Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Pulang


__ADS_3

Bida dan Levi mengendarai sedan Honda city membelah kemacetan melewati hotel tempat Ayu menginap.


"Mas, mama mengajak Bida ke hotel itu untuk dirias kak Ayu."


"Ya. Kamu cantik sekali malam itu. Sampai mas Levi mengira jika mas Levi berimajinasi melihat Bidadari."


"Loh kan memang Bida mas."


"Maksud mas Levi itu Bidadari seperti yang di dongeng bukan kenyataan."


"Bidadari yang di dongeng itu seperti apa mas?"


"Bidadari yang di dongeng itu... "Levi diam karena fokus menyalip kendaraan di depannya lalu melirik Bida.


Melihat wajah polos Bida membuat Levi ingin menggodanya lagi.


"Bidadari di dongeng itu biasanya diceritakan dalam wujud seorang gadis yang sangat cantik dalam keadaan telanjang." Levi menunggu respon Bida dengan meliriknya ingin tahu ekspresi Bida.


"Benarkah mas? Tapi malam itu Bida kan pakai baju mas. Bida kaget dan takut malam itu, tapi Bida sangat kangen dan senang ketemu mas Levi malam itu meskipun mas Levi agak kasar." Bida kemudian menunduk diam wajahnya memerah karena malu.


Levi tersenyum, lalu meraih tangan Bida dan menciumnya.


"Tapi setelah itu mas Levi tidak kasar lagi kan ?"


"Ya. Mas Levi memeperlakukan Bida lembut sekali. Bida suka... " Bida terdiam menarik tangannya dari genggaman tangan Levi lalu menoleh ke jendela di sampingnya. Wajahnya semakin merona.


Levi ingin rasanya putar balik menuju apartemennya namun ia menguatkan tekadnya dan berusaha fokus menyetir namun kemudian tersenyum penuh kemenangan.


Hotel yang ditunjuk Bida tadi adalah salah satu hotel milik keluarga Levi. Levi belum ingin menceritakannya kepada Bida saat ini.


Levi memparkir mobilnya di depan sebuah toko perhiasan. Ia mengajak Bida memilih cincin.


"Bida ayo pilih cincin yang kamu sukai. Mas Levi kan belum membeli cincin pernikahan kita."


Pelayan menunjukkan beberapa koleksi cincin kepada Bida harganya. Pilihan Bida jatuh pada cincin dengan batu permata berwarna oranye.


"Ini bagus kan mas." Bida menunjuk jarinya.


"Ya. warna oranye itu terlihat bagus sekali." Kata Levi sambil melingkarkan tangannya di bahu Bida.


Levi dan Bida akan kembali masuk ke mobil ketika ada yang memanggilnya.


"Levi..." Seorang wanita cantik menyapa Levi.


Levi hanya diam saja menatap wanita itu.


"Levi... kamu lupa ya, kita kan kuliah di tempat yang sama. Kamu sih selalu jutek tidak perhatian kepada teman."


"Oh ya. maaf. Aku tidak ingat"


"Kita sering ketemu di kantin."


Levi hanya mengangguk saja.


"Siapa dia?" Wanita itu melihat ke arah Bida.


"Oh ini istriku Bida." Bida hanya tersenyum, diam tidak menjulurkan tangannya untuk salaman perkenalan karena tangan kanannya sedang dalam genggaman Levi erat.


"Maaf ya kami terburu-buru. Ayo sayang" Levi meninggalkan wanita itu tanpa menunggu tanggapannya.


Wanita itu langsung meriah HPnya. Mengambil foto Levi dan Bida lalu mengirimkannya ke grup temannya. Ia menuliskan.


Ternyata benar jika Levi sudah menikah. Aku bertemu dengannya dan istrinya. Istrinya cantik alami, wajahnya polos tidak bermake up tapi kelihatannya masih abg.


Levi tahu jika wanita itu mengambil fotonya. Maka itu Levi sempat tersenyum ke arahnya sebelum masuk ke dalam mobil.


Bida tampak cemberut.


"Bida kenapa, tidak suka cincinnya? Nanti kita beli lagi yang lain."


Levi berkata sambil memfokuskan pandangannya ke arah jalan namun sesekali melirik wajah Bida yang tampak keruh.


"Bukan soal cincin."


"Terus soal apa? Matematika?" Levi menggodanya.


"Mas wanita itu cantik sekali, mas Levi temannya cantik-cantik ya. Makanya mas Levi tidak pernah mengunjungi Bida selama 2 tahun." Bida terlihat kesal.


Levi mencerna kalimat Bida lalu tersenyum senang.


"Bida kamu cemburu ya ? Kan tadi mas Levi sudah mengenalkan Buda sebagai istri mas Levi."


"Ya. tapi dia cantik mas. Jika mas Levi selalu dikelilingi wanita cantik terus Bida jauh dari mas Levi nanti mas Levi bisa melupakan Bida."


Levi menepikan mobilnya.


"Jangan berpikiran seperti itu Bida. Jika kamu seperti ini. Jangan salahkan mas Levi jika kita putar balik ke apartemen lalu mas Levi tidak akan mengampunimu. Perhatikan itu."

__ADS_1


"Maaf mas. Jangan marah. Bida hanya tidak suka melihat cara wanita itu menatap mas Levi. Jangan pukul Bida mas. Bapak dan ibu Bida tidak pernah memukul Bida."


"Apa ? Memukul ? Kamu kira mas Levi akan memukulmu?"


"Ya, tadi mas Levi bilang tidak akan mengampuni Bida." Bida mulai berkaca-kaca ia memutar-mutar cincin di jarinya.


Levi gemas membuka sabuk pengamannya mendekatkan wajahnya lalu ******* bibir Bida. Bida kaget, Levi terus melakukannya hingga Bida kesulitan benafas. Levi kemudian melepaskannya.


"Seperti itulah aku menghajarmu. Bukan dengan memukulmu. Jangan berpikir tentang wanita lain. Mas Levi hanya milikmu Bida. Perlukah kita kembali ke apartemen sekarang ?" Levi mendekatkan lagi wajahnya ke wajah Bida.


"Tidak mas, jangan aku ingin pulang."


Bida tampak sangat gugup ketika mengatakannya.


"Baiklah tapi kita belanja dulu ya untuk membawakan oleh-oleh untuk bapak dan ibu."


"Ya mas."


"Bida..."


"Ya mas."


"I love you."


Bida hanya diam, namun senyum menghiasi bibirnya.


'Loh kok diam, balas dong."


"Ya mas."


'Kok iya, jawab dong."


"Mas levi kan tidak bertanya, kok minta jawaban."


Mmmmh Levi mengusap pelan puncak kepala Bida yang berbalut jilbab dengan penuh sayang.


"Do you love me Bida?"


"Ya."


"Say it."


Bida memilin jarinya.


"Bida..."


"Kok ya lagi sih."


Bida mendekatkan bibirnya ke telinga Levi


"I Love you too mas." Setelah berbisik, Bida langsung menjauhkan tubuhnya lagi menundukkan wajahnya yang memerah.


Suara Bida berbisik, pelan sekali namun Levi masih bisa mendengarnya.


*****


Pak Joko dan Bu Joko sedang mengobrol di teras.


"Ibu kangen Bida Pak. Meski bu Dewi sudah memberi kabar jika Bida dan Levi akan segera pulang tapi Ibu belum lega jika belum ketemu Bida dan Levi.


"Bapak juga bu."


Sebuah sedan Hinda city memasuki halaman rumah Bida. Pak Joko berdiri mencoba melihat siapa yang ada di dalam mobil itu. Bida keluar dari mobil sebelum Levi sempat membukakan pintunya dan langsung menghambur ke ibunya.


"Bu... Bida kangen."


"Bida....Bagaimana kabarnya?" Ibu membelaai kepala Bida.


"Baik bu. Baik sekali.... Bida sangat bahagia."


Levi tersenyum melihat wajah cerah Bida.


Ibu dan Bapak tampak sangat bahagia melihat putrinya yang tampak berseri-seri.


Setelah bersalaman dengan bu Joko dan Pak Joko. Levi kembali ke mobil untuk mengambil oleh-oleh.


Pak Joko membantu Levi membawakan beberapa barang.


Bida mengajak ibunya masuk.


"Ayo kita masuk bu, Bida akan menceritakan banyak hal."


Levi tampak cemas, dengan apa yang akan diceritakan Bida.


Di ruang tengah, Bu Joko dan Pak Joko sudah duduk menunggu Bida yang ganti baju di kamarnya. Levi menunggu Bida di luar kamar.


Bida sudah keluar menggunakan dress katun motif bunga selutut. Levi langsung mendekati Bida lalu berbisik di telinga Bida.

__ADS_1


"Jangan cerita tentang yang mas Levi lakukan padamu kepada siapapun. Itu rahasia. Ingat itu."


"Ya mas. Tentu saja. Bida mengerti itu." Bida menjawab dengan suara berbisik.


Levi melangkah ke ruang tengah diikuti Bida.


"Nak Levi. Semua barang ini kok banyak sekali." Bapak mulai pembicaraan.


"Mas Levi itu ternyata orang kaya pak. Mas Levi tinggal di apartemen mewah." Bida semangat bercerita


"Oh ya. Nak Levi tinggal bersama siapa di apartemen?"


"Sendirian bu. Mama kadang datang ke apartemen." Levi menjawab pertanyaan bu Joko.


"Unit apartemen itu kecil bu. Hanya ada 1 kamar tapi kamarnya cukup besar dengan kamar mandi seperti punya Bida. Mama mas Levi tinggal di unit lain."


"Lalu Bida tinggal bersama mamanya nak Levi kan?" Bu Joko tiba-tiba menanyakannya. Membuat Levi dan Bida terdiam dan gugup.


"Saya ingin mengurus legalitas pernikahan saya dengan Bida secepatnya. Mama dan kerabat saya akan datang kesini secepatnya untuk membahas pesta pernikahan saya yang akan diadakan di kota Surabaya."


Levi mengalihkan pembicaraan. Ia melirik wajah Bida yang pucat. Levi pindah duduk disamping Bida. lalu menggenggam tangan Bida yang gemetar sedangkan wajah Bida masih tertunduk.


Levi menatap wajah Pak Joko dan Bu Joko.


"Nanti malam, saya akan tidur di kamar depan."


"Bukan begitu. Maksud bapak, nak Levi bisa tidur di kamar kita kan bu. Biar bapak dan ibu di kamar depan." Pak Joko merasa serba salah, tidak ingin Levi tidur di kamar depan yang kasurnya terbuat dari kapuk sedangkan Levi yang membuatkan kamar itu dan akan segera menjadi menantunya secara resmi.


"Tidak boleh. Mas Levi barusan sakit. Jangan tidur di kamar depan. Kasurnya kan keras. Mas Levi tidur di kamar Bida saja. Mas Levi tidur di kasur, biar Bida tidur di sofa."


Bida kamu ini, beraninya mengajakku tidur di kamarmu di depan ibu dan bapak.


Levi mentertawakan Bida di dalam hati.


Pak Joko dan bu Joko saling berpandangan setelah mendengar ucapan putrinya.


Bagaimana bapak ibu, putrimu sendiri yang


mengajakku tidur di kamarnya. Levi menatap mertuanya.


"Begini saja, agar bapak dan ibu tenang, biar saya cari penginapan di kota saja." Levi mencoba memecah kesunyian.


"Jangan mas ini sudah malam. Mas Levi tidur di kamar Bida saja. Mas Levi pasti capek habis nyetir seharian dari tadi mas Levi sudah sering menguap ketika di perjalanan. Ayo mas kita tidur." Bida bangkit berdiri lalu menarik tangan Levi agar ikut bangkit.


Levi kaget dengan sikap Bida, Levi menatap Pak Joko.


"Saya akan membiarkan pintu kamar Bida terbuka, jadi bapak dan ibu ....."


Belum selesai Levi berbicara, Pak Joko sudah memotong ...


"Tidurlah nak Levi. Bida pasti juga sudah capek."


"Ya bapak benar. Badan Bida rasanya remuk. Bida capek sekali hari ini." Bida menoleh ke bapaknya sedangkan tangannya masih memegang tangan Levi yang belum beranjak dari tempat duduknya. Bida mengguncang tangan Levi.


"Mas ayo!"


"Baiklah." Levi berdiri mengikuti Bida yang masih memegang tangannya menggandengnya dengan berjalan tergesa.


"Cepat mas. Aku capek dan ngantuk sekali." Kata Bida sambil manarik tangan Levi.


Kamu yang mengajakku loh ya. Bida jangan menyesal atas keputusanmu sendiri.


Levi tersenyum sambil mengikuti Bida.


Pak Joko mengusap.wajahnya.


"Besok, bapak akan mengajak Levi ke kelurahan untuk mengurus legalitas pernikahannya bu."


"Ya pak. Usahakan secepatnya Pak." Kata Bu Joko dengan masih memandang Bida dan Levi hingga menghilang dari pandangannya.


#Di dalam kamar.


Bida keluar dari kamar ganti, ia menggunakan gaun favoritnya tanpa bra. Gaun tipis itu berwarna nude. saat tersorot lampu kamar yang tepat di atas kasur, membuatnya semakin transparan.


"Ah lega rasanya. Ada di kamarku sendiri jadi bisa pakai baju tidur. Tidurlah mas, Bida akan tidur di sofa."


Terus kamu anggap aku apa? Levi menahan dirinya sekuat tenaga.


Bida mendekat ke kasur lalu meraih bantal disamping Levi. Sedangkan Levi sedang berbaring di pinggir. Otomatis Tubuh Bida melangkahi wajah Levi untuk meraih bantal itu bahkan wajah Levi keserempet dada Bida.


Bida meletakkan bantal di sofa lalu merbahkan tubuhnya. karena sofa itu tidak cukup panjang maka kedua kaki Bida menekuk terjulur ke lantai. Tidak lama kemudian Bida tertidur pulas


Levi menahan nafasnya. Ia mencoba memejamkan mata. Tapi ia tidak bisa. Levi berdiri memperhatikan Bida sedang tidur terlentang. Levi kasihan melihat kaki Bida yang terjulur ke lantai. Levi mengangkat tubuh Bida membawanya ke atas kasur, memeluknya sebentar lalu menyelimutinya.


Levi melangkah keluar kamar, lalu menggelar karpet di ruang tengah. Ia merebahkan tubuhnya, mengingat kembali kenangannya ketika bertemu Bida pertama kali. Ia tersenyum, kemudian terlelap.


Pak Joko tidak bisa tidur malam, ia memilih keluar kamar dan menuju ruang tengah hendak menyalakan televisi. Namun ia kaget menemukan Levi yang terbaring di atas karpet.

__ADS_1


Pak Joko tersenyum. Ia jelas meragukan jika Bida dan Levi tidak melakukan apa-apa selama di kota ******. Namun yang terpenting bahwa Bida dan Levi sudah sah sebagai suami istri sejak 2 tahun lalu. Pak Joko mengurungkan niatnya menonton televisi. Ia kembali ke kamarnya untuk tidur. Setidaknya sekarang hatinya benar-benar tenang.


__ADS_2