
Di depan para pengawal kerajaan, berbaris tahanan kerajaan dengan berbagai kasus kriminal yang disiapkan untuk dieksekusi oleh para jendral. Sebagai agenda untuk menghibur semua orang yang hadir pada pesta itu, disiapkan lapangan besar yang digunakan untuk memamerkan kemampuan para jendral.
"Pengawal seret tahanan itu dan bawa dia di hadapan ku" mendengar perintah Jendral Lanara, salah satu pengawal lalu menarik tangan tahanan dengan paksa dan melempar tangan tahanan itu hingga dia terbanting ke tanah.
"Semuanya lihatlah aku" Semua mata orang-orang kini memusatkan perhatiannya pada Jendral Lanara, Jendral wanitanya satu-satunya yang dimiliki Kerajaan.
Jendral Lanara lalu melompat sembari menarik pedang dari sarung di sisi kanannya dan menusukkan pedangnya ke dalam tanah tepat di depan tahanan itu. Seketika terbentuk ruang pemisah dengan dinding penghalang berwarna hitam di sekitar Jendral Lanara dan Tahanan itu.
"Apa yang ada di dalam penghalang itu, kami benar-benar tak bisa melihatnya"
semua orang menjadi penasaran melihat dinding penghalang hitam menghalangi penglihatan mereka.
Setelah sepuluh detik menunggu, penghalang hitam menghilang perlahan demi perlahan.
Muncul Jendral Lanara dengan tahanan yang sudah terpenggal kepalanya, membuat semua orang memasang wajah ketakutan melihat darah yang terus mengalir dari kepala tahanan membasahi permukaan tanah.
"Wanita cantik tetapi kau sangat menakutkan, selanjutnya adalah aku" Jendral Mohawk mengepalkan tangannya dan terlihat otot-otot yang sangat besar, dia lalu memanggil Yafao salah satu tahanan berbadan besar yang terkenal di kalangan para tahanan untuk menghadapinya dalam duel satu lawan satu. Jika Yafao menang maka dia akan dibebaskan.
Mendengar perkataan Jendral Mohawk, Yafao menjadi bersemangat. Dia melangkahkan kakinya yang besar dan berlari menuju arah Jendral Mohawk lalu meninjunya.
"Ahh" Yafao berteriak dengan keras menahan rasa sakit dari tangannya yang patah ketika meninju wajah Mohawk.
Semua penonton langsung berdiri, mereka tak bisa menyembunyikan wajah kagumnya melihat pemandangan yang ada di depan mata mereka. Tampak tubuh tinggi dengan otot yang besar dari ujung kaki sampai ujung rambut dilapisi oleh intan permata yang sangat indah.
__ADS_1
Kaisar William tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wajahnya tampak terkejut dan berkata dengan lembut "Liatlah tubuh berlian itu, pantas saja tangan Yafao patah ketika hendak menyerang nya" menandakan bahwa ia tak pernah melihat kemampuan Mohawk sebelum ini.
Tepat setelah Kaisar William memuji Mohawk, Seorang jendral muda bernama Dite di sisi penonton menggelengkan kepalanya dan berteriak dengan keras. "Mau pamer, baiklah akan ku bantu!!!"
Semua tatapan kini mengarah pada Dite, ia menarik pedang panjang berbentuk salib dari punggungnya, mengangkatnya ke atas dan menebas dari atas kepala hingga menyentuh permukaan tanah yang ada didepannya menyebabkan cahaya biru muncul bergegas maju menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya.
Mohawk berteriak "Kau benar-benar sudah gila!!!" dengan sekuat tenaga Mohawk menghadang cahaya biru yang menabrak dirinya. Membuat tanah di sekitarnya menjadi hancur ketika cahaya itu meledak.
"Hah, bagaimana mungkin dia bisa bertahan menghadapi serangan seperti itu"
Semua orang terkejut saat melihat Jendral Mohawk masih berdiri tegak tanpa luka gores sedikitpun.Tampak ekspresi kesal dari wajahnya sembari mengepalkan tangannya dengan keras, dia berteriak "Kubunuh kau Dite!!!!!" sembari berlari kearah Dite.
Karena situasi sudah mulai menegang, Jillua bangkit dari tempat duduknya, menatap Dite dan Mohawk dengan tajam, dan memberi peringatan pada Mohawk dan Dite "Hentikan kegaduhan kalian atau aku akan menghancurkan seluruh tempat ini!!!"
Jillua dikenal sebagai tangan kanan kaisar, ia dipercaya sebagai penasihat kerajaan dan kepiawaiannya dalam memimpin. Bukan hanya itu saja, ia juga merupakan jendral terkuat di kerajaan. Kekuatannya bahkan bisa menghancurkan satu kerajaan dengan hanya satu pukulan saja. Tipe sihirnya merupakan tipe dengan daya rusak paling berbahaya di Benua Petra. Tak heran Mohawk dan Dite langsung mundur ketika Jillua membentak mereka berdua.
"Kurasa sudah cukup untuk pengenalan para jendral, sekarang nikmati jamuan dari kaisar"
Kaisar William berbicara pada Dive agar acara perkenalan para jendral ditutup karena situasinya sudah mulai menegang "
Dive menganguk dan mengangkat tangannya membuat seluruh mata kini tertuju padanya, ia tersenyum tipis dan berkata dengan pelan
"Kurasa sudah cukup untuk pengenalan para jendral, sekarang nikmati jamuan dari kaisar"
__ADS_1
Pada saat tertentu, Adelio dan Bivades berhasil mendarat di suatu desa tak jauh dari pepohonan tinggi yang mereka singgahi sebelumnya. Bivades menurunkan Adelio disisinya setelah mendarat. Ekspresinya agak gelap saat dia berjalan cepat menuju gerbang desa yang terbuka lebar.
Begitu berjalan mendekati gerbang desa, Bivades mengangkat kepalanya melirik dua kata besar "Desa Harmes" di atas gerbang desa. Langkahnya terhenti tanpa sadar. Saat dia mengamati situasi desa yang sunyi dan lingkungannya yang tampak bersih. Dia menghela nafas "Desa Harmes, tempat yang bagus untuk persembunyian kami"
Keduanya berjalan memasuki desa, Bivades memimpin jalan dan berjalan sepanjang jalan. Setelah itu, mereka tak sengaja melihat seorang anak kecil perempuan dipukuli dan dicaci-maki oleh pria paruh baya. Merasa kasihan dengan anak kecil itu, Bivades bergegas menolongnya dan melarang Adelio untuk ikut.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Bivades dengan kesal.Tampak ekspresi marah dari wajahnya.
"Kau tak usah ikut campur dia urusanku" teguran Bivades diabaikan begitu saja. Pria itu bahkan terus mencaci maki anak kecil malang itu.
Merasa dirinya diacuhkan, Bivades menjadi sangat marah. Dia menarik bahu pria itu lalu meninjunya dengan keras. Pria itu pun pingsan. Kejadian itu menarik perhatian semua orang. Mata mereka tak berhenti menatap tajam kearah Bivades, dalam pikirannya mereka bertanya-tanya "Siapakah pria itu?" wajahnya tampak asing di benak mereka.
Setelah membuat keributan, Bivades berlari dan menarik tangan Adelio meninggalkan tempat itu. Dirasa sudah cukup jauh, keduanya berhenti sejenak. Tiba-tiba ada suara jelas seorang gadis memanggil mereka.
"Hei!!!"
Suara yang memanggil mereka rupanya adalah suara dari gadis kecil yang mereka selamatkan tadi. Napas gadis itu terengah-ngah karena kelelahan mengejar mereka berdua.
"Sebelumnya aku ingin mengucapkan terimakasih karena sudah menolongku" gadis kecil itu tersenyum menatap Bivades.
"Terima kasih kembali tetapi kami harus pergi" balas Bivades dengan terburu-buru, dia takut warga desa menghukum dirinya atas apa yang dilakukannya barusan.
"Wajah kalian tampak asing apakah kalian baru disini?" Gadis kecil itu bertanya dengan bingung.
__ADS_1
"Ya kami berasal dari kerajaan yang jauh" Bivades tidak menyebutkan kerajaan asalnya secara lengkap, karena desa yang dia tempati sekarang masih bagian dari Kerajaan Lypinos. Takutnya lokasi persembunyian Dia dan Adelio dibocorkan oleh gadis kecil itu, sehingga dia menjadi waspada terhadapnya.