
Sehabis sholat ashar. Saat ini mereka sudah di bandara untuk penerbangan ke Indonesia. Mereka sepakat bertemu di bandara karena harus menempuh lebih jauh kalo mampir di salah satu tempat.
Ya memang Aisyah dan keluarga ke sini berbeda dengan biasanya. Biasanya mereka akan kesini tiga bulan sekali dengan waktu satu Minggu. Tapi kali ini setelah lima bulan baru berkunjung karena saat mau kesini dua bulan yang lalu berpapasan persiapan dengan wisuda Aisyah dan setelah wisuda Aisyah akan menghabiskan waktu bersama keluarga dan mempersiapkan keberangkatannya ke pesantren.
Menempuh perjalanan udara ยฑ 14 jam sama seperti berangkat cuma berbeda waktu yang sama menggunakan jet pribadi. Mereka sampai di Indonesia menjelang subuh, dan di sana sudah ada supir pesantren yang sudah dihubungi tadi.
Setelah sampai di sana mereka sudah di sambut Buna dan Abah yang kebetulan pintu utama rumah berada diluar area pesantren, namun juga ada pintu yang langsung menuju area pesantren.
"Ya udah gih sholat subuh dulu setelah itu istirahat" perintah Buna saat mendengar suara adzan.
Mereka bertiga langsung mengiyakan karena mereka juga capek. Walaupun mereka bebas tidur dengan bebas dan nyaman tetapi juga tetap lelah.
Aisyah, umi dan Buna sholat berjamaah dirumah, sedangkan Abi dan Abah melaksanakan sholat jamaah di masjid.
Aisyah terbangun dari tidurnya karena mendengar kebisingan di bawah.
Aisyah membuka gorden yang ada di kamarnya yang ada dilantai dua, seperti di rumah kakek dan rumahnya, dirumah ini kamarnya juga dilantai dua dan dibawahnya ada taman.
"Astaghfirullah" ucapnya saat membuka gorden, bukan disuguhi pemandangan yang indah melainkan disuguhi taman belakang yang acak-acakan. Dimana rumput dan potongan tumbuhan berserakan dimana-mana.
"Ada apa ini?" gumamnya
Lalu saat mendengar kebisingan yang ada dibawah, Aisyah pun pergi ke bawah, namun ia kelupaan tidak menggunakan cadarnya.
"Astagfirullahaladzim " ucapnya reflek karena melihat rumah yang acak-acakan berbeda saat dia baru datang tadi pagi. Kain lap dan kemoceng yang ditaruh sekenanya dimeja, karpet yang biasanya digunakan untuk menjamu tamu (karena biasanya tamunya tidak sedikit) dilipat asal. Lantai yang di pel pun airnya berceceran dimana-mana.
Dan dua orang yang ada di bawah seketika mendongak ke arah tangga dimana Aisyah berdiri. Seketika pun kedua orang tadi juga kaget dengan dengan Aisyah. Pasalnya mereka tidak pernah melihat Aisyah Dirumah itu. Dan terpukau dengan kecantikan Aisyah dengan wajah blasteran itu.
Aisyah turun ke bawah dan terus diperhatikan kedua orang itu.
"Ini apa-apaan sih. Kalo kerja itu satu-satu, di taman belakang berantakan, di sini berantakan. Ini lagi rumah udah kayak kapal pecah....ada air dimana-mana.....? Terus kalo ada yang kepeleset gimana....itu karpet kalo semisalnya udah gak digunakan dilipet yang bener....kalo mau dicuci langsung ditaruh belakang.....ini kain lap sama kemoceng...kalo semisal udah selesai.... langsung dibalikin ke tempatnya... kalo gini apa gunanya di lap tapi lap yang masih basah ditaruh di sini" marah Aisyah
"Ehm...." Salah satu diantara mereka berdehem. Mereka berdua yang satu masih muda, sepertinya santri yang bertugas di dhalem sedangkan yang satunya perempuan paruh baya yang sepertinya pembantu baru.
"Emangnya mbak siapa ya? Kok marahin kami seenaknya? Biasanya kami juga begini kok.... Lagi pula mbak kenapa gak pake cadar? Bukannya wajib memakai cadar ya? " Lanjutnya dengan nada mengejek.
Baru saja mau menimpali ucapan orang tadi tapi tercegah dengan kedatangan Buna.
Buna "ada apa pagi-pagi kok udah ribut aja"
"Ini umi, mbak ini tadi marah-marah katanya kerjanya gak bener... padahal setiap hari juga begitu ya?.... Terus mbak ini kok gak pake cadar padahal kan itu wajib " adu orang tadi kepada Buna.
"Apa? Setiap hari? Wahhhh parahhh ini" ucap Aisyah yang tidak memperhatikan perkataan akhir orang tadi.
"Udah-udah.... kenapa jadi ribut sih?" Lerai Buna.
"Mbak? Kenalin ini cucu umi... Aisyah? ini mbak Dian dia pengganti mbak Tami... sedangkan sebelahnya bi Siti ... Dia yang bantu-bantu disini dan di pesantren...
Aisyah ini memang sering kesini dulu tapi sudah hampir 3 bulan lebih tidak ke sini.... mungkin mbak belum kenal"
__ADS_1
setelah itu umi datang...
"nah ini menantu umi. uminya Aisyah "
"emm maaf umi saya sudah salah faham"
"Iya udah gak papa mbak. Aisyah? Tumben gak pake cadar"
"Hah cadar?" Ucap Aisyah meraba-raba wajahnya "astaghfirullah" ucapnya kemudian langsung berlari ke arah kamar. Buna dan umi hanya geleng-geleng kepala.
Sekian menit kemudian "ya udah mbak beresin ya.... Bahaya juga kalo air ada dimana-mana" perintah Buna.
"Iya umi maaf sudah bikin rumah berantakan"
"Stop" teriak Aisyah dari atas. Karena ia menggunakan cadar tali jadi tidak membutuhkan waktu yang lama.
Aisyah "udah kalian beresin taman belakang aja.... Biar ini saya yang beresin"
Mbak Dian "tap~"
Aisyah "sutt ini perintah tidak untuk dibantah... Sekalian itu karpet di cuci udah kusut begitu" kedua orang itu langsung mematuhi perintah Aisyah.
"Ya udah biar Buna bantu"
"Ya udah biar umi bantu" ucap mereka bersamaan.
"Ini perintah tidak untuk dibantah" baru saja Aisyah mau menimpali tapi sudah terpotong oleh buna dan umi. Aisyah pun langsung cemberut.
Di sepanjang jalan banyak santri yang menyapa mereka. Di kalangan para santriwati dan sebagian santriwan sudah mengenal mereka berdua, mungkin hanya beberapa santri baru yang belum mengenal.
Di setengah perjalanan mereka bertemu dengan Abah dan Abi yang memang setelah sholat subuh tidak kembali ke rumah, melainkan jalan-jalan disekitar pesantren karena biasanya sehabis subuh ada kegiatan pencak silat.
"Yuk ke kebun. Tadi Abah dapat laporan dari ustadz katanya sudah siap panen nanti sore" ajak Abah setelah mereka bertiga menyalami keduanya.
Setelah sampai ke kebun umi, Buna, dan Abi turun untuk memastikan benar-benar bisa dipanen atau tidak.
Abah "gak ikut turun?" Tanya nya ke Aisyah.
Aisyah "gak. Tu masih banyak embun... Nanti kaos kakinya basah" ucapnya menunjukkan rerumputan yang basah.
Abah "alasan" Aisyah hanya menyengir.
Abah "ya udah duduk situ. Abah mau bicara" lanjutnya menunjuk sebuah gubuk.
"Aisyah" panggil Abah setelah duduk di gubuk. Aisyah pun menoleh.
Abah "di pesantren kamu yang baru wajib pake cadar?" Aisyah mengangguk.
Abah "Abah harap kamu tidak melepas cadar lagi ya? Mungkin di pesantren wajib cadar itu tanda-tanda biar kamu istiqamah lagi pake cadar. Mulai sekarang gak usah dengerin orang ngomong yang jelek-jelek tentang cadar?" Ucapnya sambil melihat mata Aisyah lekat.
__ADS_1
Aisyah terdiam sejenak " insyaallah. Doain Aisyah ya bah? Supaya Aisyah bisa Istiqomah lagi seperti dulu"
"Doa Abah selalu menyertaimu" Abah tersenyum.
Seperkian menit kemudian terdengar suara telepon dari ponsel Aisyah disakunya.
"Aisyah angkat telepon dulu ya?"
"Iya. Nanti ikut turun ya? Bisa lepas kaos kaki kan?"
" Gak lah. Sehabis telpon nanti pulang aja. Tadi Annisa sama Ima katanya mau kesini"
"Ya sudah"
^^^"assalamualaikum dek?" Nizam^^^
"wa'alaikumsalam kak. ada apa?"
^^^"bisa tolongin gak?"^^^
"tolongin apa?"
^^^"kakak dapat laporan dari asisten kakak yang di Indonesia, katanya manager hotel xxxx korupsi dek. bisa tolong selidiki gak?"^^^
"haduh, gimana ya kak. ini masa cuti aku tinggal 2 hari kalo harus ke kota kayaknya gak bisa deh"
^^^"asisten kamu dek bisa gak?"^^^
"tadi dia ngabarin mau ke sini. dan aku juga gak mau nyuruh dia, dia itu perempuan gak boleh nyelidikin kasus kalo gak sama aku"
^^^"terus gimana? kakak untuk sementara gak bisa pulang karena jadwal Azra padat banget. mau nitipin Akhtar kemana kalo mertua juga sakit"^^^
"astagfirullah... gini aja aku punya orang kepercayaan untuk nyelidikin kasus kayak gini nanti aku kasih nomernya"
^^^"emang ada yang kenal kamu dek"^^^
"cuma atasan doang yang kenal"
^^^"ya udah kakak minta tolong ya?"^^^
"nanti kalo semisalnya dapat izin dari abah insyaallah Aisyah akan turun tangan"
^^^"ya udah makasih ya?"^^^
"sama-sama. assalamualaikum"
^^^"wa'alaikumsalam"^^^
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
__ADS_1
makasih yang udah mau nunggu update ๐