Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Petaka Diana 2


__ADS_3

Diana sangat tertarik kepada Levi namun seiring penolakannya melukai harga dirinya. Ia mulai larut dalam kehidupan bebas para model. Namun dalam hatinya yang terdalam, ia masih mengharapkan Levi. Ia diam karena Levi tidak penah menunjukkan bahwa ia sedang dekat dengan wanita manapun. Hingga hari ini, postingan Ayu menyulut bara api di dadanya, kobarannya siap ******* siapa saja yang menghalanginya.


Sebelumnya Diana adalah wanita yang baik, hingga suatu hari ia salah pergaulan. Suatu malam di suatu pesta, ia dan teman-temannya mencicipi minuman yang tidak mereka ketahui telah dicampurkan sesuatu di dalamnya. Ia hanya meneguknya sedikit saja, begitu juga teman-temannya yang ikut mencicipi sedikit. Namun efeknya luar biasa. Diana terbangun di satu kamar dalam kondisi berantakan. Ia hanya ingat bahwa ia dan 2 orang temannya sesama perempuan minum-minum kemudian Ia mengeluh pusing, begitu juga teman-temannya. Mereka pun berniat pulang namun mereka menerima tawaran seseorang untuk mengantar pulang.


Paginya ia menerima telfon dari teman-temannya tentang kondisi yang kurang lebih sama dengan dirinya yaitu sendiri di kamar hotel. Mereka membuat kesepakatan tidak akan menceritakan peristiwa tersebut kepada siapapun.


Aku akan menaklukkanmu Levi. Aku tidak peduli tudingan miring yang mengatakan bahwa kemungkinan kamu seorang gay.


Aku akan membuktikan sendiri kebenarannya.


Diana mencari informasi melalui google untuk mencari informasi tentang obat itu, lalu memesannya melalui on line dengan harga yang sangat mahal. Diana sudah mentransfer uangnya, Diana berpesan agar obat tersebut diletakkan di depan kamar hotelnya tempatnya menginap. Penjual akan menghubunginya jika kurir sudah sampai kamar hotel, meletakkannya di depan kamar lalu pergi sehingga mereka tidak akan saling mengenal.


Diana mempersiapkan dirinya. Setelah berdandan, ia mengggunakan parfum ke seluruh tubuhnya. Ia memilih menggunakan kemeja putih polos lengan pendek dengan paduan rok sepanjang lutut berwarna Jingga. Ia menggunakan padanan sepatu high heel berwarna putih. Rambutnya sengaja ia ikat kuncir kuda agar bisa menampilkan lehernya yang jenjang.


dreeet dreeet HP nya bergetar. Ia menerima pesan yang mengabarkan bahwa barang pesanannya sudan ada di depan kamarnya. Diana menunggu sejenak lalu membuka kamar dan menemukan bungkusan seperti puyer tanpa kemasan aslinya.


Diana menengok sekitar lalu memungutnya dan menyimpannya di sakunya. Diana bergegas menuju apartemen Levi.


Setelah lebih dari satu jam menggunakan jasa taksi membelah kemacetan. Sampailah Diana di apartemen Levi. Ini adalah kunjungan kedua Diana ke apartemen ini. Diana pertama kali berkunjung ketika acara peresmiannya.


Diana berusaha bersikap ramah ketika memasuki lobi dan menanyakan kamar Levi.


"Maaf saya temannya Levi, kami sudah membuat janji bertemu tapi saya lupa no unitnya?"


"Dari mana?"


"Saya dari Surabaya. Bu Dewi juga akan datang nanti." Diana berbohong tentang kedatangan Bu Dewi.


Oh berarti dia mungkin memang benar ada janji dengan mas Levi. Dia bahkan tahu nama bu Dewi.


"Silahkan unit no 909 di lantai 15."


"Terima kasih" Melihat kemewahan apartemen itu membuat Diana semakin bertekad menaklukkan Levi.


Levi di dalam apartemen sedang sibuk dengam laptopnya. Ia sudah menelfon Roni agar datang menemuinya.


Ting Suara bel di apartemennya.


Cepat sekali Roni datang, mungkin Roni sedang ada di sekitar sini sehingga cepat sampai.


Levi tidak melihat layar di pintunya karena ia fokus dengan HP nya.

__ADS_1


"Masuk Ron.. cepat sekali kamu datang."


Levi kembali duduk di sofa. Di mejanya, layar laptopnya juga masih terbuka.


Diana masuk lalu menutup pintunya. Semerbak parfumnya memenuhi ruangan.


"Harum sekali kamu...."Levi terdiam. Ia kaget melihat sosok yang ada di apartemennya. Sosok orang yang tidak ia harapkan kehadirannya.


"Diana ? Mengapa kamu bisa ada disini ?" Levi menyadari kebodohannya yang tidak melihat layar di pintunya. Sekarang Diana sudah terlanjur masuk ke apartemennya.


"Apa kabar Levi? Bagaimana kabarmu? Aku ada urusan di kota ini jadi aku mampir ke apartemenmu. Aku selalu gagal menghubungimu. Sampai-sampai aku berpikir mungkin HP mu hilang sehingga aku tidak bisa menghubungimu."


Sialan kamu Levi. Aku tahu kamu mblokirku. Setelah ini kamu tidak punya pilihan lain lagi


Levi diam lalu tersenyum. "Kamu salah Diana. Hp ku tidak hilang. Aku memblokir namamu. Akan lebih baik jika kita tidak saling mengganggu." Levi selalu berbicara seperti ini. Kalimat yang diucapkan datar tapi menjengkelkan.


Kau benar-benar anaknya Mira. Harusnya Mira yang melahirkanmu. Gaya bicaramu itu seperti Mira. Diana masih berusaha tersenyum meski ia merasa jengkel


Begitukah ? Kesibukan memang menjadi penghalang komunikasi kita. Diana memegang perutnya, "Aaawh sakit sekali" Diana memasang wajah meringis menahan sakit.


"Kamu kenapa, harusnya jika sakit kamu ke dokter bukan mengunjungiku." Levi mengatakannya tanpa penekanan pada ucapannya.


Kamu masih sama Diana. Kamu suka menggunakan berbagai cara untuk menarik perhatianku. Selama ini aku mendiamkanmu mengklaim bahwa kita dekat hanya agar karena itu menyelamatkanku dari wanita lain serupa dirimu. Dengan pengklaimanmi, tidak ada wanita yang berani menggangguku. Tapi sekarang aku sudah resmi milik Bida.


"Levi aku ada keperluan aku hanya mampir sebentar. Bolehkah aku meminjam tioiletmu sebentar saja. Aku akan segera pergi setelahnya."


"Baiklah silahkan.!" Levi membukakan pintu toilet lalu kembali ke ruang tamu untuk duduk di sofa.


Diana tidak masuk ke toilet ia sibuk memperhatikan sekelilingnya. Ia melihat ada botol berisi air mineral di atas nakas. Ia langsung meraihnya dan memasukkan obat tersebut lalu masuk ke toilet menghidupka air agar meyakinkan bahwa ia menggunakan toilet tersebut.


Levi yang merasa haus mengambil air minumnya di atas nakas lalu meneguknya hingga tuntas. Ia merasakan rasa airmya agak beda namun sudah ditelannya hanya tinggal sedikit air di botol itu. Levi mengabaikannya.


Ia membuka ponselnya sibuk mengamati pergerakan perkembangan saham. Ia merasakan panas, ia menseting ac ruangannya menjadi 16°.


Diana keluar dari toilet dan tersenyum penuh kemenangan melihat botol air mineral itu sudah tidak ada di atas nakas.


"Levi terima kasih ya atas toiletnya. Sekarang aku akan memesan taksi agar aku tidak lama menunggu di bawah. Aku akan menunggu disini beberapa menit.


Levi merasa pening, bayangan Bida berkelebat. Ia merasakan sesuatu yang tiba-tiba mendesak, jantungnya berdebar. Bayangan Bida menggunakan gaun tidur menggodanya. Levi mengusap wajahnya risau. Di depannya ada Diana yang sedang membuka kancing kemejanya.


"Diana apa yang kamu lakukan? Cepat keluar dari tempatku. Levi ingin menyeret Diana keluar tapi tubuhnya terhuyung tanpa kekuatan."

__ADS_1


Diana tersenyum licik. "Levi aku akan membantumu, sabarlah"


Diana meneruskan membuka kancing bajunya sambil mendekati Levi.


Di antara kegalauannya, Levi ingat tombol emergency yang ada di tembok belakang sofanya. Ia menekannya berkali-kali.


Petugas controlling kaget mendapatkan sinyal darurat dari unit Levi. Mereka bersiap menuju ke unit Levi.


Levi mengambil bantal sofa menutupkan ke bagian tubuh bawahnya membuat Diana tertawa mengejeknya.


"Ha ha ha apakah berita itu benar bahwa kau seorang gay? " Namun reaksi Levi sudah ditangkapnya tadi.


Levi panik menekan no kontak di HP nya sembarangan. Ia menekan nama mama di kontaknya.


Diana semakin mendekat bahkan menaikinya duduk tepat diatas bantalan sofa yang dipakai Levi. Diana melirik sekilas ke HP Levi lalu menekan tombol akhir panggilan.


"Ha ha ha ...." Diana tertawa terbahak-bahak melihat Levi tak berdaya berusaha menelfon mamanya.


"Levi sayang, kamu memanggil mamamu? Apakah bu Dewi itu seorang wonderwoman yang akan segera datang menolongmu?"


Beg pintu berhasil di congkel oleh satuan keamanan apartemen. lalu Brak pintu dibuka lebar-lebar. Mereka sempat terpaku, melihat keadaan yang terjadi. Diana dengan baju atasan yang terbuka kancingnya sedang menduduki Levi di atas sofa. Tapi mereka yakin bahwa sinyal darurat berkali-kali itu berasal dari unit Levi.


Bu Dewi ada di antara mereka. Bu Dewi datang dan melihat satuan keamanan sedang berjalan sigap memasuki lift darurat. Bu Dewi tiba di depan unit Levi tepat ketika mereka mendobrak pintu.


Sama seperti para satuan pengaman, Bu Dewi sangat terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya. Bu Dewi mendengar perkataan Diana menyebut dirinya. Diana tertawa keras sehingga tidak menyadari ketika pintu di buka lebar.


"Bawa Diana pergi dari sini !" Levi berusaha meneriakkan suaranya namun suaranya hanya sedikit nyaring.


Para petugas keamanan itu merangsek masuk mendekati Diana dan Levi.


Diana kaget dengan kondisi sekitarnya. Ia buru-buru memasang kancing bajunya.


"Kalian lancang sekali berani mengganggu privasi."


"Tolong singkirkan dia dariku" Suara Levi terasa lemah seperti menahan sesuatu.


"Kalian tidak dengar ! Cepat singkirkan dia !"


Diana langsung menoleh dan membeku, Bu Dewi tampak sangat marah. Sebelum Diana tersadar dari keterpakuannya.


Tangan kekar seorang petugas menariknya paksa dari atas tubuh Levi.

__ADS_1


__ADS_2