
Tepat di hadapan seluruh rakyatnya, Kaisar William mengumumkan ambisinya untuk menyatukan seluruh wilayah Benua Petra menjadi sebuah Kerajaan Baru.
"Wahai rakyat ku tercinta. Negeri kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tanah penuh kepalsuan Fotia sudah menculik pangeran Darian dan mengancam ku untuk menyerahkan Kerajaan ini, oleh karena itu sebelum Fotia menyerang kita duluan maka kita harus menghancurkan mereka sampai akar-akarnya. Ini akan menjadi peringatan bagi kerajaan lain dan menjadi awal bagi kerajaan Lypinos kita tercinta untuk menguasai seluruh wilayah Petra!".
Bersamaan dengan itu, di Kerajaan Fotia terjadi pertempuran berdarah yang menewaskan hampir seluruh prajurit kerajaan Fotia. Raja mereka yang sudah dikepung tak punya pilihan lain selain melawan. Jendral Fredrik pemimpin pasukan kerajaan Lypinos melarang pasukannya yang berniat menyerang Raja Fotia, karena dia akan menghadapinya sebagai seorang ksatria dalam pertarungan satu lawan satu.
"Kau sudah tidak punya harapan untuk menang, menyerahlah dan serahkan seluruh kerajaan mu beserta isinya pada kami" Ancam Fredrik sambil mengayunkan pedangnya.
"Ahh!, Sialan!" jerit Raja Fotia merintih kesakitan.
Merasa tak ada kesempatan untuk menang, Raja Fotia mengerahkan seluruh kemampuannya pada satu serangan pamungkas. Dengan mengumpulkan seluruh mana dalam tubuhnya, ia kemudian menciptakan bola sihir raksasa.
"Akan lebih baik jika aku tak mati sendiri disini!" Raja Fotia mengangkat dan melempar bola sihir raksasa kearah Frederik dan pasukannya hingga timbul banyak asap dan suara ledakan yang keras. Siapapun yang mendengarnya pasti akan menutup telinga.
"Sayang sekali, serangan mu terlalu lemah" Jendral Fredrik muncul dari balik asap dengan dilapisi armor api yang sangat panas. Siapapun yang menyentuh armor itu akan hangus menjadi abu.
Frederik sangat marah dengan serangan balasan itu dan menggunakan tehnik pukulan gunung berapi. Raja Fotia menerima serangan dahsyat Fredrik melalui tangannya ketika hendak menangkisnya, membakar tangannya menjadi abu . Fredrik mencoba menghabisi Fotia, dia membuat bola api raksasa menyerupai matahari kecil dan melemparkannya kearah Raja Fotia untuk melenyapkannya.
"BOMMMM!"
__ADS_1
Seluruh area disekitar Raja Fotia hancur dan terbentuk lubang besar. Dari kejauhan, terlihat wanita cantik dengan mahkota emas di kepalanya berdiri menatap tajam kearah pasukan Kerajaan Lypinos yang bersorak kegirangan melihat Raja Fotia sudah hangus menjadi debu. Wanita cantik itu adalah ratu Melisa, permaisuri Raja Fotia. Dia membawa puteranya yang masih berusia delapan tahun bersamanya menemui Bivades, salah satu pengawal setianya.
"Dia bernama Adelio, Ku titipkan putera ku ini pada mu, jaga dia baik-baik" Ratu Melisa segera pergi meninggalkan puteranya bersama Bivades. Dengan diikuti sisa pasukan yang masih tersisa, dia memimpin mereka bertempur sampai titik darah penghabisan demi membalaskan dendam suaminya.
"Ini hal yang sia-sia, apa yang dilakukan Ratu sama saja dengan bunuh diri" Bivades segera membawa Adelio melarikan diri dari tempat yang sudah seperti neraka baginya.
Bukanlah pelarian yang mudah bagi mereka berdua. Kedua anak buah Fredrik, Yuno dan Celzar tak sengaja melihat Bivades melarikan diri bersama Adelio. Mereka berdua langsung terbang dengan cepat mengejar sambil melepaskan ribuan anak panah dari busur sakti.
Tak mau kalah Bivades menunjukan kemampuan sihirnya, Dia melapisi seluruh bagian tubuhnya dengan api biru dan mengubah dirinya menjadi sesosok Phoenix, menempatkan Adelio di pundaknya bergerak dengan lebih cepat di udara.
Ribuan panah yang ditembakan kearah Bivades tak berpengaruh apa-apa, api biru yang menyelimuti tubuh Bivades memiliki kemampuan regenerasi yang luar biasa. Separah apapun lukanya, dia dapat menyembuhkan dengan sangat cepat.
"Ahh, sombong sekali! kita liat siapa yang akan terbunuh duluan." Bevides tertawa dingin. Dia berbalik arah melesat dengan sangat cepat menuju arah Celzar melewati senjata sihir yang mengincarnya.
"Mati kau!" Bevides memperkuat kakinya dengan api biru, menendang Celzar yang berada tepat didepannya. Celzar mencoba menahan tendangan itu dengan tangan nya, namun tangannya justru terkoyak dan putus akibat cakar kaki Phoenix Bevides.
Darah terus keluar dari tangannya dan membuatnya menjerit kesakitan "Ahh!, Sakitt ku mohon bunuh aku langsung ya Tuhan!" Teriakan Celzar terdengar kencang memancing prajurit lain mendekatinya.
"Aku harus membunuhnya untuk menghentikan senjata itu mengejar kami" Belvides kembali mendekati Celzar dan menendang kepalanya hingga putus"
__ADS_1
Yuno yang melihat kengerian itu hanya bisa terdiam seperti patung, tubuhnya tak bisa digerakkan, ekspresi wajah ketakutan terlihat dari wajahnya. Dia hanya bisa melihat Adelio dan Bevides kabur setelah menghabisi nyawa rekannya.
"Kejarrr!, jangan biarkan mereka lolos" ucap Fredrik muncul dari arah barat sambil membawa Ratu Fotia yang pingsan dan terluka parah akibat melawannya.
"Ratu ini harus kita apakan jendral?" tanya seorang prajurit bingung karena sang Ratu tak langsung dibunuh.
"Kita akan membawanya ke istana, Dia adalah oleh-oleh dariku untuk sang Kaisar" jawab Jendral Fredrik kepada seluruh pasukannya.
Jendral Fredrik menyuruh penyihir ahli telepati untuk menghubungkan dirinya dengan kaisar. Dia ingin menjelaskan kondisi peperangan kepada kaisar, tak lama setelah itu pihak kaisar merespon balik telepati dari pihak Fredrik.
"kaisar Wiliam yang agung, hamba melapor bahwa kerajaan Fotia berhasil kita kuasai" ucap Jendral Fredrik dengan penuh semangat.
"Benar-benar kerja yang bagus Fredrik, kau tak pernah mengecewakan ku. Tugas mu sudah selesai kembalilah pulang" Kaisar William tersenyum dan sangat senang atas kemenangannya atas Kerajaan Fotia lalu menyuruh pengawalnya mengumumkan ke seluruh penduduk bahwa Pangeran Darian telah kembali, serta Kerajaan Fotia sudah dihancurkan dan menjadi bagian wilayah mereka.
"Umumkan pesta pada seluruh rakyat kita!, kemenangan ini harus dirayakan! "
Kaisar William mengumumkan pesta kepada seluruh rakyat Kerajaan Lypinos besok. Dia berencana memperkenalkan kedelapan jendral terbaiknya yang dijuluki sebagai pembawa bencana, beserta putra dan putrinya yang sebentar lagi akan memasuki Vasilias, Akademi sihir terbaik dunia yang hanya menerima murid dari kaum bangsawan.
Di hutan lebat dimana pepohonan tinggi berdiri, terlihat cahaya biru bersinar di cakrawala. Segera, muncul seekor burung Phoenix dengan anak kecil di punggungnya memasuki hutan. Itu adalah Bivades dan Adelio, mereka berdua berhasil melarikan diri dari kejaran prajurit Fredrik.
__ADS_1
Keadaan hutan benar-benar sunyi. Segera, Bivades dan Adelio melesat. Kaki Bivades dengan lembut menekan ke dahan pohon yang memanjang dari batangnya. Setelah itu, dia mendarat di dahan pohon lain dan menurunkan Adelio yang mengeluh kelaparan. Mata Bivades yang tajam seperti elang memindai semua yang ada dibawahnya secara detail berharap dia bisa menemukan makanan agar Adelio tidak merengek padanya.