
Bida bergabung dengan teman-temannya untuk foto bersama. Banyak sekali teman laki-laki yang mengajaknya foto. Prendi, Yogi dan Ergi yang paling heboh dalam menjadi tameng Bida.
"Eit jangan terlalu dekat !" Mereka bergantian disamping Bida sehingga teman laki-laki yang lain ketika foto dengan Bida tidak mendapatkan kesempatan foto tepat di samping Bida.
Levi mengamati kelakuan mereka, matanya menatap Prendi tidak suka. Prendi paling keren di antara Yogi dan Prendi. Levi tidak tahan melihat cara Prendi menatap Bida.
"Sial." Prendi mendekat menyentuh lengan Prendi lalu menggesernya menjauh dari Bida. Ia tidak sungkan lagi ikut berfoto bersama para siswa SMP itu. Bida agak kaget namun kemudian larut dalam keceriaan bersama teman-temannya. Levi sama sekali tidak ingin pergi dari sisi Bida.
Para siswa perempuan, mendatangi mereka dengan tujuan ingin berfoto dengan Levi. Sisca mengulurkan tangannya kepada Levi mengajak berkenalan tapi Levi mengabaikannya. Hingga Bida menyikut lengan Levi.
"Mas Levi, ini temanku Sisca."
Mengapa diam saja mas, itu temanku ngajak salaman kok diam saja.
"Mas.." Bida memegang tangan Levi, menjulurkannya ke depan untuk menyambut tangan Sisca.
Akhirnya dengan terpaksa, Levi menyalami Sisca. Yang terjadi berikutnya, banyak teman-teman Bida yang mengajak Levi salaman. Levi tersenyum dengan terpaksa. Mereka mengajak Levi foto bersama membuat Levi jadi berjarak dengan Bida.
Prendi tampak berdiri sangat dekat dengan Bida, menunjukkan foto-foto di HP nya. Levi langsung meninggalkan kerumunan teman-tema wanita Bida yang mengajaknya foto.
Sudah tampak beberapa siswa meninggalkan acara bersama orang tuanya. Bu Joko duduk menunggu Bida yang masih foto-foto bersama temannya.
Levi tidak tahan lagi. "Bida, mari kita pulang." Levi merangkul pundak Bida dan merengkuhnya untuk menjauhkan tubuh Bida dari Prendi. Bida kaget begitu juga teman-teman Bida, terutama Prendi.
Bida menurunkan tangan Levi dari pundaknya. "Mas jangan begini, malu nanti dikira apa?" Bida berkata lirih.
Memangnya dikira apa? Aku tidak suka Prendi nempel kamu.
Bu Joko sedang ngobrol dengan wali murid lain, tidak melihat ketika Levi merangkul Bida.
"Teman-temanmu sudah pulang, ayo kita pulang. Ibumu sudah lama menunggu." Levi berkata lembut kepada Bida di telinganya.
Siapa sih mas Levi ini? Mengapa ia tampak mesra kepada Bida. Sisca terus memperhatikan Bida dan Levi.
Bida dan Levi mendatangi Bu Joko.
Bida tampak serasi dengan nak Levi. Seandainya Bida sudah cukup umur, seandainya mereka benar-benar saling menyukai. Seandainya Bida bisa menikah saat ini. Bida akan berhenti melihat makhluk halus. Bida akan normal seperti yang lain.
"Mari kita pulang bu." Bida membuyarkan lamunan Bu Joko
Levi, Bida dan Bu Joko menuju parkiran mobil. Prendi, Yogi dan Ergi mendekati mereka.
"Nyewa dimana mobil ini Bida? keren... " Ergi mencoba mengintip kaca mobil untuk melihat dalamnya.
__ADS_1
"Tidak menyewa, tapi meminjam." Levi menjawab jujur.
"Pinjam siapa mas?" Yogi juga ikut Ergi mengintip dari kaca mobil.
Levi membuka pintu mobil sehingga mereka bisa melihat bagian dalam mobil.
"Ini mobil yang dibawa kak Ayu yang merias aku." Bida menjawab pertanyaan Yogi lalu masuk ke dalam mobil menyusul Bu Joko yang sudah duduk di dalam mobil.
"Bida." Prendi memanggil Bida.
"Ada apa Pren?"
"Aku akan sekolah di Surabaya, ini hadiah kelulusan dari aku. Aku harap kamu menyimpannya." Prendi menyerahkan kotak kecil yang diambilnya dari saku jasnya.
Levi mengamatinya dari spion.
Mengapa aku tidak terpikir memberi hadiah juga, masa aku kalah dengan Mario Maurier KW ini.
"Curang kamu pren," Yogi ketus.
"Ya. Kok kamu tidak bilang mau kasih hadiah ke Bida, tahu gini kan aku juga akan menyiapkan hadiah buat Bida." Ergi tidak kalah sewot dengan Yogi
"Kalian kan tetap sekolah di kota ini. Aku yang akan sekolah di luar kota. Lagi pula aku beli sendiri tidak minta iuran ke kalian, kok sewot." Prendi membela diri.
"Iya Pren. Bagiku kamu tetap temanku meskipun kita akan lama tidak bertemu. Yogi dan Ergi, kalian tidak perlu menyiapkan hadiah buat aku. Nanti saja jika aku menikah, baru kamu beri aku kado. Ok?" Bida tersenyum
"Kamu mau menikah? Dengan siapa? Dengan mas Levi?" Ergi menatap Levi tajam.
"Ha ha ha." Bida tertawa lepas.
"Mas Levi itu masih kuliah, aku masih mau masuk SMK, lalu aku kuliah, lalu aku buka konveksi, baru aku mau menikah. Jika mas levi menyukaiku, aku akan minta mas Levi menungguku. Masih lama sekali keburu mas Levi tua... Ha ha ha..." Bida tertawa lagi membuat ibu menepuk pahanya.
"Hus, perempuan kok tertawa seperti itu?"
"Maaf bu, Ergi sih lucu. Siapa juga yang mau menikahi Bida sekarang. Mas Levi,... mas Levi will you marry me please ? ha ha ha..." Bida kembali tertawa setelah melihat ekspresi Levi yang diam.
"Bida jangan sembarangan bicaranya. Ndak pantas meskipun bercanda jangan kelewatan." Bu Joko mengingatkan Bida.
Bida melamarku, apakah Bida serius dengan kalimatnya. Tentu saja aku bersedia menikahinya meski harus menunggu lama untuk bisa .... ah kacau. Bida kan jelas bercanda, tawanya saja seperti itu.
Levi menghidupkan mesin mobil. Ergi menutup pintu mobil. Bida masih tersenyum sambil menahan tawanya.
Bida masih kenak-kanakan. Sepertinya Bida memang belum siap menikah. Batin Bu Joko.
__ADS_1
# Di rumah.
"Pak Tomo, siapkan semua barangku ya. Begitu mas Levi datang kita berngkat."
"Kebayanya kan masih dipakai, biasanya butuh waktu lama kan untuk ganti baju."
"Biar deh pak Tomo. Biar kebayanya nanti dikirim mas Levi."
"Tapi kebayanya mahal Yu. Nanti jika rusak, kita dimarahi Mbak Mira."
"Kamu ini selalu manggil Mira dengan mbak Mira, memangnya Mira itu mbak mu?"
"Aku hanya terbiasa memanggil mbak saja."
"Aduh lamanya... Ayu tidak peduli dengn kebaya itu. Biar rusak pun, Mira tidak akan marah kepada mas Levi. Mas Levi itu seperti anaknya Mira. Aku ada job merias artis Pak Tomo. Aku harus datang tepat waktu."
"Saya antar ke rumah artisnya ?"
"Pak Tomo antar Ayu sampai bandara Juanda saja, nanti Ayu naik pesawat ke Jakarta."
# Di halaman rumah Pak Joko
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu para sesepuh Desa ... mohon maaf kita berkumpul disini karena balai pertemuan sedang dalam proses pengecatan. Kita patut berterima kasih atas bantuan para mahasiswa yang sudah membantu kegiatan rehap balai desa bahkan membiayai pengecatan balai desa kita."
Cuaca cerah, sekitar 17 orang duduk di kursi plastik yang berjejer di bawah pohon kenanga yang rindang.
"Hari ini, kita berkumpul dalam rangka persiapan pelaksanaan upacara adat menjelang 1 Syuro."
Di bawah rindangnya pohon kenanga, mereka melakukan rembug desa dengan khidmat.
Roni merekam kegiatan mereka menggunakan handycam. Sedangkan Jodi memfoto kegiatan mereka.
Mereka ikut berkumpul karena Pak Kepala Desa juga akan menyampaikan terima kasih kepada mereka karena sudah membantu rehap balai desa dalam kegiatan KKN mereka.
Di akhir acara, Pak Kepala Desa menyerahkan hadiah secara simbolis kepada Deni sebagai perwakilan lalu disambut tepuk tangan oleh para hadirin disana.
Bu Sulis ada di antara mereka bukan karena Bu Sulis adalah penanggung jawab bagian konsumsi.
Acara sudah selesai, para tamu sedang menikmati aneka kue buatan Bu Sulis.
"Ibu-ibu, Bida itu kan cantik, tapi para mahasiswa ini tidak ada yang tertarik kepada Bida." Bu Sulis mulai membuka pembicaraan dengan beberapa ibu-ibu sesepuh Desa.
Wowo menatap Bu Sulis dengan mata menyala-nyala. Nenek dan bibi menenangkan Wowo agar tidak menciptakan angin yang bisa mematahkan ranting pohon kenanga. Apalagi banyak orang yang sedang duduk di bawahnya.
__ADS_1