
Bida berdiri masih menggunakan maskernya.
Bida maju ke depan kelas, sedikit membungkuk kepada bu Jeni untuk ijin memperkenalkan diri.
"Nama saya Bidadari Jini. Jini adalah perpaduan nama orang tua saya yaitu Joko dan Rini." Bida memperkenalkan dirinya
"Loh kok pakai masker, buka dong ! Aku penasaran kamu Bidadari beneran atau palsu.!" Seorang siswa laki-laki jangkung yang duduk di pojok belakang memprovokasi teman-temannya. Hingga banyak siswa yang tertawa keras. Hanya ada 5 siswa laki-laki di kelas itu, yang 20 siswa lainnya perempuan. Seorang diantara 5 siswa laki-laki itu tampak anggun dengan gerak gemulai.
Bibi tampak melayang layang di kelas mendekati siswa laki-laki jangkung itu dan menatapnya tajam, membuat Bida cemas.
"Bida ya panggilannya. Buka maskernya sebentar. Disini tidak sedang berdebu kok. Pakai maskermu di luar kelas. Tapi jika di dalam kelas sebaiknya sering dibuka, nanti kamu kurang oksigen loh ya." bu Jeni tersenyum kepada Bida.
"Ya bu." Bida perlahan membuka maskernya lalu tersenyum.
Siswa jangkung yang menggodanya terdiam ketika melihat wajah Bida begitu pula yang lainnya.
Sesuai namanya, cantik banget. Kiraian dia jelek makanya pakai masker karena malu jika namanya Bidadari tapi jelek.
Siswa jangkung itu gagal menciptakan kegaduhan di kelasnya. Ia memang biang onar di sekolahnya dari SD.
Laki-laki yang tampak gemulai juga terpesona dengan kecantikan Bida.
Cantik banget mirip Pretty Zinta artis India favoritku. Cuma yang ini alisnya lebat, jika artis India kan kebanyakan alisnya dilukis tidak alami. Ini mah lebih cantik dari Pretty Zinta.
Seorang siswa laki-laki yang tampak jutek dan tidak ikut tertawa menatap Bida tanpa berkedip. Ia sudah memperkenalkan diri tadi. Namamya adalah Arman. Jadi seperti inikah Bidadari itu. Hidungnya mancung, matanya bolak, bulu matanya lentik, berlesung pipit, senyumnya manis sekali dengan bibir berwarna pink natural. Ia menatap Bida memindai keseluruhan dari ujung kepala hingga sepatunya. Seksi pula, mengapa seragamnya begitu pas di lekuk tubuhnya. Bukankah seragam itu disediakan sekolah.
"Cita-citanya sayang... silahkan jelaskan cita-citamu!" Bu Jeni memberi instruksi.
"Saya ingin bisa menjahit, membuka konveksi baju di rumah saya yang jadi satu dengan toko saya agar saya bisa menjadi ibu dan istri yang fokus pada keluarga." Bida mengatakannya dengan lugas.
Arman terpana melihat Bida yang sudah menjelaskan cita-citanya.
"Terima kasih. Semoga kita bisa menjadi teman baik." Bida membungkukkan kepalanya lalu kembali ke bangkunya.
Mata Arman mengikuti gerakan Bida. Memindai tubuh Bida dari arah belakangnya. Jadi teman, aku tidak mau menjadikanmu temanku. Aku akan menjadikanmu kekasihku Bida.
Bida duduk satu bangku dengan teman barunya yang bernama Rona. Rona menangkap tatapan Arman lalu tertunduk grogi.
*****
Bel pulang sekolah berbunyi, Bida merapikan buku-bukunya.
Rona mengajaknya mengobrol sambil berjalan bersisihan menuju tempat parkir.
"Bida, teman sekelas kita ada yang keren loh"
"Oh ya?" Bida sebenarnya malas menanggapinya tapi karena ia masih teman baru jadi ia sungkan jika bersikap jutek.
"Ya, yang namanya Arman tadi. Sumpah deh dia ganteng banget. Bagaimana menurutmu?"
"Menurutku tidak sama sekali." Bida menjawabnya jujur. Bagi Bida tidak ada yang tampan melebihi mas Levi.
"Bagus, karena kita kan berteman jangan sampai teman makan teman." Rona menegaskan jika ia tertarik pada Arman.
Arman tampak menunggu kedatangan Bida di parkiran, Ia ingin menanyakan alamat Bida.
Nenek tampak mengobrol dengan anak laki-laki muda tadi.
Arman mendekat ke arah Rona dan Bida.
"Bida dimana alamat rumahmu? Bolehkan aku main ke rumahmu? Arman mengedipkan matanya menggoda Bida. Rona yang terpesona dengan kedipan itu meski Arman tidak menujukan kedipam matanya kepada Rona.
__ADS_1
"Tidak boleh. Mas Levi melarangku menerima tamu laki-laki." Bida menjawab ketus tanpa menoleh ke Arman.
Sombong sekali, sepadan dengan cantiknya. Tapi aku tidak akan menyerah, justru membuatku semakin tertantang.
Bida berlalu meninggalkan Arman dan Rona. Bida mengeluarkan sepedanya, memberi isyarat kepada nenek yang masih mengobrol dengan laki-laki muda hantu agar segera mengikutinya pulang.
Arman tidak menyerah ia bergegas menuju parkiran lalu mengambil sepeda motornya bermaksud menyusul Bida.
Laki-laki muda itu dalam sekejab sudah ada di samping Arman lalu menjentikkan jarinya ke ban depan dan belakang sekaligus, cop kedua bannya terlepas bergulir di lantai parkiran lalu terdengar suara mendesis dari kedua ban sepedanya. Rona yang juga berada di parkiran melihat ke arah ban sepeda Arman.
"Ban sepedamu bocor." Rona menunjuk ban sepeda Arman.
Sial kok bisa kempes bersamaan, bocor kena apa ya? Arman memasang jagrak sepedanya lalu memeriksa bannya yang semakin empuk ketika ditekannya. Arman hanya bisa menatap kepergian Bida galau.
Besok aku akan ikuti Bida ketika pulang sekolah agar aku tahu alamatnya.
Bida mengayuh sepedanya dengan ringan karena bibi melayang menarik sepedanya.
Sampai di rumah, Bida menceritakan semua kejadian di sekolahnya.
"Bida gantilah bajumu dulu kemudian makan, setelah itu baru bercerita. Jangan datang, langsung nyerocos begini." Ibu yang sedang menyetrika baju ingin Bida makan dulu, ibu pikir Bida pasti lelah setelah mengayuh sepedanya dati sekolah.
"Ya bu. Bida ingin berendam di air dingin... pasti segar. Badan Bida rasanya lengket." Bida berlalu ke kamarnya. Bibi melesat ke atas pohon mangga di brlakang rumah.
Bida... bida jangankan kamu yang masih muda. ibu dan bapak saja suka berendam di bath up. Bahkan karena suka berebut bergantian memakai bath up kadang ibu dan bapak menggunakannya bersama.
Ibu tersenyum malu pada dirinya sendiri mengingat kegiatannya berendam bersama yang ujung-ujungnya ....
"Ah.... "
Ibu memukul kepalanya sendiri. Untunglah Bida memiliki bath up sendiri di kamarnya sehingga Bida tidak tahu tentang kejadian di bath up itu antara ibu dan bapaknya.
Bida masuk ke kamarnya mengunci pintunya. Lalu masuk ke dalam ruang ganti membuka seragamnya lalu menyiapkan bath up nya. Setelah membuat busa melimpah, Bida masuk ke dalam bath up nya.
Aku merindukanmu mas Levi. Aku tidak akan tergoda dengan sepuluh Arman sekalipun
Aku tidak sabar tumbuh cepat semakin dewasa, aku akan menunggumu di sini.
Bida meraba bibirnya, bayangan Levi seolah mengecup bibirnya. Bida merasa malu pada dirinya sendiri lalu semakin membenamkan tubuhnya dalam bath up.
Terima kasih ya mas, mas Levi sudah membuatkan kamar mandi impian Bida. Impian Bida berikutnya adalah menikah dengan mas Levi seperti foto mas Levi di pernikahan kakak mas Levi. Bida akan mempersiapkan segalanya. Bida akan belajar giat dan meraih prestasi agar mas Levi bisa mengenalkan Bida kepada keluarga mas Levi sebagai calon istrinya mas Levi. Maaf lupa mas, Bida adalah istrinya Mas Levi bukan calon.
Bida lalu mengingat kejadian di sekolah. Bida tidak lagi melihat perempuan gendut menakutkan itu. Besok bibi tidak boleh mengikutinya lagi. Kehadiran bibi disisinya membuat Bida cemas. Bida harus konsentrasi belajar agar layak menjadi istri mas Levi Braveano. Bida kembali tersenyum.
Bida menjalani hari-harinya dengan semangat. Ia hanya ingin fokus belajar. Ia tidak tergoda untuk sekedar terbawa arus dunia khas remaja. Akhir pekan ia habiskan di rumah. Rona adalah satu-satunya teman dekatnya. Rona suka berkunjung ke rumahnya di hari libur. Bida sangat menjaga diri dari teman laki-laki. Ibu selalu berpesan agar Bida selalu menjaga kehormatan diri sebagai wanita.
Bida mungkin dikenal penyendiri oleh sebagian orang namun Bida sama sekali tidak pernah merasa kesepian. Nenek dan bibi sering menemaninya bahkan akan mengikutinya kemanapun jika tidak ia larang.
Dia tidak ingin menarik diri dari pergaulan, namun baginya lebih baik mencegah daripada menangani kekacauan. Keberadaan bibi dan nenek bisa menimbulkan masalah. Apalagi Wowo yang untungnya jarang beranjak dari pohon Kenanga. Sikap protektif Wowo jelas sudah terbukti dapat memperkeruh suasana. Bida tidak ingin menyalahkan Wowo sepenuhnya. Bude Sulis memang keterlaluan.
Sampai saat ini, jika bude Sulis melewati rumahnya, Wowo pasti akan mengguncang pohon Kenanga sambil menggeram marah. Ranting pohon yang kering dan bunga kenanga sering menimpa bude Sulis. Bukan karena ada angin kencang tapi karena wowo sengaja melemparinya.
Bibi dan nenek tidak kalah sengit. Jika bude Sulis berada di sekitar pagar rumahnya untuk memetik daun beluntas untuk dijadikan lalapan sambil nyinyir, maka bibi dan nenek akan mendekatinya lalu meniup tengkuknya, menginjak jari kakinya, atau sekedar menarik rambutnya karena kesal. Sedangkan Bida tidak bisa menegur langsung kelakuan bibi dan nenek di depan bude Sulis.
Pov Bida
Bida sedang menyapu halaman ketika bude Sulis sedang memetik daun beluntas.
"Bida, bagaimana kabarnya ?"
"Baik bude. Bude bagaimana kabarnya?"
"Baik. Bude selalu menjaga pola makan. Memilih bahan organik seperti ini daun beluntas ini. Sehat, kaya manfaat dan gratis."
"Bude ini ada saja. Jika gratis itu namanya ekonomis bude."
"Ya. Organik dan ekonomis. Eh kamu diajak bicara kok ndk mendekat. Sini... ndak sopan ngomong dengan orang tua dari jauh." Bu Sulis melambaikan tangannya.
Sebenarnya Bida malas untuk mendekat tapi karena sungkan maka Bida pun mendekat.
Sekarang Bude Sulis tidak bisa langsung masuk ke rumahnya. Antara pekarangan rumahnya dan rumah bude Sulis dipisahkan oleh pagar aneka tanaman. Kelor, beluntas, turi, petai, kenikir, dan kesimbukan.
__ADS_1
"Gatot ini sih membuat pagar kok gini amat. Tanaman rapat begini masih diberi kawat. Bude sekarang jadi tidak bisa bebas main ke rumahmu. Untungnya masih ada sela begini jadi bude masih bisa ketemu kamu, mbak Rini dan Pak Joko. Tetanggaan kok ndk saling mengunjungi itu kan ndak akrab namanya."
"Bude kan bisa lewat pintu depan atau samping."
"Ya tapi kan jadinya memutar lewat depan rumahmu, melewati pohon kenanga sial itu."
Bida jadi gusar dengan ucapan bude Sulis karena wowo tampak marah.
Bibi dan nenek yang dari tadi di sampingnya juga mulai memelototkan matanya ke arah bude Sulis.
"Sst Bude jangan ngomong seperti itu."
"Loh kamu dan orang tuamu itu masih tidak sadar juga ya. Sudah lupa kamu dengan kejadian itu. Gara-gara pohon sial itu kamu hatus menikah muda dengan si Levi itu. Ganteng-ganteng tapi tidak tanggung jawab. Sekarang lihat kondisi kamu, kamu ditinggal begitu saja. Bude tidak pernah lihat ia mengunjungimu. Benar kan ?"
Bida menghembuskan nafas panjang. Ia ingin segera pergi dari hadapan bude Sulis. Sementara wowo sudah menunjukkan aksinya.
"Ow. dasar pohon kenanga keparat. Lihat ini kepalaku kejatuhan ranting. Aww lihat ini, bunga kenanga tepat mengenai mulutku. Memangnya aku sudah mati sampai harus ditaburi kenanga. Kepala bude Sulis masih saja dilemparo bunga kenanga dan ranting-ranting kecil."
Bida menatap wowo kesal. Wowo pun menghentikan aksinya. Sementara nenek dan bibi sudah semakin mendekat ke bude Sulis.
"Maaf bude, Bida permisi ya mau nyetrika baju."
"Eh sebentar. Bida... apakah kamu masih gadis?"
"Maksud bude Sulis ?" Bida sudah semakin kesal.
"Memang waktu itu bu bidan sudah memeriksa kamu. Tapi itu kan ketika kamu belum akad nikah. Maksud bude Sulis, sekarang ini apakah kamu masih gadis ?.... sudahlah jangan dijawab jika malu. Tidak masalah kok, kamu itu cantik. Paling cantik di desa ini. Jangan kuatir, bude akan mengenalkanmu kepada sepupu bude yang meski tidak seganteng Levi tapi keren kok. Ia pasti mau menerimamu meski kamu sudah tidak... "
"Maaf bude. Bida masih gadis. Bida masih sama. Bida ingin fokus sekolah. Tolong jangan ikut campur menjodohkan Bida. Bida sudah menikah. Bida sudah menikah dengan Mas Levi."
"Eh kamu kok jadi gitu nada bicaranya. Jadi kamu masih gadis. Levi tidak menyentuhmu meski sudah akad nikah."
"Ya. Jika bude tidak percaya. Terserah bude. Saya tidak peduli. Saya juga siap jika diperiksa lagi untuk membuktikan, tapi buat apa."
"Jadi Levi itu tidak menyentuhmu. Terus untuk apa kamu menunggunya. Sudah jelas jika Levi itu tidak cinta sama kamu. Sudah sah kok ndak melakukan. Apa itu kurang jelas bagimu. Levi itu kan sepertinya anak orang kaya, ia tidak mungkin menikah serius dengan anak lulusan SMP. Seleranya pasti wanita yang punya profesi lumayan atau minimal mahasiswi kebidanan atau kedokteran."
Bida tidak mampu lagi menahan diri, matanya terasa panas. Bude Sulis sudah kabur karena air mata yang kemudian jatuh meluncur
Bida sekarang bisa melihat bude Sulis dengan jelas setelah menyusut air matanya.
"Jangan nangis Bida. Sabar ya. Kamu itu cantik. Jangan sedih. Masih banyak laki-laki yang lebih keren daripada si Levi itu."
Nenek dan Bibi sudah gemas. Nenek meniup tengkuk bude Sulis, kemudian menjambak rambutnya. Bibi tidak mau kalah, ia menginjak kaki bude Sulis sekuat-kuatnya.
"Aow... sakit." bude Sulis berteriak.
Mas Gatot tergopoh-gopoh mendatanginya.
"Ada apa bu?"
Sementara bude Sulis masih menengadah karena rambutnya masih dalam cengkraman nenek. Bida menggeleng sedih melihat betapa menyeramkannya wajah nenek dan bibi.
"Aduh rambutku terasa ada yg menjambak dan kakiku sakit sekali seperti kejatuhan batu."
Nenek dan bibi melepaskan bude Sulis lalu menatap sedih ke arah Bida yang tampak kecewa dengan tindakannya. Bida selalu mengingatkan nenek, bibi dan wowo agar tidak menyakiti manusia.
"Bu, aku sudah bilang berkali-kali jangan suka nyinyir. Aku sudah tanyakan ke beberapa dukun bu. Aku sampai menjual kambing untuk pengobatan ibu ketika perot dulu. Kata para dukun itu, ibu disakiti makhluk halus karena ibu mengganggu tuannya."
Bida terkesiap dengan ucapan mas Gatot anak bude Sulis yang seolah telak menuduhnya.
"Enak saja. Aku itu sedang ngobrol dengan Bida. Bida ini sudah seperti anakku sendiri. Kamu sih sudah kebelet nikah. Nikah sama janda lagi. Coba kamu sabar, tunggu Bida selesai sekolah kan kamu mau tak jodohkan dengan Bida. Lihat itu Bida cantik sekali, heran aku masa kamu tidak bisa menilai mana yang cantik dan tidak. Istrimu itu jika dandan, bedaknya 7 lapis. Itu yang katamu cantik ha?"
"Bu, cukup. Istriku mungkin tidak cukup cantik bagi ibu. Tapi istriku merawat ibu dengan kasih sayang saat ibu sakit. Sudahlah bu, mari kita pulang. Ibu ambil daun beluntasnya lama sekali, ternyata disini. Jangan cari perkara lagi dengan keluarga Pak Joko bu. Aku tidak mau berurusan dengan Levi lagi."
"Ah kamu ini, selalu cerewet. Ayo kita pulang
Bida... lain kali bude akan mampir ke rumah kamu. Kita akan ngobrol lagi. Sabar ya..."
Bida hanya diam. Sepertinya bude Sulis tidak paham bahwa ia sedih karena ucapannya sendiri.
Bude Sulis berjalan sambil mengamit lengan mas Gatot karena pincang.
__ADS_1
Bida masuk ke rumah, dengan bibi dan nenek yang melayang mengikutinya dalam diam karena merasa mengecewakan Bida.