
Di Istana Lypinos, Kaisa William sedang duduk di singgasananya, dengan tergesa-gesa dia memanggil penasehatnya.
Mendengar panggilan kaisar, Pria tua bernama Arancaz yang merupakan penasehat sang kaisar, mengelus janggut hitamnya dan berjalan sambil membawa tongkat mendekati kaisar.
"Dengan segala hormat tuanku, ada apa gerangan tuan memanggil hamba?" Arancaz bertanya sambil berlutut dan menundukan kepalanya di depan kaisar.
"Kau harusnya sudah tau, apa yang ingin ku tanyakan pada mu" Kaisar William menjawab dengan wajah serius.
"Saya mengerti ini pasti tentang invasi kerajaan Wendelluiz, anda tidak perlu khawatir karena Dite berhasil memenuhi tugasnya"
"Syukurlah, semua jendral ku memang dapat di andalkan. Perlahan-lahan impianku akan terwujud"
Dari belakang Arancaz, nada suara santai memanggil "Ayah!"
Ketika Arancaz menoleh untuk melihat dari balik bahunya, berdiri seorang anak perempuan dengan seragam Akademi Vasilias.
"Astaga, Leoni kamu sudah pulang?" tanya Kaisar William dengan seringai yang memamerkan giginya.
"Tentu saja Ayah. Kami dipulangkan karena ini adalah liburan musim panas"
"...Oh, lalu dimana kakak mu?"
"Dia masih berada di Vasilias dan menolak ajakan ku untuk berlibur"
Kaisar William sangat kecewa mendengar jawaban Leoni. Ia sangat merindukan Biavas karena sudah 5 tahun tidak bertemu apalagi Vasilias hanya memberikan waktu libur ketika musim panas saja, namun Biavas tidak pernah pulang meski waktu libur diberikan.
Melihat wajah kecewa Ayahnya, Leoni lalu mengambil sesuatu dari kocek bajunya. Itu adalah gambar pemandangan air terjun yang sangat indah bernama Minayovas. Air terjun itu terletak di wilayah paling Utara Kerajaan Lypinos. Jika ingin pergi ke air terjun itu, maka harus melalui Desa Harmes, tempat Adelio dan Bivades sekarang berada.
"Ayah, aku ingin kita sekeluarga berlibur di tempat ini"
"Maaf tetapi ayah sangat sibuk. Jika kau memang ingin pergi kesana maka ayah akan menyuruh beberapa jendral menemanimu"
__ADS_1
"Tetapi aku sangat ingin ayah ikut, ... ayolah ayah" Ucap Leoni dengan wajah imut dan mata berkaca-kaca.
Kaisar William tak tega menolak permintaan putrinya. Dia lalu menawarkan akan segera menyusul Leoni jika urusannya sudah selesai dan menyuruh Leoni pergi terlebih dahulu.
Leoni sangat senang karena dia akan berlibur di tempat yang sangat diimpikannya. Sambil bernyanyi dia berjalan meninggalkan Arancaz dan Kaisar William dengan senyum lebarnya.
"Kau dengarkan, perintahkan ketiga jendral yang berada di istana untuk menemani putri ku berlibur ke Minayovas"
"Maaf tuanku jendral yang berada di istana sekarang adalah Jillua, Lanara, dan Maghad saja. Sisanya sedang bertugas semua tuanku"
"Tak apa-apa, demi keselamatan putriku apapun akan ku lakukan. Suruh mereka menyiapkan beberapa pasukan, pastikan putri ku aman dan selamat sampai tujuan"
Arancaz ragu mendengar permintaan Kaisar Wiliam, namun sebagai seorang abdi setia dia harus menuruti perintah Kaisar.
Segera Arancaz menggunakan teknik sihir telepatinya dan menyampaikan permintaan Kaisar kepada ketiga jendral yang berada di istana. Awalnya mereka menolak tetapi perintah kaisar harus dilaksanakan jadi mau tak mau mereka harus melaksanakannya.
Keesokan harinya, di depan gerbang istana banyak sekali pasukan berkuda yang tengah berbaris. Pasukan itu dipimpin oleh ketiga jendral yang diperintahkan untuk mengawal kereta kuda berisi tuan putri Leoni. Kedua jendral, Jillua dan Lanara berada dibarisan paling depan dengan kereta berisi tuan putri dibelakangnya.
"Berangkat!!!"
Dari atas langit, Maghad melihat rombongan pasukan berkuda. Dia berperan sebagai penunjuk arah dengan awan jinton yang dikendarainya untuk memastikan cuaca akan selalu cerah untuk dilalui sang putri.
Setelah menempuh jarak yang jauh, mereka sampai di tempat yang tak mereka ketahui. Tampak gerbang dengan tulisan "Desa Harmes" diatasnya.
"Apakah kau tau tempat apa ini?" Jillua bertanya kepada Lanara sambil melihat-lihat tempat itu.
Lanara juga tidak mengetahui tempat apa itu. Jadi dia mengambil peta berisi rincian wilayah Kerajaan Lypinos dan membuka-nya.
"Kita berada di Desa Harmes, sebelum mencapai air terjun Minayovas kita harus melewati desa ini dulu" Lanara menerangkan lokasi mereka berada saat ini sambil menunjuk tulisan "Desa Harmes" di gerbang.
"Baiklah, ayo semuanya!!!" Jillua berteriak dengan penuh semangat, namun tak lama setelah itu muncul seorang pemuda rambut hitam. Pemuda itu adalah Rizieq, putra semata wayang kepala Desa Harmes, Jione.
__ADS_1
Dia mempertanyakan asal usul dan tujuan mereka datang ke desa ini.
"Kalian ini siapa dan darimana asal kalian?, apa tujuan kalian datang kesini?"
Lanara lalu menjawab "Kami berasal dari Vitogan, Ibu kota kerajaan Lypinos. Tujuan kami kemari adalah untuk pergi menuju air terjun Minayovas"
Rizieq terkejut mendengar jawaban Lanara, dengan kepala tertunduk ia mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Mereka bangsawan!!!" Penduduk desa yang melihat rombongan putri Leoni bersorak-sorai berteriak dengan keras. Kegelisahan dan ketakutan dalam hati mereka lenyap seketika. Mereka mengira desa yang mereka tinggali akan diserang, namun itu hanyalah para bangsawan yang ingin pergi ke Minayovas.
Ketika melewati para penduduk, tiba-tiba muncul seorang pria tua didepan Jillua. Ia sontak menarik tali kudanya dengan kencang.
Dengan wajah kesal, Jillua memarahi pria tua itu.
"Kau ini siapa?, kau bisa saja tertabrak kudaku pria tua!"
Pria tua itu menjawab sambil tersenyum dan berlutut "Mohon maaf tuanku, hamba hanya ingin melayani tuanku dengan jamuan di balai desa. Ini pertama kalinya seorang bangsawan menginjakan kaki di tempat ini"
Pria tua itu adalah kepala Desa Harmes, Jione. Dia mengajak rombongan putri Leoni untuk pergi ke balai desa karena dia akan menjamu mereka dengan makanan yang sudah disiapkan.
Jillua lalu turun dari kudanya, ia menghampiri Leoni dan meminta pendapatnya.
"Tuan putri, apakah anda bersedia menerima jamuan makan yang ditawarkan oleh pria tua itu"
Leoni membuka jendela kereta dan melihat pria tua itu dari balik jendela, lalu menjawab pertanyaan Jillua "Makan ya, tentu saja aku bersedia"
Jillua kembali menaiki kudanya dan mengiyakan tawaran yang diajukan oleh Jione, namun ada sedikit keraguan dalam diri Jillua, entah mengapa ada kekhawatiran dan firasat buruk dalam hatinya.
Jione lalu memunculkan kupu-kupu pengantar arah dan memerintahkannya untuk menunjukan jalan ke balai desa pada Jillua. Setelah itu, dia menghilang seketika.
Sebelum berangkat ke balai desa, Lanara menyuruh pasukan berkuda berjaga di tempat ini saja karena hanya dia, Jillua dan Leoni saja yang akan pergi ke balai desa. Lanara merasa balai desa mungkin sangat sempit untuk mereka semua.
__ADS_1
"Ayo berangkat!!!"
Jillua berteriak keras sambil menarik tali kudanya dan bergerak cepat diikuti oleh Lanara dan kereta kuda yang membawa Leoni. Mereka mengikuti kupu-kupu yang sudah menjauh didepan.